Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

6 menit baca
Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Ditulis oleh Muhammad Mufti Sulthanan Nasira diterbitkan
Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)
Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)

Di sebagian desa di Indonesia, menikah muda masih dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Setelah lulus sekolah menengah, tidak sedikit perempuan yang mulai diarahkan untuk segera menikah. Sebagian orang tua percaya bahwa pernikahan adalah cara paling aman untuk menjaga anak-anak mereka dari pergaulan bebas. Dalam pandangan tertentu, menikah bahkan dianggap lebih menenangkan dibanding membiarkan anak terlalu lama berpacaran atau hidup tanpa arah yang jelas.

Namun, di kota-kota besar, cara pandang itu perlahan berubah. Anak muda lebih banyak diarahkan untuk mengejar pendidikan, membangun karier, dan memperluas pengalaman hidup sebelum memutuskan menikah. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai target cepat setelah lulus sekolah, melainkan keputusan besar yang membutuhkan kesiapan mental, finansial, dan emosional.

Dua realitas ini tampak berbeda, tetapi sama-sama menyimpan kegelisahan. Generasi muda hari ini sebenarnya sedang berdiri di antara dua tekanan besar: menikah terlalu cepat atau terlalu lama menunda pernikahan hingga terjebak dalam kebebasan tanpa batas.

Pernikahan dini sendiri dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Namun, sudut pandang yang paling dominan di masyarakat Indonesia adalah sudut pandang agama. Agama memberikan jalan pernikahan sebagai cara menjaga diri dari perzinahan dan membangun kemaslahatan hidup bersama. Dalam Islam misalnya, pernikahan bukan hanya hubungan biologis, tetapi juga bentuk ibadah dan tanggung jawab sosial.

Karena itu, agama sebenarnya tidak pernah salah ketika berbicara tentang pernikahan. Persoalannya justru terletak pada bagaimana manusia memahami dan menjalankan nilai agama tersebut. Salah satunya dalam memaknai konsep menikah muda.

Di sebagian masyarakat pedesaan, pernikahan dini dipandang sebagai solusi konkret atas berbagai persoalan sosial dan moral. Ketika orang tua merasa tidak lagi mampu mengawasi anak-anaknya, khususnya perempuan, maka pernikahan dianggap sebagai jalan perlindungan paling realistis.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, sekitar 2,16 persen remaja menikah di usia kurang dari 16 tahun, sementara 17,35 persen lainnya menikah pada rentang usia 16–18 tahun. Kasus tertinggi terjadi di wilayah pedesaan dengan dominasi perempuan sebagai pelaku utama perkawinan usia dini.

Alasan di baliknya pun beragam. Sebagian menjadikan pernikahan sebagai solusi ekonomi, sebagian lainnya memandangnya sebagai bentuk kemandirian hidup. Dalam kondisi tertentu, menikah dianggap lebih realistis dibanding melanjutkan pendidikan yang membutuhkan biaya besar dan waktu panjang.

Sebaliknya, masyarakat perkotaan cenderung melihat pernikahan dini bukan sebagai solusi, melainkan potensi masalah baru. Banyak orang tua lebih memilih mengarahkan anak-anak mereka untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus sekolah menengah atas. Pendidikan dipercaya mampu membentuk pola pikir yang matang, kesiapan mental, dan masa depan ekonomi yang lebih stabil.

Namun, pilihan ini juga melahirkan persoalan baru. Tidak sedikit anak muda yang akhirnya terjerumus dalam pergaulan bebas, hubungan tanpa batas, hingga gaya hidup permisif. Mereka menjadi terbiasa menjalani relasi romantis tanpa komitmen jangka panjang sehingga pernikahan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mendesak.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang sulit dijawab secara sederhana: manakah yang lebih berisiko? Pernikahan dini yang lahir dari tradisi pedesaan, atau budaya pergaulan bebas yang tumbuh di lingkungan perkotaan?

Jika melihat angka perceraian di Indonesia, persoalan pernikahan ternyata jauh lebih kompleks dibanding sekadar soal usia. Berdasarkan data terbaru BPS per Maret 2026, angka perceraian di Indonesia mencapai 438.168 kasus pada tahun 2025, meningkat dari 399.921 kasus di tahun sebelumnya. Mayoritas perceraian didominasi cerai gugat, yakni gugatan yang diajukan istri kepada suami dengan persentase lebih dari 78 persen.

Penyebabnya pun beragam: pertengkaran terus-menerus, masalah ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kurangnya kesiapan mental dan emosional dalam membangun keluarga. Bahkan, sebagian besar perceraian terjadi pada usia pernikahan di bawah lima tahun.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya persoalan biologis atau status sosial semata. Pernikahan membutuhkan kesiapan mental, kemampuan manajerial, ketahanan ekonomi, serta kedewasaan spiritual.

Banyak laki-laki belum siap memimpin rumah tangga secara emosional maupun finansial. Di sisi lain, banyak perempuan akhirnya merasa tidak kuat menghadapi tekanan rumah tangga yang jauh dari bayangan romantis saat awal menikah. Tidak heran jika banyak perempuan memilih menggugat cerai karena merasa tidak lagi menemukan ketenangan dalam hubungan tersebut.

Di sisi lain, pernikahan dini memang memiliki sisi positif dalam mencegah zina dan pergaulan bebas. Akan tetapi, dari sudut pandang psikologis, banyak pasangan usia muda sebenarnya belum memiliki kesiapan emosional yang matang. Terlebih ketika pernikahan segera diikuti kehadiran anak dalam jarak usia yang sangat dekat.

Tidak sedikit perempuan di bawah usia 25 tahun sudah memiliki dua hingga tiga anak, sementara kondisi mentalnya belum benar-benar siap menjadi ibu sepenuhnya. Begitu pula laki-laki yang belum memiliki pengalaman cukup dalam mengelola rumah tangga dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Akibatnya, tekanan finansial, konflik emosional, dan kelelahan mental menjadi sesuatu yang sulit dihindari.

Lebih jauh lagi, banyak perempuan di pedesaan yang kehilangan fase penting dalam hidupnya. Masa muda yang seharusnya menjadi ruang untuk belajar, bekerja, mengenal diri sendiri, dan membangun pengalaman hidup perlahan terhenti karena tuntutan rumah tangga di usia terlalu dini. Ironisnya, sebagian dari mereka justru berakhir pada perceraian muda yang meninggalkan luka sosial dan psikologis lebih dalam.

Namun demikian, menunda pernikahan demi pendidikan juga bukan tanpa risiko. Di satu sisi, pendidikan memang dapat membantu membentuk karakter yang lebih matang, mental yang lebih siap, kemampuan manajerial yang lebih kuat, serta ketahanan ekonomi yang lebih baik. Akan tetapi, jika tanpa pondasi moral dan agama yang kuat, pergaulan bebas juga dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental generasi muda, khususnya perempuan.

Hubungan yang tidak sehat, tekanan sosial, kehamilan di luar nikah, hingga kasus bunuh diri dan aborsi menjadi persoalan nyata yang tidak bisa dianggap sepele.

Pada akhirnya, perdebatan antara pernikahan dini dan menunda pernikahan sebenarnya bukan soal memilih mana yang paling benar. Persoalan utamanya adalah bagaimana masyarakat mampu memandang pernikahan secara lebih bijak dan proporsional.

Agama seharusnya tetap menjadi penuntun utama. Bagi laki-laki, menjaga pandangan dan mengendalikan diri merupakan langkah dasar untuk menghindari pergaulan bebas. Begitu pula perempuan yang menjaga kehormatan dan cara berpenampilan sebagai bentuk perlindungan terhadap dirinya sendiri. Dalam Islam, konsep ghadhul bashar atau menundukkan pandangan menjadi pondasi moral yang sederhana tetapi sangat penting.

Sementara bagi mereka yang memilih menikah muda karena alasan ekonomi, sosial, maupun keinginan menjaga diri, pernikahan seharusnya benar-benar diposisikan sebagai ibadah, bukan sekadar pelarian dari tekanan hidup atau tuntutan lingkungan.

Dalam Islam, konsep menjaga diri sebenarnya telah diajarkan melalui prinsip ghadhul bashar atau menundukkan pandangan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
(QS. An-Nur: 30)

Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan perintah yang sama kepada perempuan beriman agar menjaga pandangan dan kehormatannya. Dalam konteks kehidupan modern hari ini, pesan tersebut terasa semakin relevan. Ketika media sosial, hiburan digital, dan budaya populer begitu mudah membuka pintu syahwat dan pergaulan bebas, Islam justru menawarkan konsep pengendalian diri sebagai benteng pertama sebelum manusia berbicara tentang pernikahan.

Artinya, pernikahan bukan satu-satunya cara menjaga moralitas jika seseorang belum benar-benar siap secara mental, emosional, dan finansial. Sebaliknya, menunda pernikahan juga bukan berarti bebas menjalani hubungan tanpa batas. Di titik inilah ghadhul bashar menjadi pijakan penting: menjaga hati sebelum menjaga rumah tangga.

Sebab ketika pernikahan dibangun atas dasar ibadah, maka setiap ujian di dalamnya akan dipahami sebagai bagian dari perjuangan menuju keberkahan, bukan sekadar beban yang melelahkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Mufti Sulthanan Nasira
Penggiat literasi digital, magister yang minat kajian agama, media dan budaya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)