Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Jauh sebelum Jalan Pasteur dipenuhi kendaraan, kawasan ini telah lebih dulu mengenal kesibukan lain. Bukan klakson atau deru mesin, melainkan aktivitas laboratorium yang nyaris tak terdengar. Pada awal abad ke 20, wilayah ini dipilih sebagai rumah bagi lembaga penelitian vaksin, menjadikannya salah satu pusat ilmu kesehatan paling penting di Hindia Belanda.

Kesibukan itu tidak berlangsung di ruang terbuka. Ia tersembunyi di balik dinding tebal, meja kayu panjang, tabung reaksi, dan bau bahan kimia yang samar. Pasteur Bandung sejak mula bukan kawasan yang dibangun untuk dipamerkan. Ia lahir dari kebutuhan yang sangat praktis dan mendesak, yaitu bagaimana mengendalikan penyakit menular di wilayah koloni tropis yang kerap diguncang wabah.

Penamaan Pasteur sebagai sebuah kawasan sendiri baru datang belakangan. Catatanh sejarah menyebutkan Pasteur diilhami nama seorang ilmuwan Prancis yang pemikirannya mengubah cara manusia memahami penyakit. Louis Pasteur, lahir pada 1822, bukan tokoh yang pernah menginjakkan kaki di Bandung. Namun gagasannya menempuh perjalanan jauh, menyeberangi benua, hingga berakar kuat di tanah Priangan. Dari sinilah sebuah kawasan di Bandung memperoleh identitas yang berbeda dari kawasan lain.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga Baheula, Kiblat Wajah Parijs van Java Bandung

Louis Pasteur dikenal karena satu gagasan kunci, bahwa mikroorganisme adalah aktor utama di balik pembusukan dan penyakit. Gagasan ini terdengar sederhana hari ini, tetapi pada abad ke-19 ia bersifat revolusioner. Lewat eksperimen dan ketekunan, Pasteur membuka jalan bagi pengembangan vaksin dan metode sterilisasi pangan. Ilmu pengetahuan tak lagi sekadar wacana akademik, melainkan alat untuk menyelamatkan hidup.

Pengaruh pemikiran Pasteur menjalar cepat, terutama ke wilayah wilayah kolonial yang menjadi ladang empuk bagi penyakit menular. Hindia Belanda adalah salah satunya. Penyakit cacar, kolera, malaria, dan rabies bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga ancaman bagi stabilitas ekonomi dan administrasi kolonial. Maka riset kesehatan menjadi urusan yang sangat serius.

Pada 1890, pemerintah kolonial mendirikan Parc Vaccinogene di Batavia. Lembaga ini bertugas mengembangkan vaksin dan serum untuk menghadapi wabah. Dalam perkembangannya, lembaga ini menjalin hubungan erat dengan Institut Pasteur di Paris, pusat riset mikrobiologi yang sudah diakui dunia. Nama Pasteur pun disematkan sebagai penanda orientasi ilmiah lembaga tersebut.

Baca Juga: Hadiah Bandung untuk Dunia, Riwayat Kina yang Kini Terlupa

Tetapi Batavia tidak pernah ideal sebagai pusat riset jangka panjang. Iklim panas, sanitasi yang buruk, dan kepadatan penduduk membuat kegiatan laboratorium kerap terganggu. Bandung, dengan udara sejuk dan lingkungan yang relatif lebih tertata, mulai dilirik. Kota ini sedang tumbuh sebagai pusat administrasi dan pendidikan. Dalam rencana besar pemerintah kolonial, Bandung bahkan sempat diproyeksikan sebagai calon ibu kota baru.

Dari Batavia ke Dataran Tinggi

Pemindahan lembaga vaksin ke Bandung pada 1923 bukan sekadar soal geografis. Ia mencerminkan perubahan cara pandang terhadap ilmu pengetahuan. Riset kesehatan membutuhkan lingkungan yang tenang, stabil, dan relatif steril. Bandung menawarkan semua itu. Dataran tinggi, jauh dari hiruk pikuk pelabuhan, dan memiliki infrastruktur yang terus dibangun.

Lokasi yang dipilih berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Pasteur nomor 28. Bangunan laboratorium dirancang oleh arsitek ternama Charles Prosper Wolff Schoemaker, yang dikenal piawai memadukan fungsi dan estetika. Bangunan ini tidak sekadar kokoh, tetapi juga dirancang untuk mendukung kerja ilmiah. Ventilasi, pencahayaan, dan tata ruang laboratorium diperhitungkan dengan cermat.

Sejak saat itu, kawasan Pasteur mulai membentuk wataknya. Ia tidak berkembang sebagai kawasan niaga atau permukiman elite. Aktivitas utamanya berpusat pada penelitian, produksi vaksin, dan layanan kesehatan. Di sekitarnya tumbuh fasilitas pendukung, termasuk rumah sakit dan institusi pendidikan kedokteran. Pasteur Bandung menjadi simpul penting dalam jaringan ilmu kesehatan di Hindia Belanda.

Baca Juga: Batavia jadi Sarang Penyakit, Bandung Ibu Kota Pilihan Hindia Belanda

Pada masa ini, lembaga tersebut dikenal dengan berbagai nama, mengikuti dinamika administrasi kolonial. Namun fungsinya tetap sama, yaitu memproduksi vaksin dan melakukan riset penyakit menular. Dari sinilah vaksin cacar, rabies, dan serum lainnya diproduksi untuk kebutuhan luas, tidak hanya di Jawa, tetapi juga wilayah lain di Nusantara.

Pemandangan udara Institut Pasteur di Bandung tahun 1925. (Sumber: Tropenmuseum)
Pemandangan udara Institut Pasteur di Bandung tahun 1925. (Sumber: Tropenmuseum)

Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, kawasan Pasteur kembali mengalami perubahan. Nama lembaga diganti, kepemimpinan beralih, tetapi aktivitas inti tetap berjalan. Dalam situasi perang dan kekurangan, produksi vaksin tetap dipertahankan. Penyakit, seperti biasa, tidak menunggu stabilitas politik.

Prolamasi kemerdekaan membawa babak baru yang jauh lebih menentukan. Untuk pertama kalinya, lembaga ini dipimpin oleh orang Indonesia. Peralihan ini bukan proses yang mulus. Revolusi, keterbatasan sumber daya, dan konflik bersenjata memaksa lembaga ini sempat berpindah ke luar Bandung. Namun pengalaman ini justru menegaskan pentingnya kemandirian di bidang kesehatan.

Baca Juga: Sejarah Flyover Pasupati Bandung, Gagasan Kolonial yang Dieksekusi Setelah Reformasi

Setelah situasi relatif stabil, lembaga ini kembali ke Bandung dan masuk dalam struktur Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Nama dan statusnya terus berubah mengikuti kebijakan nasionalisasi dan restrukturisasi BUMN. Dari PN Pasteur hingga PN Bio Farma, lalu Perum Bio Farma, dan akhirnya menjadi PT Bio Farma Persero.

Pasteur sebagai Simbol Ilmu dan Ingatan Kota

Transformasi menjadi Bio Farma menandai fase baru kawasan Pasteur Bandung. Dari lembaga kolonial, ia beralih menjadi institusi nasional dengan ambisi global. Bio Farma berkembang menjadi satu satunya produsen vaksin lokal di Indonesia. Produknya mendukung program imunisasi nasional dan juga diekspor ke berbagai negara melalui kerja sama internasional.

Kawasan Pasteur pun ikut berubah. Jalan yang dahulu lengang kini menjadi salah satu koridor tersibuk di Bandung. Hotel, pusat perbelanjaan, dan infrastruktur transportasi tumbuh pesat. Namun di tengah perubahan itu, bangunan tua di nomor 28 tetap bertahan, menjaga kesinambungan sejarah yang jarang disadari pengguna jalan.

Jejak nama Pasteur juga menunjukkan daya tahan yang unik. Secara administratif, jalan ini bernama Jalan Dr Djundjunan. Namun dalam praktik sehari hari, nama Pasteur jauh lebih hidup. Ia digunakan oleh warga, pengemudi, wisatawan, dan media. Nama ini bertahan bukan karena kebijakan, melainkan karena memori kolektif.

Pada 2015, Bio Farma meresmikan Museum Bio Farma di kompleks bangunan bersejarah tersebut. Museum ini tidak dirancang sebagai ruang nostalgia kosong. Ia menyajikan perjalanan panjang vaksin di Indonesia, dari masa wabah hingga era bioteknologi modern. Di dalamnya tersimpan alat laboratorium lama, arsip, dan dokumentasi yang menunjukkan bahwa kemajuan kesehatan lahir dari proses panjang, bukan keajaiban instan.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Keberadaan museum ini menegaskan satu hal penting. Pasteur Bandung bukan sekadar kawasan lalu lintas. Ia adalah ruang sejarah. Di sinilah ilmu pengetahuan pernah, dan masih, bekerja secara konkret. Bukan dalam bentuk slogan, tetapi dalam produksi vaksin yang menyentuh hidup jutaan orang.

Jika kawasan lain di Bandung dikenal karena gaya hidup atau hiburan, Pasteur memiliki karakter yang lebih sunyi. Ia mewakili sisi kota yang bekerja dalam diam. Sisi yang jarang difoto, tetapi dampaknya terasa luas. Dari sinilah vaksin mengalir ke puskesmas, rumah sakit, dan pelosok negeri.

Di tengah kemacetan dan pembangunan, Pasteur Bandung tetap menyimpan lapisan sejarah yang penting. Ia mengingatkan bahwa sebelum menjadi pintu masuk wisata, kawasan ini lebih dulu menjadi pintu masuk bagi pengetahuan. Sebuah hikayat tentang laboratorium, wabah, dan keyakinan bahwa akal sehat adalah salah satu warisan paling berharga yang pernah ditanamkan di Kota Kembang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)