Bandung dalam Kenangan Pendatang Era 90-an

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Kamis 02 Apr 2026, 08:44 WIB
Mahasiswa di Bandung pada era 1990-an, para pendatang dari berbagai daerah. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Mahasiswa di Bandung pada era 1990-an, para pendatang dari berbagai daerah. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Awal tahun 1990-an, Bandung selalu kedatangan wajah-wajah baru, terutama setelah Lebaran. Mereka datang dengan koper dan tas sederhana, mencari  alamat kos yang sesuai dengan kantong mahasiswa baru, dan segenggam harapan untuk memulai hidup baru di kota Bandung.

Sebagian besar adalah mahasiswa dari berbagai kota. Saya pun pernah menjadi salah satunya.

Sebelum datang dan menetap di Bandung, dalam bayangan terasa seperti kota yang nyaris romantis. Dari cerita orang dan dari media, Bandung sering disebut sebagai kota pendidikan yang sejuk, kreatif, dan penuh kehidupan anak muda. Ada bayangan tentang jalan yang teduh oleh pepohonan, musik yang hidup di berbagai sudut kota, dan kedai indomie rebus tempat orang berbincang hingga larut malam.

Namun ketika benar-benar tiba di Bandung pada awal 1990-an, ada rasa kagum sekaligus sedikit terkejut.

Bandung memang sejuk, setidaknya dibanding kota asal saya Subang, tetapi tidak selalu seindah bayangan. Jalanan yang macet, angkot berebut penumpang, dan suara klakson kadang lebih ramai daripada suara burung. Namun justru di situlah Bandung terasa nyata. Kota ini hidup dengan ritmenya sendiri.

Bagi pendatang, angkot sering menjadi “guru” pertama dalam mengenali kota. Dari dalam kendaraan kecil yang penuh penumpang itu, kami mulai menghafal rute-rute dalam kota seperti Ledeng, Dago, Kebon Kalapa, Stasiun Hall, hingga Cicaheum.

Tidak jarang salah naik angkot, tersasar beberapa kilometer, lalu turun dengan wajah bingung di persimpangan yang belum pernah dikenal. Tapi dari pengalaman kecil seperti itulah, Bandung perlahan menjadi akrab.

Penulis saat mengisi acara talkshow di sebuah radio di Bandung, Nostalgia era 1990-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis saat mengisi acara talkshow di sebuah radio di Bandung, Nostalgia era 1990-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Hal lain yang cepat terasa adalah bahasa.

Percakapan sehari-hari di kampus, di warung, atau di dalam angkot sering menggunakan bahasa Sunda dengan nada yang lembut.

Kata-kata seperti punten, mangga, atau hatur nuhun awalnya terdengar asing bagi pendatang. Namun lama-kelamaan kata-kata itu ikut menempel di lidah. Bandung seolah mengajarkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cara menyampaikan keramahan.

Kehidupan mahasiswa saat itu berjalan sederhana. Hari-hari biasanya berputar antara kampus, kos, dan warung makan. Belum ada gadget, jaringan internet ataupun ojek online.

Warung nasi timbel, gorengan, batagor, siomay, indomie rebus menjadi penyelamat kantong mahasiswa. Harganya murah, porsinya cukup, dan rasanya sering kali lebih membekas daripada makanan mahal.

Penulis bernostalgia di Gedung Kesenian Rumentang Siang, salah satu tempat yang sering dikunjungi pada era 1990-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Penulis bernostalgia di Gedung Kesenian Rumentang Siang, salah satu tempat yang sering dikunjungi pada era 1990-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Malam hari, obrolan bisa berlangsung lama di kedai bubur kacang, warteg sederhana atau di teras kos. Topiknya bisa apa saja mulai dari musik, kuliah, masa depan, sampai mimpi-mimpi yang terasa begitu besar di usia muda.

Di tahun 90-an, Bandung juga terasa sangat hidup secara kreatif. Kios kaset berderet di beberapa sudut kota, menjual album-album baru dari band dalam negeri maupun luar negeri. Musik menjadi bahasa bersama anak-anak muda dari penjual kaset kelas emperan hingga toko kaset ternama Aquarius di kawasan elit Dago.

Di beberapa tempat, diskusi kecil tentang seni, sastra, atau politik sering muncul tanpa direncanakan. Bandung bukan hanya kota tempat belajar di ruang kelas, tetapi juga tempat belajar memahami dunia.

Baca Juga: Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Waktu berjalan cepat.

Mahasiswa yang dulu datang sebagai pendatang perlahan menjadi bagian dari kota ini. Ketika masa kuliah selesai dan orang-orang kembali ke kota asalnya, Bandung sering tertinggal sebagai kenangan yang hangat seperti angkot yang penuh, udara pagi yang dingin, warung makan sederhana, dan persahabatan yang tumbuh tanpa banyak rencana.

Bandung hari ini mungkin sudah banyak berubah. Namun bagi mereka yang pernah menjalani masa muda di sana pada tahun 90-an, kota itu akan selalu tinggal dalam ingatan sebagai tempat di mana kehidupan pertama kali benar-benar dipelajari. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)