Hastag Stop The Wedding menjadi tranding di media sosial setelah Ashe mengeluarkan single dengan judul "Stop The Wedding" ramai menjadi backsound yang digunakan saat membagikan konten terkait dengan pengalaman traumatis perempuan dalam pernikahan.
Beberapa tahun terakhir angka pernikahan menurun dan berjalan terbalik ketika angka perceraian justru menurun. Berdasarkan data yang dilansir dari BPS (Badan Pusat Statistik) yang menunjukkan dalam waktu satu dekade terakhir angka pernikahan menurun dari kisaran 2.11 juta menjadi sekitar1.48 juta. Sementara dilansir dari kompas.com angka perceraian (gabungan dari cerai talak dan cerai gugat yang di putus di pengadilan) menunjukkan tren peningkatan yang cukup signifikan. Sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 438. 168 kasus perceraian.
Dalam dua bulan sejak video musiknya tayang di youtube sudah ada 19 juta penonton dengan 198 ribu like dan 2.8 ribu komentar para perempuan yang membagikan pengalaman traumatis dalam pernikahannya. Beragam pengalaman yang dirasakan banyak perempuan memang banyak merepresentasikan bagaimana sejauh ini posisi seorang perempuan dalam pernikahan. Meski ini bukan menjadi hal yang harus dinormalisasi bahwa semua perempuan mendapatkan pengalaman buruk yang sama. Masih ada perempuan lain yang cukup beruntung mendapatkan pasangan yang ideal dan justru punya hubungan yang sehat untuk saling bertumbuh.
Bagi saya seorang perempuan yang memiliki privilege menjadi WNI dan hidup ditengah ekonomi yang tidak stabil, menikah adalah sebuah pilihan hidup yang perlu melalui banyak proses pertimbangan. Menikah bagi perempuan tidak sekedar untuk mendapatkan status baru di KTP. Menikah bagi perempuan tidak sekedar terhindar dari rasa kesepian. Menikah bagi perempuan tidak sekedar memberhentikan mulut tetangga yang berkata "Kapan nikah ?".
Menikah bagi perempuan seperti menyerahkan seluruh kehidupannya untuk mengabdikan diri kepada anak dan suami. Menikah bagi perempuan juga harus siap kehilangan eksplorasi diri jika mendapatkan pasangan yang tidak saling mengerti. Menikah juga menjadikan perempuan memiliki banyak peran dalam hidupnya terlebih jika pasangannya hanya ongkang kaki di rumah dan perempuan menjadi tulang punggung perekonomian keluarga.
Kondisi yang memberitakan terhadap kekejaman fisik maupun seksual pun turut menjadi pengingat bagi para perempuan single bahwa jangan terjebak dalam hubungan yang toxic. Seperti berita yang pernah terjadi terhadap perempuan di Bandung. Awalnya dia memiliki kehidupan yang menurut saya cukup stabil bagi seorang perempuan pekerja. Namun semua kebebasannya hilang ketika bertemu dengan lelaki dari media sosial yang berusaha menjalin hubungan dengannya. Pada awalnya lelaki menunjukan rasa kasih dan sayangnya melalui perhatian. Namun perilaku itu berkembang menjadi tindak over protektif yang merampas segala kebebasan perempuan. Perjalanan bertahun-tahun membawa perempuan itu di sekap dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Mirisnya tak hanya di kurung tapi juga diperlakukan dengan sangat keji dan tidak manusiawi hingga menghancurkan anggota tubuh yang dimilikinya. Bahkan lelaki itu menyimpan trauma yang mendalam lewat goresan tato wajahnya di tubuh seorang perempuan.
Beberapa kasus terbaru dari hubungan yang menyebabkan kematian adalah perempuan yang dinikahi secara siri di Madiun. Lewat peristiwa itu perempuan bisa mati secara berkali-kali, mati lewat status sosialnya sebagai istri siri, mati karena di cekik lalu dimutilasi menjadi bagian kecil-kecil dan dihancurkan ke dalam mesin penggiling daging elektrik lalu dibakar dua kali hingga menjadi abu yang dibuang di sekitar Sungai Bengawan.
Di tengah angka pernikahan yang semakin menurun munculah tren membagikan video yang berisi rangakaian proses pernikahan dengan kondisi perempuan setelahnya juga beberapa yang mengalami kekerasan dan perselingkuhan. Video yang dibagikan tersebut selalu dibalut dengan lagu Stop The Wedding dari Ashe dan selalu ramai dengan kolom komentar baik para perempuan single, perempuan yang sedang mempersiapkan pernikahan baik mereka yang membagikan pengalaman traumatisnya dalam pernikahan.
Sejak Agustus time line media sosial sempat dipenuhi dengan tren ini dan baru beberapa hari ke belakang ramai kembali setelah ada youtuber yang membagikan KHW (Kisah Horor Wawak) yang dibagikan oleh Nadia Omara yang menceritakan kisah hidup perempuan yang pada mulanya akan dijadikan tumbal untuk meraup kekayaan tapi justru mati lebih dulu di tangan suaminya. Banyak yang memberikan argumentasi terkait dengan cerita ini dan ada satu hal menarik yang bisa menjadi refleksi bagi kondisi perempuan yang selama ini harus dipaksa mengikuti standar usia pernikahan dalam sosial.
Ini bukan sekedar cerita horo tapi banyak pesan moral didalamnya. Kamu itu engga akan mati hanya karena belum menikah tapi kamu bisa mati jika menikah dengan pria yang salah
Cerita horor ini juga sedang ramai beredar di media sosial dengan tetap mengaitkan lagu Stop The Wedding dari Ashe. Bagi saya tren ini memang membawa kesadaran yang lebih bagi para perempuan single yang belum menikah. Pernikahan tidak pernah sesederhana yang dibayangkan maka tentu itu menjadi satu keputusan yang akan mempengaruhi seumur hidup. Tren ini juga bisa membuka mata dan hati para perempuan yang sedang berada dalam hubungan yang toxic tapi belum bisa keluar. Namun yang paling membahayakan jika ketakutan tersebut hanya fomo semata. Dalam artian kita takut menikah hanya karena orang lain juga takut. Menikah dan tidak menikah memang pilihan tapi jika kalian sudah yakin bertemu dengan orang yang tepat maka hiduplah bersama untuk menciptakan manusia-manusia berkualitas yang bisa menjaga bumi. (*)