Menggabungkan OPD, Menggabungkan Kekuasaan?

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Kantor Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Instagram/@dihubjabar via ayobandung.com)
Kantor Gubernur Jawa Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Instagram/@dihubjabar via ayobandung.com)

GUBERNUR Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), berencana menyatukan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Jabar. Rencana tersebut kabarnya  menjadi bagian dari penataan OPD untuk menyederhanakan struktur pemerintahan.

Rencana KDM tersebut menarik bukan semata karena jumlah dinas akan berkurang, melainkan gagasan di balik penyatuan OPD itu, yakni agar struktur dibuat sedikit, tetapi fungsi dibuat lebih banyak. 

Agaknya Pemerintah Provinsi Jawa Barat kepingin mengurangi ongkos birokrasi agar ruang fiskal lebih besar untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. 

Secara prinsip, gagasan itu masuk di akal. Pemerintahan memang tidak harus identik dengan banyak kantor dan banyak meja. Tetapi, efisiensi birokrasi tidak sesederhana mengurangi jumlah organisasi. 

Dalam kacamata ilmu administrasi publik, ada perbedaan antara efisiensi struktural dan efisiensi operasional. Mengurangi jumlah OPD adalah perubahan struktur. Apakah perubahan itu membuat keputusan lebih cepat, koordinasi lebih baik, program tidak tumpang tindih, dan pelayanan lebih murah, itu mah perkara lain. Dinas yang lebih sedikit belum tentu pula menghasilkan pemerintahan yang lebih efisien.

Logika integrasi

Beberapa rencana penggabungan yang dirancang KDM memiliki logika integrasi yang cukup kuat. Bappeda dengan Litbang, misalnya, secara konseptual dapat mendekatkan perencanaan pembangunan dengan penelitian dan evaluasi. 

Begitu pula sektor lingkungan hidup dengan tata ruang. Keduanya selama ini memang berhadapan dengan persoalan yang sama di lapangan, yaitu penggunaan lahan, kawasan lindung, pembangunan, dan daya dukung lingkungan.

Namun, integrasi juga mempunyai batas-batas. Manakala satu organisasi memegang semakin banyak fungsi, persoalannya bukan lagi berapa banyak kantor yang berhasil dihapus, melainkan berapa besar beban koordinasi yang berpindah ke dalam organisasi tersebut. 

Organisasi yang besar dapat mengirit sejumlah biaya administrasi, tetapi bisa menciptakan lapisan koordinasi baru. Rapat mungkin lebih sedikit di antara dinas, tetapi lebih banyak di dalam satu dinas.

Struktur yang ramping memang kelihatan menarik dari luar. Tetapi, struktur yang terlalu gemuk di dalam bisa menghasilkan persoalan baru. Kepala OPD harus mengendalikan lebih banyak bidang, lebih banyak program, lebih banyak indikator kinerja, dan lebih banyak kepentingan sektoral. Artinya, ramping di bagan organisasi tidak otomatis ramping dalam proses pengambilan keputusan.

Penggabungan koperasi, perindustrian, dan perdagangan, misalnya, memiliki hubungan ekonomi yang jelas. Koperasi menyentuh pelaku usaha, industri menyentuh produksi, sedangkan perdagangan menyentuh pasar. Namun, ketiganya juga memiliki karakter kebijakan yang berbeda.

Persoalannya bukan apakah ketiganya bisa berada di bawah satu atap. Persoalannya adalah apakah berada di bawah satu atap membuat kebijakan ekonomi lebih terpadu atau justru membuat salah satu fungsi kehilangan perhatian karena terlalu banyak urusan.

Hal yang sama berlaku pada penggabungan pariwisata dengan pemuda, olahraga dan kebudayaan. Di satu sisi, terdapat irisan yang nyata. Kebudayaan dapat menjadi modal pariwisata, olahraga dapat menjadi penggerak ekonomi daerah, dan aktivitas pemuda dapat berkaitan dengan industri kreatif.

Di sisi lain, kebudayaan bukan sekadar industri pariwisata, sebagaimana pembangunan pemuda bukan sekadar bagian dari ekonomi kreatif. Integrasi membutuhkan desain fungsi yang jelas agar satu sektor tidak menjadi anak tiri dari sektor yang dianggap lebih menghasilkan secara ekonomi.

Alasan penghematan

Dari sudut pandang ekonomi publik, alasan penghematan yang disampaikan KDM perlu pula dicermati secara lebih hati-hati. Penggabungan kantor, perjalanan dinas, ATK dan berbagai biaya rutin memang berpotensi mengurangi waragad administratif. Tetapi, toh besarnya penghematan belum diketahui.

Karena itu, klaim efisiensi sebaiknya tidak berhenti pada asumsi bahwa lebih sedikit OPD berarti lebih sedikit biaya yang bakal dikeluarkan. Pemerintah perlu menunjukkan angka sebelum dan sesudah, berapa biaya struktur lama, berapa biaya struktur baru, dan berapa biaya transisinya.

Biaya transisi ini kerap luput dalam pembicaraan tentang reformasi organisasi. Penggabungan lembaga membutuhkan penataan pegawai, sistem informasi, aset, gedung, nomenklatur program, dokumen anggaran, hingga pembagian kewenangan.

Ada pula biaya yang tidak langsung terlihat, yakni waktu organisasi untuk beradaptasi. Jika biaya tersebut besar, penghematan mungkin baru terasa beberapa tahun kemudian. Karena itu, ukuran keberhasilan tidak seharusnya hanya berapa rupiah yang dipotong pada tahun pertama.

Selain itu, ada juga ukuran yang lebih penting, yakni berapa banyak hasil pembangunan yang diperoleh dari setiap rupiah yang dibelanjakan pemerintah. Pemerintah bisa menghemat perjalanan dinas, tetapi jika proses perizinan tetap lambat, hasilnya belum tentu efisien. Pemerintah bisa mengurangi jumlah kantor, tetapi jika koordinasi tata ruang dan lingkungan tetap bermasalah, struktur baru belum menyelesaikan persoalan.

Efisiensi akhirnya harus dilihat dari output dan outcome, bukan sebatas dari jumlah pintu kantor.

Konsentrasi kewenangan

Dari perspektif tata kelola, penggabungan OPD juga membawa persoalan lain, yaitu akuntabilitas. Semakin luas mandat sebuah organisasi, semakin penting pembagian tanggung jawab di dalamnya. Masyarakat harus tetap dapat mengetahui siapa yang bertanggung jawab ketika sebuah program gagal. DPRD juga harus dapat mengawasi kinerja sektor secara spesifik. Jangan sampai organisasi menjadi lebih sederhana secara administratif tetapi semakin sulit dibaca secara politik dan publik.

Ada pula persoalan konsentrasi kewenangan. Kepala OPD baru berpotensi mengendalikan portofolio kebijakan yang lebih luas dibanding sebelumnya. Itu bisa menjadi keuntungan karena keputusan lintas sektor lebih mudah diintegrasikan. 

Tetapi, konsentrasi kewenangan juga membutuhkan sistem pengawasan yang sepadan. Birokrasi yang terlalu terfragmentasi menghasilkan silo, di mana birokrasi yang terlalu terkonsentrasi dapat menghasilkan titik kekuasaan yang terlalu besar. Reformasi yang baik harus mencari titik tengah di antara keduanya.

Buntut penggabungan OPD, nasib pejabat eselon II juga bukan perkara kecil, meskipun sering dianggap sebagai persoalan kepegawaian belaka. Ketika beberapa organisasi digabung menjadi satu, jumlah posisi puncak secara alamiah dapat berkurang. 

Hal tersebut membuat reformasi birokrasi sekaligus menjadi proses redistribusi posisi dan kewenangan. Karena itu, semakin transparan dasar desain organisasinya, semakin mudah publik membedakan antara reformasi kelembagaan dan sekadar restrukturisasi jabatan.

Namun, tidak adil pula jika setiap pengurangan jabatan langsung dicurigai sebagai motif politik. Pemerintahan memang membutuhkan keberanian untuk menghapus posisi dan struktur yang tidak lagi diperlukan. Justru persoalannya adalah bagaimana memastikan proses tersebut menggunakan ukuran yang dapat diuji, seperti beban kerja, jumlah layanan, cakupan wilayah, kebutuhan kompetensi, anggaran, dan indikator kinerja. 

Dengan ukuran seperti itu, perubahan struktur tidak bergantung pada siapa yang sedang menjadi gubernur.

Keputusan buruk

Pada dasarnya, struktur organisasi hanyalah salah satu bagian dari sistem pemerintahan. Struktur yang bagus tanpa data yang baik tetap akan menghasilkan keputusan buruk.

Adapun struktur yang sederhana tanpa SDM yang tepat hanya memindahkan masalah. Dan struktur yang terintegrasi tanpa sistem evaluasi bisa membuat kegagalan lebih sulit dilacak karena terlalu banyak fungsi berada dalam satu wadah.

Karena itu, jika Jawa Barat benar-benar ingin menjadikan penggabungan OPD sebagai eksperimen reformasi, sebaiknya keberhasilannya sejak awal dibuat terukur. Misalnya, berapa persen belanja administratif yang turun, berapa lama waktu pengambilan keputusan berkurang, berapa banyak program yang tumpang tindih berhasil dihapus, berapa cepat pelayanan publik meningkat, dan apakah belanja pembangunan benar-benar bertambah. 

Data semacam itu akan jauh lebih meyakinkan daripada sekadar menyebut jumlah OPD yang berhasil disatukan.

Rencana KDM untuk menyatukan sejumlah OPD sebenarnya dapat dipahami lebih luas daripada sekadar agenda penghematan. Rencana ini adalah kesempatan untuk menguji apakah pemerintah daerah dapat berpindah dari logika setiap urusan punya dinas sendiri menuju logika setiap masalah ditangani secara lintas sektor. 

Dunia nyata memang tidak mengenal batas-batas kedinasan. Persoalan banjir, misalnya, bisa sekaligus menyangkut dinas tata ruang, lingkungan, pekerjaan umum, permukiman, dan perilaku masyarakat.

Tetapi, integrasi bukan berarti semua hal harus dilebur. Ada fungsi yang memang lebih efektif jika berdiri dengan mandat dan kompetensi khusus. Karena itu, ukuran yang lebih sehat bukan semakin sedikit OPD semakin baik, melainkan seberapa tepat struktur organisasi mengikuti masalah yang hendak diselesaikan. 

Maka, penggabungan OPD bakal menjadi lebih dari sekadar merapikan bagan organisasi. Ia bisa menjadi contoh bahwa birokrasi daerah dapat dibuat lebih sederhana tanpa membuat kapasitas pemerintahan daerah menjadi lebih lemah. 

Namun demikian, jika penggabungan OPD itu  yang akhirnya berubah hanya jumlah kantor, nama dinas dan susunan pejabat sementara cara kerja tetap sama, maka yang terjadi hanyalah birokrasi lama yang tampil dengan kemasan baru.***

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)