Dalam rangka HUT kota Bandung ke-216 yang akan berlangsung pada 25 September 2026 nanti, khusus bulan September ini saya akan menuliskan ikon Bandung yang telah tiada atau sudah tidak beroperasi lagi pada masa kini. Hal ini saya ulas guna untuk nostalgia dan untuk kembali mengingat bahwa perjalanan kota kita tercinta ini sangatlah luar biasa.
Tulisan-tulisan ini saya kutip dari sebuah buku yang diterbitkan oleh harian umum Pikiran Rakyat yang berjudul “200 Ikon Bandung“ yang diterbitkan pada 25 September 2020, untuk menyambut 200 tahun Bandung, kini 16 tahun telah berlalu, saya akan membangun kembali ingatan para warga akan beberapa ikon kota ini yang telah lama hilang atau almarhum.
Setelah dalam dua tulisan pertama saya membahas Mahanagari dan radio GMR FM, kini saya akan membahas sebuah koran lokal Bandung di masa kolonial yang mungkin telah lama dilupakan oleh orang kebanyakan, melalui koran inilah nasionalisme pernah tergaung tangguh, ya betul sekali, “Medan Prijaji“ namanya!
Tidak heran jika Pramoedya Ananta Toer sang sastrawan “pemberontak“ begitu mengagumi Raden Mas Tirto Adhi Soerjo, pendiri Medan Prijaji, sebuah koran legendaris yang memicu semangat nasionalisme pribumi pada masa kolonialisme Belanda. Pram sampai melahirkan karya besar dan legendaris berupa novel tetralogi, yaitu Anak Semua Bangsa, Bumi Manusia, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, yang kesemuanya menceritakan tentang sejarah dan perjuangan RM Tirto Adhi Soerjo.
Betapa tidak, dari seorang Tirto Adhi Soerjo lahir ide membuat sebuah media yang membela kepentingan pribumi dalam berhadapan dengan penguasa kolonial. Dari Jln. Naripan, Bandung inilah, Medan Prijaji menyulut semangat perlawanan kepada pemerintah kolonial yang korup. Motto koran ini terbilang sangat radikal untuk ukuran di masa tersebut, yaitu “Orgaan boat bangsa yang terperintah di HO, tempat akan memboeka swaranja anak Hindia” atau jika ditulis secara bebas ke dalam ejaan yang disempurnakan menjadi “ alat untuk bangsa yang terjajah di HO ( Hindia Olanda), tempat untuk menyalurkan suara anak-anak Hindia.
Awalnya Medan Prijaji berbentuk majalah, dan belum tegas menyatakan sikapnya melalui sebuah motto. Saat berbentuk majalah setidaknya Medan Prijaji mengganti dua kali mottonya. Yang pertama berbunyi “Swara oentoeq sekalian radja–radja, bangsawan Asali, bangsawan pikiran, prijaji–prijaji dan kaoem moda dari bangsa Priboemi yang dipersamahken dengannya di sehloeroeh Hindia Olanda.”
Kemudian motto itu berubah menjadi tegas, yaitu “Swara bagi sekalijan radja–radja, bangsawan, asli dan fikiran dan saudagar–saudagar anak negri, lidlid Gementee dan Gewestelijke raden dan saudagar bangsa ang terprenta lainja.” Setelah berubah menjadi koran harian, mottonya berubah menjadi lebih keras.
Menurut buku sejarah pers Indonesia yang diterbitkan oleh dewan pers pada 1977, keberanian koran pribumi untuk mengkritik pemerintah kolonial Belanda, karena ada perubahan aturan pers pada 1906, yang memberikan keleluasaan bagi media dalam bersuara. Medan Prijaji menjadi bersikap keras kepada pemerintah kolonial. Saat koran itu dikelola bersama oleh RM Tirto Adi Soerjo, Pangemanan dan Razouk Khur. Juga disebutkan di dalam buku itu, RM Tirto Adhi Soerjo telah meletakkan dasar jurnalisme modern di Medan Prijaji.
Ki Hajar Dewantara di dalam bukunya “Dari Kebangunan Nasional Sampai Proklamasi Kemerdekaan (1952) menulis, “ kira – kira ada tahun berdirinya Boedi Oetomo ada seorang wartawan modern, yang menarik perhatian karena lancarnya dan tajamnya pena yang dia pegang, yaitu Alm. RM Djokomono, kemudian berganti nama menjadi Tirto Adhi Soerjo, bekas murid Stovia, yang waktu itu bekerja sebagai redaktur harian Bintang Betawi (yang kemudian berganti menjadi Berita Betawi) lalu memimpin Medan Prijaji dan Soeloeh Keadilan, selangkah demi selangkah kewartawanan dapat kemajuan dan yang akhir – akhir ini dengan amat pesat, hingga membutuhkan kantor berita sendiri, Antara, dan dalam peralihan – peralihan 17 Agustus 1945 dapat mengusahakan suatu badan – badan secara besar – besaran yang berhubungan dengan luar negeri.”
Koran ini berdiri pada tahun 1907 berupa koran mingguan berukuran 12,5 cm x 19,5 cm, berjumlah 22 halaman, dicetak di percetakan Kho Tjeng Bie di Pancoran, Batavia. Modal koran ini diperoleh dari Bupati Cianjur, R. A. A. Prawiradiredja dan Sultan Bacan, Oesman Sjah.
Belum genap setahun Medan Prijaji mengalami kesulitan keuangan, dan memiliki utang tujuh kali lipat dari modal pokok. Pada 30 November 1908 H.M. Arsad (seorang juru tulis kantor kontrolir di luar Jawa) bersama Tirto Adhi Soerjo dan pangeran Oesman datang ke notaris Marien John Smissaert di Batavia untuk membuat Medan Prijaji menjadi NV, dan mendapatkan pengesahan pemerintah pada 10 Desember 1910. Dengan demikian bersama H.M. Arsad, Tirto Adi Soerjo menjadi pribumi pertama yang mendirikan dan memiliki NV, yaitu NV Javasche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften “Medan Prijaji”, dengan modal awal f. 75.000 terbagi atas 3000 lembar saham.
Medan Prijaji mengalami masa kejayaan pada tahun 1910 hingga 1912 dengan jumlah tiras mencapai 2000 eksemplar per harinya. Namun, pada 22 Agustus 1912 Medan Prijaji harus tutup karena intervensi pemerintah kolonial, dan Tirto Adhi Soerjo pun harus dibuang ke Ambon.
Dan kisah-kisah koran ini akan terus meresidu di jalan Naripan, kota Bandung, dimana di jalan inilah denyut nadi koran Medan Prijaji ini berdenyut begitu kencang dalam membangun nasionalisme Bangsa. (*)