Sayembara Tangkap Begal dan Batas Tanggung Jawab Negara

7 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Ilustrasi sayembara tangkap begal. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ilustrasi sayembara tangkap begal. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)

GUBERNUR Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang kerap akrab disapa sebagai KDM, mengumumkan program sayembara bagi masyarakat yang berhasil menangkap pelaku begal, jambret, copet, maupun pencurian, kemudian menyerahkannya kepada kepolisian. Pengumuman tersebut disampaikan melalui akun Instagram pribadinya pada Kamis (23/7/2026).

Dalam pernyataannya, Dedi mengatakan pihaknya menyiapkan hadiah antara Rp5 juta hingga Rp50 juta bagi warga yang mampu melumpuhkan pelaku kejahatan dan menyerahkannya kepada aparat dalam keadaan hidup.

Keputusan tersebut tentu saja lahir dari keresahan yang nyata. Pasalnya, dalam beberapa pekan terakhir, berbagai kasus kejahatan jalanan kembali mencuat di Bandung dan sejumlah daerah lain di Jawa Barat. 

Di tengah meningkatnya kecemasan masyarakat, keputusan KDM mudah dipahami sebagai upaya membangun partisipasi publik dalam menjaga keamanan.

Sudah barang tentu, tidak sedikit warga yang menyambut positif keputusan tersebut. Mereka melihat sayembara sebagai bentuk keberpihakan pemerintah kepada korban sekaligus pesan bahwa pelaku kejahatan tidak boleh merasa bebas berkeliaran. 

Dalam situasi ketika rasa aman mulai menurun, kebijakan yang menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat memang memiliki daya tarik politik sekaligus psikologis.

Namun, justru karena keamanan adalah kebutuhan paling mendasar, diskusi mengenai kebijakan semacam ini perlu pula ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. 

Maka, pertanyaannya bukan semata apakah sayembara itu baik atau buruk, melainkan sampai di mana partisipasi warga dapat didorong tanpa menggeser tanggung jawab utama negara dalam menjamin keamanan publik.

Alasan fundamental

Dalam teori negara modern, keamanan merupakan salah satu alasan paling mendasar mengapa negara dibentuk. Filsuf politik Thomas Hobbes menjelaskan bahwa manusia menyerahkan sebagian haknya kepada negara untuk keluar dari kehidupan yang penuh ketidakpastian, ketakutan, dan kekerasan.

Meski pemikiran politik tersebut telah berkembang jauh sejak abad ke-17, satu gagasan Hobbes tetap relevan hingga kini, yakni negara memperoleh legitimasi karena mampu memberikan perlindungan kepada warganya.

Dalam perkembangan administrasi publik modern, gagasan tersebut semakin dipertegas. Negara tidak hanya berfungsi membuat dan menegakkan aturan, tetapi juga berkewajiban menyediakan layanan publik yang esensial.

Dalam kaitan ini, keamanan ditempatkan sejajar dengan pendidikan, kesehatan, dan keadilan sebagai layanan dasar yang menjadi tanggung jawab negara. Karena itu, penyelenggaraan keamanan tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mekanisme pasar ataupun inisiatif individu, melainkan harus dijamin melalui institusi negara yang memiliki kewenangan, sumber daya, dan akuntabilitas yang jelas.

Tersebab itulah, keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya diukur dari banyaknya pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi. Rasa aman yang dirasakan masyarakat juga menjadi indikator penting kualitas pemerintahan. 

Jalan yang terang, patroli yang hadir, respons cepat aparat, dan turunnya angka kriminalitas sering kali lebih bermakna bagi warga dibandingkan berbagai indikator ekonomi makro yang sulit mereka rasakan secara langsung.

Dalam ilmu administrasi publik, keamanan termasuk kategori public goods alias barang publik, yang memiliki dua karakter utama. Pertama, semua orang berhak menikmatinya. Dan kedua, seseorang tidak mengurangi hak orang lain untuk merasakan manfaat yang sama. Ketika sebuah kota menjadi aman, seluruh masyarakat memperoleh manfaat tanpa harus saling berebut.

Karena sifatnya sebagai barang publik, penyediaannya tidak dapat mengandalkan keberanian individu. Jika keamanan hanya bergantung pada siapa yang berani melawan pelaku kejahatan, maka akses terhadap rasa aman bakal menjadi tidak merata. Mereka yang lemah secara fisik, perempuan, lansia, anak-anak, penyandang disabilitas, atau warga yang sedang sendirian justru menjadi kelompok yang paling rentan.

Di sinilah letak perbedaan antara partisipasi masyarakat dan pelimpahan tanggung jawab negara. Partisipasi berarti warga membantu menciptakan lingkungan yang aman melalui pelaporan, kewaspadaan, dan kerja sama dengan aparat. Sebaliknya, pelimpahan tanggung jawab terjadi ketika masyarakat merasa mereka sendiri yang harus menghadapi ancaman kriminal karena negara dianggap belum cukup hadir.

Kepastian tertangkap

Pencegahan kejahatan tidak semata ditentukan oleh keberanian individu menghadapi pelaku. Yang jauh lebih penting adalah meningkatnya peluang pelaku untuk tertangkap. Teori deterrence menjelaskan bahwa pelaku kriminal lebih dipengaruhi oleh kepastian tertangkap daripada beratnya hukuman semata.

Artinya, patroli yang konsisten, respons cepat kepolisian, kamera pengawas yang berfungsi, penerangan jalan, serta sistem pelaporan yang efektif sering kali memberikan efek pencegahan yang lebih besar dibandingkan tindakan heroik warga yang sifatnya insidental dan individual.

Rekaman CCTV yang memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan komplotan begal di Astana Anyar sebelum akhirnya berhasil diringkus oleh pihak kepolisian.
Rekaman CCTV yang memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan komplotan begal di Astana Anyar sebelum akhirnya berhasil diringkus oleh pihak kepolisian.

Pengalaman banyak kota di dunia juga memperlihatkan bahwa penurunan kejahatan jalanan hampir selalu lahir dari kombinasi berbagai kebijakan. Misalnya, penegakan hukum diperkuat, ruang publik diperbaiki, data kriminal dianalisis secara berkala, dan titik rawan diawasi lebih intensif. 

Dalam konteks itulah, langkah Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mendorong patroli lebih intensif bersama kepolisian merupakan bagian yang sangat penting. Kehadiran mobil patroli, koordinasi lintas instansi, hingga penjagaan di titik strategis justru merupakan fondasi utama yang harus terus diperkuat.

Adapun soal sayembara menangkap pelaku kejahatan sebaiknya dipahami sebagai instrumen tambahan. Artinya, ia bukan strategi utama. Sebab, jika publik mulai percaya bahwa keamanan hanya dapat tercipta apabila masyarakat turun tangan sendiri menangkap pelaku, maka persepsi terhadap kapasitas negara bisa ikut terpengaruh. Negara modern tidak dibangun di atas keberanian spontan warga, melainkan pada institusi yang bekerja secara profesional setiap hari.

Tetap penting

Partisipasi masyarakat tetap memiliki posisi yang sangat penting dalam penangkalan kejahatan. Banyak kasus kriminal berhasil diungkap karena laporan warga, rekaman kamera milik masyarakat, atau informasi dari lingkungan sekitar. Tanpa keterlibatan publik, aparat juga tidak mungkin mengawasi seluruh wilayah selama dua puluh empat jam nonstop.

Yang seyogianya perlu dijaga adalah batas antara membantu dan mengambil alih. Ketika warga menemukan tindak kriminal, tindakan paling aman tetap mengutamakan keselamatan diri, segera melapor kepada aparat, serta membantu proses penegakan hukum sesuai kemampuan. Tidak semua situasi aman untuk dihadapi secara langsung.

Hal ini bukan berarti masyarakat diminta pasif. Justru masyarakat aktif adalah modal sosial yang sangat besar. Namun, modal sosial tersebut perlu diarahkan agar memperkuat sistem keamanan, bukan menggantikan fungsi aparat. Warga yang melapor cepat, lingkungan yang saling mengenal, dan komunikasi yang baik dengan kepolisian sering kali lebih efektif daripada aksi yang mempertaruhkan keselamatan.

Perlu dicatat bahwa kejahatan jalanan tidak muncul dalam ruang kosong. Di belakang seorang begal sering terdapat jaringan penadah, perdagangan kendaraan curian, pasar suku cadang ilegal, hingga kelompok kriminal yang memperoleh keuntungan dari hasil kejahatan. Menangkap pelaku lapangan memang penting, tetapi memutus rantai ekonomi kejahatan jauh lebih menentukan.

Karena itu, ukuran keberhasilan kebijakan keamanan tidak hanya dilihat dari berapa banyak pelaku yang ditangkap. Yang lebih penting adalah apakah angka kejahatan benar-benar turun, apakah warga semakin percaya menggunakan jalan pada malam hari, apakah pelaku residivis berkurang, dan apakah jaringan kriminal berhasil dipersempit.

Dalam administrasi publik dikenal konsep state capacity, yaitu kemampuan negara menjalankan fungsi-fungsi dasarnya secara efektif. Salah satu indikator kapasitas tersebut adalah kemampuan menjaga keamanan secara konsisten, bukan hanya ketika perhatian publik sedang tinggi-tingginya.

Kapasitas negara juga tercermin dari kemampuan berbagai institusi bekerja bersama. Kepolisian, pemerintah daerah, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Damkar, hingga pemerintah tingkat kelurahan memiliki peran yang saling melengkapi. Keamanan bukan hasil kerja satu institusi, melainkan produk koordinasi yang baik antarinstitusi.

Yang tidak kalah penting adalah membangun kepercayaan publik. Ketika masyarakat yakin laporan mereka akan ditindaklanjuti dengan cepat, mereka lebih terdorong untuk melapor. Sebaliknya, jika warga merasa laporannya tidak direspons, muncul kecenderungan menyelesaikan masalah sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat menimbulkan risiko salah sasaran, konflik, bahkan tindakan main hakim sendiri.

Hadirnya rasa percaya

Sistem keamanan yang baik pada akhirnya bukan sekadar absennya kejahatan. Sistem keamanan yang baik adalah hadirnya rasa percaya bahwa siapa pun yang keluar rumah untuk bekerja, belajar, atau beraktivitas memiliki peluang besar untuk pulang dengan selamat. Rasa aman adalah fondasi kehidupan ekonomi, pendidikan, bahkan hubungan sosial.

Karena itu, sayembara menangkap begal sebaiknya dibaca sebagai sinyal bahwa pemerintah ingin menggerakkan solidaritas masyarakat menghadapi ancaman kriminal. Tetapi, solidaritas warga akan memberikan hasil terbaik apabila berdiri di atas institusi negara yang kuat, aparat yang profesional, sistem yang responsif, dan koordinasi yang efektif.

Masyarakat memang dapat ikut membantu menjaga keamanan. Bahkan mereka adalah mitra yang tidak tergantikan bagi aparat penegak hukum dalam menciptakan lingkungan yang aman.  Namun, keamanan publik tidak boleh bergantung pada keberanian warga semata. Negara dibentuk justru agar setiap orang -- baik yang berani maupun yang tidak, baik yang kuat maupun yang lemah -- tetap memperoleh hak yang sama untuk hidup aman. Di situlah ukuran paling mendasar dari hadirnya sebuah pemerintahan yang bekerja. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)