Dua Film dengan durasi paling panjang yang pernah saya saksikan adalah Avengers Endgame: Encore besutan Anthony Russo dan Joe Russo. Ia hanya 16 menit lebih sedikit dari Avatar: The Way of Water. Dibintangi Robert Downey Jr dkk
Thanos berhasil mengumpulkan enam Infinity Stones dan memusnahkan separuh populasi alam semesta dalam Avengers: Infinity War. Dasarnya tampak masuk akal, bahwa jumlah populasi tidak sebanding dengan ketersediaan sumber daya alam tersedia. Para anggota Avengers yang tersisa hidup dihantui kekalahan dan duka yang mendalam.
Setelah tahun-tahun ketidakpastian, kedatangan Ant-Man membawa secercah harapan baru. Dengan memanfaatkan konsep Quantum Realm, tim Avengers yang tersisa—Iron Man, Captain America, Thor, Hulk, Black Widow, dan Hawkeye—merancang misi perjalanan lintas waktu untuk mengumpulkan Infinity Stones. Itu untuk mencegah Thanos mendapatkannya lebih dulu. Misi ini menjadi pertaruhan terakhir demi mengembalikan mereka yang hilang.
Kita bisa menarik kesimpulan upaya yang dilakukan tim Avenger adalah sebuah aksi nyata dari sebuah kesadaran ekologis dan kepedulian lingkungan. Dalam wawasan keislaman di Indonesia, Muhammadiyah mengangkat isu lingkungan hidup sebagai manifestasi dari keimanan dan slogan Islam berkemajuan.
Muhammadiyah memandang hubungan manusia dengan alam melalui konsep teologi lingkungan. Manusia ditempatkan di bumi sebagai khalifah—bukan sebagai penguasa yang bebas mengeksploitasi, melainkan sebagai penanggung jawab untuk mengelola dan memelihara kelestarian alam.
Berdasar pemahaman tersebut, merusak lingkungan berarti mencederai amanah Tuhan. Merusak alam pada hakikatnya memutus keharmonisan hubungan manusia dengan penciptanya.
Melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, Muhammadiyah menerbitkan Fikih Kebencanaan dan Fikih Air serta memperkuat konsep Fikih Lingkungan (Fiqh al-Bi'ah). Fikih ini mengintegrasikan metodologi pemikiran keislaman untuk merespons krisis ekologis. Dengan pendekatan bayani, memahami perintah menjaga alam secara langsung dari teks al-Qur'an dan Hadis.
Secara burhani, menggunakan ilmu pengetahuan dan sains modern untuk menganalisis dampak kerusakan alam. Terakhir, secara Irfani, mendorong kepekaan nurani dan etika spiritual agar manusia memperlakukan bumi secara arif.
Isu-isu seperti pengelolaan sampah, efisiensi energi, pencegahan banjir, hingga dampak perubahan iklim dipandang sebagai ranah ibadah muamalah yang memiliki konsekuensi hukum.
Pemikiran teologis tersebut diterjemahkan dalam berbagai gerakan; mengubah masjid dari sekadar tempat shalat menjadi pusat konservasi air dan pengelolaan sampah mandiri;
penerapan kurikulum berwawasan lingkungan serta budaya minim plastik di perguruan tinggi dan sekolah Muhammadiyah; merespons cepat dalam merespons bencana alam sekaligus melakukan edukasi kebencanaan berbasis lingkungan; hingga advokasi konflik sosial-ekologis dan menyuarakan keadilan iklim.
Gerakan ekologis ini mempertegas peran Islam sebagai pembawa rahmat dan kedamaian bagi seluruh alam semesta. Jika saya harus menarik korelasi antara substansi dalam film Avengers dengan pandangan ekologi Muhammadiyah, keduanya sama-sama menaruh perhatian pada krisis sumber daya alam dan kelangsungan hidup di bumi. Namun demikian, keduanya berbeda secara fundamental dalam mendiagnosis masalah serta tawaran solusinya.
Titik temu keduanya adalah Avengers membawa narasi utama tentang keterbatasan alam. Thanos melihat bahwa sumber daya semesta bersifat terbatas, sementara pemanfaatannya berlebihan sehingga memicu kelangkaan dan kerusakan. Thanos (antagonis dalam Avengers) memandang malthusianisme yang mengancam menemukan antitesis dengan pemusnahan 50% populasi secara acak demi memulihkan keseimbangan alam. Sesuatu yang justru menghadirkan masalah lain. Thanos menggunakan pendekatan ekofasisme yang memosisikan populasi sebagai beban yang harus dikurangi drastis.
Baca Juga: Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?
Sementara, kesadaran ini sejalan dengan premis awal ekoteologi Muhammadiyah bahwa bumi saat ini sedang mengalami eksploitasi masif dan kerusakan alam. Muhammadiyah mengakui bahwa krisis lingkungan hidup dan perubahan iklim adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup manusia. Muhammadiyah menawarkan tata kelola etis, gaya hidup berkeadilan, serta perbaikan perilaku manusia. Muhammadiyah memandang bahwa problem utamanya bukan pada jumlah manusia, melainkan pada perilaku dan krisis moralitas manusia. Manusia ditugaskan sebagai pengelola dan penjaga alam, bukan penguasa yang mengeksploitasi tanpa batas.
Hingga akhir film, narasi yang dibangun sejak awal adalah membuktikan kesalahan logika Thanos. Pengurangan separuh populasi tidak menyelesaikan masalah; dunia justru tenggelam dalam trauma, keputusasaan, dan kekacauan sosial. Hal ini mengafirmasi pandangan Muhammadiyah bahwa krisis ekologis tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara zalim atau mengabaikan martabat kemanusiaan. Solusi lingkungan harus berjalan seiring dengan keadilan sosial.
Dengan sederhana saya dapat mengatakan, Thanos adalah cerminan dari keputusasaan ekologis yang memilih jalan pintas berupa kehancuran. Sebaliknya, Muhammadiyah dan para Avengers memilih jalan harapan–meyakini bahwa dengan kesadaran kolektif, etika kepemimpinan yang benar, dan aksi nyata, keseimbangan alam dan kehidupan manusia dapat diselamatkan tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. (*)