Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Kata-Kata Khas Ramadan yang Sering Salah Kaprah

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Rabu 04 Feb 2026, 16:00 WIB
Pasar Cihapit (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)

Pasar Cihapit (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID -- Setiap Ramadan tiba, ruang publik dipenuhi istilah khas bulan puasa. Dari media sosial, iklan, ceramah, hingga percakapan warung kopi, kata-kata khas yang hanya muncul di periode ini menyeruak. 

Menariknya, banyak kata tersebut dipakai berulang-ulang tanpa benar-benar dipahami maknanya. Akibatnya, terjadi fenomena salah kaprah: kata terasa “benar” karena sering digunakan, padahal tidak sepenuhnya sesuai dengan makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Bahasa, seperti pasar, bergerak mengikuti kebiasaan mayoritas. Namun, tanpa literasi, kebiasaan itu bisa melanggengkan kekeliruan. 

Berikut beberapa kata khas Ramadan yang paling sering mengalami salah kaprah, beserta penjelasan kebahasaannya.

1. Takjil Bukan Sekadar Gorengan dan Es Buah

Di masyarakat, takjil hampir selalu diasosiasikan dengan kolak, gorengan, atau minuman manis untuk berbuka. Padahal, menurut KBBI, takjil berarti “hidangan untuk berbuka puasa”.

Artinya, takjil tidak dibatasi jenis tertentu. Nasi, roti, sup, bahkan air putih pun secara makna bisa disebut takjil jika fungsinya sebagai sajian pembuka puasa. Penyempitan makna ini terjadi karena praktik sosial: pasar Ramadan menjual makanan ringan sebagai simbol berbuka, lalu maknanya mengerucut.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana bahasa mengikuti pola konsumsi masyarakat. Yang laku di pasar akhirnya membentuk persepsi makna.

2. Imsak Bukan Waktu “Haram Makan”

Kata imsak sering dipahami sebagai batas mutlak berhenti makan. Bahkan tidak sedikit yang menganggap makan setelah imsak sudah “melanggar”.

Dalam KBBI, imsak berarti “penahanan diri” atau “awal waktu mulai berpuasa”. Dalam praktik fikih, imsak lebih tepat dipahami sebagai penanda kehati-hatian sebelum masuk waktu Subuh, bukan batas syariat utama. Secara bahasa, imsak menekankan proses menahan, bukan larangan absolut.

Kesalahpahaman ini muncul karena pemaknaan praktis yang terlanjur populer. Di sini terlihat bagaimana fungsi sosial kadang lebih dominan daripada makna leksikal.

3. Ramadan atau Ramadhan?

Soal ejaan, ini termasuk yang paling sering diperdebatkan. Dalam KBBI, bentuk baku yang digunakan adalah Ramadan, bukan Ramadhan.

Huruf “dh” memang ada dalam transliterasi Arab, tetapi dalam sistem ejaan bahasa Indonesia, bunyi tersebut diserap menjadi “d”. Hal yang sama berlaku pada kata salat, bukan shalat.

Penggunaan bentuk tidak baku tetap marak karena faktor kebiasaan religius dan estetika visual. Banyak orang merasa penulisan dengan “h” terlihat lebih “islami”, walaupun secara kaidah bahasa Indonesia tidak tepat.

Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)

4. Berbuka dan Buka Puasa

Secara makna, berbuka berarti “mengakhiri puasa”. Sementara buka puasa sering dipakai sebagai frasa yang merujuk pada aktivitas makan saat magrib.

Masalah muncul ketika muncul frasa seperti “berbuka takjil”. Secara struktur, ini kurang tepat karena berbuka adalah peristiwa berhentinya puasa, bukan aktivitas mengonsumsi makanan tertentu. Bentuk yang lebih tepat misalnya: “berbuka puasa dengan takjil”.

Kesalahan kecil ini sering terjadi karena dorongan kepraktisan bahasa lisan yang kemudian terbawa ke tulisan.

5. Fitri Bukan Sinonim Lebaran

Kata fitri sering dipakai sebagai padanan Lebaran, misalnya “suasana fitri” atau “mudik fitri”. Dalam KBBI, fitri bermakna “suci” atau “bersih dari dosa”.

Makna ini sebenarnya bersifat konseptual, bukan penamaan peristiwa. Ketika fitri dipakai sebagai sinonim hari raya, terjadi perluasan makna yang bersifat kultural. Ia tidak salah secara komunikasi, tetapi perlu dipahami bahwa maknanya sudah bergeser dari akar katanya.

Ini contoh klasik bagaimana budaya memengaruhi semantik.

Baca Juga: 5 Keuntungan Menulis di Ayobandung.id lewat Kanal Ayo Netizen

Jika dilihat dari sudut ekonomi bahasa, istilah yang sering salah kaprah tetap bertahan karena “laku” di pasar komunikasi. Media, brand, dan kreator konten memilih kata yang cepat dipahami audiens, meskipun tidak selalu paling tepat secara kamus.

Misalnya, kata “takjil” lebih menjual dibanding “hidangan pembuka puasa”. Lebih singkat, lebih familiar, dan lebih emosional. Inilah kompromi antara akurasi dan daya tarik.

Namun, di sinilah peran literasi bahasa menjadi penting: agar popularitas tidak sepenuhnya mengalahkan ketepatan makna. KBBI berfungsi sebagai rujukan standar agar bahasa publik tetap terjaga.(*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)