Dari Patriarki ke Femisida: Membaca Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Warisan Struktur Historis

3 menit baca
Nabilla Ramadhani Trisna
Ditulis oleh Nabilla Ramadhani Trisna diterbitkan
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Istimewa)
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Istimewa)

Deretan kasus pembunuhan terhadap Perempuan yang terjadi baru-baru ini bukanlah kriminalitas baru, lebih kepada permainan manipulatif yang telah ada sejak abad ke-19. Tragedi masa kolonial, seperti kisah kelam dari Nyai Dasima, menggambarkan betapa menyesakkan untuk hidup sebagai seorang perempuan apabila orang lain sudah tidak lagi memandangnya sebagai sesuatu yang bernyawa, tetapi lebih kepada objek atau ekspresi egotisme lelaki.

Sedihnya, fakta kehidupan ini telah berlangsung di tengah-tengah masyarakat selama beberapa ratus tahun, nama pelaku sudah berubah, peradaban terlihat maju, namun motif utama di balik pembunuhan Perempuan tetap saja merujuk kepada konsep kepemilikan dan hubungan kuasa yang timpang. Oleh sebab itu, tingginya angka kematian Perempuan saat ini tidak boleh ditafsir lagi dalam konteks hukum pidana. 

Langkah pertama untuk mengkaji masalah ini adalah dengan mengubah cara pandang publik dan aparat penegak hukum. Narasi yang mengurai pembunuhan Perempuan sebagai “Konflik asmara”, “Kecemburuan”, atau “Tragedi cinta” harus segera diberhentikan. Kejahatan ini harus segera diadili dan disebut dengan sebutan Femisida. Merujuk pada pemahaman Sidang Umum Dewan HAM PBB, femisida bukan sekadar pembunuhan terhadap Perempuan, melainkan menghilangkan nyawa perempuan secara spesifik dengan didorong oleh perasaan kebencian, Hasrat untuk menaklukan, dan keyakinan fatal bahwa Perempuan adalah barang yang bisa dikuasai.

Kenyataan di lapangan sungguh menyesakkan dada. Di sepanjang tahun 2025, Komnas Perempuan mendapati setidaknya 239 kasus femisida, membuktikan bahwa ancaman terhadap nyawa perempuan masih menjadi luka menganga di tengah kita. Dari angka tersebut terdiri dari femisida intim 146 korban dan femisida non-intim 93 korban (Artikel Komnas Perempuan, 2026). Angka-angka ini menjadi bukti yang tidak terbantahkan bahwasannya ancaman ini bergerak secara sistemik di urat nadi masyarakat.

Laporan Pemantauan Femisida di Indonesia (2025) (Sumber: Komnas Perempuan)
Laporan Pemantauan Femisida di Indonesia (2025) (Sumber: Komnas Perempuan)

Banyaknya korban yang semakin bertambah dalam zaman ini merupakan saksi bisu menyakitkan terhadap sistem budaya patriarki yang tetap saja dibiarkan begitu saja dan diturunkan secara turun-menurun. Sejak era feodalisme sampai pada era kolonial yang eksploitasi, terdapat satu nilai yang selalu digunakan sebagai hal biasa seperti misalnya penguasaan absolut laki-laki terhadap tubuh, ruang gerak, dan masa depan perempuan.

Ketika perempuan di abad ke-21 berusaha untuk merebut kembali otonomi dirinya, menuntut posisi yang setara, atau sekadar berani berkata “tidak”, laki-laki yang sudah terlanjur nyaman dengan hak istimewa historis tersebut akan merasa terancam. Ketika teguran ini sudah tidak berpengaruh, kekerasan fisik yang mematikan ini akhirnya digunakan sebagai alat pendisiplinan seperti sebagai hukuman tertinggi bagi Perempuan yang dianggap “Lancang” melawan tatanan yang ada.    

Bahaya dari maskulinitas yang rapuh dan rasa berhak ini sangat jelas dalam kasus yang menimpa FA (23), seorang mahasiswi UIN Suska Riau pada akhir Februari 2026. Ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat yang aman berubah menjadi lokasi upaya femisida yang mengerikan, Ketika FA diserang menggunakan senjata tajam oleh rekan laki-lakinya, Rehan Mujafar (21). Penyebabnya sangat klise namun fatal, dari keterangan yang dihimpun setelahnya Rehan mengaku melakukan penganiyaan ini dikarenakan sakit hati terhadap FA (Salsabila Putri Pertiwi, 2026). Hal yang paling menyakitkan dari tragedi ini bukanlah sekedar kebrutalan fisiknya, melainkan respons sebagian publik setelahnya.

Kejadian ini memperlihatkan betapa murahnya nyawa perempuan saat mereka hanya dianggap sebagai 'barang' atau objek untuk memuaskan ego kekuasaan laki-laki. Padahal, cara pandang yang merusak ini sebenarnya sudah berakar sejak ratusan tahun lalu. Kejadian ini membuktikan bahwa pembacokan terhadap Perempuan yang menolak dikuasai bukanlah sekedar “perang antargender” atau keributan anak muda, melainkan bentuk keterlaluan dari keinginan absolut untuk melumat subjek yang tidak mau tunduk. 

Pada akhirnya, kasus-kasus seperti ini tidak boleh lagi diberi ruang berlindung di balik kata-kata seperti “masalah keluarga” atau “cinta yang buta”. Femisida adalah tindakan paling kejam dari piramida kekerasan gender, yang sudah didasari oleh Sejarah Panjang patriarki selama berabad-abad. Ketiadaan ruang aman bagi Perempuan, bahkan di institusi Pendidikan tinggi sekalipun adalah alarm keras bagi kita semua, terutama bagi Perempuan.

Untuk memutuskan siklus warisan kekerasa ini, negara dituntut untuk hadir mengambil sikap progresif yaitu salah satunya dengan mengakui femisida sebagai kategori kejahatan khusus yang mensyaratkan pemberatan hukuman. Di saat yang bersamaan, masyarakat harus didorong secara mendasar untuk membongkar dan membuang cara berpikir usang yang masih memposisikan perempuan sebagai objek yang bisa dimiliki, diatur, dan dihancurkan.  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nabilla Ramadhani Trisna
Mahasiswi Universitas Padjadjaran, Program Studi Ilmu Sejarah, angkatan 2025.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Agu 2026, 18:41

Pemborosan Pangan dalam Lingkungan Rumah serta Dampaknya Terhadap Lingkungan

Mengurangi food waste menjadi langkah sederhana untuk menjaga lingkungan dan mendukung ketahanan pangan.

Ilustrasi sampah makanan. (Sumber: Pexels | Foto: Sarah Chai)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 18:08

Pengaruh AI dalam Meningkatkan Efektivitas dan Akurasi di Dunia Akuntansi

Dalam dunia akuntansi Artificial Intelligence memudahkan dalam penyusunan laporan keuangan, meminimalisir kesalahan, mendeteksi adanya kecurangan, dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

ilustrasi dunia akuntansi. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 17:09

Masa Depan Forensic Accounting: Optimalisasi Artificial Intelligence dan Data Analytics dalam Mengungkap Korupsi di Indonesia

Memahami bagaimana peran dari artificial intelligence dan data analysis dalam forensic accounting dalam mengungkap fraud dan korupsi di Indonesia.

Ilustrasi akuntan. (Sumber: Pexels | Foto: Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 15:30

Penggunaan Artificial Intelligence dan Simulasi Studi Kasus dalam Mengatasi Masalah Mahasiswa Akuntansi

AI dan simulasi studi kasus membantu mahasiswa akuntansi memahami perubahan standar, membandingkan GAAP, IFRS, dan SAK, serta melatih kemampuan menghadapi permasalahan akuntansi secara lebih realistis

Ilustrasi penggunaan AI. Simulasi studi kasus dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) menjadi solusi inovatif untuk berbagai kendala yang dialami oleh mahasiswa akuntansi.
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 14:37

KDM Minta Maaf Gara-gara 80.000 Warga Jabar Masih Gelap-gelapan

Kang Dedi Mulyadi menyoroti 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Ia menilai pemerintah masih memiliki pekerjaan besar untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di seluruh Jawa Barat secara merata.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi, saat upacara hari kemerdekaan di Gedung Sate.  (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 13:48

Membaca Bahasa Kekuasaan di Balik Fenomena Pemasangan Pagar Mal Agustus 2026

Ketika mal-mal besar mendadak berpagar tinggi lalu semua pihak buru-buru membantah kaitannya dengan kerusuhan, yang tersingkap justru ketakutan itu sendiri.

Ilustrasi pagar di mal. (Sumber: Pexels | Foto: Thiago Calamita)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 10:49

Mengisi Kemerdekaan dengan Ilmu dan Integritas

Mari mengisi kemerdekaan dengan ilmu yang mencerahkan, pendidikan yang memanusiakan, teknologi yang beretika, agama yang menebarkan kedamaian, dan pengabdian yang menghadirkan kemaslahatan.

Ilustrasi bendera Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Daris Ardiansyah)
Wisata & Kuliner 18 Agu 2026, 10:06

Kebun Teh Jayanegara Sukabumi, Wisata Perkebunan dengan Panorama Gunung Salak

Hamparan kebun teh, kabut pagi, dan udara sejuk menjadi daya tarik utama Kebun Teh Jayanegara di Kecamatan Kabandungan, Sukabumi.

Kebun Teh Jayanegara Sukabumi. (Sumber: Instagram @smiling.wetjava)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 08:15

81 Tahun Merdeka, Untuk Siapa Kemerdekaan Bekerja?

Mungkin persoalannya bukan apakah Indonesia telah merdeka, melainkan ke mana kemerdekaan itu dibawa dan untuk siapa ia bekerja.

Pada sebuah acara peringatan Hari Kemerdekaan di Gedung Indonesia Menggugat. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 18 Agu 2026, 07:48

Makna Hari Kemerdekaan: Wujudkan Bandung Berdikari dengan Optimasi Aset

Mewujudkan Bandung berdikari, mesti mengembangkan lebih banyak lagi ragam profesi atau jenis pekerjaan masa kini.

Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Pemkot Bandung (Sumber: bandung.go.id)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 21:22

Kedaulatan Komunikasi sebagai Wajah Baru Kemerdekaan

Di usia ke-81 RI, kemerdekaan bukan hanya soal wilayah, tetapi kedaulatan komunikasi: kemampuan berpikir jernih, memverifikasi kebenaran, dan berdialog sehat di tengah gempuran algoritma dan hoaks.

Apakah kemerdekaan hanya sebatas bebas dari kolonialisme fisik? (Sumber: Pexels/ahmad syahrir)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 19:20

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’ dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 2)

Menelusuri hubungan sejarah dan fotografi, dari foto sebagai rekaman masa lalu hingga teknologi visual mutakhir yang membuka cara baru dalam membaca sejarah.

Foto Cipanas Garut dengan view Gunung Guntur yang diambil Thilly Weissenborn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 16:20

El Bahar dan Sang Merah Putih Menjelang Hari Kemerdekaan

Koran yang usianya kini telah mencapai 57 tahun itu hadir hanya dua hari menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Suratkabar El Bahar, salah satu surat kabar yang dikenal kritis dan cukup disegani pada masanya. (Koleksi: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 15:00

Mengenai ‘Tujuh Belas Agustusan’, dan Apa Itu Fotografi pada Sejarah Visual (Bagian 1)

Mengulas sejarah fotografi di Indonesia, perannya sebagai sumber sejarah visual, serta persoalan pelestarian arsip foto dalam merekam perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Ilustrasi foto klasik. (Sumber: Pexels | Foto: tapoy)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 13:02

Refleksi Indonesia Merdeka

Dalam refleksi Indonesia merdeka adalah Indonesia harus terus belajar menjadi Indonesia yang adil, berdaulat, beradab dan manusiawi, itulah kemerdekaan sesungguhnya.

Acara pengibaran bendera Merah Putih berukuran 10×18 meter di Tebing Hawu, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 11:26

Bendera Berkibar Janji Ditebar

81 tahun kemerdekaan bukan semata-mata untuk kepentingan negara yang punya hajat. Tetapi masyarakat yang memiliki harapan untuk merdeka. Hidup di negeri ini dengan jutaan cita-cita.

Warga membentangkan bendera Merah Putih raksasa berukuran 10x18 meter sebagai persiapan pengibaran pada 17 Agustus 2026 di Tebing Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 10:05

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Taman Bincarung: Trek Pendakian, Lokasi, dan Harga Tiket

Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung, informasi trek pendakian, lokasi gunung, dan harga tiket yang perlu diketahui sebelum melakukan pendakian.

Peta Pendakian Gunung Bukit Tunggul via Bincarung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 17 Agu 2026, 09:22

Ketimpangan Terselubung di Balik Pilihan Kos Mahasiswa

Ketimpangan dalam soal pilihan tempat kos mungkin tidak selalu kentara, tetapi dampaknya nyata dan berlapis.

Mahasiswa baru salah satu PTN mengikuti Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 21:58

Dari Kaki Gunung Wayang ke Ruang Sidang Doktoral: Saatnya Pendidikan Belajar Mengenali Keunikan

Jika setiap anak berbeda, mengapa sistem pendidikan kita masih begitu gemar menyeragamkan? Kisah Luthfi dari Kertasari membuka pertanyaan itu.

Luthfi Audia Pribadi dalam ujian promosi doktor di UPI, 13 Agustus 2026.
Ayo Netizen 16 Agu 2026, 18:15

Efektivitas Perusahaan Listrik sebagai Perusahaan Monopoli?

Ada berbagai bentuk pasar dalam perekonomian. Apakah perusahaan listrik sebagai perusahaan monopoli efektif?

PLN Nusantara Power UP Cirata memastikan seluruh unit PLTA Cirata siap menjaga keandalan listrik Jawa-Madura-Bali saat Idul Adha.