Tahun 2000-an, Palasari Destinasi 'Kencan Intelektual' Mahasiswa Bandung

5 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
 Tahun 2002, Palasari bukan sekadar pasar buku. Ia adalah universitas paralel bagi mahasiswa UIN Bandung (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Farisi)
Tahun 2002, Palasari bukan sekadar pasar buku. Ia adalah universitas paralel bagi mahasiswa UIN Bandung (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Farisi)

Ada masa ketika kata “kencan intelektual” bukan berarti duduk di kafe estetik dengan laptop terbuka dan filter kopi manual brew. Bagi kami, mahasiswa UIN Bandung angkatan 2002, kencan intelektual itu terjadi di tempat yang berdebu, berisik, tapi penuh cinta dan aroma kertas: Palasari.

Lokasi Palasari ialah surganya buku-buku baru atau bekas dan tempat di mana intelektualitas diuji bukan lewat indeks kumulatif dari kampus, melainkan lewat kemampuan menawar buku Marx atau Derrida dengan harga setengah dari yang dikutip di daftar pustaka.

Tahun 2002, Palasari bukan sekadar pasar buku. Ia adalah universitas paralel bagi mahasiswa UIN. Di sana, teori-teori besar bertemu dengan kantong mahasiswa yang kecil. Bau kertas dan debu bercampur dengan aroma gorengan dari warung sebelah — kombinasi yang, entah bagaimana, mampu menumbuhkan semangat intelektual yang tidak bisa dijelaskan dengan algoritma mana pun.

Saya masih ingat bagaimana ritual kami setiap Sabtu pagi: naik DAMRI dari Cibiru, turun di Kosambi, lalu jalan kaki ke Palasari. Langkah kaki terasa ringan, bukan karena semangat belajar, tapi karena berharap ada promo “beli dua gratis satu” dari pedagang buku langganan yang, anehnya, hafal judul buku-buku teologi kontemporer lebih baik daripada beberapa dosen di kelas. Kalau dosen urup-ap eureup-eup (baca: terbata-bata) nyebut judul buku, para pedagang di Palasari sangat fasih banget. Hahaha

Kencan di Antara Rak Buku

Bagi sebagian mahasiswa, Palasari juga tempat berjumpa cinta. Ada yang bilang cinta sejati bukan lahir di taman kampus, tapi di antara rak buku tebal yang berdebu.

Bayangkan: dua orang muda, sama-sama berkacamata minus, berdiri di rak “Filsafat & Pemikiran Islam Kontemporer”. Tangan mereka sama-sama terulur ke arah buku Orientalism karya Edward Said. Seketika jari mereka bersentuhan — bukan karena sengaja, tapi karena sama-sama ingin meminang teks yang sama. Pandangan bertemu, dan dunia mendadak sunyi... kecuali suara bapak penjual yang nyeletuk, “Itu edisi lama, Nak, yang baru di sebelah.”

Begitulah Palasari. Tempat di mana cinta dan intelektualitas seringkali bersinggungan secara harfiah.

Namun, Palasari tidak selalu romantis. Kadang, buku yang kamu beli ternyata fotokopi dari fotokopi dari fotokopi. Huruf-hurufnya kabur, halaman 45 loncat ke 67, tapi kami tetap membacanya dengan khidmat. Karena bagi mahasiswa UIN Bandung 2000-an awal, isi buku lebih penting dari estetika layout.

Ada kepuasan tersendiri saat menemukan buku langka: Introduction to the Qur’anic Sciences, Al-Manar, atau The Muslim Mind. Dan setelah membelinya, kami tidak langsung pulang. Kami mampir ke warung kopi pinggir jalan, membuka buku di meja kayu, dan mulai berdiskusi. Kadang tentang tafsir, kadang tentang makna hidup, tapi seringnya tentang siapa yang diam-diam naksir siapa di kelas Tasawuf.

Lalu waktu berjalan. Tiba-tiba, Palasari terasa seperti fosil intelektual di era digital. Tahun 2003, saya memulai karier kepenulisan, dan tiba-tiba sadar — mencari referensi kini semudah mengetik di Google Scholar, klik “download PDF”, dan voila! Buku-buku yang dulu harus dicari setengah hari di Palasari kini bisa didapat dalam tiga detik.

Mahasiswa sekarang tidak perlu lagi menawar harga, tidak perlu mengelap debu di sampul, tidak perlu menandai halaman dengan bekas gorengan. Semua sudah serba digital. Ringkas, efisien, steril. Tapi... juga sepi.

Tak ada lagi interaksi dengan penjual buku yang suka menghafal nama penulis seperti ustaz hafal sanad hadits. Tak ada lagi aroma kertas yang memancing diskusi spontan. Tak ada lagi “kenalan intelektual” di sela rak sempit. Semuanya kini personal, individual, dan terkurung di layar.

Ilustrasi buku. (Sumber: Pexels/Min An)
Ilustrasi buku. (Sumber: Pexels/Min An)

Saya tentu bersyukur dengan kemajuan teknologi. Bayangkan, untuk menulis satu artikel, saya bisa mengakses ribuan jurnal internasional dari kamar kos tanpa perlu ke perpustakaan. Tapi di sisi lain, saya juga rindu proses yang lambat — proses mencari, berdiskusi, dan berinteraksi dengan manusia lain yang sama-sama lapar akan pengetahuan.

Di Palasari, pengetahuan itu dialami. Kita menyentuhnya, mencium baunya, dan memperdebatkannya di warung kopi. Sekarang, pengetahuan itu diunduh. Ia hadir dalam bentuk file yang rapi, tapi dingin — seperti kopi sachet tanpa aroma.

Dan lucunya, semakin mudah kita mengakses ilmu, semakin cepat pula kita kehilangan kedalaman.

Mahasiswa kini bisa mengutip Derrida tanpa benar-benar membaca, cukup dengan “copy-paste abstract” ATM dikit dikit. Beres deh! Tetapi dulu, kami membaca pelan-pelan, menulis catatan tangan, dan merasa bangga ketika berhasil memahami satu paragraf penuh Habermas tanpa pusing kepala.

Pembaca Jadi Penulis

Ketika memulai karier kepenulisan tahun 2003, kini 2025 mau habis, saya seperti kembali ke Palasari — tapi dalam bentuk digital. Setiap kali menulis, saya sadar, yang saya kejar bukan hanya ide, tapi rasa yang dulu saya temukan di antara rak-rak buku.

Menulis bagi saya adalah perjalanan pulang ke Palasari: ke tempat di mana ide dan imajinasi pertama kali jatuh cinta. Walau kini saya mengetik di laptop, aroma tinta mesin tik untuk menyusun skripsi dari masa lalu masih terasa samar di ingatan. Mungkin karena Palasari bukan sekadar tempat membeli buku, tapi tempat di mana saya belajar bagaimana ilmu bisa menyentuh hati — bukan sekadar otak.

Beberapa waktu lalu, saya kembali ke Palasari. Banyak toko sudah sepi. Sebagian beralih menjual stationery, sebagian menutup pintu. Banyak kafe berdiri sombong. Tapi ada satu toko kecil di pojok, masih setia menjajakan buku-buku lama. Penjualnya, yang kini beruban, tersenyum ketika saya datang.

“Masih suka nulis?” tanyanya.

Saya mengangguk. “Iya, Pak. Tapi sekarang semua serba online.”

Ia tertawa kecil, lalu berkata, “Kalau semua serba online, jangan lupa sesekali datang ke sini. Soalnya ide paling bagus kadang muncul dari tempat berdebu.”

Saya terdiam. Mungkin ia benar. Karena di balik layar laptop yang steril, saya tetap rindu aroma kertas dan tumpukan buku yang dulu jadi saksi lahirnya mimpi intelektual saya. Kini, generasi mahasiswa baru bisa membaca ratusan jurnal dalam sehari, tapi entah apakah mereka masih punya tempat seperti Palasari — tempat di mana membaca dan mencinta terjadi bersamaan.

Bagi kami, Palasari bukan sekadar tempat mencari buku. Ia adalah metafora tentang hidup: bahwa pengetahuan sejati tidak pernah datang instan; ia lahir dari pencarian, kesabaran, dan sedikit debu di ujung jari.

Maka biarlah dunia berubah, teknologi berlari. Tapi bagi saya, Palasari tetap abadi — bukan di peta Bandung, melainkan di peta kenangan. Karena setiap kali menulis, saya tahu: sebagian huruf dalam tulisan saya masih berasal dari debu Palasari tahun 2002 yang tak pernah hilang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)