Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Rabu 04 Feb 2026, 11:56 WIB
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)

Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)

AYOBANDUNG.ID - Di balik narasi transisi energi yang digaungkan pemerintah, praktik co-firing biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara menyisakan ironi. Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan kawasan industri energi di Jawa Barat.

Di Jabar terdapat dua PLTU yang menerapkan co-firing biomassa, yakni PLTU Indramayu dan PLTU Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Dalam skema tersebut, biomassa—umumnya berasal dari serbuk kayu atau pelet kayu—dicampurkan dengan batu bara. Namun, komposisinya masih didominasi batu bara, mencapai sekitar 90 hingga 95 persen.

“Tujuan besarnya menurunkan emisi karbon, tapi penggunaan batu bara masih sangat dominan. Ini membuat klaim transisi energi menjadi problematis,” ujar Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, dalam diskusi publik diseminasi riset Ironi Co-firing Biomassa PLTU Batubara di Jawa Barat di Bandung.

Bayu menjelaskan, secara nasional terdapat 52 PLTU yang menjalankan skema co-firing. Untuk memenuhi kebutuhan biomassa dalam skala tersebut, dibutuhkan pasokan kayu dalam jumlah besar setiap tahun. Kondisi ini mendorong pengembangan Hutan Tanaman Energi (HTE), termasuk di Jawa Barat, yang lahannya tersebar di sejumlah wilayah seperti Indramayu, Sumedang, dan Sukabumi.

Masalahnya, perluasan lahan tanaman energi tidak berlangsung di ruang kosong. Di sejumlah lokasi, lahan yang ditetapkan sebagai kawasan HTE merupakan ruang hidup masyarakat yang selama ini menggantungkan penghidupan dari hutan.

“Yang paling mencolok bukan hanya potensi deforestasi, tetapi juga konflik akses lahan. Tanah-tanah yang ditetapkan sebagai hutan tanaman energi itu sebelumnya adalah sumber penghidupan warga,” kata Bayu.

Persoalan tersebut juga disoroti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung. Peneliti LBH Bandung, Maulida Zahra, menilai kebijakan co-firing biomassa belum mencerminkan prinsip transisi energi yang berkeadilan. Menurutnya, kebijakan dari hulu ke hilir justru mempermudah penggunaan biomassa tanpa memastikan perlindungan hak masyarakat dan kelestarian lingkungan.

“Transisi energi seharusnya meninggalkan energi fosil. Namun, dalam skema ini, batu bara masih digunakan, sementara risiko kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak masyarakat justru meningkat,” ujar Maulida.

Baca Juga: Masa Depan Bandung Utara Terancam, WALHI Soroti Bobroknya Sistem Perizinan

Di tingkat tapak, persoalan tak kalah kompleks. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat mencatat, rantai pasok biomassa memunculkan berbagai praktik bermasalah. Di Indramayu, misalnya, pasokan serbuk kayu untuk PLTU tidak selalu berasal dari wilayah sekitar. Temuan WALHI menunjukkan, bahan baku biomassa bahkan didatangkan dari daerah yang cukup jauh, seperti Bandung Selatan.

“Ini menunjukkan sulitnya memenuhi kebutuhan biomassa di tingkat lokal. Kondisi ini membuka celah praktik-praktik tidak sehat di lapangan,” ujar Fauqi Muhtaromun dari WALHI Jawa Barat.

Selain bersaing dengan usaha lokal, seperti industri briket atau budidaya jamur yang juga membutuhkan serbuk kayu, rantai pasok biomassa dinilai rawan manipulasi. Di sisi lain, di Sukabumi, pengembangan HTE dan pembangunan pabrik pelet kayu disebut berlangsung cukup masif.

Jenis tanaman seperti kaliandra dan gamal dipilih karena masa tanamnya singkat. Namun, WALHI menemukan adanya perbedaan antara rencana di atas kertas dan praktik di lapangan. Sejumlah warga mengaku lahannya tiba-tiba ditanami tanaman energi tanpa proses partisipasi yang memadai.

Selain persoalan emisi, riset ini juga menyoroti dampak kesehatan yang dirasakan masyarakat di sekitar PLTU. Berbagai temuan lapangan dan riset sebelumnya menunjukkan, keluhan pernapasan kerap muncul di wilayah sekitar pembangkit. Batuk berkepanjangan, gangguan pernapasan, hingga penyakit kulit sering dianggap sebagai keluhan biasa, termasuk oleh kelompok rentan seperti anak-anak.

“Masalahnya, keluhan ini dianggap wajar dan musiman. Padahal, paparan polusi dari aktivitas PLTU—termasuk dalam skema co-firing—berpotensi berdampak jangka panjang, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak,” kata Fauqi.

Menurutnya, gangguan tersebut sering dianggap sepele karena tidak selalu tercatat sebagai penyakit klinis. Padahal, paparan polusi udara dan kebisingan dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak.

Di wilayah Pelabuhan Ratu, Sukabumi, isu kesehatan dan kondisi psikologis anak sekolah turut mencuat dalam diskusi publik tersebut. Sejumlah media menyoroti dampak aktivitas PLTU terhadap sekolah-sekolah di sekitar lokasi, termasuk laporan tentang anak-anak yang mengalami ketakutan dan trauma akibat suara dentuman dari aktivitas pembangkit.

Isu tersebut kemudian ditanyakan langsung kepada perwakilan pemerintah daerah. Menanggapi hal itu, perwakilan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat, Permadi Muhammad, menjelaskan bahwa kewenangan pengawasan PLTU sangat bergantung pada pihak yang menerbitkan izin usaha.

Baca Juga: Tak Ingin, Tapi Tak Mampu Pergi: Warga Cisaladah Menghirup Asap dan Debu Penggilingan Batu Kapur Setiap Hari

“PLTU merupakan kegiatan usaha dengan perizinan tertentu. Jika perizinannya dikeluarkan oleh pemerintah pusat, maka pengawasannya berada di ranah pemerintah pusat melalui instansi terkait,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak memiliki kewenangan langsung untuk melakukan pengawasan atau penindakan terhadap PLTU yang izinnya diterbitkan pemerintah pusat. Peran pemerintah daerah lebih pada koordinasi dan pelaporan.

“Jika ada gangguan atau dampak, termasuk yang dirasakan sekolah atau anak-anak, hal itu dapat dilaporkan melalui Dinas Lingkungan Hidup setempat. Selanjutnya, laporan diteruskan ke instansi berwenang di tingkat pusat maupun kementerian terkait,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penanganan dampak PLTU, termasuk yang menyentuh aspek kesehatan dan keselamatan anak-anak, masih sangat bergantung pada koordinasi lintas lembaga. Hingga kini, belum ada kebijakan khusus yang secara eksplisit mengatur perlindungan kesehatan warga, terutama anak-anak.

Kelompok masyarakat sipil menilai kondisi ini berisiko membuat persoalan di tingkat lokal berjalan lambat tanpa kepastian tindak lanjut.

Tanpa evaluasi menyeluruh dan perlindungan yang jelas, skema co-firing biomassa dinilai berpotensi menimbulkan krisis berlapis, mulai dari kerusakan lingkungan, konflik agraria, hingga dampak kesehatan dan psikologis bagi warga, termasuk anak-anak yang tumbuh di sekitar PLTU.

Kelompok tersebut mendorong pemerintah agar transisi energi tidak berhenti pada perubahan istilah dan kebijakan di atas kertas, tetapi benar-benar memastikan keselamatan lingkungan, keadilan sosial, serta jaminan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 09 Mei 2026, 19:04

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor bertahan selama puluhan tahun lewat ribuan koleksi buku, arsip, dan dedikasi Anton Solihin menjaga ruang literasi alternatif.

Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 18:12

Tamasya Taman Bunga Cianjur, 35 Hektar Lanskap Dunia dalam Satu Kawasan Puncak

Taman Bunga Nusantara di Cianjur menawarkan taman tematik dunia, tiket sekitar Rp50 ribu, dan strategi kunjungan agar bisa menjelajah 35 hektar tanpa kelelahan.

Taman Bunga Nusantara Cianjur.
Bandung 07 Mei 2026, 17:52

Bukan Lagi Kaku, Batik Kini Jadi Tren Lifestyle Praktis Lewat Desain One Set

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja.

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 17:30

Pekerja Swasta adalah Petarung Sejati

Banyak masyarakat yang bekerja di sektor swasta untuk mendapatkan penghidupan dengan penuh kesabaran dan pengorbanan supaya bisa bertahan hidup di Kota Bandung.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)