Berawal dari kegelisahan sekelompok pencinta film di Kota Bandung terhadap kondisi perfilman nasional yang tengah mengalami masa sulit pada pertengahan 1980-an, lahirlah Forum Film Bandung (FFB) sebagai wadah diskusi, kajian, dan apresiasi terhadap karya-karya sinema Indonesia. Forum yang dibentuk pada 1987 ini menghimpun akademisi, wartawan, kritikus film, budayawan, dan pencinta film yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan perfilman nasional.
Dari semangat tersebut kemudian lahir Festival Film Bandung (FFB), sebuah ajang penghargaan independen yang sejak awal mengedepankan hasil pengamatan, diskusi, dan penilaian objektif terhadap film-film Indonesia. Berbeda dengan penghargaan yang berbasis industri, Festival Film Bandung hadir sebagai bentuk apresiasi murni dari komunitas pencinta film. Di tengah menurunnya produksi film nasional kala itu, kehadiran festival ini menjadi penyemangat bagi para sineas untuk terus berkarya sekaligus menjaga tradisi kritik dan apresiasi terhadap perfilman Indonesia.
Selama hampir empat dekade, Festival Film Bandung terus bertahan melewati berbagai fase perkembangan sinema nasional, mulai dari era kemunduran industri film pada akhir 1980-an, kebangkitan perfilman Indonesia pada awal 2000-an, hingga hadirnya platform digital yang melahirkan serial web sebagai medium baru. Seiring perkembangan tersebut, kategori penghargaan pun terus berkembang, mencakup film layar lebar, serial televisi, serial web, hingga berbagai aspek teknis perfilman.
Semangat itulah yang kembali diwujudkan dalam penyelenggaraan Festival Film Bandung ke-39 Tahun 2026. Forum Film Bandung resmi mengumumkan daftar nominasi pada acara yang berlangsung di Gulapadi Bandung, Jalan Asia Afrika No. 49, Kamis (16/7/2026). Pengumuman tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian Festival Film Bandung tahun ini yang mendapat dukungan Pemerintah Kota Bandung.
Selama masa pengamatan 1 September 2025 hingga 30 Juni 2026, Forum Film Bandung menyeleksi 344 karya, yang terdiri atas 144 film Indonesia, 151 film impor, 26 serial televisi, dan 23 serial web.
Susunan Regu Pengamat Festival Film Bandung 2026
Dalam pelaksanaan penilaian Festival Film Bandung (FFB) 2026, Forum Film Bandung menetapkan susunan Regu Pengamat yang bertugas melakukan pengamatan, pencatatan, dan penilaian terhadap karya-karya yang menjadi objek apresiasi. Adapun susunan Regu Pengamat Festival Film Bandung 2026 adalah sebagai berikut:
- Ketua Umum: Eddy D. Iskandar
- Ketua Regu Pengamat: Agus Safari
- Ketua Regu Pengamat Film Indonesia: Rosyid E. Abby
- Ketua Regu Pengamat Serial Televisi dan Serial Web: Raja Lubis
- Ketua Regu Pengamat Film Impor: Ardityo Danoesoebroto
Ketua Panitia Festival Film Bandung ke-39, Iwan Kusmawan, mengatakan seluruh karya tersebut diamati secara intensif oleh tim pengamat sebelum akhirnya ditetapkan para nominator.
"Selama periode September 2025 hingga Juni 2026 kami melakukan pengamatan terhadap 344 karya. Dari hasil pengamatan itulah lahir para nominator Festival Film Bandung ke-39," ujarnya.

Pada kategori Film Indonesia Terpuji, lima judul berhasil masuk nominasi, yakni Children of Heaven, Dopamin, Nobody Loves Kay, Pangku, dan Para Perasuk. Kelima film tersebut dinilai memiliki kekuatan cerita, pencapaian artistik, serta kualitas sinematik yang menonjol.
Persaingan juga berlangsung ketat pada kategori Sutradara Terpuji yang menghadirkan nama Dinna Jasanti, Hanung Bramantyo, Joko Anwar, Reza Rahadian, dan Wregas Bhanuteja.
Sementara itu, nominasi Pemeran Utama Pria Terpuji diisi oleh Angga Yunanda, Jared Ali, Reza Rahadian, Vino G. Bastian, dan Yusuf Mahardika. Adapun kategori Pemeran Utama Wanita Terpuji menghadirkan Amanda Rawles, Claresta Taufan, Marissa Anita, Marsha Timothy, dan Shenina Cinnamon.
Selain kategori film layar lebar, Festival Film Bandung juga mengumumkan nominasi untuk Serial Web Terpuji, Serial Televisi Terpuji, serta berbagai kategori teknis, mulai dari penulis skenario, penata kamera, penata artistik, penata musik, hingga penyunting gambar.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, mengatakan Festival Film Bandung telah menjadi bagian penting dalam perjalanan perfilman nasional.
"Bandung memiliki sejarah panjang dalam dunia perfilman. Film menjadi muara berbagai cabang seni, mulai dari teater, sastra, musik hingga tari. Karena itu kami berharap Festival Film Bandung terus menjadi ruang yang mendorong kreativitas dan melahirkan karya-karya terbaik," katanya.
Sementara itu, Ketua Regu Pengamatan Film Indonesia Forum Film Bandung, Rosyid E. Abby, menjelaskan bahwa seluruh nominasi merupakan hasil pengamatan dan penilaian menyeluruh terhadap karya-karya yang tayang selama periode penjurian.

Menurut Rosyid, tema keluarga menjadi benang merah yang paling menonjol dalam karya-karya yang diamati tahun ini.
"Selama pengamatan kami menemukan benang merah yang kuat, yaitu keluarga. Tema tersebut hadir dalam berbagai genre, mulai dari drama, komedi, hingga horor. Karena itu Festival Film Bandung tahun ini mengangkat tema Sinema Rona Keluarga," ujarnya.
Malam puncak Festival Film Bandung ke-39 dijadwalkan berlangsung pada 22 Agustus 2026. Pada ajang penghargaan independen tersebut, Forum Film Bandung akan memberikan apresiasi kepada film, serial, serta insan perfilman yang dinilai paling terpuji sepanjang periode pengamatan.
Memasuki penyelenggaraan ke-39, Festival Film Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu ajang apresiasi perfilman independen paling bergengsi dan berpengaruh di Indonesia. Konsistensinya selama hampir empat dekade membuktikan bahwa festival ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga kualitas perfilman, menumbuhkan budaya apresiasi, sekaligus mendorong lahirnya karya-karya sinema Indonesia yang semakin bermutu. Semangat independensi yang diwariskan sejak 1987 menjadi fondasi agar Festival Film Bandung tetap relevan sebagai salah satu barometer perkembangan perfilman nasional. (*)