Sore yang mendung itu, saat sebutan “Bapak Aing” untuk (KDM) tengah viral, anak kedua, Aa Akil (11 tahun), bertanya dengan polos, “Bah, bukannya panggilan aing itu kasar, ya?”
“Tergantung, A.”
Bocah kelas lima SD yang belum puas atas jawabanku, “Kata Bu Guru di pengajian tidak boleh, berkata aing atau nu aing.”
Kalau, "Persib nu aing, boleh ya Bah!" sambil tertawa terbahak-bahak.
Justru pertanyaan itu mengantar pikiranku melayang ke awal 2000-an, masa ketika pertama kali menjejakkan kaki di Bandung Coret, Cibiru pada Agustus 2002.

Merawat Ingatan
Saat itu, masih menjadi mahasiswa baru di IAIN (yang sejak 10 Oktober 2005 berubah menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung), mengikuti rangkaian Ta’aruf (Ospek) yang panjang, padat, melelahkan, tapi berkesan seumur hidup.
Seorang kawan dari Garut yang sempat mengabari melalui telepon ibu kos di PSM (Padepokan Sumber Mulya), tapi di kalangan penghuni, tempat ngekos itu lebih akrab disebut “Pondok Sisieun Makam.”
Ya, bukan tanpa alasan. Kosan itu memang berdampingan langsung dengan area pemakaman. Dari lantai dua, pandangan mata langsung tertuju pada pohon pisang, rumpun bambu, pohon nangka, hingga deretan nisan yang tersusun rapi menjadi pemandangan gratis dan bagian dari rutinitas keseharian ketika pulang - pergi ngampus.
Kamarku berada di lantai dua, di samping tangga, dekat kamar mandi. Posisinya cukup strategis, bahkan bila menengok ke bawah saat menjemur pakaian, terlihat dengan jelas deretan kuburan nisan.
Ada beberapa penghuni kamar atas yang kuliah di jurusan Jurnalistik. Tampak di depan pintu masuk tertulis slogan "Nu Aing"
Pernah satu waktu, kebetulan sorenya ada yang meninggal dan dikuburan setelah isya. Semalam hujan deras mengguyur Gang Kujang Cipadung, saat esok hari, bada subuh, penghuni rame (heboh), pada nongkrong di lantai 2 karena posisi makam melorot, hampir kelihatan, padung, papan liang lahat yang baru dikurebkeun semalam, dengan tanah merah yang basah dan tumpukan bunga-bunga (kembang tujuh warna) masih segar, belum layu.
Sebenarnya seorang kawan tidak sepenuhnya ngekos, ikut nebeng. Sejak awal kuliah memilih pulang-pergi ke Baleendah agar tetap bersama keluarga. Maklum, setelah enam tahun mondok di Garut sejak lulus SD, ada kerinduan yang ingin dituntaskan agar bisa hidup berdampingan di tengah keluarga kecil tercinta.
Terkadang dalam situasi tertentu, ketika tugas menumpuk, kegiatan padat, termasuk masa Ta’aruf (Ospek). Sesekali menginap di kosan PSM jadi andalan terbaik dan penyelamatan atas ketidak bisaan pulang akibat banjir, cileuncang mengepung Bandung.

Gerbang Kuliah Kehidupan
Hari pertama Ospek, menjelang magrib, setelah bubaran mentoring, langkah kecil (tidak tergesa-gesa) berhenti sejenak saat melintas di antara stand Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dari kejauhan terdengar pekikan berulang, lantang, dan menggetarkan hati.
“Nu aing! Nu aing! Nu aing!”
Suara itu menggema, memantul di lorong-lorong kampus, diantara deretan stand yang mulai redup, senja di sekitar Cipadung.
Bada salat magrib di Masjid Ikomah, perbincangan kecil mulai muncul. Bagi sebagian kawan, teriakan “nu aing” terasa kasar, bahkan nyaris tak pantas diucapkan di lingkungan kampus yang bernafaskan Islam. "Ini kampus IAIN"

Bahasa Identitas Ki Sunda
Rupanya, di situlah barangkali letak persoalan dan cara pandangnya yang berbeda. Padahal, bahasa tidak pernah berdiri sendiri, melainkan lahir dari ruang, tumbuh dalam budaya, dan berubah makna sesuai siapa yang mengucapkannya, kepada siapa, dan dalam suasana apa.
“Aing” bisa terdengar keras di satu telinga, tetapi bisa menjadi ekspresi keakraban di pendengar yang lain.
Bisa terasa kasar dalam ruang dan suasana formal, namun justru hangat dan kuat dalam lingkar pertemanan yang egaliter. Tidak ada sekat, perbedaan.
Jawaban “tergantung” yang dulu diucapkan kepada anak, sesungguhnya bukan sekadar jalan pintas. Melainkan pintu (terbuka) menuju pemahaman yang terus berkembang sesuai dinamika masyarakat.
Pasalnya, kata-kata tidak hanya soal benar-salah (baik-buruk), tetapi hadir dalam rasa, konteks, dan cara kita memaknai sesama.
Memang di antara gema “nu aing” di masa lalu dan kegelisahan seorang anak di masa kini, justru kita sedang belajar untuk memahami bahasa sebagai cermin dari cara kita menjadi manusia dan identitas seutuhnya.
Terlebih, bila kita sedang asyik nonton sepakbola antara Persib melawan Persija, maka selalu ada Bobotoh unik memakai baju “Persib nu Aing, Maung nu Bandung” "Persib nu Aing, Maung nu Kodim" "Persib nu Aing, Aing nu Saha" "Persib nu Aing, Ari Aing nu Saha, Nya Teuing Eta Sugan" "Persib nu Aing, Aing & Persib nu Allah" bak laut biru, sambil berteriak lantang menyanyikan lagu PAS Band "Aing Pendukung Persib"
Asup! Asup!/Asup! Asup!/Asup! Asup!
Aing pendukung Persib/Kubela sampai mati
Dari zaman Encas Tonif/Sampai zaman akhir nanti
Kujual baju celanaku/Untuk menonton permainanmu
Lapar teu paduli/Nu penting Aing lalajo Persib
Tiba-tiba di luar rumah sayup-sayup terdengar obrolan tetangga nyeletuk; "Ceuk Aing oge...;(Ceuk Aing ge naon...); Ceuk Aki Aing...; Ceuk Abah Aing, teh pamali...; Kumaha Aing we..; Ka dieu sia dilékék ku Aing.
Bahasa (aing, nu urang) bukan sekadar alat komunikasi, melainkan wadah yang merekam, mewariskan nilai-nilai, norma, tradisi, adat istiadat, dan sejarah suatu kelompok masyarakat dari generasi ke generasi.
Walhasil, melalui kosa kata, tutur lisan, struktur bahasa, dan cara berpikir, jejak budaya (Ki Sunda) masyarakat dapat terlihat, terjaga, dan terawat atas nama cinta pada warisan leluhur.
Dengan demikian, menjaga bahasa dan tradisi menjadi bagian dari jati diri yang harus terus dilestarikan, dikembangkan sebagai pondasi karakter bangsa yang besar. (*)
