200 Ikon Bandung #3: Medan Prijaji, Koran Bandung Pelopor Nasionalisme Indonesia

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Koran "Medan Prijaji" 1910. (Sumber: Istimewa)
Koran "Medan Prijaji" 1910. (Sumber: Istimewa)

Dalam rangka HUT kota Bandung ke-216 yang akan berlangsung pada 25 September 2026 nanti, khusus bulan September ini saya akan menuliskan ikon Bandung yang telah tiada atau sudah tidak beroperasi lagi pada masa kini. Hal ini saya ulas guna untuk nostalgia dan untuk kembali mengingat bahwa perjalanan kota kita tercinta ini sangatlah luar biasa.

Tulisan-tulisan ini saya kutip dari sebuah buku yang diterbitkan oleh harian umum Pikiran Rakyat yang berjudul “200 Ikon Bandung“ yang diterbitkan pada 25 September 2020, untuk menyambut 200 tahun Bandung, kini 16 tahun telah berlalu, saya akan membangun kembali ingatan para warga akan beberapa ikon kota ini yang telah lama hilang atau almarhum.

Setelah dalam dua tulisan pertama saya membahas Mahanagari dan radio GMR FM, kini saya akan membahas sebuah koran lokal Bandung di masa kolonial yang mungkin telah lama dilupakan oleh orang kebanyakan, melalui koran inilah nasionalisme pernah tergaung tangguh, ya betul sekali, “Medan Prijaji“ namanya!

Tidak heran jika Pramoedya Ananta Toer sang sastrawan “pemberontak“ begitu mengagumi Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, pendiri Medan Prijaji, sebuah koran legendaris yang memicu semangat nasionalisme pribumi pada masa kolonialisme Belanda. Pram sampai melahirkan karya besar dan legendaris berupa novel tetralogi, yaitu Anak Semua Bangsa, Bumi Manusia, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, yang kesemuanya menceritakan tentang sejarah dan perjuangan RM Tirto Adhi Soerjo.

Betapa tidak, dari seorang Tirto Adhi Soerjo lahir ide membuat sebuah media yang membela kepentingan pribumi dalam berhadapan dengan penguasa kolonial. Dari Jln. Naripan, Bandung inilah, Medan Prijaji menyulut semangat perlawanan kepada pemerintah kolonial yang korup. Motto koran ini terbilang sangat radikal untuk ukuran di masa tersebut, yaitu “Orgaan boat bangsa yang terperintah di HO, tempat akan memboeka swaranja anak Hindia” atau jika ditulis secara bebas ke dalam ejaan yang disempurnakan menjadi “ alat untuk bangsa yang terjajah di HO ( Hindia Olanda), tempat untuk menyalurkan suara anak-anak Hindia.

Awalnya Medan Prijaji berbentuk majalah, dan belum tegas menyatakan sikapnya melalui sebuah motto. Saat berbentuk majalah setidaknya Medan Prijaji mengganti dua kali mottonya. Yang pertama berbunyi “Swara oentoeq sekalian radja–radja, bangsawan Asali, bangsawan pikiran, prijaji–prijaji dan kaoem moda dari bangsa Priboemi yang dipersamahken dengannya di sehloeroeh Hindia Olanda.”

Kemudian motto itu berubah menjadi tegas, yaitu “Swara bagi sekalijan radja–radja, bangsawan, asli dan fikiran dan saudagar–saudagar anak negri, lidlid Gementee dan Gewestelijke raden dan saudagar bangsa ang terprenta lainja.” Setelah berubah menjadi koran harian, mottonya berubah menjadi lebih keras.

Menurut buku sejarah pers Indonesia yang diterbitkan oleh dewan pers pada 1977, keberanian koran pribumi untuk mengkritik pemerintah kolonial Belanda, karena ada perubahan aturan pers pada 1906, yang memberikan keleluasaan bagi media dalam bersuara. Medan Prijaji menjadi bersikap keras kepada pemerintah kolonial. Saat koran itu dikelola bersama oleh RM Tirto Adi Soerjo, Pangemanan dan Razouk Khur. Juga disebutkan di dalam buku itu, RM Tirto Adhi Soerjo telah meletakkan dasar jurnalisme modern di Medan Prijaji.

Ki Hajar Dewantara di dalam bukunya “Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan (1952) menulis, “ kira – kira ada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang dia pegang, yaitu Alm. RM Djokomono, kemudian berganti nama menjadi Tirto Adhi Soerjo, bekas murid Stovia, yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian berganti menjadi Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan, selangkah demi selangkah kewartawanan dapat kemajuan dan yang akhir – akhir ini dengan amat pesat, hingga membutuhkan kantor berita sendiri, Antara, dan dalam peralihan – peralihan 17 Agustus 1945 dapat mengusahakan suatu badan – badan secara besar – besaran yang berhubungan dengan luar negeri.”

Koran ini berdiri pada tahun 1907 berupa koran mingguan berukuran 12,5 cm x 19,5 cm, berjumlah 22 halaman, dicetak di percetakan Kho Tjeng Bie di Pancoran, Batavia. Modal koran ini diperoleh dari Bupati Cianjur, R. A. A. Prawiradiredja dan Sultan Bacan, Oesman Sjah.

Belum genap setahun Medan Prijaji mengalami kesulitan keuangan, dan memiliki utang tujuh kali lipat dari modal pokok. Pada 30 November 1908 H.M. Arsad (seorang juru tulis kantor kontrolir di luar Jawa) bersama Tirto Adhi Soerjo dan pangeran Oesman datang ke notaris Marien John Smissaert di Batavia untuk membuat Medan Prijaji menjadi NV, dan mendapatkan pengesahan pemerintah pada 10 Desember 1910. Dengan demikian bersama H.M. Arsad, Tirto Adi Soerjo menjadi pribumi pertama yang mendirikan dan memiliki NV, yaitu NV Javasche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften “Medan Prijaji”, dengan modal awal f. 75.000 terbagi atas 3000 lembar saham.

Medan Prijaji mengalami masa kejayaan pada tahun 1910 hingga 1912 dengan jumlah tiras mencapai 2000 eksemplar per harinya. Namun, pada 22 Agustus 1912 Medan Prijaji harus tutup karena intervensi pemerintah kolonial, dan Tirto Adhi Soerjo pun harus dibuang ke Ambon.

Dan kisah-kisah koran ini akan terus meresidu di jalan Naripan, kota Bandung, dimana di jalan inilah denyut nadi koran Medan Prijaji ini berdenyut begitu kencang dalam membangun nasionalisme Bangsa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)