Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)

AYOBANDUNG.ID - Di balik narasi transisi energi yang digaungkan pemerintah, praktik co-firing biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara menyisakan ironi. Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan kawasan industri energi di Jawa Barat.

Di Jabar terdapat dua PLTU yang menerapkan co-firing biomassa, yakni PLTU Indramayu dan PLTU Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Dalam skema tersebut, biomassa—umumnya berasal dari serbuk kayu atau pelet kayu—dicampurkan dengan batu bara. Namun, komposisinya masih didominasi batu bara, mencapai sekitar 90 hingga 95 persen.

“Tujuan besarnya menurunkan emisi karbon, tapi penggunaan batu bara masih sangat dominan. Ini membuat klaim transisi energi menjadi problematis,” ujar Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, dalam diskusi publik diseminasi riset Ironi Co-firing Biomassa PLTU Batubara di Jawa Barat di Bandung.

Bayu menjelaskan, secara nasional terdapat 52 PLTU yang menjalankan skema co-firing. Untuk memenuhi kebutuhan biomassa dalam skala tersebut, dibutuhkan pasokan kayu dalam jumlah besar setiap tahun. Kondisi ini mendorong pengembangan Hutan Tanaman Energi (HTE), termasuk di Jawa Barat, yang lahannya tersebar di sejumlah wilayah seperti Indramayu, Sumedang, dan Sukabumi.

Masalahnya, perluasan lahan tanaman energi tidak berlangsung di ruang kosong. Di sejumlah lokasi, lahan yang ditetapkan sebagai kawasan HTE merupakan ruang hidup masyarakat yang selama ini menggantungkan penghidupan dari hutan.

“Yang paling mencolok bukan hanya potensi deforestasi, tetapi juga konflik akses lahan. Tanah-tanah yang ditetapkan sebagai hutan tanaman energi itu sebelumnya adalah sumber penghidupan warga,” kata Bayu.

Persoalan tersebut juga disoroti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandung. Peneliti LBH Bandung, Maulida Zahra, menilai kebijakan co-firing biomassa belum mencerminkan prinsip transisi energi yang berkeadilan. Menurutnya, kebijakan dari hulu ke hilir justru mempermudah penggunaan biomassa tanpa memastikan perlindungan hak masyarakat dan kelestarian lingkungan.

“Transisi energi seharusnya meninggalkan energi fosil. Namun, dalam skema ini, batu bara masih digunakan, sementara risiko kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak masyarakat justru meningkat,” ujar Maulida.

Baca Juga: Masa Depan Bandung Utara Terancam, WALHI Soroti Bobroknya Sistem Perizinan

Di tingkat tapak, persoalan tak kalah kompleks. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat mencatat, rantai pasok biomassa memunculkan berbagai praktik bermasalah. Di Indramayu, misalnya, pasokan serbuk kayu untuk PLTU tidak selalu berasal dari wilayah sekitar. Temuan WALHI menunjukkan, bahan baku biomassa bahkan didatangkan dari daerah yang cukup jauh, seperti Bandung Selatan.

“Ini menunjukkan sulitnya memenuhi kebutuhan biomassa di tingkat lokal. Kondisi ini membuka celah praktik-praktik tidak sehat di lapangan,” ujar Fauqi Muhtaromun dari WALHI Jawa Barat.

Selain bersaing dengan usaha lokal, seperti industri briket atau budidaya jamur yang juga membutuhkan serbuk kayu, rantai pasok biomassa dinilai rawan manipulasi. Di sisi lain, di Sukabumi, pengembangan HTE dan pembangunan pabrik pelet kayu disebut berlangsung cukup masif.

Jenis tanaman seperti kaliandra dan gamal dipilih karena masa tanamnya singkat. Namun, WALHI menemukan adanya perbedaan antara rencana di atas kertas dan praktik di lapangan. Sejumlah warga mengaku lahannya tiba-tiba ditanami tanaman energi tanpa proses partisipasi yang memadai.

Selain persoalan emisi, riset ini juga menyoroti dampak kesehatan yang dirasakan masyarakat di sekitar PLTU. Berbagai temuan lapangan dan riset sebelumnya menunjukkan, keluhan pernapasan kerap muncul di wilayah sekitar pembangkit. Batuk berkepanjangan, gangguan pernapasan, hingga penyakit kulit sering dianggap sebagai keluhan biasa, termasuk oleh kelompok rentan seperti anak-anak.

“Masalahnya, keluhan ini dianggap wajar dan musiman. Padahal, paparan polusi dari aktivitas PLTU—termasuk dalam skema co-firing—berpotensi berdampak jangka panjang, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak,” kata Fauqi.

Menurutnya, gangguan tersebut sering dianggap sepele karena tidak selalu tercatat sebagai penyakit klinis. Padahal, paparan polusi udara dan kebisingan dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak.

Di wilayah Pelabuhan Ratu, Sukabumi, isu kesehatan dan kondisi psikologis anak sekolah turut mencuat dalam diskusi publik tersebut. Sejumlah media menyoroti dampak aktivitas PLTU terhadap sekolah-sekolah di sekitar lokasi, termasuk laporan tentang anak-anak yang mengalami ketakutan dan trauma akibat suara dentuman dari aktivitas pembangkit.

Isu tersebut kemudian ditanyakan langsung kepada perwakilan pemerintah daerah. Menanggapi hal itu, perwakilan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat, Permadi Muhammad, menjelaskan bahwa kewenangan pengawasan PLTU sangat bergantung pada pihak yang menerbitkan izin usaha.

Baca Juga: Tak Ingin, Tapi Tak Mampu Pergi: Warga Cisaladah Menghirup Asap dan Debu Penggilingan Batu Kapur Setiap Hari

“PLTU merupakan kegiatan usaha dengan perizinan tertentu. Jika perizinannya dikeluarkan oleh pemerintah pusat, maka pengawasannya berada di ranah pemerintah pusat melalui instansi terkait,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak memiliki kewenangan langsung untuk melakukan pengawasan atau penindakan terhadap PLTU yang izinnya diterbitkan pemerintah pusat. Peran pemerintah daerah lebih pada koordinasi dan pelaporan.

“Jika ada gangguan atau dampak, termasuk yang dirasakan sekolah atau anak-anak, hal itu dapat dilaporkan melalui Dinas Lingkungan Hidup setempat. Selanjutnya, laporan diteruskan ke instansi berwenang di tingkat pusat maupun kementerian terkait,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penanganan dampak PLTU, termasuk yang menyentuh aspek kesehatan dan keselamatan anak-anak, masih sangat bergantung pada koordinasi lintas lembaga. Hingga kini, belum ada kebijakan khusus yang secara eksplisit mengatur perlindungan kesehatan warga, terutama anak-anak.

Kelompok masyarakat sipil menilai kondisi ini berisiko membuat persoalan di tingkat lokal berjalan lambat tanpa kepastian tindak lanjut.

Tanpa evaluasi menyeluruh dan perlindungan yang jelas, skema co-firing biomassa dinilai berpotensi menimbulkan krisis berlapis, mulai dari kerusakan lingkungan, konflik agraria, hingga dampak kesehatan dan psikologis bagi warga, termasuk anak-anak yang tumbuh di sekitar PLTU.

Kelompok tersebut mendorong pemerintah agar transisi energi tidak berhenti pada perubahan istilah dan kebijakan di atas kertas, tetapi benar-benar memastikan keselamatan lingkungan, keadilan sosial, serta jaminan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)