Dalam kesehariannya perempuan kerap kali memiliki peran yang lebih banyak dari semestinya. Sejauh ini sosial selalu memposisikan perempuan sebagai seseorang yang hanya mengerjakan pekerjaan domestik semata. Banyak stigma yang muncul bahwa perempuan tidak perlu memiliki karir yang mentereng juga pendidikan yang tinggi karena ujung-ujungnya hanya mengabdi pada suami.
Namun kenyataannya masih banyak perempuan yang menjalankan peran ganda bukan karena keinginannya untuk mengembangkan diri melainkan karena tuntutan situasi dalam hidupnya. Salah satunya adalah karena kebutuhan ekonomi yang masih belum layak untuk menghidupi satu keluarga. Masih banyak perempuan yang tak hanya harus memenuhi kehidupannya sendiri karena ketidakhadiran sosok bapak. Namun perempuan juga masih banyak yang harus menanggung ekonomi orang tua, adik, anak dan sanak saudaranya yang lain. Bahkan bukan hal yang aneh ketika banyak perempuan yang menjadi pekerja di luar negeri demi keberlanjutan hidup dia serta keluarganya.
Mungkin karhutla tidak bisa menghentikan masyarakat untuk tetap bekerja dan mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun untuk segala aktivitas yang berkaitan dengan sekolah sebagian besar sudah menerapkan pelajaran jarak jauh atau online.
Ketika seorang anak harus melaksanakan sekolah di rumah maka yang harus menggantikan guru dan mendampingi anak adalah ibunya. Tak hanya membantu menyiapkan kebutuhan untuk melakukan zoom meeting tapi juga harus membantu tugas yang diberikan gurunya. Masalahnya muncul ketika perempuan tidak hanya berperan untuk mendampingi anaknya melainkan juga harus mengerjakan sejumlah pekerjaan rumah dan bisa juga sambil mengerjakan pekerjaan kantor.
Menurut hasil wawancara online kepada seorang perempuan yang juga menjadi seorang ibu yang mendampingi anaknya belajar di situasi karhutla. Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian dengan ekonomi, kualitas kesehatan yang semakin memburuk maka mendampingi anak belajar di rumah menjadi tantangan berat dibandingkan di era pandemi covid-19.
Peran ibu betul-betul semakin sulit dan kompleks selama karhutla ini. Saya harus mengambil peran guru di sekolah untuk diterapkan di rumah yaitu mengajar dan mengawasi pembelajaran anak-anak selama PJJ.
Menurut pemaparannya juga selama terdampak asap karhutla selama 3 bulan ini kegiatan belajar-mengajar menjadi tidak berajalan efektif seperti di sekolah. Namun karena resiko terhadap paparan asap karhutla jauh lebih tinggi maka mau dan tidak mau seorang ibu harus legowo menerima apa yang terjadi. Seorang ibu dipaksa untuk rela menerima kualitas pembelajaran yang menurun selama bencana ini terjadi.
Dan yang paling menyedihkan adalah ketika masih ada ibu-ibu yang lain karena terdesak himpitan ekonomi maka dia harus tetap bekerja dari pagi sampai malam sehingga tidak mampu melakukan fungsi sebagai pendamping belajar di rumah. Seorang ibu lain harus pasrah karena tidak bisa mengawasi belajar anak-anaknya.
Selain dampak ISPA, karhutla juga membuat semua kebutuhan pangan meningkat drastis yang artinya hal tersebut akan berdampak kembali kepada perempuan yang notabene menjadi pengatur manajemen keuangan rumah tangga. Lonjakan tersebut membuat perempuan harus kembali berpikir bagaimana caranya bertahan dalam situasi karhutla.
Asisten rumah tangga saya terpaksa mengungsikan ketiga anaknya ke desa orang tuanya agar beban biaya hidup menurun
Lagi dan lagi perempuan harus menanggung banyak beban. Perempuan seolah mau tidak mau untuk bisa tetap waras menghadapi segala situasi bahkan pada titik kritis sekalipun. Karena ketika perempuan tumbang maka anak dan pasangan pun ikut terdampak secara mental. Hal sesederhana datang ketika seorang perempuan sakit. Sarapan pagi tidak tersaji seperti biasanya, laki-laki kehilangan berbagai macam persiapan yang akan dibawa ke kantor, anak-anak menanyakan dimana kaus kaki yang biasa digunakannya. Maka tolong jangan jahat-jahat ya terhadap perempuan. (*)