Obituari untuk Kanaya Whu

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)

Ketika obituari harus dituliskan, nyanyian bergenre pop Sunda seakan kehilangan salah satu gema terbaiknya. Pulanglah dalam damai Kanaya Whu, semoga Allah merahmati kepergianmu.

Ada suara yang selesai ketika penyanyinya berhenti bernyanyi. Tetapi ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu adalah salah satunya.

Minggu, 13 September 2026, kabar duka datang dari Bandung. Kanaya Whulan, yang lebih dikenal sebagai Kanaya Whu, vokalis Emka 9, berpulang setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Ia disebut tengah berjuang melawan kanker. Jenazahnya kemudian dipersiapkan untuk dibawa pulang ke tanah kelahirannya, Kabupaten Tasikmalaya.

Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk mengubah seseorang menjadi kenangan. Kemarin ia masih menjadi suara di atas panggung. Hari ini ia telah menjadi gema. Dan barangkali begitulah nasib seorang penyanyi: tubuhnya dapat pergi, tetapi suaranya tidak pernah benar-benar pulang.

Kanaya dikenal luas melalui Emka 9, grup musik yang menjadi bagian dari berbagai kegiatan budaya di Jawa Barat. Ia bergabung dengan grup tersebut sejak 2019 dan kemudian menjadi salah satu suara yang memberi warna pada lagu-lagu bernuansa Sunda.

Di tangannya—atau lebih tepatnya di tenggorokannya—bahasa Sunda tidak sekadar menjadi bahasa lagu. Ia menjadi lanskap. Ada tanah di dalamnya. Ada kabut pegunungan. Ada suara sawah selepas hujan. Ada ibu yang menunggu anaknya pulang. Ada kampung yang perlahan menjauh dari ingatan. Dan ada sesuatu yang tidak mudah dijelaskan oleh bahasa: rasa.

Itulah kekuatan seorang penyanyi ketika ia tidak hanya menyanyikan kata, tetapi menghidupkan dunia yang berada di belakang kata-kata.

Kanaya pernah membawakan sejumlah lagu ciptaan Dedi Mulyadi, antara lain Rindu Purnama, Karembong Koneng, Prabu Siliwangi, Dangiang Galuh Pakuan, Indung, dan Memanen Cinta. Lagu-lagu itu menemukan tubuhnya melalui suara Kanaya. Mungkin karena itu, ketika Kanaya pergi, yang terasa hilang bukan hanya seorang vokalis.

Ada sepotong atmosfer Sunda yang mendadak sunyi. Suara yang pulang kepada tanah. Seorang penyanyi pada akhirnya selalu memiliki dua rumah. Rumah pertama adalah panggung. Rumah kedua adalah tanah kelahirannya. Kanaya mendapatkan keduanya.

Ia lahir di Tasikmalaya, tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan Sunda, kemudian membawa suara itu ke berbagai panggung bersama Emka 9. Dalam sejumlah kegiatan kebudayaan Jawa Barat, ia hadir bukan hanya sebagai penyanyi, tetapi sebagai bagian dari pertunjukan yang mempertemukan seni, tradisi, dan masyarakat.

Salah satu penampilan terakhirnya berlangsung dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia di Jawa Barat pada Agustus 2026. Ia tampil membawakan Melati di Tapal Batas karya Ismail Marzuki, dalam suasana kirab budaya dari Gedung Pakuan menuju Gedung Sate.

Betapa sering manusia tidak menyadari bahwa sebuah pertunjukan mungkin merupakan salam perpisahan. Penonton menyaksikan seseorang bernyanyi. Mereka bertepuk tangan. Mereka mungkin merekamnya dengan telepon genggam. Tidak seorang pun tahu bahwa beberapa minggu kemudian suara itu akan menjadi kenangan. Demikianlah hidup. Kita sering baru menyadari nilai sebuah suara setelah kesunyian datang. Kanaya dan Musik yang Tidak Ingin Kehilangan Akarnya

Di tengah perubahan zaman, musik daerah menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Modernitas membawa banyak suara baru. Algoritma membawa musik dari seluruh dunia ke dalam kamar-kamar kita. Anak-anak muda dapat mengenal musik Seoul, London, New York, Tokyo, atau Los Angeles hanya melalui layar kecil di telapak tangan.

Tetapi di tengah banjir suara global itu, pertanyaan penting tetap ada: Siapa yang akan menyanyikan rumah kita sendiri? Kanaya Whu, bersama Emka 9, adalah bagian dari jawaban itu. Ia menyanyikan Sunda bukan sebagai benda museum. Ia membawanya ke panggung. Ia membiarkan bahasa daerah bernapas melalui musik. Dan itu penting.

Sebab kebudayaan tidak akan bertahan hanya karena kita menyimpannya dalam buku, museum, atau pidato peringatan. Kebudayaan bertahan karena ada manusia yang terus menggunakannya, menyanyikannya, mencintainya, bahkan membawanya ke generasi berikutnya.

Dalam pengertian itu, Kanaya telah melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar bernyanyi. Ia ikut menjaga agar bahasa dan rasa Sunda tetap memiliki suara.

Sebuah puisi untuk Kanaya karya penyair Vito Prasetyo adalah obituari untuknya. Sebab barangkali obituari tidak pernah benar-benar cukup untuk seseorang yang hidupnya telah menjadi suara.Maka biarlah puisi mengambil alih kata-kata yang terlalu berat untuk dijelaskan oleh berita.

KANAYA, SETELAH PANGGUNG MENJADI SUNYI

Karya: Vito Prasetyo

Kanaya,

malam ini angklung-angklung diam

di bawah bulan yang kehilangan sinar

Di tanah Sunda,

angin mencari suaramu

dari lembah ke lembah,

dari sawah ke bukit,

dari satu doa

menuju doa yang lain

Kau telah pulang

sebelum lagu selesai dinyanyikan

Tetapi bukankah kematian

hanya pintu lain

menuju kesunyian yang lebih panjang?

Suaramu masih tinggal

di antara kata-kata Sunda

yang pernah kau hidupkan,

pada rindu yang menguning,

pada purnama yang belum selesai,

pada ibu yang menunggu

di beranda waktu

Tasikmalaya akan menerimamu

sebagai tanah menerima hujan:

diam,

tetapi penuh kenangan

Dan jika kelak

seseorang menyanyikan lagu-lagu itu

dengan suara bergetar,

mungkin itu bukan sekadar lagu

mungkin kau sedang kembali,

sebagai irama tanpa nyanyian

yang tidak menemukan kematian

~ 2026

Kita sering mengira kehidupan seorang seniman berakhir ketika namanya berhenti muncul di panggung. Tidak. Seorang seniman mati secara biologis, tetapi karya-karyanya mempunyai umur yang tidak dapat kita tentukan.

Kanaya telah pergi. Namun lagu-lagu yang pernah dibawakannya masih mungkin terdengar dari radio, panggung pertunjukan, rekaman digital, rumah-rumah, kendaraan yang melintasi jalan-jalan Jawa Barat, atau dari seseorang yang tiba-tiba merindukan masa lalu.

Di sanalah seorang penyanyi memperoleh kehidupan keduanya. Bukan lagi melalui tubuh. Melainkan melalui ingatan. Dan mungkin inilah bentuk keabadian yang paling sederhana bagi seorang seniman: ketika seseorang masih mengingat suaranya setelah suaranya tidak lagi terdengar.

Kanaya tidak akan kembali ke panggung. Tidak akan ada lagi langkahnya menuju mikrofon. Tidak akan ada lagi tarikan napas sebelum bait pertama. Tidak akan ada lagi tepuk tangan yang menyambutnya setelah lagu berakhir. Tetapi Sunda masih mempunyai langit. Masih ada gunung. Masih ada sawah. Masih ada hujan yang jatuh ke tanah Tasikmalaya. Masih ada bahasa yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Dan selama lagu-lagu itu masih dinyanyikan, sebagian dari Kanaya akan tetap hidup di dalamnya. Sebab kematian mungkin dapat mengambil manusia dari panggung. Tetapi kematian tidak selalu mampu mengambil suara dari ingatan.

Selamat jalan, Kanaya Whu. Pulanglah kepada tanah yang pertama kali mengenal namamu. Biarkan panggung menjadi sunyi. Biarkan mikrofon menunggu. Dan biarkan lagu-lagu yang pernah kau nyanyikan menjadi doa yang terus berjalan—dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di sana, barangkali, suara tidak pernah benar-benar mati. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 15:26

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Kampus punya ilmu dan jaringan untuk mencegah karhutla. Simak peran riset gambut, KKN tematik, dan konsorsium lintas kampus di wilayah rawan.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)