200 Ikon Bandung #3: Medan Prijaji, Koran Bandung Pelopor Nasionalisme Indonesia

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Koran "Medan Prijaji" 1910. (Sumber: Istimewa)
Koran "Medan Prijaji" 1910. (Sumber: Istimewa)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Medan Prijaji, sebuah koran legendaris yang memicu semangat nasionalisme pribumi pada masa kolonialisme Belanda.

  • Medan Prijaji menjadi bersikap keras kepada pemerintah kolonial. Saat koran itu dikelola bersama oleh RM Tirto Adi Soerjo, Pangemanan dan Razouk Khur.

  • Pada 22 Agustus 1912 Medan Prijaji harus tutup karena intervensi pemerintah kolonial, dan Tirto Adhi Soerjo pun harus dibuang ke Ambon.

Dalam rangka HUT kota Bandung ke-216 yang akan berlangsung pada 25 September 2026 nanti, khusus bulan September ini saya akan menuliskan ikon Bandung yang telah tiada atau sudah tidak beroperasi lagi pada masa kini. Hal ini saya ulas guna untuk nostalgia dan untuk kembali mengingat bahwa perjalanan kota kita tercinta ini sangatlah luar biasa.

Tulisan-tulisan ini saya kutip dari sebuah buku yang diterbitkan oleh harian umum Pikiran Rakyat yang berjudul “200 Ikon Bandung“ yang diterbitkan pada 25 September 2020, untuk menyambut 200 tahun Bandung, kini 16 tahun telah berlalu, saya akan membangun kembali ingatan para warga akan beberapa ikon kota ini yang telah lama hilang atau almarhum.

Setelah dalam dua tulisan pertama saya membahas Mahanagari dan radio GMR FM, kini saya akan membahas sebuah koran lokal Bandung di masa kolonial yang mungkin telah lama dilupakan oleh orang kebanyakan, melalui koran inilah nasionalisme pernah tergaung tangguh, ya betul sekali, “Medan Prijaji“ namanya!

Tidak heran jika Pramoedya Ananta Toer sang sastrawan “pemberontak“ begitu mengagumi Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, pendiri Medan Prijaji, sebuah koran legendaris yang memicu semangat nasionalisme pribumi pada masa kolonialisme Belanda. Pram sampai melahirkan karya besar dan legendaris berupa novel tetralogi, yaitu Anak Semua Bangsa, Bumi Manusia, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, yang kesemuanya menceritakan tentang sejarah dan perjuangan RM Tirto Adhi Soerjo.

Betapa tidak, dari seorang Tirto Adhi Soerjo lahir ide membuat sebuah media yang membela kepentingan pribumi dalam berhadapan dengan penguasa kolonial. Dari Jln. Naripan, Bandung inilah, Medan Prijaji menyulut semangat perlawanan kepada pemerintah kolonial yang korup. Motto koran ini terbilang sangat radikal untuk ukuran di masa tersebut, yaitu “Orgaan boat bangsa yang terperintah di HO, tempat akan memboeka swaranja anak Hindia” atau jika ditulis secara bebas ke dalam ejaan yang disempurnakan menjadi “ alat untuk bangsa yang terjajah di HO ( Hindia Olanda), tempat untuk menyalurkan suara anak-anak Hindia.

Awalnya Medan Prijaji berbentuk majalah, dan belum tegas menyatakan sikapnya melalui sebuah motto. Saat berbentuk majalah setidaknya Medan Prijaji mengganti dua kali mottonya. Yang pertama berbunyi “Swara oentoeq sekalian radja–radja, bangsawan Asali, bangsawan pikiran, prijaji–prijaji dan kaoem moda dari bangsa Priboemi yang dipersamahken dengannya di sehloeroeh Hindia Olanda.”

Kemudian motto itu berubah menjadi tegas, yaitu “Swara bagi sekalijan radja–radja, bangsawan, asli dan fikiran dan saudagar–saudagar anak negri, lidlid Gementee dan Gewestelijke raden dan saudagar bangsa ang terprenta lainja.” Setelah berubah menjadi koran harian, mottonya berubah menjadi lebih keras.

Menurut buku sejarah pers Indonesia yang diterbitkan oleh dewan pers pada 1977, keberanian koran pribumi untuk mengkritik pemerintah kolonial Belanda, karena ada perubahan aturan pers pada 1906, yang memberikan keleluasaan bagi media dalam bersuara. Medan Prijaji menjadi bersikap keras kepada pemerintah kolonial. Saat koran itu dikelola bersama oleh RM Tirto Adi Soerjo, Pangemanan dan Razouk Khur. Juga disebutkan di dalam buku itu, RM Tirto Adhi Soerjo telah meletakkan dasar jurnalisme modern di Medan Prijaji.

Ki Hajar Dewantara di dalam bukunya “Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan (1952) menulis, “ kira – kira ada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang dia pegang, yaitu Alm. RM Djokomono, kemudian berganti nama menjadi Tirto Adhi Soerjo, bekas murid Stovia, yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian berganti menjadi Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan, selangkah demi selangkah kewartawanan dapat kemajuan dan yang akhir – akhir ini dengan amat pesat, hingga membutuhkan kantor berita sendiri, Antara, dan dalam peralihan – peralihan 17 Agustus 1945 dapat mengusahakan suatu badan – badan secara besar – besaran yang berhubungan dengan luar negeri.”

Koran ini berdiri pada tahun 1907 berupa koran mingguan berukuran 12,5 cm x 19,5 cm, berjumlah 22 halaman, dicetak di percetakan Kho Tjeng Bie di Pancoran, Batavia. Modal koran ini diperoleh dari Bupati Cianjur, R. A. A. Prawiradiredja dan Sultan Bacan, Oesman Sjah.

Belum genap setahun Medan Prijaji mengalami kesulitan keuangan, dan memiliki utang tujuh kali lipat dari modal pokok. Pada 30 November 1908 H.M. Arsad (seorang juru tulis kantor kontrolir di luar Jawa) bersama Tirto Adhi Soerjo dan pangeran Oesman datang ke notaris Marien John Smissaert di Batavia untuk membuat Medan Prijaji menjadi NV, dan mendapatkan pengesahan pemerintah pada 10 Desember 1910. Dengan demikian bersama H.M. Arsad, Tirto Adi Soerjo menjadi pribumi pertama yang mendirikan dan memiliki NV, yaitu NV Javasche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften “Medan Prijaji”, dengan modal awal f. 75.000 terbagi atas 3000 lembar saham.

Medan Prijaji mengalami masa kejayaan pada tahun 1910 hingga 1912 dengan jumlah tiras mencapai 2000 eksemplar per harinya. Namun, pada 22 Agustus 1912 Medan Prijaji harus tutup karena intervensi pemerintah kolonial, dan Tirto Adhi Soerjo pun harus dibuang ke Ambon.

Dan kisah-kisah koran ini akan terus meresidu di jalan Naripan, kota Bandung, dimana di jalan inilah denyut nadi koran Medan Prijaji ini berdenyut begitu kencang dalam membangun nasionalisme Bangsa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Sep 2026, 08:29

Manusia Gerobak, Manusia Statistik, Manusia Bandung

Istilah manusia gerobak mungkin terdengar seperti deskripsi visual. Padahal, ia membawa beban moral yang tidak enteng.

Manusia gerobak. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ANTARA via ayobandung.com)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 20:52

200 Ikon Bandung #3: Medan Prijaji, Koran Bandung Pelopor Nasionalisme Indonesia

Pada 22 Agustus 1912 Medan Prijaji harus tutup karena intervensi pemerintah kolonial, dan Tirto Adhi Soerjo pun harus dibuang ke Ambon.

Koran "Medan Prijaji" 1910. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 15:36

Menggabungkan OPD, Menggabungkan Kekuasaan?

Penggabungan OPD bakal menjadi lebih dari sekadar merapikan bagan organisasi. Ia bisa menjadi contoh bahwa birokrasi daerah dapat dibuat lebih sederhana.

Kantor Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Instagram/@dihubjabar via ayobandung.com)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 12:47

Seandainya Saya Jadi Presiden (bagian 1)

Setiap orang memiliki mimpi besar, tetapi tidak semua impian itu bisa terwujud. Minimal jadi perenungan tentang pemikiran apa yang bisa kita sumbangkan kepada bangsa dan negara.

Bendera Merah Putih. (Sumber: Pexels | Foto: Irgi Nur Fadil)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 10:40

Miliaran Pemirsa Saksikan Pemakaman Lady Di

Ketika Lady Diana atau Lady Di dimakamkan, 6 September 1997, miliaran orang menyaksikan prosesinya melalui siaran tv

Putri Diana. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: John MacIntyre)
Ayo Netizen 13 Sep 2026, 09:54

Tren Operasi Bariatrik untuk Penuhi Standar Kecantikan yang Semu

Bariatrik menjadi tren operasi yang sedang happening baik di kalangan masyarakat maupun influencer untuk menurunkan berat badan secara instan.

Antara diet sehat dengan operasi bariatrik (Sumber: Pexels)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 22:18

Siaga pada Musim Peralihan

Peralihan musim inilah yang harus diwaspadai dan melakukan upaya mitigasi agar sehat dan selamat.

Pohon tumbang di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 17:12

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian

Sulit menemukan research gap untuk skripsi? Pelajari cara menemukannya dari jurnal, melihat celah penelitian, hingga mengubahnya menjadi ide penelitian.

Cara Mencari Research Gap untuk Skripsi dan Penelitian (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 16:57

Sekali di Udara, Tetap di Hati: 81 Tahun Perjalanan RRI

Radio Republik Indonesia (RRI) memperingati hari jadinya setiap 11 September.

Gedung RRI Bandung, diambil pada bulan Agustus 2024. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Pijri Paijar)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 14:04

Komunikasi di Era AI: Mengapa Suara Manusia di Radio Tak Tergantikan

Di era AI, radio bertahan sebagai benteng keaslian manusia. Hari Radio Nasional mengingatkan bahwa kehangatan dan koneksi emosional dari suara penyiar tak tergantikan oleh algoritma.

Ilustrasi ruangan siaran radio. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Linimasa 11 Sep 2026, 14:02

Dulu Sempat Viral, Apa Kabar Odading Mang Oleh?

Odading Mang Soleh pernah viral berkat video Ade Londok. Kini usaha tersebut diteruskan anak-anak dan memiliki cabang di luar Bandung.

Odading Mang Oleh yang dulu sempat viral. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 13:27

Menghidupkan Siaran RRI Bandung dengan Kreativitas Siniar

Alih wahana oleh RRI Bandung membutuhkan platform digital karya anak bangsa yang multifungsi.

Gedung Radio Republik Indonesia Bandung di Jalan Diponegoro No.61 Kota Bandung (Sumber: RRI | Foto: Atep)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 10:16

Dari I Hate Monday Menjadi 'Dimanusiakan' Pengalaman Tak Terduga di BP Kebudayaan Jabar

Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat adalah unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Kebudayaan yang bertugas merawat dan memajukan kebudayaan serta cagar budaya di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ilustrasi tulisan "I hate monday". (Sumber: Pexels | Foto: elena_ sher)
Ayo Netizen 11 Sep 2026, 09:00

Mengapa Laga Persib–Persija Lebih dari Sekadar Tiga Poin

Para pemain Persib tidak hanya bermain untuk klub, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan sebagian masyarakat Jawa Barat. 

Pemain Persib dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)