Moro Langlayangan

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Anak-anak bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Anak-anak bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore itu langit tampak cerah. Sepulang bekerja, sambil duduk menemani Kakang, anak ketiga (4 tahun), bermain di sekitar sawah milik Pa Haji. 

Di sela-sela kesibukan mencari tutut, keong, tiba-tiba Bapak Aja menunjuk ke arah langit.

“Eta leupas langlayangan?” katanya.

“Mana, Pak?” jawabku spontan.

“Eta, gede galabagna. Ngait di luhur,” ujarnya sambil menunjuk ke lantai atas rumah.

Aa Akil bahagia mendapatkan hasil moro langlayangan, Minggu 13 Oktober 2024 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil bahagia mendapatkan hasil moro langlayangan, Minggu 13 Oktober 2024 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Drama "Hore" Sore 

Tanpa banyak bicara, langsung memanggil Aa Akil, anak kedua yang duduk di kelas lima Sekolah Dasar.

“Aa Akil, di luhur aya langlayangan!”

Meski sedang belajar untuk persiapan ujian akhir semester, bocah itu segera meloncat dari tempat duduknya dan berlari menaiki tangga. 

Benar saja, layangan besar tersangkut di tempat jemuran pakaian. Tak lama berselang, suasana berubah riuh. Sekelompok anak yang sedang bermain layangan di pesawahan Babakan Dangdeur berlarian mengejar galabag yang tersangkut itu. 

Ya mereka tak bisa berbuat banyak karena Aa Akil sudah lebih dulu berada di atas dan berhasil menguasai "harta karun" yang jatuh dari langit senja itu.

Kakang ikut larut dalam euforia.

“Bah, ada gunting? Buat motong benang!”

Rupanya tak perlu gunting. Bocah 11 tahun itu sudah lebih dulu memutus benang gelasan dengan menggesekkannya pada paku yang menempel di dinding.

Selang beberapa menit, penyuka anime Naruto itu turun sambil tersenyum lebar.

“Bah, untung Aa teu ngagigit benangna. Di handap udah aya nu narik. Padahal Aa nu meunang heula. Hore!”

Sungguh di wajahnya terpancar kegembiraan sederhana. Kebahagiaan yang sulit dipahami orang dewasa dan digambar dengan kata-kata. Berhasil moro langlayangan.

Ayo bermain layangan (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo bermain layangan (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Rindu Merawat Ingatan 

Aktivitas perburuan layangan itu membawa pikiranku melayang jauh ke dekade 1990-an, ke kampung halaman di Bungbulang, Garut Pakidulan.

Ingatan tentang masa kecil seakan-akan terbuka kembali mulai dari gulungan benang yang dilepas perlahan. Terhampar sawah-sawah luas di Joglo. Anak-anak yang polos berlarian di pematang. Ada yang ngadu langlayangan, ngabuburit sambil menatap langit sore dan ngurek. 

Layangan dibuat dari kertas putih, koran bekas, mika, hingga plastik keresek agar tetap bisa terbang saat musim hujan.

Hasilnya sebagian diapungkeun, dijual dengan harga seratus perak. Nilainya kecil, tetapi kebahagiaannya terasa tak terhingga dan tak terlupakan.

Masih teringat pula festival (ngadu) layangan lengkap dengan parade kincir untuk menarik benang di Astana Anyar, Tegal Gede, Gunung Bedil, Gunung Jampang, hingga Baru Kaliki. Langit desa kala itu bak panggung raksasa tempat warna-warni layangan menari bersama angin. Sepoy, sepoy asyik untuk obo.

Saat benang habis (gelasan) putus, petualangan belum selesai harus berlari secepat kilat buat beli ke Pasar Lama, samping Joglo rumah Mang Ujang. 

Rehat dari moro langlayangan, tibalah waktunya barudak berbondong-bondong menuju sungai dan cekdam. Ada yang pergi berlarian ke Cibalubur Sasak, Cibalubur Loa, Ci Rompang, hingga saluran irigasi dekat sekolah Impres. Berenang menjadi penutup sempurna bagi hari yang penuh kegembiraan, sebelum pulang menikmati timbel hangat dan asin peda.

Menerbangkan layangan di desa terasa jauh lebih leluasa. Hamparan sawah terbuka luas. Tidak ada kabel listrik yang melintang, tiang-tiang yang berjejer rapat, jaringan yang menghalangi pandangan.

Asyiknya bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Asyiknya bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Darurat Kabel Sempit Tempat Bermain 

Berbeda dengan kawasan perkotaan hari ini. Untuk di Babakan Dangdeur, misalnya, langit sering kali tampak dipenuhi kabel (internet) dan tiang listrik. Orang Sunda menyebutnya heurin ku tangtung, sempit oleh berbagai hal yang berdiri menghalangi. Hese hitu-hitut acan! 

Memang dari pekan yang lalu, langit di sejumlah ruas jalan Kota Bandung tampak berbeda. Bukan dikarenakan cuaca yang lebih cerah, awan yang lebih tipis, melainkan perlahan-lahan kabel-kabel udara yang selama ini menggantung semrawut mulai diturunkan.

Pemerintah Kota Bandung tengah menata 104 ruas jalan dengan memindahkan jaringan kabel udara ke sistem serat optik bawah tanah (ducting).

Program ini dilakukan bertahap demi menghadirkan wajah kota yang lebih rapi, nyaman dipandang, dan lebih aman bagi masyarakat. Sebanyak 65 ruas jalan ditargetkan selesai pada akhir 2026, dan sisanya akan dilanjutkan pada 2027.

Sejak 2 Juni 2026, proses pemotongan dan penurunan kabel udara dilakukan secara serentak. Tahap awal menyasar sekitar kawasan protokol seperti Jalan Asia Afrika, Jalan Merdeka, Jalan Sunda, Jalan Aceh, hingga Jalan Sumatera.

Ingat, di balik pekerjaan teknis yang dianggap (terlihat) biasa, justru tersimpan persoalan yang selama ini luput dari perhatian. Pasalnya, kabel-kabel yang menggantung rendah, tersangkut kendaraan besar, bahkan berpotensi membahayakan pengguna jalan ternyata telah menjadi "pemandangan sehari-hari" yang lama dianggap lumrah.

Padahal, sepanjang tahun ini, Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung telah merapikan sedikitnya 41 titik kabel udara yang semrawut, tertarik truk, hingga membahayakan keselamatan. Tak tanggung-tanggung, dalam satu hari lebih dari 14 ton kabel udara berhasil dibersihkan dari berbagai lokasi, termasuk di kawasan Jalan Buahbatu.

Angka 14 ton terdengar seperti data statistik semata. Namun, ketika dibayangkan dalam bentuk nyata, jumlah itu setara dengan bertumpuk-tumpuk kabel yang selama ini menggantung di atas kepala warga. 

Pada penataan di Jalan Buahbatu misalnya, pekerjaan dilakukan sepanjang sekitar 3,4 kilometer di kedua sisi jalan. Dari lokasi itu terkumpul kabel dengan berat 14 ton, sebagian di antaranya sempat ditampung di titik transit sebelum diangkut seluruhnya. (www.bandung.go.id)

Penataan kabel bukan pekerjaan yang langsung menghadirkan euforia (untuk bermain layangan). Tidak ada peresmian megah, bangunan baru yang menjulang. Justru dari pekerjaan-pekerjaan itu terlihat wajah kota tercinta perlahan berubah. Langit yang lebih bersih, trotoar yang lebih nyaman, dan jalan yang lebih aman sering kali lahir dari aktivitas yang tampak sederhana.

Kondisi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan fasilitas bermain anak di Kota Bandung saat ini masih sangat minim. 

Parahnya, luas RTH publik di Bandung berkisar di angka 12% hingga 15% dari total wilayah, jauh dari syarat minimal 30% yang diwajibkan. (www.dpkp.bandung.go.id)

Tentunya defisit lahan ini dapat memicu suhu udara lebih panas dan berkurangnya ruang interaksi warga, termasuk untuk bermain tradisional (layangan)

Kota yang baik bukan hanya tentang apa yang dibangun, tetapi seberapa ikhtiar soal apa yang dirapikan. Terkadang, kemajuan dapat dilihat dari langit yang lapang setelah sekian lama dipenuhi kabel yang saling bersilang.

Kendati, layangan memang masih bisa terbang, tetapi perlu lebih banyak perhitungan agar tidak mudah tersangkut.

Semakin dewasa, ruang gerak terasa semakin sempit oleh berbagai tanggung jawab, target, dan urusan dunia yang tak pernah habis.

Waktu paling menyenangkan untuk bermain layangan sejak subuh hingga sekitar pukul sembilan pagi, atau selepas salat Asar sampai matahari tenggelam di ufuk barat.

Ada satu aturan yang selalu menjadi batas yang tak pernah dilanggar. Waktu kohkol, bedug mulai ditabuh dan azan berkumandang dari Masjid Darussalam, permainan segera dihentikan.

Sarung dan peci yang sejak sore dikalungkan di leher langsung dikenakan. Anak-anak bergegas menuju masjid, menunaikan salat berjamaah, lalu melanjutkan mengaji. Langit boleh menjadi tempat bermain, tetapi hati harus tetap terpaut dan tahu ke mana mesti pulang dan bersimpuh.

Ngabuburit sambil bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ngabuburit sambil bermain layangan di atas rel kereta api Jalan Laswi (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Jejak dan Hikayat Layang-layang

Bermain layang-layang bukanlah sekadar permainan musiman yang muncul ketika angin bertiup kencang. Justru menjadi bagian dari kebudayaan yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tradisi ini rasanya sulit dihentikan begitu saja.

Pengamat dari Museum Layang-Layang Indonesia, Asep Irawan, menyebut budaya layang-layang di Nusantara diperkirakan telah hadir sejak masa purbakala. Hampir setiap daerah memiliki tradisi bermain layang-layang dengan latar belakang yang beragam. 

Ada yang menerbangkannya sebagai ungkapan rasa terima kasih atas hasil panen, menggunakannya untuk mengusir hama, dan menjadikannya sarana hiburan untuk melepas penat selepas bekerja.

"Budaya bermain layangan sudah turun-temurun dari nenek moyang kita, jadi tidak akan mati,"  

Ibarat warisan budaya lainnya, tradisi bermain layang-layang perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Jika dahulu hamparan sawah dan lapangan luas menjadi ruang bermain yang aman, kini lingkungan perkotaan menghadirkan tantangan yang berbeda. Jaringan listrik, lalu lintas kendaraan, hingga kawasan bandara menjadi faktor yang harus diperhatikan.

Asep mengingatkan bermain layang-layang pada masa sekarang memerlukan kehati-hatian yang lebih besar, terutama bagi anak-anak yang sering kali terlalu asyik bermain hingga mengabaikan potensi bahaya di sekitarnya.

Peringatan itu bukan tanpa alasan. Bermain layang-layang memang menyimpan kegembiraan, tetapi dapat menimbulkan risiko bila dilakukan di tempat yang tidak tepat. 

Tahun lalu, seorang anak laki-laki dilaporkan meninggal dunia setelah tertabrak kendaraan di Tol Cinere–Jagorawi yang diduga masuk ke area jalan tol ketika mengejar layang-layang yang putus.

Pada 2020, layang-layang berukuran besar tersangkut di gardu listrik di Bali dan menyebabkan gangguan pasokan listrik bagi sekitar 70 ribu pelanggan PLN. Peristiwa itu berujung pada proses hukum terhadap orang yang menerbangkan layang-layang tersebut.

Meski demikian, berbagai peristiwa itu bukan alasan untuk menjauhkan anak dari permainan layang-layang. Kesadaran untuk memilih lokasi yang aman dan pendampingan dari orang dewasa harus menjadi kesadaran bersama. 

Pasalnya, di balik seutas benang dan bentangan kain yang menari di langit, tersimpan banyak manfaat yang berharga bagi tumbuh kembang anak.

Mengingat di tengah gempuran gawai dan permainan digital, bermain layang-layang menyimpan banyak manfaat yang sering kali terlupakan. Permainan sederhana yang telah diwariskan lintas generasi ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang belajar yang kaya bagi perkembangan fisik, mental, dan sosial anak.

Saat layang-layang mengudara, mata anak akan mengikuti gerakannya di hamparan langit yang luas. Aktivitas ini dipercaya baik untuk kesehatan mata karena membantu mengurangi kelelahan akibat terlalu lama menatap layar. Menatap langit yang terbuka memberi kesempatan bagi otot dan saraf mata untuk bekerja lebih rileks sehingga dapat membantu menurunkan risiko gangguan penglihatan, termasuk miopi.

Dengan bermain layang-layang mengajak anak keluar rumah dan lebih banyak berinteraksi dengan alam. Healthy Children menyebutkan bahwa anak-anak yang lebih sering beraktivitas di luar ruangan memiliki risiko lebih rendah mengalami obesitas dibandingkan mereka yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. 

Di tengah meningkatnya kasus kegemukan pada anak di berbagai kota besar, permainan tradisional (layang-layang) menjadi alternatif aktivitas fisik yang sederhana sekaligus menyenangkan.

Manfaat lainnya yang menyentuh sisi emosional anak. Catatan Youth First menunjukkan waktu yang dihabiskan untuk bermain di luar ruangan dapat membantu menurunkan tingkat stres. Saat berlari mengejar arah angin, menatap langit, atau tertawa bersama teman-temannya, anak belajar menikmati kebebasan yang sederhana namun bermakna.

Layang-layang mengajarkan pelajaran hidup yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas. Tidak setiap layangan dapat langsung terbang tinggi pada percobaan pertama. Kadang jatuh, tersangkut, berputar tak beraturan. Anak akan mencoba lagi, memperbaiki posisi tali, menyesuaikan arah angin, lalu kembali berusaha.

Dari proses sederhana itu tumbuh kesabaran, ketekunan, dan pemahaman hasil yang baik memerlukan waktu serta usaha. Kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan.

Bermain layang-layang dapat melatih koordinasi antara tangan dan mata, meningkatkan fokus, mengasah kreativitas, serta membuka ruang interaksi sosial dengan teman sebaya. Ketika dimainkan bersama orang tua, permainan ini bahkan menjadi jembatan yang mempererat hubungan keluarga melalui kebersamaan yang hangat dan penuh cerita.

Ngapungkeun langlayangan sesungguhnya bukan hanya tentang menerbangkan selembar kertas ke angkasa. Melainkan ikhtiar bersama dalam menerbangkan harapan, melatih kesabaran, merawat kesehatan, dan menghadirkan kebahagiaan sederhana yang sering kali sulit ditemukan di tengah kesibukan zaman dan derasnya arus digital.

Sesekali, orang tua perlu mengajak anak-anak mereka menengadah ke langit, membiarkan angin bekerja, dan menyaksikan layang-layang menari di udara. Sebab dari aktivitas moe korong ini, ada banyak pelajaran hidup yang tumbuh tanpa terasa. 

Permainan sederhana yang telah diwariskan oleh para leluhur ternyata masih mampu mengajarkan nilai-nilai penting tentang usaha, kebersamaan, kehati-hatian, dan kegembiraan yang tulus. (BBC Indonesia 8 Agustus 2025 dan Hello Sehat.com)

Menghabiskan Akhir Pekan Sambil Adu Ketajaman Gelasan Layangan (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Menghabiskan Akhir Pekan Sambil Adu Ketajaman Gelasan Layangan (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)

Walhasil, layang-layang bukan hanya benda yang terbang mengikuti arah angin. Justru hadir sebagai pengingat manusia, sejauh apa pun melangkah ke masa depan, tetap membutuhkan ruang untuk bermain, bersyukur, dan sesekali menatap langit.

Peristiwa moro langlayangan sore itu mengingatkan kita pada peribahasa Sunda:

"Ulah moro julang, ngaleupaskeun peusing, ngudag-ngudag kalangkang heulang."

Jangan mengejar burung julang yang terbang tinggi, lalu melepaskan burung peusing yang sudah ada di tangan. Jangan sibuk mengejar bayang-bayang elang yang bahkan belum tentu bisa diraih.

Terkadang maknanya sederhana, tetapi terasa semakin relevan di tengah zaman yang tak menentu. Jangan meninggalkan sesuatu yang sudah jelas nilainya demi mengejar sesuatu yang belum pasti keberadaannya.

Dengan demikian, tidak semua yang melayang tinggi di langit harus dikejar. Ada kalanya kebahagiaan justru hadir dari aktivitas yang remeh temeh, dekat, sederhana, dan sudah berada dalam genggaman.

Layangan yang tersangkut di atap jemuran rumah sore itu. Bila bagi seorang anak, hanyalah galabag yang berhasil didapatkan. Namun untuk orang dewasa, harus menjadi pengingat soal hidup bukan semata tentang mengejar yang jauh, melainkan mensyukuri apa yang telah Allah SWT titipkan di depan mata, dekat dan menikmatinya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)