Datang ke Bandung dengan Harapan, Bertahan dengan Kenyataan

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Ilustrasi perantau baru yang penuh semangat dan harapan saat pertama kali tiba di Bandung (kiri), yang kemudian dihadapkan pada kenyataan pahit perjuangan hidup di kota (kanan). (Foto: Gambar dihasilkan oleh Gemini, 2026.)
Ilustrasi perantau baru yang penuh semangat dan harapan saat pertama kali tiba di Bandung (kiri), yang kemudian dihadapkan pada kenyataan pahit perjuangan hidup di kota (kanan). (Foto: Gambar dihasilkan oleh Gemini, 2026.)

Setelah perayaan Lebaran usai, arus urbanisasi kembali bergerak menuju kota-kota besar. Dalam pola yang berulang setiap tahun, para pendatang bermaksud untuk mencari peluang baru. Di antara berbagai tujuan, Bandung tetap menjadi magnet yang kuat. Wajah-wajah baru berdatangan dengan membawa harapan—tapi tidak selalu membawa gambaran yang utuh tentang kota ini.

Kota ini menjanjikan banyak hal: peluang pendidikan, ruang kreatif, hingga gaya hidup yang dianggap lebih nyaman dibanding kota metropolitan lain. Bagi para pendatang, keputusan datang ke Bandung hampir selalu dimulai dengan harapan. Namun, bertahan di dalamnya sering kali menghadirkan pengalaman yang lebih kompleks.

Datang dengan Harapan

Suasana arus balik mulai terlihat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Suasana arus balik mulai terlihat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Di benak banyak orang, Bandung adalah kota yang “pas”. Tidak sepadat Jakarta, namun cukup hidup untuk menawarkan peluang. Citra ini diperkuat oleh media sosial dan pariwisata: deretan kafe estetik, suasana kota yang relatif sejuk, serta kesan bahwa jarak antar tempat tidak terlalu jauh.

Sebagai kota pendidikan, Bandung juga menarik ribuan mahasiswa dari berbagai daerah setiap tahun. Mereka datang dengan ekspektasi akan kehidupan yang dinamis namun tetap nyaman—termasuk dalam hal mobilitas. Dalam bayangan ini, aktivitas sehari-hari terasa mudah dijangkau dan tidak terlalu melelahkan.

Harapan-harapan tersebut menjadi fondasi awal bagi banyak orang dalam memulai hidup baru di kota ini.

Bertemu Kenyataan

Namun, setelah menetap, sebagian pendatang mulai menyadari bahwa realitas tidak selalu berjalan seiring dengan ekspektasi.

Salah satu pengalaman yang cukup sering muncul adalah kemacetan lalu lintas. Data Dinas Perhubungan menunjukkan bahwa jumlah kendaraan di Kota Bandung pada tahun 2025 mencapai sekitar 2,4 juta unit, mendekati jumlah penduduk yang sekitar 2,5 juta jiwa. Komposisinya didominasi oleh sepeda motor, yang mencapai sekitar 1,8 juta unit. Rasio ini menggambarkan tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Dalam banyak kasus, pertumbuhan kendaraan tersebut tidak diikuti oleh peningkatan kapasitas jalan yang signifikan. Dengan karakter jaringan jalan yang relatif terbatas, kondisi ini berkontribusi pada kepadatan lalu lintas di berbagai titik kota, terutama pada jam sibuk. Hal ini yang menyebabkan Bandung dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia dan peringkat 16 di dunia berdasarkan TomTom Traffic Index 2025.

Penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan di Bandung raya menyebabkan polusi udara sudah melebihi ambang batas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan di Bandung raya menyebabkan polusi udara sudah melebihi ambang batas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Bagi pendatang, situasi ini dapat menjadi pengalaman yang cukup mengejutkan. Perjalanan yang secara jarak terlihat dekat, dalam praktiknya sering kali memerlukan waktu yang lebih panjang dari perkiraan. Ketidakpastian waktu tempuh menjadi bagian dari rutinitas yang harus dihadapi.

Transportasi umum tersedia, mulai dari angkutan kota (angkot) hingga layanan berbasis aplikasi. Namun demikian, dalam banyak situasi, integrasi antarmoda masih belum optimal. Perjalanan sering kali tidak bersifat langsung (direct), melainkan membutuhkan beberapa kali perpindahan, yang berdampak pada efisiensi waktu dan kenyamanan.

Di titik inilah fase “bertahan” mulai terasa. Pendatang berupaya menyesuaikan diri dengan ritme mobilitas kota yang sebenarnya.

Sebagian memilih tinggal di kawasan pinggiran karena pertimbangan biaya hunian. Pilihan ini membawa konsekuensi berupa perjalanan komuter yang lebih panjang. Dalam praktiknya, satu perjalanan bisa melibatkan kombinasi berjalan kaki, angkot, dan ojek daring.

Sebagian lainnya menyesuaikan pola aktivitas harian, seperti berangkat lebih awal untuk menghindari kepadatan lalu lintas, atau memanfaatkan aplikasi digital untuk mencari rute yang lebih efisien.

Tidak sedikit pula yang akhirnya menggunakan kendaraan pribadi sebagai solusi praktis. Namun, pilihan ini bersifat dilematis: mempermudah mobilitas individu, tetapi dalam skala kolektif turut menambah beban lalu lintas kota.

Mengapa Harapan dan Kenyataan Berjarak?

Kesenjangan antara harapan dan kenyataan ini dapat dipahami melalui beberapa aspek utama dalam sistem transportasi perkotaan.

Dari sisi aksesibilitas, layanan transportasi publik belum menjangkau seluruh kawasan secara merata. Dari sisi directness, perjalanan sering kali tidak efisien karena memerlukan perpindahan moda. Dari sisi kenyamanan, tingkat kepadatan pada jam sibuk masih menjadi tantangan.

Selain itu, aspek keselamatan dan daya tarik transportasi publik juga berperan. Selama transportasi umum belum sepenuhnya mampu bersaing dari sisi kenyamanan dan kepraktisan, masyarakat cenderung memilih kendaraan pribadi sebagai alternatif yang dianggap lebih mudah.

Penumpukan penumpang terjadi Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Kamis 19 Maret 2026 akibat keterlambatan kedatangan armada yang terjebak kemacetan arus mudik Lebaran 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Penumpukan penumpang terjadi Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Kamis 19 Maret 2026 akibat keterlambatan kedatangan armada yang terjebak kemacetan arus mudik Lebaran 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Ketika mobilitas menjadi kurang efisien, dampaknya meluas ke berbagai aspek kehidupan. Waktu tempuh yang panjang dapat memengaruhi produktivitas, sementara biaya transportasi yang meningkat menjadi beban tambahan bagi sebagian masyarakat.

Dalam jangka panjang, kondisi ini juga berpotensi menciptakan kesenjangan. Mereka yang memiliki akses terhadap kendaraan pribadi memiliki fleksibilitas lebih tinggi, sementara pengguna transportasi umum harus beradaptasi dengan berbagai keterbatasan.

Selain itu, tekanan mobilitas harian juga dapat berdampak pada kualitas hidup, baik secara fisik maupun psikologis.

Menuju Kota yang Lebih Siap Menampung Harapan

Bandung tetap memiliki daya tarik yang kuat. Namun, seiring dengan meningkatnya jumlah pendatang, sistem mobilitas kota perlu berkembang secara lebih adaptif.

Integrasi transportasi publik dapat menjadi salah satu kunci. Penguatan angkutan massal, peningkatan fasilitas pejalan kaki, serta pengembangan infrastruktur sepeda merupakan beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan untuk menciptakan sistem yang lebih seimbang.

Di sisi lain, penyediaan informasi transportasi yang jelas dan mudah diakses juga penting untuk membantu pendatang beradaptasi dengan lebih cepat.

Lebih jauh, perencanaan kota yang berorientasi pada mobilitas berkelanjutan menjadi penting agar pertumbuhan kota tidak selalu diikuti oleh peningkatan kemacetan.

Datang ke Bandung dengan harapan adalah hal yang wajar. Namun, bertahan di dalamnya membutuhkan pemahaman terhadap dinamika kota yang lebih kompleks.

Bandung bukan hanya tentang citra kota kreatif dan nyaman, tetapi juga tentang tantangan mobilitas yang nyata. Di sanalah ruang perbaikan sekaligus peluang berada.

Pada akhirnya, masa depan Bandung tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang datang, tetapi oleh seberapa siap kota ini memastikan bahwa mereka yang datang benar-benar dapat bertahan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

Ayo Netizen 05 Apr 2026, 12:13

Dakwah Urban

Dakwah Urban

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)