Bosscha Lembang dan Jejak Astronomi Indonesia

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Di tengah wisata Lembang, Bosscha Observatory hadir sebagai ruang ilmu pengetahuan. (Sumber: Institut Teknologi Bandung (ITB))
Di tengah wisata Lembang, Bosscha Observatory hadir sebagai ruang ilmu pengetahuan. (Sumber: Institut Teknologi Bandung (ITB))

Di Jawa Barat, ada sebuah kawasan yang semakin dikenal sebagai destinasi wisata, yaitu Lembang. Wilayah ini berkembang dengan berbagai pilihan wisata, mulai dari panorama alam, kuliner, hingga tempat rekreasi yang selalu ramai dikunjungi bagi pendatang. Namun ada fakta yang menarik di balik popularitasnya sebagai destinasi wisata, Lembang juga menyimpan satu jenis wisata yang tidak terlalu disorot, yaitu wisata ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tata surya atau dunia astronomi.

Di tengah banyaknya ragam destinasi di Lembang, Bosscha Observatory hadir sebagai ruang yang berbeda. Tempat ini bukan hanya sekadar tujuan kunjungan, tetapi juga pusat pembelajaran tentang langit, bintang, hingga alam semesta di dunia ini. Di saat sebagian wisata menawarkan hiburan, Bosscha justru menawarkan pengalaman memahami sesuatu yang jauh lebih luas dari sekadar bumi tempat kita berpijak.

Bosscha juga masih menarik perhatian di tingkat internasional, yang terlihat dari kunjungan ilmuwan dunia ke Bosscha Observatory dalam rangka mendorong kolaborasi astronomi internasional. Dalam kunjungan tersebut, para ilmuwan diajak melihat langsung fasilitas dan aktivitas penelitian yang masih berlangsung di observatorium ini, sekaligus membahas pengembangan kerja sama ilmiah di bidang astronomi.

Direktur Teknologi Yudi Darma saat dikunjungi ilmuwan dunia mengatakan,

“Observatorium Bosscha adalah salah satu warisan besar dari masa kolonial Belanda yang masih sangat relevan hingga hari ini. Usia seabad bukanlah halangan untuk tetap menjadi pusat pengembangan sains dan pendidikan, asalkan fasilitas ini dirawat dan dioptimalkan bersama.”

Yang memperlihatkan bahwa keberadaan Bosscha tidak hanya berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga tetap memiliki peran aktif dalam jejaring penelitian astronomi global hingga saat ini.

Selain kunjungan tersebut, Bosscha yang berlokasi di Jl. Peneropongan Bintang No.45, Lembang juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk berkunjung melalui sistem pendaftaran resmi. Kunjungan dilakukan dengan kuota terbatas, sekitar 50 orang per sesi, dengan biaya tiket sekitar Rp50.000 per orang, sementara balita tidak dikenakan biaya. Aturan kunjungan ke Bosscha sebagai destinasi wisata menunjukkan bahwa Bosscha tetap menjaga keseimbangan antara fungsi edukasi publik dan aktivitas penelitian yang berjalan di dalamnya.

Sehingga, terlihat bahwa Bosscha berada pada posisi yang cukup unik: dikenal sebagai destinasi edukasi, diperhatikan oleh ilmuwan dunia, sekaligus tetap menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat umum. Namun, bagian yang lebih dalam mengenai bagaimana Bosscha bisa sampai pada posisi penting seperti ini hingga didatangi ilmuwan dunia.

Dari dalam bangunan Bosscha, penelitian langit terus berlangsung hingga hari ini. (Sumber: Institut Teknologi Bandung (ITB) | Foto: Dok. Humas ITB)
Dari dalam bangunan Bosscha, penelitian langit terus berlangsung hingga hari ini. (Sumber: Institut Teknologi Bandung (ITB) | Foto: Dok. Humas ITB)

Di Balik Jejak Panjang Observatorium Bosscha

Sejarah Bosscha Observatory berawal dari gagasan Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya astronomi. Ia kemudian bekerja sama dengan sejumlah tokoh pada masa Hindia Belanda, termasuk R.A. Kerkhoven dan astronom Joan George Erardus Gijsbertus Voûte, untuk menghimpun para peminat astronomi dan mewujudkan ide pendirian sebuah observatorium.

Dari pertemuan tersebut, lahirlah Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) pada 12 September 1920 di Hotel Homann Bandung. Perhimpunan ini memiliki tujuan utama untuk mendirikan dan mengembangkan observatorium astronomi di Hindia Belanda serta memajukan ilmu astronomi. Dalam proses pendirian tersebut, K.A.R. Bosscha tidak hanya berperan sebagai pencetus gagasan, tetapi juga sebagai penyandang dana utama, termasuk dalam pengadaan teleskop.

Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya, nama Bosscha kemudian diabadikan sebagai nama observatorium. Setelah melalui proses pembangunan, Observatorium Bosscha resmi diresmikan pada 1 Januari 1923 dan mulai berfungsi sebagai pusat pengamatan astronomi di kawasan Lembang, Bandung.

Perkembangan terus berlanjut setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1951, NISV secara resmi menyerahkan pengelolaan observatorium kepada pemerintah Indonesia. Setelah itu, Bosscha berada di bawah Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia, yang kemudian menjadi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sejak saat itu, Bosscha beralih menjadi pusat pendidikan astronomi di Indonesia dan hingga kini masih menjadi satu-satunya institusi yang menyelenggarakan pendidikan astronomi lengkap dari sarjana hingga doktoral.

Selain penelitian dan pendidikan, Bosscha juga aktif dalam pengabdian masyarakat serta membuka kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara. Kegiatannya mencakup pengamatan astronomi, analisis data astrofisika, instrumentasi, hingga kajian lintas bidang seperti sejarah dan lingkungan. Bosscha juga ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional pada 2004 dan Objek Vital Nasional pada 2008, sehingga keberadaannya dilindungi dan dijaga sebagai warisan ilmiah yang bernilai penting.

Karena itu, Bosscha Observatory menyimpan sejarah panjang sejak berdirinya lebih dari satu abad lalu, melewati masa kolonial Belanda hingga menjadi bagian penting dalam perkembangan ilmu astronomi di Indonesia. Keberadaannya tidak hanya sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai ruang ilmu pengetahuan yang tetap hidup di tengah berkembangnya Lembang sebagai kawasan wisata, serta masih mendapat perhatian internasional melalui kunjungan ilmuwan dunia dan kerja sama penelitian astronomi. Hal ini menunjukkan bahwa Bosscha bukan sekadar bangunan peninggalan, melainkan pusat edukasi dan penelitian yang terus relevan, sekaligus pengingat bagi kita bahwa ilmu pengetahuan akan tetap bertahan jika dijaga dan diberi ruang untuk berkembang di tengah perubahan zaman. (*)

REFERENSI

  • Observatorium Bosscha. (n.d.). “Sejarah dan profil”.

  • Observatorium Bosscha. (n.d.). “Jadwal Kunjungan Siang Observatorium Bosscha”.

  • Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2025). “Ilmuwan Dunia Kunjungi Observatorium Bosscha di Lembang, Dorong Kolaborasi Astronomi Internasional”.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)