Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda. Muncul pada periode penting sebelum penghapusan perbudakan secara resmi pada tahun 1860, buku ini berdiri sebagai sebuah "proklamasi" atau pengumuman resmi mengenai eksistensi dan kedudukan penting para juru masak pribumi.

Pada masa itu, dapur yang sebelumnya dianggap sebagai "neraka" yang panas, berasap, dan kotor, mulai bertransformasi menjadi ranah profesional yang dikelola oleh para kokki (koki) yang memiliki keahlian khusus dan seni memasak yang mumpuni.

Secara strategis, Nonna Cornelia—sosok yang diidentifikasi sebagai perempuan lajang muda dari keluarga Indo-Eropa—berperan sebagai pengumpoel (pengumpul) pengetahuan gastronomi. Ia tidak hanya sekadar menyalin resep, tetapi menyerap ilmu dari para perempuan penguasa dapur yang ia sebut dengan hormat seperti Mevrouw Sarondeng, Mejuffrouw Sesate, dan Nonna Lalawar.

Penggunaan bahasa Melayu Pasar dalam teks ini mencerminkan inklusivitas budaya yang luar biasa; ia menjadi jembatan komunikasi yang melintasi batas rasial. Menariknya, Kokki Bitja mampu bertahan melintasi badai "totokisasi" (upaya pembelandaan bahasa secara kaku) di awal abad ke-20, sebuah periode di mana perempuan Eropa mulai menjauhkan diri dari dapur pribumi dan beralih ke buku masak berbahasa Belanda. Ketangguhan buku ini membuktikan bahwa ia adalah kode genetik atau DNA kuliner yang tidak bisa dihapus oleh arus westernisasi.

Artikel ini secara khusus berusaha memotret khazanah kuliner Jawa di dalam buku itu. Penelusuran terhadap isi Kokki Bitja menjadi langkah penting untuk melakukan inventarisasi sistematis terhadap fondasi selera Jawa yang tetap mapan hingga hari ini.

Inventarisasi dan Klasifikasi Masakan Jawa dalam Kokki Bitja

Mengarsipkan resep tradisional dalam Kokki Bitja bukan sekadar upaya nostalgia, melainkan cara membedah struktur selera Nusantara yang sudah mapan sejak ratusan tahun lalu. Kita menemukan bahwa identitas masakan Jawa telah terumuskan dengan sangat spesifik, baik melalui penamaan maupun komposisi bahan yang digunakan.

Berikut adalah klasifikasi masakan Jawa yang diekstraksi dari teks asli tahun 1854 dalam bentuk tabel:

Kategori

Nama Hidangan (Ejaan Asli)

Keterangan / Deskripsi

Sayur dan Kuah

Sajoer Lodee

Sayur lodeh dengan santan kental

Sajoer Kloak

Sayur dengan bumbu keluak

Sajoer Tjoendidoe

Hidangan kuah nabati

Rarawon

Terminologi asli rawon (hidangan daging berkuah hitam)

Sajoer Gado-gado

Sayuran segar/rebus dengan bumbu

Kari dan Pindang

Karie Reboeng

Kari dengan bahan dasar rebung

Pindang Ajam

Pindang berbahan dasar ayam

Kari Japan

Kari yang menggunakan labu siam (oebi japan)

Pindang Kaloak

Pindang yang dimasak menggunakan bumbu keluak

Sambal dan Pelengkap

Sambal Pete

Sambal olahan petai

Sambal Ati

Sambal olahan hati

Sarondeng

Olahan kelapa parut berbumbu (serundeng)

Petjal Ajam

Pecel ayam

Sambal Miso

Perpaduan unik yang menunjukkan pengaruh global awal

Olahan Daging dan Ikan

Dengdeng Agee

Dendeng sapi/kerbau dengan bumbu rempah

Ikan Sesate

Sate ikan yang dibumbui halus

Bebotok

Olahan kukus berbumbu kelapa dalam daun pisang

Lalawar Ajam

Varian hidangan cincang berbumbu (lawar ayam)

Fenomena paling menarik adalah proses "menjawakan" pengaruh asing. Hidangan seperti Laksa Portugees dan Laksa Tjina diadopsi dengan tetap menggunakan basis bumbu lokal yang kuat, seperti koenjit, santen, dan daon djerock poeroet. Hal ini membuktikan bahwa gastronomi Jawa pada abad ke-19 bukanlah budaya yang pasif, melainkan sebuah kekuatan budaya yang mampu menyerap unsur global (Portugis dan Cina) ke dalam bingkai bumbu rimpang dan kelapa khas lokal.

Kontinuitas Bahan Masakan Jawa: Dari 1854 ke Dapur Modern

Resiliensi gastronomi Jawa terlihat nyata dari kesinambungan bahan pangan yang digunakan selama lebih dari 170 tahun. Jika meninjau daftar bahan dalam buku resep klasik Kokki Bitja (1854), mayoritas bahan yang tertulis di dalamnya masih menjadi pilar utama di pasar-pasar tradisional hingga saat ini.

Keberlanjutan ini tercermin kuat pada fondasi bumbu utama masakan Jawa yang tidak banyak berubah. Penggunaan rempah dan bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, cabai, kemiri, ketumbar, hingga jintan tetap menjadi kunci kelezatan yang diwariskan lintas generasi. Begitu pula dengan ragam bahan nabatinya, di mana hasil bumi lokal seperti rebung, tauge, kacang panjang, nangka muda, jantung pisang, dan daun mengkudu terus diolah menjadi pelengkap hidangan harian.

Dari sisi sumber protein tradisional, masyarakat Jawa pada masa itu sudah akrab dengan daging sapi, kerbau, dan ikan kakap. Menariknya, teks tersebut menyebutkan istilah ajam gemok, yang merujuk pada ayam kampung berkualitas baik—sebuah standar mutu masakan yang masih dipertahankan hingga kini. Namun, di sisi lain, hadirnya penggunaan daging penyu (penjoe) memperlihatkan adanya dinamika biodiversitas serta norma dan tabu makanan masa lalu yang kini telah bergeser seiring kesadaran konservasi.

Bahan-bahan lokal ini tidak tergantikan oleh bahan modern atau impor karena mereka membawa karakter rasa tanah Jawa yang spesifik. Kesinambungan ini menjadi bukti otentik bahwa masakan yang kita konsumsi hari ini memiliki garis keturunan langsung dari apa yang dimasak oleh para koki di pertengahan abad ke-19.

Kokki Bitja (1854) adalah sebuah artefak sejarah yang tak ternilai. Ia menjadi saksi bisu bahwa profil rasa masakan Jawa telah terstruktur dengan sangat baik, kompleks, dan memiliki identitas yang kuat sejak abad ke-19. Buku ini bukan sekadar kumpulan resep, melainkan dokumentasi transisi sosial dari era perbudakan menuju pengakuan profesionalisme koki pribumi.

Kita berutang budi pada para penguasa dapur masa lalu—khususnya perempuan pribumi dan koki Indo yang namanya seringkali hanya tersisa dalam rujukan singkat. Mereka telah mewariskan pengetahuan gastronomi yang melampaui zaman. Melalui Kokki Bitja, kita menyadari bahwa setiap suapan hidangan Jawa modern adalah hasil dari evolusi panjang yang akarnya tertanam kuat pada tradisi lisan dan tulisan yang telah ada sejak 170 tahun yang lalu. Menghargai buku ini berarti menghargai kedaulatan rasa bangsa Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)