Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 03 Feb 2026, 16:33 WIB
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Jauh sebelum Jalan Pasteur dipenuhi kendaraan, kawasan ini telah lebih dulu mengenal kesibukan lain. Bukan klakson atau deru mesin, melainkan aktivitas laboratorium yang nyaris tak terdengar. Pada awal abad ke 20, wilayah ini dipilih sebagai rumah bagi lembaga penelitian vaksin, menjadikannya salah satu pusat ilmu kesehatan paling penting di Hindia Belanda.

Kesibukan itu tidak berlangsung di ruang terbuka. Ia tersembunyi di balik dinding tebal, meja kayu panjang, tabung reaksi, dan bau bahan kimia yang samar. Pasteur Bandung sejak mula bukan kawasan yang dibangun untuk dipamerkan. Ia lahir dari kebutuhan yang sangat praktis dan mendesak, yaitu bagaimana mengendalikan penyakit menular di wilayah koloni tropis yang kerap diguncang wabah.

Penamaan Pasteur sebagai sebuah kawasan sendiri baru datang belakangan. Catatanh sejarah menyebutkan Pasteur diilhami nama seorang ilmuwan Prancis yang pemikirannya mengubah cara manusia memahami penyakit. Louis Pasteur, lahir pada 1822, bukan tokoh yang pernah menginjakkan kaki di Bandung. Namun gagasannya menempuh perjalanan jauh, menyeberangi benua, hingga berakar kuat di tanah Priangan. Dari sinilah sebuah kawasan di Bandung memperoleh identitas yang berbeda dari kawasan lain.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga Baheula, Kiblat Wajah Parijs van Java Bandung

Louis Pasteur dikenal karena satu gagasan kunci, bahwa mikroorganisme adalah aktor utama di balik pembusukan dan penyakit. Gagasan ini terdengar sederhana hari ini, tetapi pada abad ke-19 ia bersifat revolusioner. Lewat eksperimen dan ketekunan, Pasteur membuka jalan bagi pengembangan vaksin dan metode sterilisasi pangan. Ilmu pengetahuan tak lagi sekadar wacana akademik, melainkan alat untuk menyelamatkan hidup.

Pengaruh pemikiran Pasteur menjalar cepat, terutama ke wilayah wilayah kolonial yang menjadi ladang empuk bagi penyakit menular. Hindia Belanda adalah salah satunya. Penyakit cacar, kolera, malaria, dan rabies bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga ancaman bagi stabilitas ekonomi dan administrasi kolonial. Maka riset kesehatan menjadi urusan yang sangat serius.

Pada 1890, pemerintah kolonial mendirikan Parc Vaccinogene di Batavia. Lembaga ini bertugas mengembangkan vaksin dan serum untuk menghadapi wabah. Dalam perkembangannya, lembaga ini menjalin hubungan erat dengan Institut Pasteur di Paris, pusat riset mikrobiologi yang sudah diakui dunia. Nama Pasteur pun disematkan sebagai penanda orientasi ilmiah lembaga tersebut.

Baca Juga: Hadiah Bandung untuk Dunia, Riwayat Kina yang Kini Terlupa

Tetapi Batavia tidak pernah ideal sebagai pusat riset jangka panjang. Iklim panas, sanitasi yang buruk, dan kepadatan penduduk membuat kegiatan laboratorium kerap terganggu. Bandung, dengan udara sejuk dan lingkungan yang relatif lebih tertata, mulai dilirik. Kota ini sedang tumbuh sebagai pusat administrasi dan pendidikan. Dalam rencana besar pemerintah kolonial, Bandung bahkan sempat diproyeksikan sebagai calon ibu kota baru.

Dari Batavia ke Dataran Tinggi

Pemindahan lembaga vaksin ke Bandung pada 1923 bukan sekadar soal geografis. Ia mencerminkan perubahan cara pandang terhadap ilmu pengetahuan. Riset kesehatan membutuhkan lingkungan yang tenang, stabil, dan relatif steril. Bandung menawarkan semua itu. Dataran tinggi, jauh dari hiruk pikuk pelabuhan, dan memiliki infrastruktur yang terus dibangun.

Lokasi yang dipilih berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Pasteur nomor 28. Bangunan laboratorium dirancang oleh arsitek ternama Charles Prosper Wolff Schoemaker, yang dikenal piawai memadukan fungsi dan estetika. Bangunan ini tidak sekadar kokoh, tetapi juga dirancang untuk mendukung kerja ilmiah. Ventilasi, pencahayaan, dan tata ruang laboratorium diperhitungkan dengan cermat.

Sejak saat itu, kawasan Pasteur mulai membentuk wataknya. Ia tidak berkembang sebagai kawasan niaga atau permukiman elite. Aktivitas utamanya berpusat pada penelitian, produksi vaksin, dan layanan kesehatan. Di sekitarnya tumbuh fasilitas pendukung, termasuk rumah sakit dan institusi pendidikan kedokteran. Pasteur Bandung menjadi simpul penting dalam jaringan ilmu kesehatan di Hindia Belanda.

Baca Juga: Batavia jadi Sarang Penyakit, Bandung Ibu Kota Pilihan Hindia Belanda

Pada masa ini, lembaga tersebut dikenal dengan berbagai nama, mengikuti dinamika administrasi kolonial. Namun fungsinya tetap sama, yaitu memproduksi vaksin dan melakukan riset penyakit menular. Dari sinilah vaksin cacar, rabies, dan serum lainnya diproduksi untuk kebutuhan luas, tidak hanya di Jawa, tetapi juga wilayah lain di Nusantara.

Pemandangan udara Institut Pasteur di Bandung tahun 1925. (Sumber: Tropenmuseum)
Pemandangan udara Institut Pasteur di Bandung tahun 1925. (Sumber: Tropenmuseum)

Ketika Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, kawasan Pasteur kembali mengalami perubahan. Nama lembaga diganti, kepemimpinan beralih, tetapi aktivitas inti tetap berjalan. Dalam situasi perang dan kekurangan, produksi vaksin tetap dipertahankan. Penyakit, seperti biasa, tidak menunggu stabilitas politik.

Prolamasi kemerdekaan membawa babak baru yang jauh lebih menentukan. Untuk pertama kalinya, lembaga ini dipimpin oleh orang Indonesia. Peralihan ini bukan proses yang mulus. Revolusi, keterbatasan sumber daya, dan konflik bersenjata memaksa lembaga ini sempat berpindah ke luar Bandung. Namun pengalaman ini justru menegaskan pentingnya kemandirian di bidang kesehatan.

Baca Juga: Sejarah Flyover Pasupati Bandung, Gagasan Kolonial yang Dieksekusi Setelah Reformasi

Setelah situasi relatif stabil, lembaga ini kembali ke Bandung dan masuk dalam struktur Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Nama dan statusnya terus berubah mengikuti kebijakan nasionalisasi dan restrukturisasi BUMN. Dari PN Pasteur hingga PN Bio Farma, lalu Perum Bio Farma, dan akhirnya menjadi PT Bio Farma Persero.

Pasteur sebagai Simbol Ilmu dan Ingatan Kota

Transformasi menjadi Bio Farma menandai fase baru kawasan Pasteur Bandung. Dari lembaga kolonial, ia beralih menjadi institusi nasional dengan ambisi global. Bio Farma berkembang menjadi satu satunya produsen vaksin lokal di Indonesia. Produknya mendukung program imunisasi nasional dan juga diekspor ke berbagai negara melalui kerja sama internasional.

Kawasan Pasteur pun ikut berubah. Jalan yang dahulu lengang kini menjadi salah satu koridor tersibuk di Bandung. Hotel, pusat perbelanjaan, dan infrastruktur transportasi tumbuh pesat. Namun di tengah perubahan itu, bangunan tua di nomor 28 tetap bertahan, menjaga kesinambungan sejarah yang jarang disadari pengguna jalan.

Jejak nama Pasteur juga menunjukkan daya tahan yang unik. Secara administratif, jalan ini bernama Jalan Dr Djundjunan. Namun dalam praktik sehari hari, nama Pasteur jauh lebih hidup. Ia digunakan oleh warga, pengemudi, wisatawan, dan media. Nama ini bertahan bukan karena kebijakan, melainkan karena memori kolektif.

Pada 2015, Bio Farma meresmikan Museum Bio Farma di kompleks bangunan bersejarah tersebut. Museum ini tidak dirancang sebagai ruang nostalgia kosong. Ia menyajikan perjalanan panjang vaksin di Indonesia, dari masa wabah hingga era bioteknologi modern. Di dalamnya tersimpan alat laboratorium lama, arsip, dan dokumentasi yang menunjukkan bahwa kemajuan kesehatan lahir dari proses panjang, bukan keajaiban instan.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Keberadaan museum ini menegaskan satu hal penting. Pasteur Bandung bukan sekadar kawasan lalu lintas. Ia adalah ruang sejarah. Di sinilah ilmu pengetahuan pernah, dan masih, bekerja secara konkret. Bukan dalam bentuk slogan, tetapi dalam produksi vaksin yang menyentuh hidup jutaan orang.

Jika kawasan lain di Bandung dikenal karena gaya hidup atau hiburan, Pasteur memiliki karakter yang lebih sunyi. Ia mewakili sisi kota yang bekerja dalam diam. Sisi yang jarang difoto, tetapi dampaknya terasa luas. Dari sinilah vaksin mengalir ke puskesmas, rumah sakit, dan pelosok negeri.

Di tengah kemacetan dan pembangunan, Pasteur Bandung tetap menyimpan lapisan sejarah yang penting. Ia mengingatkan bahwa sebelum menjadi pintu masuk wisata, kawasan ini lebih dulu menjadi pintu masuk bagi pengetahuan. Sebuah hikayat tentang laboratorium, wabah, dan keyakinan bahwa akal sehat adalah salah satu warisan paling berharga yang pernah ditanamkan di Kota Kembang.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 02 Feb 2026, 17:06 WIB

Mojang Bandung Merumput: Geliat Akar Rumput dan Investasi Masa Depan di Kota Sepak Bola

Lapangan hijau Kota Bandung tak lagi hanya didominasi oleh anak laki-laki, melainkan riuh dengan langkah kaki mojang-mojang cilik yang membawa harapan baru bagi industri sepak bola putri Indonesia.
Mojang-mojang cilik yang membawa harapan baru bagi industri sepak bola putri Indonesia lewat kemeriahan MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Bandung Seri 2 2025 - 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 02 Feb 2026, 15:58 WIB

Geliat Bisnis Perlengkapan Anak, Mengupas Strategi IMOBY Bandung Menangkap Ledakan Pasar Millennial Parents

Sektor perlengkapan ibu dan anak di Indonesia menunjukkan daya tahan dan pertumbuhan yang sangat progresif. Fenomena ini sejatinya berakar pada data demografis yang solid.
Ribuan orang tua rela mengantre demi mendapatkan kurasi produk terbaik bagi buah hati, mencerminkan pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kini lebih mengutamakan kualitas. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)