Bosscha Lembang dan Jejak Astronomi Indonesia

Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Minggu 26 Apr 2026, 09:34 WIB
Di tengah wisata Lembang, Bosscha Observatory hadir sebagai ruang ilmu pengetahuan. (Sumber: Institut Teknologi Bandung (ITB))

Di tengah wisata Lembang, Bosscha Observatory hadir sebagai ruang ilmu pengetahuan. (Sumber: Institut Teknologi Bandung (ITB))

Di Jawa Barat, ada sebuah kawasan yang semakin dikenal sebagai destinasi wisata, yaitu Lembang. Wilayah ini berkembang dengan berbagai pilihan wisata, mulai dari panorama alam, kuliner, hingga tempat rekreasi yang selalu ramai dikunjungi bagi pendatang. Namun ada fakta yang menarik di balik popularitasnya sebagai destinasi wisata, Lembang juga menyimpan satu jenis wisata yang tidak terlalu disorot, yaitu wisata ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan tata surya atau dunia astronomi.

Di tengah banyaknya ragam destinasi di Lembang, Bosscha Observatory hadir sebagai ruang yang berbeda. Tempat ini bukan hanya sekadar tujuan kunjungan, tetapi juga pusat pembelajaran tentang langit, bintang, hingga alam semesta di dunia ini. Di saat sebagian wisata menawarkan hiburan, Bosscha justru menawarkan pengalaman memahami sesuatu yang jauh lebih luas dari sekadar bumi tempat kita berpijak.

Bosscha juga masih menarik perhatian di tingkat internasional, yang terlihat dari kunjungan ilmuwan dunia ke Bosscha Observatory dalam rangka mendorong kolaborasi astronomi internasional. Dalam kunjungan tersebut, para ilmuwan diajak melihat langsung fasilitas dan aktivitas penelitian yang masih berlangsung di observatorium ini, sekaligus membahas pengembangan kerja sama ilmiah di bidang astronomi.

Direktur Teknologi Yudi Darma saat dikunjungi ilmuwan dunia mengatakan,

Observatorium Bosscha adalah salah satu warisan besar dari masa kolonial Belanda yang masih sangat relevan hingga hari ini. Usia seabad bukanlah halangan untuk tetap menjadi pusat pengembangan sains dan pendidikan, asalkan fasilitas ini dirawat dan dioptimalkan bersama.”

Yang memperlihatkan bahwa keberadaan Bosscha tidak hanya berhenti sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga tetap memiliki peran aktif dalam jejaring penelitian astronomi global hingga saat ini.

Selain kunjungan tersebut, Bosscha yang berlokasi di Jl. Peneropongan Bintang No.45, Lembang juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk berkunjung melalui sistem pendaftaran resmi. Kunjungan dilakukan dengan kuota terbatas, sekitar 50 orang per sesi, dengan biaya tiket sekitar Rp50.000 per orang, sementara balita tidak dikenakan biaya. Aturan kunjungan ke Bosscha sebagai destinasi wisata menunjukkan bahwa Bosscha tetap menjaga keseimbangan antara fungsi edukasi publik dan aktivitas penelitian yang berjalan di dalamnya.

Sehingga, terlihat bahwa Bosscha berada pada posisi yang cukup unik: dikenal sebagai destinasi edukasi, diperhatikan oleh ilmuwan dunia, sekaligus tetap menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat umum. Namun, bagian yang lebih dalam mengenai bagaimana Bosscha bisa sampai pada posisi penting seperti ini hingga didatangi ilmuwan dunia.

Dari dalam bangunan Bosscha, penelitian langit terus berlangsung hingga hari ini. (Sumber: Institut Teknologi Bandung (ITB) | Foto: Dok. Humas ITB)
Dari dalam bangunan Bosscha, penelitian langit terus berlangsung hingga hari ini. (Sumber: Institut Teknologi Bandung (ITB) | Foto: Dok. Humas ITB)

Di Balik Jejak Panjang Observatorium Bosscha

Sejarah Bosscha Observatory berawal dari gagasan Karel Albert Rudolf (K.A.R.) Bosscha yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya astronomi. Ia kemudian bekerja sama dengan sejumlah tokoh pada masa Hindia Belanda, termasuk R.A. Kerkhoven dan astronom Joan George Erardus Gijsbertus Voûte, untuk menghimpun para peminat astronomi dan mewujudkan ide pendirian sebuah observatorium.

Dari pertemuan tersebut, lahirlah Perhimpunan Astronomi Hindia Belanda atau Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereniging (NISV) pada 12 September 1920 di Hotel Homann Bandung. Perhimpunan ini memiliki tujuan utama untuk mendirikan dan mengembangkan observatorium astronomi di Hindia Belanda serta memajukan ilmu astronomi. Dalam proses pendirian tersebut, K.A.R. Bosscha tidak hanya berperan sebagai pencetus gagasan, tetapi juga sebagai penyandang dana utama, termasuk dalam pengadaan teleskop.

Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya, nama Bosscha kemudian diabadikan sebagai nama observatorium. Setelah melalui proses pembangunan, Observatorium Bosscha resmi diresmikan pada 1 Januari 1923 dan mulai berfungsi sebagai pusat pengamatan astronomi di kawasan Lembang, Bandung.

Perkembangan terus berlanjut setelah Indonesia merdeka. Pada tahun 1951, NISV secara resmi menyerahkan pengelolaan observatorium kepada pemerintah Indonesia. Setelah itu, Bosscha berada di bawah Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia, yang kemudian menjadi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB).

Sejak saat itu, Bosscha beralih menjadi pusat pendidikan astronomi di Indonesia dan hingga kini masih menjadi satu-satunya institusi yang menyelenggarakan pendidikan astronomi lengkap dari sarjana hingga doktoral.

Selain penelitian dan pendidikan, Bosscha juga aktif dalam pengabdian masyarakat serta membuka kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara. Kegiatannya mencakup pengamatan astronomi, analisis data astrofisika, instrumentasi, hingga kajian lintas bidang seperti sejarah dan lingkungan. Bosscha juga ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional pada 2004 dan Objek Vital Nasional pada 2008, sehingga keberadaannya dilindungi dan dijaga sebagai warisan ilmiah yang bernilai penting.

Karena itu, Bosscha Observatory menyimpan sejarah panjang sejak berdirinya lebih dari satu abad lalu, melewati masa kolonial Belanda hingga menjadi bagian penting dalam perkembangan ilmu astronomi di Indonesia. Keberadaannya tidak hanya sebagai warisan sejarah, tetapi juga sebagai ruang ilmu pengetahuan yang tetap hidup di tengah berkembangnya Lembang sebagai kawasan wisata, serta masih mendapat perhatian internasional melalui kunjungan ilmuwan dunia dan kerja sama penelitian astronomi. Hal ini menunjukkan bahwa Bosscha bukan sekadar bangunan peninggalan, melainkan pusat edukasi dan penelitian yang terus relevan, sekaligus pengingat bagi kita bahwa ilmu pengetahuan akan tetap bertahan jika dijaga dan diberi ruang untuk berkembang di tengah perubahan zaman. (*)

REFERENSI

  • Observatorium Bosscha. (n.d.). “Sejarah dan profil”.

  • Observatorium Bosscha. (n.d.). “Jadwal Kunjungan Siang Observatorium Bosscha”.

  • Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2025). “Ilmuwan Dunia Kunjungi Observatorium Bosscha di Lembang, Dorong Kolaborasi Astronomi Internasional”.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)