Rendezvous Masa Lalu dan Kini di Tanah Pasundan

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada masa ketika perjumpaan tidak membutuhkan kalender digital, pesan singkat, atau tanda lokasi yang dikirim melalui layar. Orang-orang cukup berkata: kita bertemu di alun-alun ketika matahari mulai condong, atau jumpa di bawah pohon tua setelah suara azan terdengar dari kejauhan. Waktu tidak diukur hanya oleh angka, melainkan oleh bayang-bayang, bunyi kentongan, arah angin, dan ingatan.

Dalam kebudayaan, perjumpaan semacam itu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar bertemu. Ia adalah sebuah rendezvous—sebuah janji pertemuan antara manusia dan ruang, antara generasi dan ingatan, antara masa lalu dan masa kini.

Di Tanah Pasundan, rendezvous itu berlangsung sepanjang sejarah. Ia dapat ditemukan dalam suara angklung yang bergetar di antara bambu, dalam kisah wayang golek yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dalam bahasa Sunda yang menyimpan tata krama sosial, dalam arsitektur rumah tradisional yang berusaha hidup berdampingan dengan alam, dan dalam berbagai tradisi masyarakat yang menjadikan kebersamaan sebagai modal sosial.

Namun, perjumpaan itu kini berlangsung dalam suasana yang berbeda. Tanah Pasundan telah berubah. Kota-kota tumbuh, jalan raya membelah lanskap lama, pusat perbelanjaan menggantikan sebagian ruang komunal, sementara teknologi digital menciptakan ruang perjumpaan baru yang tidak mengenal jarak geografis.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah masa lalu harus dipertahankan secara utuh, melainkan: bagaimana masa lalu dapat bertemu dengan masa kini tanpa kehilangan jiwanya?

Bagaimana kita melihat rendezvous sebagai metafora kebudayaan?

Secara etimologis, rendezvous berasal dari bahasa Prancis dan merujuk pada pertemuan yang telah ditentukan, baik berupa janji temu maupun tempat pertemuan. Dalam konteks kebudayaan, istilah ini dapat diperluas menjadi metafora tentang perjumpaan antara berbagai zaman.

Kebudayaan tidak pernah benar-benar tinggal di masa lalu. Ia terus bergerak, mengalami perubahan, penafsiran ulang, bahkan kadang-kadang mengalami konflik dengan zaman baru. Tradisi yang hidup bukanlah tradisi yang membeku seperti benda museum, melainkan tradisi yang mampu menemukan kembali relevansinya.

Di sinilah pentingnya melihat kebudayaan Sunda bukan sebagai peninggalan yang hanya perlu disimpan, tetapi sebagai pengetahuan sosial yang terus bernegosiasi dengan perubahan.

Nilai-nilai seperti silih asah, silih asih, silih asuh—saling mencerdaskan, saling mengasihi, dan saling membimbing—memiliki relevansi yang kuat dalam masyarakat modern yang semakin individualistis. Sejumlah kajian mengenai nilai budaya Sunda menunjukkan bahwa prinsip tersebut dapat dipahami sebagai dasar hubungan sosial yang menekankan keharmonisan, kepedulian, dan solidaritas.

Dengan demikian, kebudayaan tidak semata-mata berbicara tentang pakaian tradisional, kesenian, bahasa, atau upacara adat. Kebudayaan juga berbicara tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lain.

Mungkin, di tengah zaman yang semakin bising, silih asah, silih asih, silih asuh adalah bentuk rendezvous yang paling penting: perjumpaan manusia dengan kemanusiaannya sendiri.

Bagaimana jika angklung menjadi sebuah filosofi ketika masa lalu berbunyi di masa kini?

Jika ada satu simbol yang paling jelas menggambarkan pertemuan antara tradisi dan modernitas di Jawa Barat, barangkali angklung adalah salah satunya.

Anak-anak sekolah berlatih angklung. (Sumber: Pexels/Jofan Muliawan Putra)
Anak-anak sekolah berlatih angklung. (Sumber: Pexels/Jofan Muliawan Putra)

Angklung lahir dari bambu—material yang tumbuh dekat dengan kehidupan masyarakat agraris. Ia bukan instrumen yang berdiri sendiri. Setiap angklung menghasilkan nada tertentu, sehingga sebuah melodi membutuhkan kerja sama banyak pemain. UNESCO mencatat bahwa karakter kolaboratif angklung menumbuhkan kerja sama, saling menghormati, disiplin, tanggung jawab, konsentrasi, serta harmoni sosial. Angklung juga telah diinskripsikan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan sejak 2010.

Di sinilah terdapat sebuah pelajaran sosial yang sangat penting. Satu angklung tidak cukup untuk menghasilkan sebuah lagu. Ia membutuhkan yang lain.

Dalam dunia yang sering memuja individualisme, angklung mengajarkan bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman. Setiap pemain memegang nada yang berbeda, tetapi perbedaan itu justru memungkinkan terciptanya musik.

Secara ilmiah, fenomena tersebut dapat dibaca sebagai bentuk collective cultural practice: praktik budaya yang memperoleh makna melalui partisipasi bersama. Nilai kebudayaan tidak hanya terletak pada benda atau alat musiknya, tetapi pada jaringan hubungan sosial yang terbentuk melalui proses memainkannya.

Karena itu, ketika angklung dimainkan di sekolah, ruang publik, panggung internasional, atau platform digital, yang berpindah bukan hanya bunyi. Yang berpindah adalah nilai sosial.

Bambu dari masa lalu berjumpa dengan teknologi masa kini. Nada tradisional berjumpa dengan aransemen modern. Ritual agraris berjumpa dengan panggung global. Itulah rendezvous kebudayaan.

Bagaimana dengan wayang golek dan ingatan yang tidak pernah selesai? Di sebuah panggung, seorang dalang menggerakkan tokoh-tokoh kayu. Mereka berbicara, bertengkar, jatuh cinta, berkuasa, mengkhianati, dan kemudian menerima konsekuensi dari pilihan mereka.

Wayang golek pada dasarnya adalah sebuah ruang perjumpaan antara manusia dan simbol. Kini, ruang pertunjukan itu menghadapi tantangan baru. Generasi muda hidup dalam ekosistem visual yang cepat. Cerita harus bersaing dengan video pendek, permainan digital, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan global.

Namun, masalahnya bukan semata-mata bahwa generasi muda tidak menyukai budaya tradisional. Masalah yang lebih mendasar adalah apakah kebudayaan tersebut masih mampu berbicara dengan bahasa zaman.

Yang harus dijaga bukan semata-mata bentuk luarnya, melainkan struktur nilai yang membuatnya tetap berarti. Sebab sebuah kebudayaan akan mati bukan ketika bentuknya berubah, melainkan ketika masyarakat tidak lagi menemukan alasan untuk mencintainya.

Pada akhirnya, rendezvous antara masa lalu dan kini di Tanah Pasundan adalah sebuah janji yang belum selesai. Masa lalu datang membawa ingatan. Masa kini datang membawa pertanyaan. Dan masa depan menunggu di antara keduanya.

Di sana, di antara suara angklung yang bergetar dan cahaya layar yang menyala, antara rumah bambu dan gedung-gedung kota, antara cerita leluhur dan imajinasi generasi baru, kebudayaan menemukan sebuah kemungkinan:

Bahwa menjadi modern tidak harus berarti melupakan asal-usul. Tanah Pasundan, dengan segala suara dan ingatannya, masih menyimpan ruang untuk perjumpaan itu. Sebuah rendezvous! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 07:46

KDM Ada di Mana-mana, Jawa Barat Ada di Mana?

Sebesar apa pun panggung nasional yang dimasukinya, mandat KDM tetap berada di Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 20:55

Adakah Solusi Masalah Kualitas Udara di Lingkungan Sekolah?

Sebagian besar sekolah negeri di Bandung masih mengandalkan ventilasi alami,

Ilustrasi masalah kualitas udara di ruang kelas di kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 03 Sep 2026, 17:41

200 Ikon Bandung #1 Mahanagari

Mahanagari pernah menjadi salah satu cara kreatif mengenalkan identitas dan kebanggaan terhadap Bandung melalui desain, komunitas, dan kearifan lokal.

Sebuah buku yang berjudul 200 ikon Bandung. (Sumber: Malia Nur Alifa)