Wisata Rasa di Bumi Pasundan: Strategi Mengangkat Kuliner Lokal ke Panggung Gastronomi Dunia

Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan Senin 27 Apr 2026, 11:31 WIB
buku pola perjalanan gastronomi "Wisata Rasa di Bumi Pasundan". (Sumber: kemenpar.go.id)

buku pola perjalanan gastronomi "Wisata Rasa di Bumi Pasundan". (Sumber: kemenpar.go.id)

Dalam industri pariwisata saat ini, makanan telah bergeser peran dari kebutuhan dasar menjadi instrumen pengenalan budaya. Ragam kuliner tatar Sunda merepresentasikan filosofi dan identitas nasional yang kompleks. Pengalaman sensoris saat mencicipi hidangan tradisional seperti nasi tutug oncom atau peuyeum di atmosfer pegunungan Jawa Barat merupakan bentuk apresiasi terhadap warisan sejarah yang tetap relevan hingga kini.

Di sinilah urgensi dokumentasi menjadi penting. Tanpa narasi yang kuat, kekayaan rasa akan lenyap ditelan zaman. Buku Wisata Rasa di Bumi Pasundan (2025), sebuah karya kolaboratif dari Kementerian Pariwisata, hadir bukan sekadar sebagai katalog, melainkan sebagai visi strategis untuk menempatkan Indonesia di puncak peta gastronomi dunia.

Buku ini merupakan batu pijakan bagi visi besar "Pariwisata Naik Kelas", di mana formalitas birokrasi bertransformasi menjadi panduan taktis bagi industri kreatif untuk menyulap potensi lokal menjadi daya tarik global.

Lebih dari Sekadar Mencicipi

Buku ini melakukan dekonstruksi cerdas terhadap definisi "Wisata Gastronomi". Ia mendefinisikannya bukan lagi sebagai aktivitas konsumsi pasif, melainkan sebuah pengalaman budaya holistik. Meminjam pemikiran William Wongso (2020), buku ini juga menekankan bahwa di era pasca-pandemi, aspek higiene dan keamanan pangan telah bergeser dari sekadar standar teknis menjadi bagian dari kepercayaan dan kenyamanan emosional wisatawan.

Evaluasi terhadap lima pilar pengalaman—Edukasi, Rekreasi, Rasa, Sejarah, dan Budaya—mengungkapkan dampak transformatif terhadap psikis wisatawan. Ketika seorang pelancong memahami sejarah di balik sajian karedok, mereka berhenti menjadi sekadar konsumen; mereka bermutasi menjadi "pembelajar budaya". Ikatan emosional inilah yang melahirkan loyalitas jangka panjang.

Buku ini merangkum lima tema besar wisata gastronomi yang menjadi kompas bagi para perancang perjalanan dalam menciptakan itinerary yang lebih berjiwa dan terstruktur. Tema-tema tersebut meliputi eco-gastronomy tourism yang menautkan empati ekologis dengan kuliner berkelanjutan berbasis keanekaragaman hayati lokal; ethno-gastronomy tourism yang menghidupkan kembali tradisi komunitas etnis melalui pelestarian resep kuno; serta edu-gastronomy tourism yang mengajak wisatawan memahami proses pangan secara langsung dari hulu ke hilir.

Selain itu, terdapat heritage-gastronomy tourism yang memperlakukan kuliner sebagai warisan budaya tak benda dengan narasi sejarah yang kuat, serta modern-gastronomy tourism yang menawarkan eksplorasi eksperimental melalui teknologi digital dan teknik memasak mutakhir seperti molecular gastronomy.

Lanskap Ekonomi dan Market Outlook 2034

Membangun destinasi gastronomi kelas dunia membutuhkan lebih dari sekadar dapur yang mumpuni, melainkan sebuah ekosistem yang bernapas melalui instrumen "4A" yang dibedah secara aktif dalam buku ini.

Strategi tersebut mencakup Atraksi yang menghadirkan festival kuliner serta demonstrasi masak interaktif, Amenitas untuk memastikan standar layanan global pada restoran hingga warung lokal, Aksesibilitas guna menjamin kemudahan mobilitas wisatawan menuju titik-titik rasa yang tersembunyi, serta Ansilari yang melibatkan dukungan komunitas lokal dan pusat informasi sebagai penjaga gawang kenyamanan wisatawan.

Keselarasan keempat elemen ini menjadi kunci utama dalam membedah kesiapan sebuah wilayah sebagai pusat kuliner global. Kesiapan infrastruktur bukan sekadar urusan kenyamanan domestik, melainkan prasyarat mutlak untuk mencicipi "kue" ekonomi gastronomi global yang kian menggiurkan.

Data pasar yang dipaparkan dalam buku ini sungguh menggugah kesadaran strategis. Pasar gastronomi global diproyeksikan meroket dari USD 96,5 miliar (2024) menjadi USD 4,7 triliun pada 2034. Dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 17,3%, Indonesia berdiri di ambang peluang emas untuk mengungguli pesaing regional seperti Thailand atau Korea Selatan.

Melalui lensa benchmarking di Asia Tenggara, buku ini menyarikan lesson learned yang tajam mengenai sinergi pentahelix—yang melibatkan pemerintah, bisnis, komunitas, akademisi, dan media—dalam memajukan pariwisata. Beberapa contoh keberhasilan yang disoroti antara lain adalah kota Kuching di Malaysia yang sukses mengintegrasikan komunitas lokal ke dalam rantai pasok pariwisata, Phetchaburi di Thailand yang menonjolkan kekuatan narasi kota kreatif dengan dukungan kebijakan infrastruktur pangan yang solid, serta Iloilo di Filipina yang berfokus pada pelestarian autentisitas resep sebagai modal utama dalam menjalankan diplomasi budaya.

Keselarasan antaraktor dalam ekosistem ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci dalam memperkuat daya saing destinasi di kancah regional. Visi global ini kemudian diterjemahkan ke dalam langkah nyata di wilayah Jawa Barat melalui proyek percontohan yang sangat spesifik.

Pilot Project Bandung, Garut, dan Tasikmalaya

Pemilihan Bandung, Garut, dan Tasikmalaya bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki kemapanan industri makanan dan minuman yang sudah teruji waktu. Proyek percontohan ini mengidentifikasi 147 unit usaha terkurasi yang diposisikan sebagai motor penggerak utama industri.

Kekuatan metodologis buku ini terletak pada penerapan Point Rating System (PRS). Metodologi ini memberikan validasi objektif dengan skala 1–10 untuk mengukur kesiapan usaha, yang kemudian dikomparasikan dengan rating digital dari Google Review atau TripAdvisor (skala 1–5). Sinkronisasi data ini menghilangkan bias subjektivitas, memberikan peta jalan yang jelas bagi pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing digital mereka di mata dunia.

Alhasil, Wisata Rasa di Bumi Pasundan adalah literatur wajib bagi Travel Agent, Tour Operator, hingga akademisi yang ingin tetap relevan. Buku ini berhasil mematahkan paradigma lama dan membuktikan bahwa kuliner adalah penggerak ekonomi hulu-hilir yang masif—menghubungkan tangan petani di sawah hingga kreativitas UMKM di etalase kota.

Ia tidak hanya mendokumentasikan rasa, tetapi juga menjaga marwah dan kedaulatan budaya melalui piring-piring saji. Buku ini adalah kompas memahami masa depan pariwisata Indonesia: sebuah masa depan di mana identitas bangsa dirayakan melalui aroma, cerita, dan kehangatan rasa dari Bumi Pasundan yang melegenda. (*)

Data buku:

Judul Buku

Wisata Rasa di Bumi Pasundan

Tahun Terbit

2025

Penerbit

Kementerian Pariwisata

Pengarah/Penanggung Jawab

Hariyanto dan Itok Parikesit

Tim Penyusun

Ismayanti, Vita Datau, Ina G Djamhur, Akiko Nada Atsmara

ISBN

978-602-6551-56-6 (PDF)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)