Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Minggu 22 Mar 2026, 08:58 WIB
Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik. Di berbagai sudut kota, ada satu kebiasaan sederhana yang turut mewarnai hari-hari menjelang hari raya yaitu tradisi berkirim kartu ucapan Lebaran.

Dari lapak kecil di sekitar kantor pos hingga etalase toko buku, kartu-kartu bergambar masjid, ketupat, bulan sabit, dan kaligrafi "Selamat Idulfitri” tersusun rapi di papan pajangan. Kartu-kartu kecil itu menjadi jembatan sederhana yang menghubungkan hati orang-orang yang terpisah jarak.

Di Bandung pada masa itu, tradisi berkirim kartu Lebaran memiliki nuansa khas Kota Kembang. Di kawasan pusat kota, terutama di sekitar kantor pos, toko buku, atau kios alat tulis di jalan-jalan ramai dengan para pedagang menjajakan berbagai pilihan kartu ucapan dengan desain yang beragam. Anak-anak sekolah, mahasiswa, hingga pegawai kantor sering terlihat berhenti sejenak untuk memilih kartu yang dianggap paling menarik sebelum mengirimkannya kepada sahabat atau keluarga di luar kota.

Harga kartu pun sangat terjangkau, berkisar antara Rp 500 hingga Rp 1.000. Karena itu hampir semua kalangan dapat membelinya. Aktivitas kecil ini menjadi bagian dari suasana menjelang Lebaran yang menambah semarak denyut kota.

Di beberapa toko buku dan kios alat tulis, kartu-kartu Lebaran dipajang bersama amplop warna-warni serta perangko bergambar menarik. Banyak orang sengaja datang beberapa hari sebelum hari raya untuk menuliskan pesan dengan rapi, lalu mengirimkannya melalui kantor pos agar tiba tepat pada hari Idulfitri.

Ada kepuasan tersendiri ketika kartu yang dikirim akhirnya sampai ke tangan penerima, sebuah tanda bahwa silaturahmi tetap terjalin meskipun dipisahkan oleh jarak.

Isi Kartu Lebaran sebagai Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Isi Kartu Lebaran sebagai Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Bagi banyak orang pada masa itu, mengirim kartu Lebaran bukan sekadar formalitas. Ia adalah cara menyampaikan perhatian kepada kerabat, sahabat, atau keluarga yang tinggal jauh di perantauan. Setelah memilih kartu yang dianggap paling indah, orang biasanya menuliskan pesan singkat di bagian belakang, ucapan maaf lahir batin yang ditulis dengan tangan, sering kali dengan kalimat yang hangat dan personal.

Menurut sebuah sumber, tradisi berkirim pesan semacam ini sebenarnya memiliki akar yang sangat panjang dalam sejarah manusia. Jauh sebelum kartu ucapan dikenal seperti sekarang, masyarakat pada peradaban Mesir Kuno sekitar 4.000 tahun lalu telah saling berkirim pesan menggunakan batu kecil berbentuk kumbang yang dikenal sebagai scarab. Simbol tersebut digunakan sebagai media untuk menyampaikan doa, harapan, atau pesan tertentu.

Dalam perkembangan berikutnya, tradisi kartu ucapan modern mulai dikenal di Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Sekitar tahun 1871, pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan kartu pos yang dikenal sebagai briefkaart, sering dihiasi gambar pemandangan alam Nusantara. Seiring waktu, kartu pos berkembang bukan hanya sebagai sarana komunikasi singkat, tetapi juga sebagai benda seni yang bernilai estetis.

Tradisi kartu ucapan khusus untuk Lebaran mulai dikenal pada awal abad ke-20. Pada tahun 1918, sebuah surat bertuliskan "Selamat Lebaran” diterbitkan oleh Singer Sewing Machine Co. Awalnya surat tersebut berisi pengingat bagi para penyewa mesin jahit agar menyisihkan uang untuk membayar sewa pada bulan Juli dan Agustus tahun itu. Namun dari situlah istilah ucapan "Selamat Lebaran” mulai dikenal luas di masyarakat.

Berbagai Kartu Lebaran era tahun 1990-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Berbagai Kartu Lebaran era tahun 1990-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Memasuki tahun 1927, masyarakat pribumi mulai mengenal kartu Lebaran dengan desain yang khas. Salah satunya menggambarkan seseorang berperahu sambil mengibarkan bendera Belanda, sebuah simbol harapan akan masa depan dan perubahan zaman.

Setelah Indonesia merdeka, tradisi berkirim kartu ucapan semakin populer. Kantor pos menjadi penghubung penting bagi masyarakat yang ingin menyampaikan kabar dan ucapan selamat kepada sanak saudara di berbagai daerah.

Di Bandung, kantor pos selalu sibuk menjelang Idulfitri. Tumpukan kartu ucapan datang dari berbagai penjuru kota, dikirimkan kepada keluarga, teman sekolah, hingga rekan kerja. Aktivitas sederhana ini menjadi bagian dari ritme tahunan menjelang Lebaran.

Namun memasuki akhir 1990-an dan awal 2000-an, perubahan mulai terasa. Teknologi komunikasi berkembang pesat, dan perlahan kebiasaan berkirim kartu ucapan mulai berkurang. Surat elektronik, pesan singkat, dan kemudian media sosial dianggap lebih praktis, cepat, dan murah. Kantor pos yang dulu ramai oleh pengirim kartu Lebaran pun perlahan kehilangan sebagian pelanggannya.

Baca Juga: Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Meski begitu, jejak tradisi kartu ucapan Lebaran tidak sepenuhnya hilang. Hingga kini, sisa-sisanya masih dapat ditemukan dalam kartu kecil yang diselipkan di dalam parsel-parsel Lebaran. Meskipun bentuknya lebih sederhana dan tidak lagi dikirim melalui pos seperti dahulu, rangkaian kata di dalam kartu tersebut tetap menyimpan kehangatan yang sama yakni sebuah pengingat akan masa ketika ucapan Idulfitri ditulis dengan tangan, dikirim dengan sabar, dan dinantikan dengan penuh harap.

Kini, ketika ucapan Idulfitri dapat dikirim hanya dalam hitungan detik melalui layar ponsel, tradisi kartu Lebaran mungkin terasa seperti cerita dari masa lain. Namun kenangan tentang kartu-kartu kecil yang dipilih dengan saksama, ditulis dengan tangan, lalu dikirim melalui kantor pos itu tetap menyimpan makna yang sulit tergantikan.

Di balik selembar kartu sederhana, pernah ada kesabaran, perhatian, dan harapan agar pesan silaturahmi benar-benar sampai ke hati penerimanya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)