Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

6 menit baca
Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Ditulis oleh Muhammad Mufti Sulthanan Nasira diterbitkan Selasa 12 Mei 2026, 10:02 WIB
Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)

Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)

Di sebagian desa di Indonesia, menikah muda masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Setelah lulus sekolah menengah, tidak sedikit perempuan yang mulai diarahkan untuk segera menikah. Sebagian orang tua percaya bahwa pernikahan adalah cara paling aman untuk menjaga anak-anak mereka dari pergaulan bebas. Dalam pandangan tertentu, menikah bahkan dianggap lebih menenangkan dibanding membiarkan anak terlalu lama berpacaran atau hidup tanpa arah yang jelas.

Namun, di kota-kota besar, cara pandang itu perlahan berubah. Anak muda lebih banyak diarahkan untuk mengejar pendidikan, membangun karier, dan memperluas pengalaman hidup sebelum memutuskan menikah. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai target cepat setelah lulus sekolah, melainkan keputusan besar yang membutuhkan kesiapan mental, finansial, dan emosional.

Dua realitas ini tampak berbeda, tetapi sama-sama menyimpan kegelisahan. Generasi muda hari ini sebenarnya sedang berdiri di antara dua tekanan besar: menikah terlalu cepat atau terlalu lama menunda pernikahan hingga terjebak dalam kebebasan tanpa batas.

Pernikahan dini sendiri dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Namun, sudut pandang yang paling dominan di masyarakat Indonesia adalah sudut pandang agama. Agama memberikan jalan pernikahan sebagai cara menjaga diri dari perzinahan dan membangun kemaslahatan hidup bersama. Dalam Islam misalnya, pernikahan bukan hanya hubungan biologis, tetapi juga bentuk ibadah dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, agama sebenarnya tidak pernah salah ketika berbicara tentang pernikahan. Persoalannya justru terletak pada bagaimana manusia memahami dan menjalankan nilai agama tersebut. Salah satunya dalam memaknai konsep menikah muda.

Di sebagian masyarakat pedesaan, pernikahan dini dipandang sebagai solusi konkret atas berbagai persoalan sosial dan moral. Ketika orang tua merasa tidak lagi mampu mengawasi anak-anaknya, khususnya perempuan, maka pernikahan dianggap sebagai jalan perlindungan paling realistis.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sekitar 2,16 persen remaja menikah di usia kurang dari 16 tahun, sementara 17,35 persen lainnya menikah pada rentang usia 16–18 tahun. Kasus tertinggi terjadi di wilayah pedesaan dengan dominasi perempuan sebagai pelaku utama perkawinan usia dini.

Alasan di baliknya pun beragam. Sebagian menjadikan pernikahan sebagai solusi ekonomi, sebagian lainnya memandangnya sebagai bentuk kemandirian hidup. Dalam kondisi tertentu, menikah dianggap lebih realistis dibanding melanjutkan pendidikan yang membutuhkan biaya besar dan waktu panjang.

Sebaliknya, masyarakat perkotaan cenderung melihat pernikahan dini bukan sebagai solusi, melainkan potensi masalah baru. Banyak orang tua lebih memilih mengarahkan anak-anak mereka untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus sekolah menengah atas. Pendidikan dipercaya mampu membentuk pola pikir yang matang, kesiapan mental, dan masa depan ekonomi yang lebih stabil.

Namun, pilihan ini juga melahirkan persoalan baru. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya terjerumus dalam pergaulan bebas, hubungan tanpa batas, hingga gaya hidup permisif. Mereka menjadi terbiasa menjalani relasi romantis tanpa komitmen jangka panjang sehingga pernikahan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mendesak.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang sulit dijawab secara sederhana: manakah yang lebih berisiko? Pernikahan dini yang lahir dari tradisi pedesaan, atau budaya pergaulan bebas yang tumbuh di lingkungan perkotaan?

Jika melihat angka perceraian di Indonesia, persoalan pernikahan ternyata jauh lebih kompleks dibanding sekadar soal usia. Berdasarkan data terbaru BPS per Maret 2026, angka perceraian di Indonesia mencapai 438.168 kasus pada tahun 2025, meningkat dari 399.921 kasus di tahun sebelumnya. Mayoritas perceraian didominasi cerai gugat, yakni gugatan yang diajukan istri kepada suami dengan persentase lebih dari 78 persen.

Penyebabnya pun beragam: pertengkaran terus-menerus, masalah ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kurangnya kesiapan mental dan emosional dalam membangun keluarga. Bahkan, sebagian besar perceraian terjadi pada usia pernikahan di bawah lima tahun.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya persoalan biologis atau status sosial semata. Pernikahan membutuhkan kesiapan mental, kemampuan manajerial, ketahanan ekonomi, serta kedewasaan spiritual.

Banyak laki-laki belum siap memimpin rumah tangga secara emosional maupun finansial. Di sisi lain, banyak perempuan akhirnya merasa tidak kuat menghadapi tekanan rumah tangga yang jauh dari bayangan romantis saat awal menikah. Tidak heran jika banyak perempuan memilih menggugat cerai karena merasa tidak lagi menemukan ketenangan dalam hubungan tersebut.

Di sisi lain, pernikahan dini memang memiliki sisi positif dalam mencegah zina dan pergaulan bebas. Akan tetapi, dari sudut pandang psikologis, banyak pasangan usia muda sebenarnya belum memiliki kesiapan emosional yang matang. Terlebih ketika pernikahan segera diikuti kehadiran anak dalam jarak usia yang sangat dekat.

Tidak sedikit perempuan di bawah usia 25 tahun sudah memiliki dua hingga tiga anak, sementara kondisi mentalnya belum benar-benar siap menjadi ibu sepenuhnya. Begitu pula laki-laki yang belum memiliki pengalaman cukup dalam mengelola rumah tangga dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Akibatnya, tekanan finansial, konflik emosional, dan kelelahan mental menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Lebih jauh lagi, banyak perempuan di pedesaan yang kehilangan fase penting dalam hidupnya. Masa muda yang seharusnya menjadi ruang untuk belajar, bekerja, mengenal diri sendiri, dan membangun pengalaman hidup perlahan terhenti karena tuntutan rumah tangga di usia terlalu dini. Ironisnya, sebagian dari mereka justru berakhir pada perceraian muda yang meninggalkan luka sosial dan psikologis lebih dalam.

Namun demikian, menunda pernikahan demi pendidikan juga bukan tanpa risiko. Di satu sisi, pendidikan memang dapat membantu membentuk karakter yang lebih matang, mental yang lebih siap, kemampuan manajerial yang lebih kuat, serta ketahanan ekonomi yang lebih baik. Akan tetapi, jika tanpa pondasi moral dan agama yang kuat, pergaulan bebas juga dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental generasi muda, khususnya perempuan.

Hubungan yang tidak sehat, tekanan sosial, kehamilan di luar nikah, hingga kasus bunuh diri dan aborsi menjadi persoalan nyata yang tidak bisa dianggap sepele.

Pada akhirnya, perdebatan antara pernikahan dini dan menunda pernikahan sebenarnya bukan soal memilih mana yang paling benar. Persoalan utamanya adalah bagaimana masyarakat mampu memandang pernikahan secara lebih bijak dan proporsional.

Agama seharusnya tetap menjadi penuntun utama. Bagi laki-laki, menjaga pandangan dan mengendalikan diri merupakan langkah dasar untuk menghindari pergaulan bebas. Begitu pula perempuan yang menjaga kehormatan dan cara berpenampilan sebagai bentuk perlindungan terhadap dirinya sendiri. Dalam Islam, konsep ghadhul bashar atau menundukkan pandangan menjadi pondasi moral yang sederhana tetapi sangat penting.

Sementara bagi mereka yang memilih menikah muda karena alasan ekonomi, sosial, maupun keinginan menjaga diri, pernikahan seharusnya benar-benar diposisikan sebagai ibadah, bukan sekadar pelarian dari tekanan hidup atau tuntutan lingkungan.

Dalam Islam, konsep menjaga diri sebenarnya telah diajarkan melalui prinsip ghadhul bashar atau menundukkan pandangan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
(QS. An-Nur: 30)

Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan perintah yang sama kepada perempuan beriman agar menjaga pandangan dan kehormatannya. Dalam konteks kehidupan modern hari ini, pesan tersebut terasa semakin relevan. Ketika media sosial, hiburan digital, dan budaya populer begitu mudah membuka pintu syahwat dan pergaulan bebas, Islam justru menawarkan konsep pengendalian diri sebagai benteng pertama sebelum manusia berbicara tentang pernikahan.

Artinya, pernikahan bukan satu-satunya cara menjaga moralitas jika seseorang belum benar-benar siap secara mental, emosional, dan finansial. Sebaliknya, menunda pernikahan juga bukan berarti bebas menjalani hubungan tanpa batas. Di titik inilah ghadhul bashar menjadi pijakan penting: menjaga hati sebelum menjaga rumah tangga.

Sebab ketika pernikahan dibangun atas dasar ibadah, maka setiap ujian di dalamnya akan dipahami sebagai bagian dari perjuangan menuju keberkahan, bukan sekadar beban yang melelahkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Penggiat literasi digital, magister yang minat kajian agama, media dan budaya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)