Setiap orang memiliki mimpi besar. Setiap orang memiliki keinginan. Tetapi apakah itu semua harus terwujud? Dan di negeri ini, jika Anda bukan seorang politisi, maka kuburlah mimpi itu dalam-dalam. Ini mungkin sebuah pameo menggelitik. Sebuah pandangan pragmatis yang bisa dianalogikan sebagai komedi politik.
Seandainya saya jadi presiden, mungkin hal pertama yang akan saya lakukan adalah membongkar cermin besar di istana. Bukan karena saya takut melihat wajah sendiri, melainkan karena terlalu banyak pemimpin yang akhirnya hanya sibuk melihat pantulan dirinya sendiri. Mereka lupa bahwa di luar istana ada jutaan wajah yang tidak memiliki kesempatan bercermin: wajah petani yang menunggu hujan, wajah buruh yang menghitung upah sebelum membeli beras, wajah guru yang mengajar dengan kesabaran yang sering lebih besar daripada penghasilannya, dan wajah anak-anak yang pergi ke sekolah dengan sepatu yang telah kehilangan sebagian solnya.
Saya ingin mengganti cermin itu dengan jendela. Sebab seorang presiden seharusnya lebih banyak melihat keluar daripada melihat ke dalam dirinya sendiri. Dan di luar sana, banyak netizen, masyarakat yang menanti. Apakah jendela itu selalu terbuka lebar, membiarkan angin mengembuskan suara-suara keadilan, yang memang seyogianya untuk mereka.
Dari jendela itu, barangkali saya akan melihat Indonesia dengan wajah yang tidak selalu tampak dalam pidato-pidato resmi. Indonesia bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar grafik investasi, bukan pula sekadar deretan proyek yang dibangun dengan pita merah untuk kemudian dipotret dan disiarkan.
Indonesia harus dilihat sebagai manusia. Dan manusia tidak bisa diukur hanya dengan angka. Sebab, jika dilihat dengan algoritma angka, maka manusia hanya sebatas angka statistik yang tidak merasakan ruh hidup. Harus dilihat dari kacamata yang tampak begitu transparan.
Kemiskinan, misalnya, tidak selalu tinggal di rumah yang reyot. Ia kadang tinggal di rumah yang tampak baik-baik saja, tetapi penghuninya setiap malam menghitung sisa uang di dompet. Ketimpangan tidak selalu tampak sebagai gedung pencakar langit dan gubuk di sebelahnya. Ia bisa bersembunyi di antara anak yang memiliki akses internet berkecepatan tinggi dan anak lain yang harus berjalan berkilo-kilometer untuk mendapatkan sinyal.
Karena itu, seandainya saya jadi presiden, saya akan meminta satu hal kepada para pembantu saya: jangan terlalu cepat membawa angka yang menggembirakan kepada saya. Bawalah juga kabar tentang manusia yang tertinggal di balik angka tersebut. Saya tidak membutuhkan laporan yang hanya mengatakan bahwa ekonomi tumbuh. Saya ingin tahu siapa yang menikmati pertumbuhan itu. Dan laporan itu datangnya dari para netizen yang memaparkan fakta data riil.
Saya tidak membutuhkan laporan yang hanya mengatakan sekolah telah dibangun. Saya ingin tahu apakah gurunya hadir, apakah muridnya memiliki buku, apakah listrik menyala, dan apakah anak-anak di wilayah terluar memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi.
Sebab negara yang hanya menghitung bangunan, tetapi lupa menghitung manusia, pada akhirnya akan memiliki banyak gedung dan sedikit harapan. Karena harapan adalah gagasan yang tersembunyi di balik angan-angan rakyat. Dan harus diwujudkan step-by-step.
Seandainya saya jadi presiden, saya ingin menghapus satu kebiasaan buruk dalam politik kita: anggapan bahwa hanya orang-orang tertentu yang berhak bermimpi tentang masa depan bangsa. Mengubur mimpi pribadi demi mewujudkan impian bangsa, jauh lebih berharga bagi masa depan bangsa.
Banyak pertanyaan yang harus dijawab. Selama ini para pelaku dalam pembangunan bangsa tidak pernah punya kesempatan untuk menyuarakan kebijakan yang sesuai bidang sektor mereka. Mengapa seorang guru tidak boleh membayangkan menjadi pembuat kebijakan pendidikan? Mengapa seorang petani tidak boleh ikut menentukan masa depan pertanian? Mengapa seorang penyair dianggap terlalu jauh dari kenyataan ketika ia berbicara tentang keadilan?
Dan mengapa seorang warga biasa harus merasa bahwa urusan negara adalah sesuatu yang hanya boleh dibicarakan oleh mereka yang mengenakan jas, memiliki kendaraan dinas, atau mempunyai kartu partai? Demokrasi seharusnya tidak menjadi gedung bertingkat dengan pintu masuk yang hanya memiliki satu kunci.
Dalam bahasa sastrawi, demokrasi mestinya seperti alun-alun: siapa pun boleh datang, berbicara, berbeda pendapat, bahkan marah—selama kemarahan itu tidak berubah menjadi kekerasan.
Jika politik hanya menjadi milik politisi, maka rakyat perlahan-lahan akan berubah menjadi penonton. Mereka datang ketika pemilu, mencoblos, kemudian kembali menjadi penonton selama lima tahun berikutnya. Di situlah demokrasi kehilangan ruhnya.
Saya mungkin tidak akan menjadi presiden yang pandai berpidato. Saya justru ingin menjadi presiden yang sedikit berbicara dan lebih banyak mendengar. Sebab negeri ini sudah terlalu banyak suara yang keras. Yang kurang adalah telinga yang bersedia mendengarkan. Saya ingin mendengarkan kritik tanpa segera mencari siapa yang harus disalahkan. Saya ingin mendengarkan mahasiswa tanpa buru-buru menyebut mereka tidak memahami keadaan.

Saya ingin mendengarkan wartawan tanpa menganggap pertanyaan kritis sebagai permusuhan. Saya ingin mendengarkan para seniman tanpa meminta mereka membuat karya yang menyenangkan penguasa.
Sebab kekuasaan yang alergi terhadap kritik pada akhirnya hanya akan dikelilingi oleh orang-orang yang pandai mengatakan, “Ya, Bapak benar.” Padahal seorang presiden tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang mengatakan dirinya benar. Ia membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan bahwa dirinya mungkin keliru.
Apakah salah jika warganet bermimpi menjadi presiden? Tentu jawabannya tidak! Tetapi harus disadari. Ada aturan main yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Tidak semua orang memiliki jalan politik untuk menjadi seorang presiden. Minimal impian ini menjadi perenungan terhadap pemikiran apa yang bisa kita sumbang buat bangsa dan negara. (*)