Dalam industri pariwisata saat ini, makanan telah bergeser peran dari kebutuhan dasar menjadi instrumen pengenalan budaya. Ragam kuliner tatar Sunda merepresentasikan filosofi dan identitas nasional yang kompleks. Pengalaman sensoris saat mencicipi hidangan tradisional seperti nasi tutug oncom atau peuyeum di atmosfer pegunungan Jawa Barat merupakan bentuk apresiasi terhadap warisan sejarah yang tetap relevan hingga kini.
Di sinilah urgensi dokumentasi menjadi penting. Tanpa narasi yang kuat, kekayaan rasa akan lenyap ditelan zaman. Buku Wisata Rasa di Bumi Pasundan (2025), sebuah karya kolaboratif dari Kementerian Pariwisata, hadir bukan sekadar sebagai katalog, melainkan sebagai visi strategis untuk menempatkan Indonesia di puncak peta gastronomi dunia.
Buku ini merupakan batu pijakan bagi visi besar "Pariwisata Naik Kelas", di mana formalitas birokrasi bertransformasi menjadi panduan taktis bagi industri kreatif untuk menyulap potensi lokal menjadi daya tarik global.
Lebih dari Sekadar Mencicipi
Buku ini melakukan dekonstruksi cerdas terhadap definisi "Wisata Gastronomi". Ia mendefinisikannya bukan lagi sebagai aktivitas konsumsi pasif, melainkan sebuah pengalaman budaya holistik. Meminjam pemikiran William Wongso (2020), buku ini juga menekankan bahwa di era pasca-pandemi, aspek higiene dan keamanan pangan telah bergeser dari sekadar standar teknis menjadi bagian dari kepercayaan dan kenyamanan emosional wisatawan.
Evaluasi terhadap lima pilar pengalaman—Edukasi, Rekreasi, Rasa, Sejarah, dan Budaya—mengungkapkan dampak transformatif terhadap psikis wisatawan. Ketika seorang pelancong memahami sejarah di balik sajian karedok, mereka berhenti menjadi sekadar konsumen; mereka bermutasi menjadi "pembelajar budaya". Ikatan emosional inilah yang melahirkan loyalitas jangka panjang.
Buku ini merangkum lima tema besar wisata gastronomi yang menjadi kompas bagi para perancang perjalanan dalam menciptakan itinerary yang lebih berjiwa dan terstruktur. Tema-tema tersebut meliputi eco-gastronomy tourism yang menautkan empati ekologis dengan kuliner berkelanjutan berbasis keanekaragaman hayati lokal; ethno-gastronomy tourism yang menghidupkan kembali tradisi komunitas etnis melalui pelestarian resep kuno; serta edu-gastronomy tourism yang mengajak wisatawan memahami proses pangan secara langsung dari hulu ke hilir.
Selain itu, terdapat heritage-gastronomy tourism yang memperlakukan kuliner sebagai warisan budaya tak benda dengan narasi sejarah yang kuat, serta modern-gastronomy tourism yang menawarkan eksplorasi eksperimental melalui teknologi digital dan teknik memasak mutakhir seperti molecular gastronomy.
Lanskap Ekonomi dan Market Outlook 2034
Membangun destinasi gastronomi kelas dunia membutuhkan lebih dari sekadar dapur yang mumpuni, melainkan sebuah ekosistem yang bernapas melalui instrumen "4A" yang dibedah secara aktif dalam buku ini.
Strategi tersebut mencakup Atraksi yang menghadirkan festival kuliner serta demonstrasi masak interaktif, Amenitas untuk memastikan standar layanan global pada restoran hingga warung lokal, Aksesibilitas guna menjamin kemudahan mobilitas wisatawan menuju titik-titik rasa yang tersembunyi, serta Ansilari yang melibatkan dukungan komunitas lokal dan pusat informasi sebagai penjaga gawang kenyamanan wisatawan.
Keselarasan keempat elemen ini menjadi kunci utama dalam membedah kesiapan sebuah wilayah sebagai pusat kuliner global. Kesiapan infrastruktur bukan sekadar urusan kenyamanan domestik, melainkan prasyarat mutlak untuk mencicipi "kue" ekonomi gastronomi global yang kian menggiurkan.
Data pasar yang dipaparkan dalam buku ini sungguh menggugah kesadaran strategis. Pasar gastronomi global diproyeksikan meroket dari USD 96,5 miliar (2024) menjadi USD 4,7 triliun pada 2034. Dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 17,3%, Indonesia berdiri di ambang peluang emas untuk mengungguli pesaing regional seperti Thailand atau Korea Selatan.
Melalui lensa benchmarking di Asia Tenggara, buku ini menyarikan lesson learned yang tajam mengenai sinergi pentahelix—yang melibatkan pemerintah, bisnis, komunitas, akademisi, dan media—dalam memajukan pariwisata. Beberapa contoh keberhasilan yang disoroti antara lain adalah kota Kuching di Malaysia yang sukses mengintegrasikan komunitas lokal ke dalam rantai pasok pariwisata, Phetchaburi di Thailand yang menonjolkan kekuatan narasi kota kreatif dengan dukungan kebijakan infrastruktur pangan yang solid, serta Iloilo di Filipina yang berfokus pada pelestarian autentisitas resep sebagai modal utama dalam menjalankan diplomasi budaya.
Keselarasan antaraktor dalam ekosistem ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci dalam memperkuat daya saing destinasi di kancah regional. Visi global ini kemudian diterjemahkan ke dalam langkah nyata di wilayah Jawa Barat melalui proyek percontohan yang sangat spesifik.
Pilot Project Bandung, Garut, dan Tasikmalaya
Pemilihan Bandung, Garut, dan Tasikmalaya bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki kemapanan industri makanan dan minuman yang sudah teruji waktu. Proyek percontohan ini mengidentifikasi 147 unit usaha terkurasi yang diposisikan sebagai motor penggerak utama industri.

Kekuatan metodologis buku ini terletak pada penerapan Point Rating System (PRS). Metodologi ini memberikan validasi objektif dengan skala 1–10 untuk mengukur kesiapan usaha, yang kemudian dikomparasikan dengan rating digital dari Google Review atau TripAdvisor (skala 1–5). Sinkronisasi data ini menghilangkan bias subjektivitas, memberikan peta jalan yang jelas bagi pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing digital mereka di mata dunia.
Alhasil, Wisata Rasa di Bumi Pasundan adalah literatur wajib bagi Travel Agent, Tour Operator, hingga akademisi yang ingin tetap relevan. Buku ini berhasil mematahkan paradigma lama dan membuktikan bahwa kuliner adalah penggerak ekonomi hulu-hilir yang masif—menghubungkan tangan petani di sawah hingga kreativitas UMKM di etalase kota.
Ia tidak hanya mendokumentasikan rasa, tetapi juga menjaga marwah dan kedaulatan budaya melalui piring-piring saji. Buku ini adalah kompas memahami masa depan pariwisata Indonesia: sebuah masa depan di mana identitas bangsa dirayakan melalui aroma, cerita, dan kehangatan rasa dari Bumi Pasundan yang melegenda. (*)
Data buku:
Judul Buku | Wisata Rasa di Bumi Pasundan |
Tahun Terbit | 2025 |
Penerbit | Kementerian Pariwisata |
Pengarah/Penanggung Jawab | Hariyanto dan Itok Parikesit |
Tim Penyusun | Ismayanti, Vita Datau, Ina G Djamhur, Akiko Nada Atsmara |
ISBN | 978-602-6551-56-6 (PDF) |
