Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Menginjak usia Bandung yang ke-216 pada 25 September, masih ada persolan klasik yang mendera Kota Bandung, yakni masalah sampah dan kemacetan. Persoalan ini sudah berulang kali dirilis oleh masyarakat melalui media, tetapi kenapa masih saja menjadi persoalan yang tidak kunjung selesai? Ini memang tidak mudah. Tapi bagaimana kita menarik benang merah ini dan mengurainya menjadi solusi, minimal memperkecil volume masalah.

Problem lingkungan hidup acapkali diabaikan oleh masyarakat. Apakah tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan yang makin menurun, atau ada akar permasalahan yang dibiarkan tanpa gerakan atau program nyata yang lebih reliable? Tapi ini terlalu skeptis.

Kota yang besar tidak selalu berarti kota yang tertata. Pertumbuhan ekonomi, perkembangan permukiman, pariwisata, perdagangan, pendidikan, dan mobilitas penduduk memang membuat sebuah kota semakin hidup. Tetapi di balik kehidupan itu selalu ada persoalan yang harus dibayar: semakin banyak manusia berarti semakin banyak sampah, semakin banyak kendaraan berarti semakin besar tekanan terhadap ruang jalan.

Bandung sedang berhadapan dengan dua persoalan yang sesungguhnya saling berkaitan: sampah dan kemacetan. Keduanya bukan sekadar persoalan teknis pemerintah daerah. Keduanya adalah cermin dari bagaimana sebuah masyarakat memperlakukan ruang hidupnya sendiri.

Bandung tidak kekurangan orang pintar. Bandung memiliki perguruan tinggi, komunitas kreatif, pelaku usaha, seniman, teknolog, birokrat, dan masyarakat sipil yang relatif aktif. Karena itu, persoalannya bukan semata-mata apakah kita memiliki pengetahuan untuk mengatasi sampah dan kemacetan. Persoalannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut berubah menjadi kebiasaan kolektif.

Di sinilah urgensinya. Sampah yang tidak pernah hilang. Kita sering berpikir bahwa persoalan sampah selesai ketika petugas mengangkutnya dari depan rumah. Padahal, sesungguhnya sampah hanya berpindah tempat.

Dari rumah menuju TPS. Dari TPS menuju kendaraan pengangkut. Dari kendaraan menuju tempat pembuangan akhir. Dengan kata lain, selama paradigma yang digunakan masih sebatas kumpul, angkut, buang, maka persoalan sampah sebenarnya tidak pernah selesai.

Pada April 2026, Pemerintah Kota Bandung bahkan menyebut produksi sampah sekitar 1.800 ton per hari, sementara yang dapat diolah baru sekitar 200–300 ton. Ketergantungan terhadap TPA Sarimukti menjadi persoalan tersendiri karena kapasitas tempat tersebut terbatas.

Sampah sebenarnya adalah jejak peradaban. Semakin konsumtif masyarakat, semakin besar jejak sampah yang ditinggalkan.

Masalahnya menjadi lebih serius ketika masyarakat masih melihat sampah sebagai sesuatu yang berada “di luar dirinya”. Seolah-olah setelah sampah dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diletakkan di depan rumah, persoalan itu menjadi urusan petugas kebersihan. Cara berpikir seperti ini harus diubah.

Bagaimana solusi nyata harus dibangun? Yang harus diingat, infrastruktur tanpa perubahan perilaku hanya akan menghasilkan fasilitas yang tidak optimal.

Persoalan lain adalah kemacetan. Bandung memiliki karakter geografis dan sosial yang membuat mobilitasnya kompleks. Kota ini tidak berdiri sendiri. Pergerakan manusia berlangsung dalam kawasan Bandung Raya. Orang tinggal di satu wilayah, bekerja di wilayah lain, bersekolah di wilayah lain, berbelanja di tempat lain, dan kembali ke rumah pada waktu yang hampir bersamaan.

Jalan kemudian menjadi tempat bertemunya semua kepentingan tersebut. Kemacetan bukan hanya persoalan jumlah kendaraan. Ia merupakan persoalan tata ruang, transportasi publik, parkir, perilaku berkendara, distribusi kegiatan ekonomi, konsentrasi pusat aktivitas, serta konektivitas antarkawasan.

Kemacetan dengan demikian tidak boleh hanya dijawab dengan menambah ruas jalan. Jika jumlah kendaraan terus bertambah, maka jalan baru pada akhirnya akan kembali dipenuhi kendaraan.

Penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan di Bandung raya menyebabkan polusi udara sudah melebihi ambang batas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan di Bandung raya menyebabkan polusi udara sudah melebihi ambang batas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Yang diperlukan adalah perubahan paradigma: dari memindahkan kendaraan sebanyak-banyaknya menjadi memindahkan manusia seefisien mungkin. Ini perbedaan yang sangat penting.

Kota modern bukan kota yang membuat semua orang memiliki kendaraan pribadi. Kota modern adalah kota yang membuat seseorang tetap dapat bekerja, belajar, berbelanja, berwisata, dan menjalani kehidupannya tanpa selalu bergantung pada kendaraan pribadi. Karena itu, transportasi publik harus menjadi bagian penting dari masa depan Bandung.

Pemerintah Kota Bandung dan pemerintah pusat kini mendorong pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya sebagai bagian dari upaya mengatasi kemacetan dan meningkatkan layanan transportasi publik. Pemerintah Kota juga menyiapkan kebijakan pendukung, termasuk penataan parkir di sepanjang koridor BRT.

Pada sisi lain, pembangunan transportasi publik tentu tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Proses pembangunan dapat menimbulkan gangguan lalu lintas sementara, seperti yang terjadi pada sejumlah titik pembangunan halte BRT dan telah menjadi keluhan masyarakat.

Karena itu, transportasi publik harus dibangun bukan hanya sebagai proyek fisik, tetapi sebagai ekosistem mobilitas. Bus harus terintegrasi dengan angkot, kereta api, jalur pejalan kaki, pesepeda, kawasan parkir, dan sistem pembayaran yang mudah. Masyarakat harus merasa bahwa meninggalkan kendaraan pribadi bukan berarti kehilangan kenyamanan.

Jika transportasi publik lebih lambat, lebih rumit, tidak pasti, dan tidak nyaman dibanding kendaraan pribadi, maka imbauan untuk meninggalkan kendaraan pribadi akan sulit menghasilkan perubahan perilaku masyarakat.

Masyarakat hidup di dalam sistem. Karena itu, kesadaran harus dibangun melalui pendidikan, keteladanan, fasilitas, insentif, dan penegakan aturan.

Untuk sampah, misalnya, pemerintah dapat membuat sistem pemilahan yang sederhana dan seragam dari tingkat rumah tangga sampai RW. Sekolah dapat mengubah pengelolaan sampah menjadi bagian dari pendidikan karakter.

Pasar dapat diwajibkan memiliki sistem pemilahan organik dan anorganik. Restoran dan pusat perdagangan harus memiliki tanggung jawab yang jelas terhadap sampah yang mereka hasilkan.

Jangan sampai masyarakat diminta memilah sampah di rumah, tetapi ketika diangkut semuanya kembali dicampur. Itu akan menghancurkan kepercayaan.

Demikian pula dalam transportasi. Masyarakat tidak cukup hanya diminta menggunakan angkutan umum. Mereka harus diberi pilihan yang rasional: jadwal yang dapat dipercaya, halte yang aman, tarif yang terjangkau, akses pejalan kaki yang baik, konektivitas antarmoda, serta informasi perjalanan yang mudah dipahami.

Kesadaran akan tumbuh apabila masyarakat melihat bahwa perilaku baik menghasilkan manfaat nyata.

Barangkali kita tidak membutuhkan revolusi besar dalam pengertian politik. Kita membutuhkan revolusi yang jauh lebih sederhana tetapi lebih sulit: revolusi kebiasaan. Kota pada akhirnya dibangun oleh jutaan kebiasaan kecil.

Tidak ada pemerintah yang mampu membersihkan kota sepanjang waktu jika warganya terus memproduksi sampah tanpa tanggung jawab.

Tidak ada polisi lalu lintas yang mampu mengatasi seluruh persoalan jalan jika masyarakat menganggap aturan lalu lintas sebagai sesuatu yang boleh dinegosiasikan.

Ada satu perubahan kesadaran yang sangat penting: masyarakat harus berhenti melihat Bandung hanya sebagai tempat tinggal. Bandung harus dipandang sebagai rumah bersama.

Dalam kota yang berpenduduk besar, tindakan individual selalu memiliki dampak kolektif. Karena itu, kesadaran kewargaan harus dibangun dari gagasan sederhana. Tidak perlu mencari kambing hitam siapa yang salah, tetapi dengan memperbaiki diri sendiri untuk berpartisipasi secara positif demi kenyamanan bersama. Menjadikan Bandung sebagai rumah yang memberikan napas kehidupan sehat.

Bandung membutuhkan lebih dari sekadar program. Bandung membutuhkan kesadaran kolektif. Sebab persoalan kota pada akhirnya bukan hanya persoalan pemerintah. Ia adalah persoalan kita semua. Dan masa depan Bandung akan sangat ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana: Apakah kita hanya ingin tinggal di Bandung, atau bersedia ikut bertanggung jawab atas Bandung? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)