Bandung Tahun 80-an: Saat Angkot dan DAMRI Jadi Cerita

5 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Minggu 26 Apr 2026, 10:49 WIB
Ilustrasi angkutan kota dan bus DAMRI di tahun 80-an. (Sumber: Ilustrasi gambar hasil dari AI)

Ilustrasi angkutan kota dan bus DAMRI di tahun 80-an. (Sumber: Ilustrasi gambar hasil dari AI)

Saya terlahir di Bandung, tepatnya di Jl. Bojong Pacing 3, Desa Margahayu Selatan, sekitar 55 tahun yang lalu. Kampung Bojong Pacing terletak berseberangan dengan Komplek Lanud Sulaiman. Sejak taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP), saya menempuh pendidikan tidak jauh dari rumah, masih dalam wilayah Komplek Lanud Sulaiman.

Setelah menyelesaikan ujian akhir SMP yang saat itu dikenal dengan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) pada tahun 1986, saya memperoleh Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang kemudian digunakan untuk mendaftar ke jenjang sekolah berikutnya. Pilihan saya jatuh pada SMA  Negeri 4 Bandung.

Pada masa itu, suasana jalanan di Bandung belum  sepadat sekarang. Jarak sekitar 10 kilometer dari rumah ke sekolah dapat ditempuh dalam waktu 30–45 menit. Sesekali bisa mencapai 60 menit, terutama jika angkutan umum berhenti lama (mengetem) menunggu penumpang di pinggir jalan atau di mulut gang.

Setiap hari, saya menggunakan angkutan kota—atau yang lebih akrab disebut angkot—berwarna hijau dengan trayek Soreang–Kebon Kelapa. Rutenya melewati Sayati, Bihbul, Cirangrang, Kopo, RS Imanuel, lalu berbelok ke Jalan Pasir Koja. Saya biasanya turun di perempatan Pasir Koja. Jika beruntung, lampu merah membuat angkot berhenti tepat di depan Apotek Djaya. Namun jika lampu hijau, saya harus turun lebih jauh, sebelum Jalan Pajagalan.

Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui Jalan Astana Anyar sejauh kurang lebih satu kilometer menuju sekolah di Jalan Gardujati No. 20. Waktu tempuhnya sekitar sepuluh menit. Di sepanjang perjalanan itu, sering kali saya bertemu teman-teman yang turun di titik yang sama atau tinggal di sekitar Astana Anyar dan Pasir Koja.

Pada masa itu, Jalan Astana Anyar sudah dipenuhi ruko milik warga keturunan Tionghoa. Beragam  usaha ada di sana: toko mainan, toko jam, toko makanan dan kue, tekstil, hingga apotek. Bahkan terdapat tempat hiburan seperti diskotik dan biliar. Trotoarnya relatif lengang, meskipun di beberapa sudut terdapat pedagang kaki lima.

Menjelang kawasan Cibadak, suasana menjadi lebih ramai. Ternyata di sana terdapat pasar yang cukup ramai, sepintas tidak terlihat sepert pasar karena menjorok ke dalam. Pada pagi dan sore hari, pengunjung memadati area tersebut hingga meluber ke trotoar. Para pemasok barang dan pembeli silih berganti keluar masuk pasar. Tak jarang kami berpapasan dengan orang yang memanggul daging babi yang telah dibelah dan dibersihkan. Pasar ini memang didominasi oleh pengunjung dari kalangan keturunan Tionghoa.

Sepulang sekolah, kami biasanya berjalan kaki kembali menyusuri Jalan Astana Anyar menuju Terminal Kebon Kelapa. Namun sering kali, sebelum sampai terminal, kami sudah “dicegat” oleh kernet angkot yang berteriak, “Hayu Margahayu, Soreang, Kopo!”—tanda bahwa angkot masih kosong. Kami pun lebih memilih naik dari pada berjalan hingga terminal.

Pada waktu-waktu tertentu, terutama hari Sabtu sore, kami tetap memilih ke terminal agar bisa mendapatkan tempat duduk. Saat itu, waktu pulang sekolah berbarengan dengan jam pulang karyawan kantor dan  pusat perbelanjaan di sekitar Alun-alun Bandung.

Pemandangan angkot yang kelebihan penumpang adalah hal biasa. Kapasitas duduk sekitar 10 orang—enam di satu sisi, empat di sisi lain—sering kali bertambah dua hingga empat orang lagi dengan bantuan bangku kecil. Bahkan kursi depan yang seharusnya untuk satu orang bisa dipaksakan menjadi dua. Belum  lagi penumpang yang berdiri di pintu sambil bergelayutan bersama kernet.

Kondisi ini jelas tidak nyaman, tetapi saat itu dianggap wajar. Angkot adalah primadona transportasi. Penumpang tidak banyak pilihan. Ketika sopir terlalu lama mengetem atau memuat penumpang melebihi kapasitas, hampir tidak ada yang protes. Ditambah lagi kondisi kendaraan yang sering kurang terawat—kaca macet, ventilasi seadanya—penumpang hanya bisa menerima.

Selain angkot, pilihan transportasi lain adalah bus DAMRI, salah satunya trayek Kopo–Dago. Bus ini menggunakan mesin Mercedes-Benz OF 1113 dengan kapasitas tempat duduk sekitar 48 orang. Namun pada jam  sibuk, jumlah penumpang bisa dua hingga tiga kali lipat.

Penumpang yang tidak kebagian kursi harus berdiri berdesakan sambil berpegangan. Ketika bus berhenti mendadak, penumpang bisa terdorong ke depan. Jika pegangan kuat, hanya bergeser. Jika tidak, bisa terjatuh.

Bergelayutan di pintu bus juga menjadi pengalaman yang tidak jarang kami alami. Bahkan, terkadang kami harus berlari mengejar bus yang sudah berjalan karena sudah penuh. Tangan-tangan dari dalam bus sering membantu menarik kami agar berhasil naik. Semua itu menjadi cerita seru yang dibagikan kembali di kelas ke esokan  harinya.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Dengan harga karcis Rp300 untuk pelajar, bus DAMRI menjadi favorit. Tiket bisa dibeli di pool di Jalan Kebon Kawung. Setiap pelajar hanya diperbolehkan membeli dua bundel karcis pulang-pergi untuk satu bulan, lengkap dengan tanggal penggunaan. Jika tidak terpakai, karcis biasanya diberikan  kepada teman.

Kini, semuanya telah berubah. Kehadiran ojek online (ojol), baik roda dua maupun roda empat, mengubah wajah transportasi kota secara drastis. Angkot yang dulu berjaya kini sering terlihat hanya mengangkut dua atau tiga penumpang. Masyarakat beralih pada moda transportasi yang lebih praktis dan  nyaman.

Cukup dengan membuka aplikasi, memilih tujuan, dan menyetujui tarif, kendaraan  akan datang dalam hitungan menit. Tidak ada lagi menunggu lama, tidak ada desak-desakan, dan perjalanan  menjadi lebih pasti.

Di sisi lain, bus DAMRI pun berbenah. Armada diperbarui, rute diperluas, dan sistem pembayaran dimodernisasi. Dengan fasilitas yang lebih nyaman, ber-AC, serta sistem pembayaran non-tunai, bus kembali menjadi pilihan transportasi massal yang layak. Kampanye seperti “Ayo Naik Bus Biar Nggak Bikin Macet” perlahan mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Kenangan berdesak-desakan di angkot dan bus kini menjadi bagian dari nostalgia. Digantikan oleh moda transportasi yang lebih manusiawi dan efisien. Kemajuan zaman memang membawa konsekuensi—dan dalam hal ini, ia menghadirkan kemudahan.

Dulu, perjalanan bukan sekadar berpindah  tempat. Ia adalah ruang perjumpaan—dengan teman, dengan orang asing, bahkan dengan diri sendiri. Di dalam  sesaknya angkot dan padatnya bus, ada pelajaran tentang kesabaran, toleransi, dan cara menerima keadaan.

Kemajuan memang tidak bisa ditolak. Ia datang membawa kenyamanan, kepastian, dan kemudahan. Dan semua itu patut disyukuri. Namun sesekali, tidak ada salahnya menoleh ke belakang—mengingat bahwa di balik segala keterbatasan masa lalu, pernah ada kehangatan yang sederhana.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tetap penting: bagaimana kita menyikapi perubahan. Transportasi yang nyaman bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang kesadaran bersama untuk menciptakan kota yang lebih tertib, efisien, dan berkelanjutan. Di sanalah peran pemerintah dan  masyarakat bertemu—menggerakkan  roda kehidupan, sekaligus menjaga arah perjalanannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 15:00

AI Art: Pencuri Masa Depan para Seniman

Jika AI mampu menghasilkan gambar secara massal, apa yang akan terjadi pada keberadaan dan masa depan para seniman masa kini?

Ilustrasi seni hasil AI. (Sumber: Pexels | Foto: Google DeepMind)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 12:51

1 Dolar Mencapai Rp 17.865 Rupiah: Apakah Kita Berada dalam Keadaan Baik-Baik Saja?

Pada 27 Mei 2026, nilai rupiah terhadap 1 dolar mencapai Rp 17.865.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Wisata & Kuliner 14 Jun 2026, 11:46

Kopi Joss Jogja, Tradisi Kuliner Unik yang Bertahan Lebih dari 60 Tahun

Kenali kopi joss khas Yogyakarta, kopi dengan bara arang panas yang kini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Simak sejarah dan keunikannya.

Kopi Joss, salah satu kuliner khas Jogja.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 11:12

Bagaimana Merek Lokal Membangun Branding dalam Multi-Platform

Aroma kopi menjadi identitas utama yang digunakan Implora Cosmetics untuk membangun branding Caffe Matte Lip Cream secara konsisten di berbagai platform komunikasi.

Penulis sedang menelaah kajian tentang merek lokal di Bandung.
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 10:01

Mengenal DISPUSIPDA: Pusat Perpustakaan dan Pengarsipan di Bumi Priangan

DISPUSIPDA JABAR, merupakan perpustakaan dan pusat pengarsipan terbesar di Provinsi Jawa Barat.

Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Jawa Barat (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Raffi Islam Madina)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 09:06

BBM Naik, Rakyat Kian Tercekik: Alarm bagi Kita Semua

Ketika semua harga naik, biasanya ada sesuatu yang harus "diturunkan".

Sebuah SPBU di Jl. Surapati Kota Bandung. (Foto: Abah Omtris)
Bandung 13 Jun 2026, 20:44

Sektor Perdagangan dan Industri Loyo, Kredit UMKM Jabar Sentuh Rp186,4 Triliun

Total kredit UMKM Jawa Barat tembus Rp186,4 triliun per Maret 2026. Namun, sektor perdagangan besar dan industri pengolahan justru mengalami kontraksi yoy.

Ilustrasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 13 Jun 2026, 19:45

Gaya Hidup Serba Cepat, Begini Cara Wanita Modern Pilih Tas Multifungsi yang Sesuai Jati Diri

Wanita urban masa kini cenderung mencari keseimbangan antara fungsionalitas yang tinggi dan pesan personal yang ingin mereka sampaikan kepada dunia melalui penampilan mereka.

Tren terbesar yang mendominasi panggung mode sehari-hari saat ini adalah tingginya permintaan terhadap tas yang bersifat multifungsi atau versatile. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 12 Jun 2026, 16:46

Itinerary Wisata Bandung 1–2 Hari, Jelajah Kota Kembang dalam Dua Zona yang Berbeda

Panduan itinerary Bandung 1–2 hari dengan rute wisata pusat kota dan Lembang. Cocok untuk liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu di jalan.

Suasana Bandung dari ketinggian. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 16:16

Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 15:32

Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m.

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 14:47

Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

Kaum disabilitas acapkali hanya dijadikan jargon politik, bahwa manusia adalah setara.

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)