Ngomong Keras Bukan Berarti Benar: Logika yang Kalah oleh Emosi

4 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Buku Ajar Logika Untuk Berpikir Kritis Dalam Menghadapi Sesat Pikir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)

Di tengah banjir opini dan suara yang semakin keras di ruang publik, kebenaran justru sering kalah bahkan sebelum sempat dijelaskan. Banyak orang berlomba menjadi paling yakin, paling lantang, dan paling emosional seolah kekuatan suara bisa menggantikan isi pikiran. Padahal tidak semua yang terdengar tegas itu benar, dan tidak semua yang terdengar tenang itu salah. Dalam situasi ketika perdebatan berubah menjadi ajang saling serang, logika sering hanya menjadi formalitas, bukan dasar berpikir. Yang sering menang bukan yang paling masuk akal, tetapi yang paling pandai mengaduk emosi.

Disinilah logika muncul sebagai upaya manusia untuk melepaskan diri dari cara berpikir yang tidak teratur, mitos, dan penjelasan yang tidak berbasis rasionalitas. Dalam perkembangannya, logika mulai dikenal ketika manusia menggunakan penalaran untuk menarik kesimpulan dari fakta yang ada. Namun, sistematisasi ilmu logika baru benar benar berkembang pada masa Aristoteles, yakni sekitar 384 SM hingga 322 SM. Ia juga dikenal sebagai tokoh utama dalam logika klasik yang memperkenalkan silogisme, yaitu cara menarik kesimpulan berdasarkan dua premis yang saling berhubungan sehingga menghasilkan kesimpulan yang logis dan terstruktur. Contoh silogisme yang dikenalkan oleh Aristoteles yakni:

Semua manusia akan mati.

Aristoteles adalah manusia.

Aristoteles akan mati.

Maka kesimpulannya Aristoteles akan mati. Begitu juga dalam kehidupan, banyak hal yang tampak sederhana sebenarnya mengikuti pola penalaran seperti ini, di mana kesimpulan tidak muncul begitu saja, tetapi dibangun dari hubungan sebab dan akibat yang logis. Dari titik inilah logika mulai dipahami sebagai ilmu tentang aturan berpikir yang benar, yang kemudian berkembang dari logika tradisional hingga logika modern seperti logika induktif yang lebih berbasis pembuktian dan struktur berpikir ilmiah.

Logika induktif adalah cara berpikir yang menarik kesimpulan dari hal hal khusus menuju kesimpulan yang bersifat umum berdasarkan pengamatan atau fakta yang terjadi secara berulang (Tanara, 2025). Dalam logika ini, kebenaran tidak bersifat mutlak, melainkan dibangun dari pola yang terlihat dalam kenyataan sehingga menghasilkan kesimpulan yang masih dapat diuji berdasarkan fakta nyata di lapangan. Contohnya, jika seseorang berkali kali melihat bahwa orang yang belajar dengan konsisten mendapatkan hasil yang lebih baik, maka ia menyimpulkan bahwa belajar yang konsisten cenderung membawa hasil yang lebih baik.

Namun dalam praktiknya, cara berpikir berbasis bukti ini sering tergeser oleh kecenderungan manusia yang lebih memilih kesimpulan cepat tanpa analisis yang benar. Di sinilah logika mulai kalah oleh emosi, ketika orang lebih percaya pada apa yang terasa benar daripada apa yang terbukti benar. Akibatnya, ruang berpikir tidak lagi dipandu penalaran jernih, tetapi oleh dorongan untuk menang dan terlihat paling meyakinkan, yang kemudian membuka jalan bagi berbagai bentuk kesalahan berpikir dalam percakapan sehari hari.

Ilustrasi Sebagai Pengingat Bahwa Setiap Argumen Perlu Diuji dan Dipertanyakan Kebenarannya Sebelum Ditarik Menjadi Kesimpulan. (Sumber: Pixabay | Foto: Geralt)
Ilustrasi Sebagai Pengingat Bahwa Setiap Argumen Perlu Diuji dan Dipertanyakan Kebenarannya Sebelum Ditarik Menjadi Kesimpulan. (Sumber: Pixabay | Foto: Geralt)

Sesat Pikir: Kerasnya Suara Bukan Bukti Kebenaran

Dalam banyak perdebatan di ruang publik, kebenaran sering tidak lagi ditentukan oleh isi argumen, melainkan oleh cara seseorang menyampaikannya. Salah satu bentuk kesalahan berpikir yang sering muncul adalah ad hominem, yaitu ketika seseorang menyerang pribadi lawan bicara, bukan isi argumennya. Misalnya dalam diskusi tentang kebijakan sekolah, seseorang menjelaskan bahwa aturan tertentu tidak efektif karena datanya menunjukkan banyak siswa dirugikan, tetapi justru dibalas dengan komentar seperti

“kamu kan bukan siswa teladan, jadi nggak usah sok tahu” atau “dia itu cuma anak yang suka cari masalah”.

Akibatnya, isi argumen tidak lagi dibahas, karena perhatian sudah dialihkan ke pribadi orang yang berbicara.

Bentuk lain yang sering muncul dalam suasana debat yang emosional adalah appeal to emotion, yaitu ketika seseorang berusaha membenarkan argumennya dengan memancing emosi pendengar seperti rasa takut, iba, atau rasa bersalah, sebagai pengganti bukti atau alasan yang logis. Misalnya dalam perdebatan tentang kenaikan biaya kegiatan sekolah, seseorang berkata dengan nada tinggi,

“kalau biaya ini tidak disetujui, berarti kalian tidak peduli sama teman-teman yang tidak mampu!”.

Meskipun tidak ada data yang menunjukkan dampak nyata bahwa penolakan biaya tersebut benar benar membuat teman teman yang tidak mampu menjadi tidak bisa ikut kegiatan, argumen tersebut dibuat untuk menekan perasaan orang lain agar merasa bersalah dan akhirnya setuju. Akibatnya, orang bisa menerima kesimpulan tersebut bukan karena alasan yang kuat atau bukti yang jelas, tetapi karena terdorong emosi yang sengaja dipancing dalam perdebatan.

Kedua bentuk kesalahan berpikir ini menunjukkan bahwa dalam banyak situasi, yang paling dominan bukan lagi kekuatan alasan, tetapi kekuatan emosi dan cara berbicara. Ketika suara yang keras dan narasi yang emosional lebih dipercaya daripada argumen yang tepat, maka kebenaran menjadi mudah kabur di tengah perdebatan.

Namun kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan menjadi pola pikir yang dianggap wajar. Jika setiap diskusi hanya diisi oleh suara paling keras dan emosi paling meledak, maka ruang berpikir akan semakin tumpul dan kehilangan arah. Solusinya adalah membiasakan kembali cara berpikir yang menuntut alasan, bukan sekadar reaksi. Setiap pendapat perlu diuji, bukan langsung dipercaya hanya karena terdengar meyakinkan atau disampaikan dengan penuh tekanan emosi. Di sisi lain, kemampuan untuk menahan diri untuk tidak menyerang pribadi dan tidak mudah terbawa suasana juga menjadi kunci agar diskusi tidak jatuh menjadi konflik yang tidak menghasilkan pemahaman apa pun.

Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan suara yang paling keras, tetapi pikiran yang paling jernih untuk membedakan mana yang benar dan mana yang hanya terdengar benar. (*)

REFERENSI

  • Tanara, A. (2025). “Buku Ajar LOGIKA” (C. Heni, Ed.). PT Kanisius.

  • Ramot, Christovel. (2024). “Mengenal Jenis Sesat Pikir atau Logical Fallacies yang Kerap Dialami Manusia”. KlikDokter.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)