Bandung Tahun 80-an: Saat Angkot dan DAMRI Jadi Cerita

5 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Ilustrasi angkutan kota dan bus DAMRI di tahun 80-an. (Sumber: Ilustrasi gambar hasil dari AI)
Ilustrasi angkutan kota dan bus DAMRI di tahun 80-an. (Sumber: Ilustrasi gambar hasil dari AI)

Saya terlahir di Bandung, tepatnya di Jl. Bojong Pacing 3, Desa Margahayu Selatan, sekitar 55 tahun yang lalu. Kampung Bojong Pacing terletak berseberangan dengan Komplek Lanud Sulaiman. Sejak taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), hingga sekolah menengah pertama (SMP), saya menempuh pendidikan tidak jauh dari rumah, masih dalam wilayah Komplek Lanud Sulaiman.

Setelah menyelesaikan ujian akhir SMP yang saat itu dikenal dengan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) pada tahun 1986, saya memperoleh Nilai Ebtanas Murni (NEM) yang kemudian digunakan untuk mendaftar ke jenjang sekolah berikutnya. Pilihan saya jatuh pada SMA  Negeri 4 Bandung.

Pada masa itu, suasana jalanan di Bandung belum  sepadat sekarang. Jarak sekitar 10 kilometer dari rumah ke sekolah dapat ditempuh dalam waktu 30–45 menit. Sesekali bisa mencapai 60 menit, terutama jika angkutan umum berhenti lama (mengetem) menunggu penumpang di pinggir jalan atau di mulut gang.

Setiap hari, saya menggunakan angkutan kota—atau yang lebih akrab disebut angkot—berwarna hijau dengan trayek Soreang–Kebon Kelapa. Rutenya melewati Sayati, Bihbul, Cirangrang, Kopo, RS Imanuel, lalu berbelok ke Jalan Pasir Koja. Saya biasanya turun di perempatan Pasir Koja. Jika beruntung, lampu merah membuat angkot berhenti tepat di depan Apotek Djaya. Namun jika lampu hijau, saya harus turun lebih jauh, sebelum Jalan Pajagalan.

Dari sana, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui Jalan Astana Anyar sejauh kurang lebih satu kilometer menuju sekolah di Jalan Gardujati No. 20. Waktu tempuhnya sekitar sepuluh menit. Di sepanjang perjalanan itu, sering kali saya bertemu teman-teman yang turun di titik yang sama atau tinggal di sekitar Astana Anyar dan Pasir Koja.

Pada masa itu, Jalan Astana Anyar sudah dipenuhi ruko milik warga keturunan Tionghoa. Beragam  usaha ada di sana: toko mainan, toko jam, toko makanan dan kue, tekstil, hingga apotek. Bahkan terdapat tempat hiburan seperti diskotik dan biliar. Trotoarnya relatif lengang, meskipun di beberapa sudut terdapat pedagang kaki lima.

Menjelang kawasan Cibadak, suasana menjadi lebih ramai. Ternyata di sana terdapat pasar yang cukup ramai, sepintas tidak terlihat sepert pasar karena menjorok ke dalam. Pada pagi dan sore hari, pengunjung memadati area tersebut hingga meluber ke trotoar. Para pemasok barang dan pembeli silih berganti keluar masuk pasar. Tak jarang kami berpapasan dengan orang yang memanggul daging babi yang telah dibelah dan dibersihkan. Pasar ini memang didominasi oleh pengunjung dari kalangan keturunan Tionghoa.

Sepulang sekolah, kami biasanya berjalan kaki kembali menyusuri Jalan Astana Anyar menuju Terminal Kebon Kelapa. Namun sering kali, sebelum sampai terminal, kami sudah “dicegat” oleh kernet angkot yang berteriak, “Hayu Margahayu, Soreang, Kopo!”—tanda bahwa angkot masih kosong. Kami pun lebih memilih naik dari pada berjalan hingga terminal.

Pada waktu-waktu tertentu, terutama hari Sabtu sore, kami tetap memilih ke terminal agar bisa mendapatkan tempat duduk. Saat itu, waktu pulang sekolah berbarengan dengan jam pulang karyawan kantor dan  pusat perbelanjaan di sekitar Alun-alun Bandung.

Pemandangan angkot yang kelebihan penumpang adalah hal biasa. Kapasitas duduk sekitar 10 orang—enam di satu sisi, empat di sisi lain—sering kali bertambah dua hingga empat orang lagi dengan bantuan bangku kecil. Bahkan kursi depan yang seharusnya untuk satu orang bisa dipaksakan menjadi dua. Belum  lagi penumpang yang berdiri di pintu sambil bergelayutan bersama kernet.

Kondisi ini jelas tidak nyaman, tetapi saat itu dianggap wajar. Angkot adalah primadona transportasi. Penumpang tidak banyak pilihan. Ketika sopir terlalu lama mengetem atau memuat penumpang melebihi kapasitas, hampir tidak ada yang protes. Ditambah lagi kondisi kendaraan yang sering kurang terawat—kaca macet, ventilasi seadanya—penumpang hanya bisa menerima.

Selain angkot, pilihan transportasi lain adalah bus DAMRI, salah satunya trayek Kopo–Dago. Bus ini menggunakan mesin Mercedes-Benz OF 1113 dengan kapasitas tempat duduk sekitar 48 orang. Namun pada jam  sibuk, jumlah penumpang bisa dua hingga tiga kali lipat.

Penumpang yang tidak kebagian kursi harus berdiri berdesakan sambil berpegangan. Ketika bus berhenti mendadak, penumpang bisa terdorong ke depan. Jika pegangan kuat, hanya bergeser. Jika tidak, bisa terjatuh.

Bergelayutan di pintu bus juga menjadi pengalaman yang tidak jarang kami alami. Bahkan, terkadang kami harus berlari mengejar bus yang sudah berjalan karena sudah penuh. Tangan-tangan dari dalam bus sering membantu menarik kami agar berhasil naik. Semua itu menjadi cerita seru yang dibagikan kembali di kelas ke esokan  harinya.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Dengan harga karcis Rp300 untuk pelajar, bus DAMRI menjadi favorit. Tiket bisa dibeli di pool di Jalan Kebon Kawung. Setiap pelajar hanya diperbolehkan membeli dua bundel karcis pulang-pergi untuk satu bulan, lengkap dengan tanggal penggunaan. Jika tidak terpakai, karcis biasanya diberikan  kepada teman.

Kini, semuanya telah berubah. Kehadiran ojek online (ojol), baik roda dua maupun roda empat, mengubah wajah transportasi kota secara drastis. Angkot yang dulu berjaya kini sering terlihat hanya mengangkut dua atau tiga penumpang. Masyarakat beralih pada moda transportasi yang lebih praktis dan  nyaman.

Cukup dengan membuka aplikasi, memilih tujuan, dan menyetujui tarif, kendaraan  akan datang dalam hitungan menit. Tidak ada lagi menunggu lama, tidak ada desak-desakan, dan perjalanan  menjadi lebih pasti.

Di sisi lain, bus DAMRI pun berbenah. Armada diperbarui, rute diperluas, dan sistem pembayaran dimodernisasi. Dengan fasilitas yang lebih nyaman, ber-AC, serta sistem pembayaran non-tunai, bus kembali menjadi pilihan transportasi massal yang layak. Kampanye seperti “Ayo Naik Bus Biar Nggak Bikin Macet” perlahan mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Kenangan berdesak-desakan di angkot dan bus kini menjadi bagian dari nostalgia. Digantikan oleh moda transportasi yang lebih manusiawi dan efisien. Kemajuan zaman memang membawa konsekuensi—dan dalam hal ini, ia menghadirkan kemudahan.

Dulu, perjalanan bukan sekadar berpindah  tempat. Ia adalah ruang perjumpaan—dengan teman, dengan orang asing, bahkan dengan diri sendiri. Di dalam  sesaknya angkot dan padatnya bus, ada pelajaran tentang kesabaran, toleransi, dan cara menerima keadaan.

Kemajuan memang tidak bisa ditolak. Ia datang membawa kenyamanan, kepastian, dan kemudahan. Dan semua itu patut disyukuri. Namun sesekali, tidak ada salahnya menoleh ke belakang—mengingat bahwa di balik segala keterbatasan masa lalu, pernah ada kehangatan yang sederhana.

Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang tetap penting: bagaimana kita menyikapi perubahan. Transportasi yang nyaman bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang kesadaran bersama untuk menciptakan kota yang lebih tertib, efisien, dan berkelanjutan. Di sanalah peran pemerintah dan  masyarakat bertemu—menggerakkan  roda kehidupan, sekaligus menjaga arah perjalanannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)