Persib (Jurnalistik) Nu Aing

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Jumat 03 Apr 2026, 14:31 WIB
Persib Nu Aing sebagai bentuk ikrar dan menunjukkan rasa cintanya pada Persib. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)

Persib Nu Aing sebagai bentuk ikrar dan menunjukkan rasa cintanya pada Persib. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)

Sore yang mendung itu, saat sebutan “Bapak Aing” untuk (KDM) tengah viral, anak kedua, Aa Akil (11 tahun), bertanya dengan polos, “Bah, bukannya panggilan aing itu kasar, ya?”

“Tergantung, A.”

Bocah kelas lima SD yang belum puas atas jawabanku, “Kata Bu Guru di pengajian tidak boleh, berkata aing atau nu aing.”

Kalau, "Persib nu aing, boleh ya Bah!" sambil tertawa terbahak-bahak.

Justru pertanyaan itu mengantar pikiranku melayang ke awal 2000-an, masa ketika pertama kali menjejakkan kaki di Bandung Coret, Cibiru pada Agustus 2002.

Jejak suasana dan gedung Al-Jamiah IAIN Sunan Gunung Djati tempo dulu (Sumber: Humas UIN Bandung | Foto: Istimewa)
Jejak suasana dan gedung Al-Jamiah IAIN Sunan Gunung Djati tempo dulu (Sumber: Humas UIN Bandung | Foto: Istimewa)

Merawat Ingatan

Saat itu, masih menjadi mahasiswa baru di IAIN (yang sejak 10 Oktober 2005 berubah menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung), mengikuti rangkaian Ta’aruf (Ospek) yang panjang, padat, melelahkan, tapi berkesan seumur hidup.

Seorang kawan dari Garut yang sempat mengabari melalui telepon ibu kos di PSM (Padepokan Sumber Mulya), tapi di kalangan penghuni, tempat ngekos itu lebih akrab disebut “Pondok Sisieun Makam.”

Ya, bukan tanpa alasan. Kosan itu memang berdampingan langsung dengan area pemakaman. Dari lantai dua, pandangan mata langsung tertuju pada pohon pisang, rumpun bambu, pohon nangka, hingga deretan nisan yang tersusun rapi menjadi pemandangan gratis dan bagian dari rutinitas keseharian ketika pulang - pergi ngampus.

Kamarku berada di lantai dua, di samping tangga, dekat kamar mandi. Posisinya cukup strategis, bahkan bila menengok ke bawah saat menjemur pakaian, terlihat dengan jelas deretan kuburan nisan.

Ada beberapa penghuni kamar atas yang kuliah di jurusan Jurnalistik. Tampak di depan pintu masuk tertulis slogan "Nu Aing"

Pernah satu waktu, kebetulan sorenya ada yang meninggal dan dikuburan setelah isya. Semalam hujan deras mengguyur Gang Kujang Cipadung, saat esok hari, bada subuh, penghuni rame (heboh), pada nongkrong di lantai 2 karena posisi makam melorot, hampir kelihatan, padung, papan liang lahat yang baru dikurebkeun semalam, dengan tanah merah yang basah dan tumpukan bunga-bunga (kembang tujuh warna) masih segar, belum layu.

Sebenarnya seorang kawan tidak sepenuhnya ngekos, ikut nebeng. Sejak awal kuliah memilih pulang-pergi ke Baleendah agar tetap bersama keluarga. Maklum, setelah enam tahun mondok di Garut sejak lulus SD, ada kerinduan yang ingin dituntaskan agar bisa hidup berdampingan di tengah keluarga kecil tercinta.

Terkadang dalam situasi tertentu, ketika tugas menumpuk, kegiatan padat, termasuk masa Ta’aruf (Ospek). Sesekali menginap di kosan PSM jadi andalan terbaik dan penyelamatan atas ketidak bisaan pulang akibat banjir, cileuncang mengepung Bandung.

Sering digunakan sebagai yel-yel, caption medsos (Sumber: Instagram @jurnalistikuinbdg | Foto: Istimewa)
Sering digunakan sebagai yel-yel, caption medsos (Sumber: Instagram @jurnalistikuinbdg | Foto: Istimewa)

Gerbang Kuliah Kehidupan

Hari pertama Ospek, menjelang magrib, setelah bubaran mentoring, langkah kecil (tidak tergesa-gesa) berhenti sejenak saat melintas di antara stand Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dari kejauhan terdengar pekikan berulang, lantang, dan menggetarkan hati.

“Nu aing! Nu aing! Nu aing!”

Suara itu menggema, memantul di lorong-lorong kampus, diantara deretan stand yang mulai redup, senja di sekitar Cipadung.

Bada salat magrib di Masjid Ikomah, perbincangan kecil mulai muncul. Bagi sebagian kawan, teriakan “nu aing” terasa kasar, bahkan nyaris tak pantas diucapkan di lingkungan kampus yang bernafaskan Islam. "Ini kampus IAIN"

Desain-desain jersey Persib Bandung, setiap musimnya berbeda dan selalu punya makna dan cerita tersendiri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Desain-desain jersey Persib Bandung, setiap musimnya berbeda dan selalu punya makna dan cerita tersendiri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bahasa Identitas Ki Sunda

Rupanya, di situlah barangkali letak persoalan dan cara pandangnya yang berbeda. Padahal, bahasa tidak pernah berdiri sendiri, melainkan lahir dari ruang, tumbuh dalam budaya, dan berubah makna sesuai siapa yang mengucapkannya, kepada siapa, dan dalam suasana apa.

“Aing” bisa terdengar keras di satu telinga, tetapi bisa menjadi ekspresi keakraban di pendengar yang lain.

Bisa terasa kasar dalam ruang dan suasana formal, namun justru hangat dan kuat dalam lingkar pertemanan yang egaliter. Tidak ada sekat, perbedaan.

Jawaban “tergantung” yang dulu diucapkan kepada anak, sesungguhnya bukan sekadar jalan pintas. Melainkan pintu (terbuka) menuju pemahaman yang terus berkembang sesuai dinamika masyarakat.

Pasalnya, kata-kata tidak hanya soal benar-salah (baik-buruk), tetapi hadir dalam rasa, konteks, dan cara kita memaknai sesama.

Memang di antara gema “nu aing” di masa lalu dan kegelisahan seorang anak di masa kini, justru kita sedang belajar untuk memahami bahasa sebagai cermin dari cara kita menjadi manusia dan identitas seutuhnya.

Terlebih, bila kita sedang asyik nonton sepakbola antara Persib melawan Persija, maka selalu ada Bobotoh unik memakai baju “Persib nu Aing, Maung nu Bandung” "Persib nu Aing, Maung nu Kodim" "Persib nu Aing, Aing nu Saha" "Persib nu Aing, Ari Aing nu Saha, Nya Teuing Eta Sugan" "Persib nu Aing, Aing & Persib nu Allah" bak laut biru, sambil berteriak lantang menyanyikan lagu PAS Band "Aing Pendukung Persib"

Asup! Asup!/Asup! Asup!/Asup! Asup!

Aing pendukung Persib/Kubela sampai mati

Dari zaman Encas Tonif/Sampai zaman akhir nanti

Kujual baju celanaku/Untuk menonton permainanmu

Lapar teu paduli/Nu penting Aing lalajo Persib

Tiba-tiba di luar rumah sayup-sayup terdengar obrolan tetangga nyeletuk; "Ceuk Aing oge...;(Ceuk Aing ge naon...); Ceuk Aki Aing...; Ceuk Abah Aing, teh pamali...; Kumaha Aing we..; Ka dieu sia dilékék ku Aing.

Bahasa (aing, nu urang) bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah yang merekam, mewariskan nilai-nilai, norma, tradisi, adat istiadat, dan sejarah suatu kelompok masyarakat dari generasi ke generasi.

Walhasil, melalui kosa kata, tutur lisan, struktur bahasa, dan cara berpikir, jejak budaya (Ki Sunda) masyarakat dapat terlihat, terjaga, dan terawat atas nama cinta pada warisan leluhur.

Dengan demikian, menjaga bahasa dan tradisi menjadi bagian dari jati diri yang harus terus dilestarikan, dikembangkan sebagai pondasi karakter bangsa yang besar. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)