Kehidupan yang Terburu-buru Tidak Layak Dinikmati: Pesan Waisak untuk Bandung
Waisak mengingatkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari tergesa-gesa.
Harga Mahal Sebuah Piala: Saat Euforia Juara Persib Bandung Harus Dibayar dengan Nyawa
Merayakan Persib boleh menggila, tetapi logika dan kemanusiaan jangan sampai ikut mati.
Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit
Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.
Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot
Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.
Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru
Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.
Membaca di Kota yang Sibuk
Selama Hari Buku Nasional terus diperingati setiap tahun, budaya membaca justru perlahan semakin tersingkir di tengah kehidupan kota yang serba cepat.
Pengorbanan Tidak Pernah Mati dalam Kehidupan Manusia
Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus menjadi refleksi bahwa manusia perlahan mulai memanfaatkan ketulusan seseorang dibanding menghargai pengorbanannya.
Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia
Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.
Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah
Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.
Bandung Punya Banyak Kampus, tapi Apakah Semua Bisa Mengaksesnya?
Bandung sebagai kota pendidikan yang masih menghadapi ketimpangan akses, sehingga tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.
Menjelang 1 Mei di Bandung: Buruh Menghidupi Ekonomi Negara, tapi Siapa yang Menghidupi Mereka?
Selama buruh masih dihadapkan pada upah yang belum sepenuhnya layak, harga kebutuhan yang terus naik, dan kepastian kerja yang rapuh, maka tidak ada kata perjuangan buruh telah selesai.
Gedung Sate Rapi di Depan, Kacau di Belakang?
Selama pembangunan berfokus pada yang tampak di depan, Bandung belum benar-benar berubah.
Jika Masuknya Curang, Jangan Harap Ilmunya Jujur
UTBK yang seharusnya menjadi tolak ukur kemampuan, justru berubah menjadi ruang yang menunjukkan bahwa ambisi untuk “lolos”, sering kali lebih diutamakan daripada kejujuran dalam prosesnya.
Bosscha Lembang dan Jejak Astronomi Indonesia
Bosscha Observatory Lembang, sebagai ruang ilmu pengetahuan dan penelitian astronomi.
Perubahan Pesat pada Bandung: Sesuai Harapan atau Sekadar Omongan?
Kritik terhadap rencana percepatan pembangunan infrastruktur dan transportasi di Kota Bandung yang mungkin masih menyisakan ketidakjelasan antara harapan perubahan dan realisasi di lapangan.
No Viral, No Justice: Di Sinilah Logika Diperlukan!
Mengkritisi fenomena No Viral, No Justice dengan menunjukkan bahwa di balik kekuatan “keramaian” di ruang digital, tersembunyi kesesatan berpikir.
Ngomong Keras Bukan Berarti Benar: Logika yang Kalah oleh Emosi
Dominasi emosi dalam debat membuat kebenaran sering kalah oleh suara yang lebih keras daripada argumen yang lebih logis.
Hari Puisi Nasional: Bandung, Antara Ekspektasi dan Kenyataan yang Dijalani
Di Hari Puisi Nasional, Bandung tidak hanya sebagai kota yang indah, tetapi juga sebagai ruang pengalaman yang memperlihatkan jarak antara ekspektasi dan kenyataan yang dijalani.
Tangkuban Parahu dari Sudut yang Tak Biasa
Kisah perjalanan empat orang ke Upas Hill yang tidak hanya soal puncak, tapi juga cara baru melihat Tangkuban Perahu.
Hari Buku Sedunia dan Angka 59: Ketika Bandung Belum Benar-Benar Membaca
Peringatan Hari Buku Sedunia dan realitas minat baca di Bandung yang masih cenderung rendah berdasarkan data BPS.