Persib (Jurnalistik) Nu Aing

4 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Persib Nu Aing sebagai bentuk ikrar dan menunjukkan rasa cintanya pada Persib. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Persib Nu Aing sebagai bentuk ikrar dan menunjukkan rasa cintanya pada Persib. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)

Sore yang mendung itu, saat sebutan “Bapak Aing” untuk (KDM) tengah viral, anak kedua, Aa Akil (11 tahun), bertanya dengan polos, “Bah, bukannya panggilan aing itu kasar, ya?”

“Tergantung, A.”

Bocah kelas lima SD yang belum puas atas jawabanku, “Kata Bu Guru di pengajian tidak boleh, berkata aing atau nu aing.”

Kalau, "Persib nu aing, boleh ya Bah!" sambil tertawa terbahak-bahak.

Justru pertanyaan itu mengantar pikiranku melayang ke awal 2000-an, masa ketika pertama kali menjejakkan kaki di Bandung Coret, Cibiru pada Agustus 2002.

Jejak suasana dan gedung Al-Jamiah IAIN Sunan Gunung Djati tempo dulu (Sumber: Humas UIN Bandung | Foto: Istimewa)
Jejak suasana dan gedung Al-Jamiah IAIN Sunan Gunung Djati tempo dulu (Sumber: Humas UIN Bandung | Foto: Istimewa)

Merawat Ingatan

Saat itu, masih menjadi mahasiswa baru di IAIN (yang sejak 10 Oktober 2005 berubah menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung), mengikuti rangkaian Ta’aruf (Ospek) yang panjang, padat, melelahkan, tapi berkesan seumur hidup.

Seorang kawan dari Garut yang sempat mengabari melalui telepon ibu kos di PSM (Padepokan Sumber Mulya), tapi di kalangan penghuni, tempat ngekos itu lebih akrab disebut “Pondok Sisieun Makam.”

Ya, bukan tanpa alasan. Kosan itu memang berdampingan langsung dengan area pemakaman. Dari lantai dua, pandangan mata langsung tertuju pada pohon pisang, rumpun bambu, pohon nangka, hingga deretan nisan yang tersusun rapi menjadi pemandangan gratis dan bagian dari rutinitas keseharian ketika pulang - pergi ngampus.

Kamarku berada di lantai dua, di samping tangga, dekat kamar mandi. Posisinya cukup strategis, bahkan bila menengok ke bawah saat menjemur pakaian, terlihat dengan jelas deretan kuburan nisan.

Ada beberapa penghuni kamar atas yang kuliah di jurusan Jurnalistik. Tampak di depan pintu masuk tertulis slogan "Nu Aing"

Pernah satu waktu, kebetulan sorenya ada yang meninggal dan dikuburan setelah isya. Semalam hujan deras mengguyur Gang Kujang Cipadung, saat esok hari, bada subuh, penghuni rame (heboh), pada nongkrong di lantai 2 karena posisi makam melorot, hampir kelihatan, padung, papan liang lahat yang baru dikurebkeun semalam, dengan tanah merah yang basah dan tumpukan bunga-bunga (kembang tujuh warna) masih segar, belum layu.

Sebenarnya seorang kawan tidak sepenuhnya ngekos, ikut nebeng. Sejak awal kuliah memilih pulang-pergi ke Baleendah agar tetap bersama keluarga. Maklum, setelah enam tahun mondok di Garut sejak lulus SD, ada kerinduan yang ingin dituntaskan agar bisa hidup berdampingan di tengah keluarga kecil tercinta.

Terkadang dalam situasi tertentu, ketika tugas menumpuk, kegiatan padat, termasuk masa Ta’aruf (Ospek). Sesekali menginap di kosan PSM jadi andalan terbaik dan penyelamatan atas ketidak bisaan pulang akibat banjir, cileuncang mengepung Bandung.

Sering digunakan sebagai yel-yel, caption medsos (Sumber: Instagram @jurnalistikuinbdg | Foto: Istimewa)
Sering digunakan sebagai yel-yel, caption medsos (Sumber: Instagram @jurnalistikuinbdg | Foto: Istimewa)

Gerbang Kuliah Kehidupan

Hari pertama Ospek, menjelang magrib, setelah bubaran mentoring, langkah kecil (tidak tergesa-gesa) berhenti sejenak saat melintas di antara stand Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dari kejauhan terdengar pekikan berulang, lantang, dan menggetarkan hati.

“Nu aing! Nu aing! Nu aing!”

Suara itu menggema, memantul di lorong-lorong kampus, diantara deretan stand yang mulai redup, senja di sekitar Cipadung.

Bada salat magrib di Masjid Ikomah, perbincangan kecil mulai muncul. Bagi sebagian kawan, teriakan “nu aing” terasa kasar, bahkan nyaris tak pantas diucapkan di lingkungan kampus yang bernafaskan Islam. "Ini kampus IAIN"

Desain-desain jersey Persib Bandung, setiap musimnya berbeda dan selalu punya makna dan cerita tersendiri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Desain-desain jersey Persib Bandung, setiap musimnya berbeda dan selalu punya makna dan cerita tersendiri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bahasa Identitas Ki Sunda

Rupanya, di situlah barangkali letak persoalan dan cara pandangnya yang berbeda. Padahal, bahasa tidak pernah berdiri sendiri, melainkan lahir dari ruang, tumbuh dalam budaya, dan berubah makna sesuai siapa yang mengucapkannya, kepada siapa, dan dalam suasana apa.

“Aing” bisa terdengar keras di satu telinga, tetapi bisa menjadi ekspresi keakraban di pendengar yang lain.

Bisa terasa kasar dalam ruang dan suasana formal, namun justru hangat dan kuat dalam lingkar pertemanan yang egaliter. Tidak ada sekat, perbedaan.

Jawaban “tergantung” yang dulu diucapkan kepada anak, sesungguhnya bukan sekadar jalan pintas. Melainkan pintu (terbuka) menuju pemahaman yang terus berkembang sesuai dinamika masyarakat.

Pasalnya, kata-kata tidak hanya soal benar-salah (baik-buruk), tetapi hadir dalam rasa, konteks, dan cara kita memaknai sesama.

Memang di antara gema “nu aing” di masa lalu dan kegelisahan seorang anak di masa kini, justru kita sedang belajar untuk memahami bahasa sebagai cermin dari cara kita menjadi manusia dan identitas seutuhnya.

Terlebih, bila kita sedang asyik nonton sepakbola antara Persib melawan Persija, maka selalu ada Bobotoh unik memakai baju “Persib nu Aing, Maung nu Bandung” "Persib nu Aing, Maung nu Kodim" "Persib nu Aing, Aing nu Saha" "Persib nu Aing, Ari Aing nu Saha, Nya Teuing Eta Sugan" "Persib nu Aing, Aing & Persib nu Allah" bak laut biru, sambil berteriak lantang menyanyikan lagu PAS Band "Aing Pendukung Persib"

Asup! Asup!/Asup! Asup!/Asup! Asup!

Aing pendukung Persib/Kubela sampai mati

Dari zaman Encas Tonif/Sampai zaman akhir nanti

Kujual baju celanaku/Untuk menonton permainanmu

Lapar teu paduli/Nu penting Aing lalajo Persib

Tiba-tiba di luar rumah sayup-sayup terdengar obrolan tetangga nyeletuk; "Ceuk Aing oge...;(Ceuk Aing ge naon...); Ceuk Aki Aing...; Ceuk Abah Aing, teh pamali...; Kumaha Aing we..; Ka dieu sia dilékék ku Aing.

Bahasa (aing, nu urang) bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah yang merekam, mewariskan nilai-nilai, norma, tradisi, adat istiadat, dan sejarah suatu kelompok masyarakat dari generasi ke generasi.

Walhasil, melalui kosa kata, tutur lisan, struktur bahasa, dan cara berpikir, jejak budaya (Ki Sunda) masyarakat dapat terlihat, terjaga, dan terawat atas nama cinta pada warisan leluhur.

Dengan demikian, menjaga bahasa dan tradisi menjadi bagian dari jati diri yang harus terus dilestarikan, dikembangkan sebagai pondasi karakter bangsa yang besar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 13:14

Untuk Apa Jawa Barat Memiliki 37 BUMD?

Masalah muncul ketika semua BUMD diletakkan dalam keranjang yang sama.

Kantor Bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 12:50

Setelah Status Guru PPPK Diambil Alih Pemerintah Pusat, Apa yang Terjadi?

Banyak yang mempertanyakan nasib dan status PPPK Non-Guru saat ini yang sistem penggajiannya menjadi urusan daerah.

Ilustrasi pegawai dengan status PPPK (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 10:41

Mampukah Bandung Bersaing Menjadi Global City

Global city menjadi tujuan kota-kota besar untuk diakui secara internasional. Dan, Kota Bandung memiliki potensi yang sangat besar menjadi salah satu Global City. Tinggal bagaimana cara mewujudkan.

Sejumlah apartemen dan hotel berdiri di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 08:33

Anwar Tohari Mencari Mati: Antara Abab, Dendam, Muslihat, & Kebenaran

Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual.

Buku "Anwar Tohari Mencari Mati". (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 21 Agu 2026, 08:13

Kota Bandung Masih Menarik Wisatawan? Angka-angka Ini Menceritakannya

Setelah anjlok drastis akibat pandemi, wisatawan ke Kota Bandung kini melampaui level 2019. Simak tren kunjungan domestik dan mancanegara 2019-2025.

Wisatawan menikmati wahana kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, pada momen libur hari raya Idulfitri 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 07:54

Habis Agustusan, Tibalah Sampah

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas memasang umbul-umbul, membuat karnaval, menggelar lomba, menikmati panggung hiburan, lalu pulang meninggalkan (seonggok, tumpukan) sampah.

Beginilah sampah properti arak-arakan, karnaval 17 Agustusan (Sumber: AyoBandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 20 Agu 2026, 19:28

Menjahit Ulang Nasib Cibaduyut, Menjaga Barometer Kualitas ala Koku Footwear

Kisah Koku Footwear, UMKM sepatu kulit asal Cibaduyut, yang berhasil menembus pasar mancanegara dan mempertahankan warisan kerajinan lokal di tengah digitalisasi perdagangan Indonesia.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik produsen sepatu kulit Koku Footwear di Taman Cibaduyut Endah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 18:57

Ini Omah Sawah: Tempat Makan Hidden Gem Sekaligus Cozy di Cianjur

Cianjur yang menjadi julukan kota santri ini selain punya ikonik tauco ternyata banyak tempat kuliner hidden gem yang wajib disambangi

Cianjur memang selalu punya tempat menarik untuk dikunjungi (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 20 Agu 2026, 17:08

Bakul Pikul Kopi Tubruk di Terminal Kebon Kalapa Bandung

Nostalgia Terminal Kebon Kalapa Bandung (1964-1996) lewat aroma kopi tubruk bakul pikul.

Terminal Kebon Kalapa, Kota Bandung, pada 1980-an. (Sumber: Facebook | Foto: Foto2 TEMPO DOELOE kita semua)