Seandainya Saya Jadi Presiden (bagian 1)

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Bendera Merah Putih. (Sumber: Pexels | Foto: Irgi Nur Fadil)
Bendera Merah Putih. (Sumber: Pexels | Foto: Irgi Nur Fadil)

Setiap orang memiliki mimpi besar. Setiap orang memiliki keinginan. Tetapi apakah itu semua harus terwujud? Dan di negeri ini, jika Anda bukan seorang politisi, maka kuburlah mimpi itu dalam-dalam. Ini mungkin sebuah pameo menggelitik. Sebuah pandangan pragmatis yang bisa dianalogikan sebagai komedi politik.

Seandainya saya jadi presiden, mungkin hal pertama yang akan saya lakukan adalah membongkar cermin besar di istana. Bukan karena saya takut melihat wajah sendiri, melainkan karena terlalu banyak pemimpin yang akhirnya hanya sibuk melihat pantulan dirinya sendiri. Mereka lupa bahwa di luar istana ada jutaan wajah yang tidak memiliki kesempatan bercermin: wajah petani yang menunggu hujan, wajah buruh yang menghitung upah sebelum membeli beras, wajah guru yang mengajar dengan kesabaran yang sering lebih besar daripada penghasilannya, dan wajah anak-anak yang pergi ke sekolah dengan sepatu yang telah kehilangan sebagian solnya.

Saya ingin mengganti cermin itu dengan jendela. Sebab seorang presiden seharusnya lebih banyak melihat keluar daripada melihat ke dalam dirinya sendiri. Dan di luar sana, banyak netizen, masyarakat yang menanti. Apakah jendela itu selalu terbuka lebar, membiarkan angin mengembuskan suara-suara keadilan, yang memang seyogianya untuk mereka.

Dari jendela itu, barangkali saya akan melihat Indonesia dengan wajah yang tidak selalu tampak dalam pidato-pidato resmi. Indonesia bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar grafik investasi, bukan pula sekadar deretan proyek yang dibangun dengan pita merah untuk kemudian dipotret dan disiarkan.

Indonesia harus dilihat sebagai manusia. Dan manusia tidak bisa diukur hanya dengan angka. Sebab, jika dilihat dengan algoritma angka, maka manusia hanya sebatas angka statistik yang tidak merasakan ruh hidup. Harus dilihat dari kacamata yang tampak begitu transparan.

Kemiskinan, misalnya, tidak selalu tinggal di rumah yang reyot. Ia kadang tinggal di rumah yang tampak baik-baik saja, tetapi penghuninya setiap malam menghitung sisa uang di dompet. Ketimpangan tidak selalu tampak sebagai gedung pencakar langit dan gubuk di sebelahnya. Ia bisa bersembunyi di antara anak yang memiliki akses internet berkecepatan tinggi dan anak lain yang harus berjalan berkilo-kilometer untuk mendapatkan sinyal.

Karena itu, seandainya saya jadi presiden, saya akan meminta satu hal kepada para pembantu saya: jangan terlalu cepat membawa angka yang menggembirakan kepada saya. Bawalah juga kabar tentang manusia yang tertinggal di balik angka tersebut. Saya tidak membutuhkan laporan yang hanya mengatakan bahwa ekonomi tumbuh. Saya ingin tahu siapa yang menikmati pertumbuhan itu. Dan laporan itu datangnya dari para netizen yang memaparkan fakta data riil.

Saya tidak membutuhkan laporan yang hanya mengatakan sekolah telah dibangun. Saya ingin tahu apakah gurunya hadir, apakah muridnya memiliki buku, apakah listrik menyala, dan apakah anak-anak di wilayah terluar memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi.

Sebab negara yang hanya menghitung bangunan, tetapi lupa menghitung manusia, pada akhirnya akan memiliki banyak gedung dan sedikit harapan. Karena harapan adalah gagasan yang tersembunyi di balik angan-angan rakyat. Dan harus diwujudkan step-by-step.

Seandainya saya jadi presiden, saya ingin menghapus satu kebiasaan buruk dalam politik kita: anggapan bahwa hanya orang-orang tertentu yang berhak bermimpi tentang masa depan bangsa. Mengubur mimpi pribadi demi mewujudkan impian bangsa, jauh lebih berharga bagi masa depan bangsa.

Banyak pertanyaan yang harus dijawab. Selama ini para pelaku dalam pembangunan bangsa tidak pernah punya kesempatan untuk menyuarakan kebijakan yang sesuai bidang sektor mereka. Mengapa seorang guru tidak boleh membayangkan menjadi pembuat kebijakan pendidikan? Mengapa seorang petani tidak boleh ikut menentukan masa depan pertanian? Mengapa seorang penyair dianggap terlalu jauh dari kenyataan ketika ia berbicara tentang keadilan?

Dan mengapa seorang warga biasa harus merasa bahwa urusan negara adalah sesuatu yang hanya boleh dibicarakan oleh mereka yang mengenakan jas, memiliki kendaraan dinas, atau mempunyai kartu partai? Demokrasi seharusnya tidak menjadi gedung bertingkat dengan pintu masuk yang hanya memiliki satu kunci.

Dalam bahasa sastrawi, demokrasi mestinya seperti alun-alun: siapa pun boleh datang, berbicara, berbeda pendapat, bahkan marah—selama kemarahan itu tidak berubah menjadi kekerasan.

Jika politik hanya menjadi milik politisi, maka rakyat perlahan-lahan akan berubah menjadi penonton. Mereka datang ketika pemilu, mencoblos, kemudian kembali menjadi penonton selama lima tahun berikutnya. Di situlah demokrasi kehilangan ruhnya.

Saya mungkin tidak akan menjadi presiden yang pandai berpidato. Saya justru ingin menjadi presiden yang sedikit berbicara dan lebih banyak mendengar. Sebab negeri ini sudah terlalu banyak suara yang keras. Yang kurang adalah telinga yang bersedia mendengarkan. Saya ingin mendengarkan kritik tanpa segera mencari siapa yang harus disalahkan. Saya ingin mendengarkan mahasiswa tanpa buru-buru menyebut mereka tidak memahami keadaan.

Saya ingin mendengarkan wartawan tanpa menganggap pertanyaan kritis sebagai permusuhan. Saya ingin mendengarkan para seniman tanpa meminta mereka membuat karya yang menyenangkan penguasa.

Sebab kekuasaan yang alergi terhadap kritik pada akhirnya hanya akan dikelilingi oleh orang-orang yang pandai mengatakan, “Ya, Bapak benar.” Padahal seorang presiden tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang mengatakan dirinya benar. Ia membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan bahwa dirinya mungkin keliru.

Apakah salah jika warganet bermimpi menjadi presiden? Tentu jawabannya tidak! Tetapi harus disadari. Ada aturan main yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Tidak semua orang memiliki jalan politik untuk menjadi seorang presiden. Minimal impian ini menjadi perenungan terhadap pemikiran apa yang bisa kita sumbang buat bangsa dan negara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)