Ngomong Keras Bukan Berarti Benar: Logika yang Kalah oleh Emosi

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Kamis 23 Apr 2026, 14:09 WIB
Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)

Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)

Di tengah banjir opini dan suara yang semakin keras di ruang publik, kebenaran justru sering kalah bahkan sebelum sempat dijelaskan. Banyak orang berlomba menjadi paling yakin, paling lantang, dan paling emosional seolah kekuatan suara bisa menggantikan isi pikiran. Padahal tidak semua yang terdengar tegas itu benar, dan tidak semua yang terdengar tenang itu salah. Dalam situasi ketika perdebatan berubah menjadi ajang saling serang, logika sering hanya menjadi formalitas, bukan dasar berpikir. Yang sering menang bukan yang paling masuk akal, tetapi yang paling pandai mengaduk emosi.

Disinilah logika muncul sebagai upaya manusia untuk melepaskan diri dari cara berpikir yang tidak teratur, mitos, dan penjelasan yang tidak berbasis rasionalitas. Dalam perkembangannya, logika mulai dikenal ketika manusia menggunakan penalaran untuk menarik kesimpulan dari fakta yang ada. Namun, sistematisasi ilmu logika baru benar benar berkembang pada masa Aristoteles, yakni sekitar 384 SM hingga 322 SM. Ia juga dikenal sebagai tokoh utama dalam logika klasik yang memperkenalkan silogisme, yaitu cara menarik kesimpulan berdasarkan dua premis yang saling berhubungan sehingga menghasilkan kesimpulan yang logis dan terstruktur. Contoh silogisme yang dikenalkan oleh Aristoteles yakni:

Semua manusia akan mati.

Aristoteles adalah manusia.

Aristoteles akan mati.

Maka kesimpulannya Aristoteles akan mati. Begitu juga dalam kehidupan, banyak hal yang tampak sederhana sebenarnya mengikuti pola penalaran seperti ini, di mana kesimpulan tidak muncul begitu saja, tetapi dibangun dari hubungan sebab dan akibat yang logis. Dari titik inilah logika mulai dipahami sebagai ilmu tentang aturan berpikir yang benar, yang kemudian berkembang dari logika tradisional hingga logika modern seperti logika induktif yang lebih berbasis pembuktian dan struktur berpikir ilmiah.

Logika induktif adalah cara berpikir yang menarik kesimpulan dari hal hal khusus menuju kesimpulan yang bersifat umum berdasarkan pengamatan atau fakta yang terjadi secara berulang (Tanara, 2025). Dalam logika ini, kebenaran tidak bersifat mutlak, melainkan dibangun dari pola yang terlihat dalam kenyataan sehingga menghasilkan kesimpulan yang masih dapat diuji berdasarkan fakta nyata di lapangan. Contohnya, jika seseorang berkali kali melihat bahwa orang yang belajar dengan konsisten mendapatkan hasil yang lebih baik, maka ia menyimpulkan bahwa belajar yang konsisten cenderung membawa hasil yang lebih baik.

Namun dalam praktiknya, cara berpikir berbasis bukti ini sering tergeser oleh kecenderungan manusia yang lebih memilih kesimpulan cepat tanpa analisis yang benar. Di sinilah logika mulai kalah oleh emosi, ketika orang lebih percaya pada apa yang terasa benar daripada apa yang terbukti benar. Akibatnya, ruang berpikir tidak lagi dipandu penalaran jernih, tetapi oleh dorongan untuk menang dan terlihat paling meyakinkan, yang kemudian membuka jalan bagi berbagai bentuk kesalahan berpikir dalam percakapan sehari hari.

Ilustrasi Sebagai Pengingat Bahwa Setiap Argumen Perlu Diuji dan Dipertanyakan Kebenarannya Sebelum Ditarik Menjadi Kesimpulan. (Sumber: Pixabay | Foto: Geralt)
Ilustrasi Sebagai Pengingat Bahwa Setiap Argumen Perlu Diuji dan Dipertanyakan Kebenarannya Sebelum Ditarik Menjadi Kesimpulan. (Sumber: Pixabay | Foto: Geralt)

Sesat Pikir: Kerasnya Suara Bukan Bukti Kebenaran

Dalam banyak perdebatan di ruang publik, kebenaran sering tidak lagi ditentukan oleh isi argumen, melainkan oleh cara seseorang menyampaikannya. Salah satu bentuk kesalahan berpikir yang sering muncul adalah ad hominem, yaitu ketika seseorang menyerang pribadi lawan bicara, bukan isi argumennya. Misalnya dalam diskusi tentang kebijakan sekolah, seseorang menjelaskan bahwa aturan tertentu tidak efektif karena datanya menunjukkan banyak siswa dirugikan, tetapi justru dibalas dengan komentar seperti

“kamu kan bukan siswa teladan, jadi nggak usah sok tahu” atau “dia itu cuma anak yang suka cari masalah”.

Akibatnya, isi argumen tidak lagi dibahas, karena perhatian sudah dialihkan ke pribadi orang yang berbicara.

Bentuk lain yang sering muncul dalam suasana debat yang emosional adalah appeal to emotion, yaitu ketika seseorang berusaha membenarkan argumennya dengan memancing emosi pendengar seperti rasa takut, iba, atau rasa bersalah, sebagai pengganti bukti atau alasan yang logis. Misalnya dalam perdebatan tentang kenaikan biaya kegiatan sekolah, seseorang berkata dengan nada tinggi,

“kalau biaya ini tidak disetujui, berarti kalian tidak peduli sama teman-teman yang tidak mampu!”.

Meskipun tidak ada data yang menunjukkan dampak nyata bahwa penolakan biaya tersebut benar benar membuat teman teman yang tidak mampu menjadi tidak bisa ikut kegiatan, argumen tersebut dibuat untuk menekan perasaan orang lain agar merasa bersalah dan akhirnya setuju. Akibatnya, orang bisa menerima kesimpulan tersebut bukan karena alasan yang kuat atau bukti yang jelas, tetapi karena terdorong emosi yang sengaja dipancing dalam perdebatan.

Kedua bentuk kesalahan berpikir ini menunjukkan bahwa dalam banyak situasi, yang paling dominan bukan lagi kekuatan alasan, tetapi kekuatan emosi dan cara berbicara. Ketika suara yang keras dan narasi yang emosional lebih dipercaya daripada argumen yang tepat, maka kebenaran menjadi mudah kabur di tengah perdebatan.

Namun kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan menjadi pola pikir yang dianggap wajar. Jika setiap diskusi hanya diisi oleh suara paling keras dan emosi paling meledak, maka ruang berpikir akan semakin tumpul dan kehilangan arah. Solusinya adalah membiasakan kembali cara berpikir yang menuntut alasan, bukan sekadar reaksi. Setiap pendapat perlu diuji, bukan langsung dipercaya hanya karena terdengar meyakinkan atau disampaikan dengan penuh tekanan emosi. Di sisi lain, kemampuan untuk menahan diri untuk tidak menyerang pribadi dan tidak mudah terbawa suasana juga menjadi kunci agar diskusi tidak jatuh menjadi konflik yang tidak menghasilkan pemahaman apa pun.

Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan suara yang paling keras, tetapi pikiran yang paling jernih untuk membedakan mana yang benar dan mana yang hanya terdengar benar. (*)

REFERENSI

  • Tanara, A. (2025). “Buku Ajar LOGIKA” (C. Heni, Ed.). PT Kanisius.

  • Ramot, Christovel. (2024). “Mengenal Jenis Sesat Pikir atau Logical Fallacies yang Kerap Dialami Manusia”. KlikDokter.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Beranda 13 Jun 2026, 09:16

Mengupas Kebiasaan Belanja Baju yang Menjadi Ancaman Lingkungan

Pemutaran film Menolak Punah di Bandung mengungkap dampak tersembunyi industri fast fashion, dari limbah tekstil hingga ancaman mikroplastik bagi manusia.

Diskusi film Menolak Punah di Tjap Sahabat Bandung mengajak peserta melihat kembali hubungan antara isi lemari dan krisis lingkungan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 20:23

Kenaikan Harga BBM, Peningkatan Biaya Operasional Kendaraan, dan Peluang Perpindahan Moda Transportasi

Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya operasional kendaraan dan membuka peluang perpindahan moda transportasi, asalkan didukung dengan angkutan umum yang berkualitas.

Kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamina jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 19:34

Dari Tjilakiplein ke Taman Lansia Kota Bandung

Perkembangan Taman Lansia dari masa Kolonial Belanda hingga masa kini yang menjadi taman ramah bagi lanjut usia yang inklusif.

Warga saat berada di Taman Lansia, Kota Bandung, Jumat 30 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 18:11

CRISPR-Cas9: Teknologi Penghasil Beras Unggul yang Dikembangkan Peneliti di China

Bisakah padi lokal yang berbulir kecil “diubah” menjadi bulir panjang? Pertanyaan ini mungkin terlihat seperti fiksi ilmiah.

Ilustrasi beras bulir panjang bersih dan minim zat kapur. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 17:17

Urgensi Drone untuk Mitigasi dan Penanggulangan Gempa

Pemerintah pusat dan daerah perlu bekerja sama dengan industri drone yang sudah memiliki sertifikasi atau mendapatkan pengesahan Design Organization Approval (DOA).

Ilustrasi drone untuk menanggulangi bencana gempa bumi. (Sumber: Meta AI | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 12 Jun 2026, 16:46

Itinerary Wisata Bandung 1–2 Hari, Jelajah Kota Kembang dalam Dua Zona yang Berbeda

Panduan itinerary Bandung 1–2 hari dengan rute wisata pusat kota dan Lembang. Cocok untuk liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu di jalan.

Suasana Bandung dari ketinggian. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 16:16

Banjir Bandung: Bencana Kebijakan, Bukan Bencana Alam

Banjir tahunan di Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang sudah bukan kejutan lagi, banjir datang setiap musim hujan, dan merendam puluhan ribu jiwa.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 15:32

Bojongmalaka, Tanjung yang Ditumbuhi Pohon Malaka

Pohon malaka itu batangnya bengkok-bengkok, tingginya antara 10 m sampai 19m.

Pohon malaka yang sedang berbuah lebat di puncak Gunung Pipisan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung. (Foto: Ganjar Wigun)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 14:47

Disabilitas Antara Kemanusiaan dan Egaliter

Kaum disabilitas acapkali hanya dijadikan jargon politik, bahwa manusia adalah setara.

Komunitas atlet disabilitas yang tergabung dalam National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) di acara Bandung Communication Run, Minggu, 28 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:21

Mandi Kembang sebagai Cara Perempuan Masa Kini Mengapresiasi Tubuh

Tren amandazahraism sebagai sarana pelestarian budaya, menjadikan mandi bunga yang dulunya dianggap mistis dan kolot sebagai bentuk self-care.

Ilustrasi mandi kembang. (Sumber: "Spa in DVN" by Dennis Wong)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 13:09

Mengenal Dunia Pelayanan Sosial Melalui Magang Berdampak

Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UPI melaksanakan Program Magang Mandiri Berdampak di Dinas Sosial Kota Bandung.

Kegiatan Penjemputan Mahasiswa Magang oleh Pihak Kampus & Pihak Mitra.
Ikon 12 Jun 2026, 10:50

Ubertos Mall di Timur Kota Bandung yang Mengalami Pasang Surut

Perjalanan Ubertos dari era BTP, sempat bangkit usai rebranding lalu kembali menghadapi penurunan.

Ubertos Mall. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 10:19

Ketika Makan Sehat Menjadi Kemewahan

Meski “Isi Piringku” menjadi pedoman gizi seimbang, penerapannya masih terhambat oleh keterbatasan ekonomi, rendahnya literasi gizi, dan akses pangan sehat yang belum merata.

 (Sumber: Ayo Sehat - Kemenkes)
Beranda 12 Jun 2026, 09:55

Potret Gejolak Ekonomi, Nestapa Ojol hingga Perajin Tahu Tempe di Bandung

Potret gejolak ekonomi di Bandung, dari ojol yang terbebani kenaikan harga BBM hingga perajin tahu tempe yang terjepit mahalnya kedelai impor akibat pelemahan rupiah.

Kenaikan harga kedelai impor membuat keuntungan perajin tahu dan tempe terus menyusut. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:42

Sejarah SS1 Sebagai Senapan Utama Tni dan Simbol Nation Building

Melihat sejarah adopsi senapan utama TNI yang digunakan hingga sekarang.

SS1-V2 (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 09:00

Kecemasan Mahasiswa Perantau, Kenaikan BBM Memicu Efek Domino

Kenaikan harga BBM di Cirebon memicu kecemasan di kalangan mahasiswa,terutama yang merantau.

Illustrasi. (Sumber AI)
Ayo Netizen 12 Jun 2026, 08:37

Mengulik Sejarah Benteng Vastenburg dan Perkembangannya Menjadi Tempat Rekreasi

Benteng Vastenburg dahulu hampir menjadi benteng yang terbengkalai.

 (Sumber: sinar.big.go.id)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 20:52

Moro Langlayangan

Layangan yang tersangkut di atap jemuran rumah sore itu. Bila bagi seorang anak, hanyalah galabag yang berhasil didapatkan.

Anak-anak bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 11 Jun 2026, 20:34

Edukasi Tata Kelola Kopi, Bekali Kopi Dampingi Petani di Lembang Tanpa Beli Lahan

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka.

Bekali Kopi hadir mendampingi petani kopi di Pasir Angling, Lembang, melalui edukasi tata kelola dan pengolahan hasil panen tanpa harus membeli lahan mereka. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 11 Jun 2026, 19:47

Dari Jalan Pos, Pecinan, dan Wisata Kuliner: Lapisan Waktu di Surya Kencana

Surya Kencana berawal dari jalur pos kolonial, kampung dagang Tionghoa, hingga destinasi kuliner yang tak pernah tidur.

Potret Suryakencana pada malam hari. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)