Akhir tahun dan awal tahun baru selalu menjadi momen istimewa bagi banyak orang. Libur sekolah setelah semester ganjil usai, perayaan Natal bagi umat Kristiani, serta cuti bersama dan fleksibilitas kerja bagi ASN membuat libur akhir tahun terasa lebih panjang dan dinanti. Momentum ini tak hanya menjadi ruang rehat dari rutinitas, tetapi juga menggerakkan denyut ekonomi di berbagai sektor.
Bagi banyak perusahaan yang bergerak di bidang barang dan jasa, Desember justru menjadi bulan puncak pencapaian target. Menjelang pekan terakhir, capaian penjualan biasanya sudah menembus 100 persen, atau setidaknya melampaui 75 persen dari target tahunan. Jika target terlampaui, bukan hanya komisi yang dinikmati karyawan, tetapi juga reward berupa libur lebih awal.
Hal serupa terjadi pada perusahaan ekspedisi. Memasuki pekan terakhir Desember, sebagian besar jasa pengiriman antarpulau via darat, laut, dan udara mulai membatasi penerimaan barang baru. Fokus mereka adalah menyelesaikan pengiriman yang telah terkumpul sejak awal hingga pertengahan bulan. Pada masa peak season seperti ini, maskapai penerbangan dan kapal laut cenderung memprioritaskan angkutan penumpang dibandingkan barang.
Di sisi lain, Kabupaten dan Kota Bandung kembali menjadi magnet wisatawan. Kawasan Lembang dan Ciwidey, misalnya, sudah menunjukkan kepadatan sejak beberapa hari sebelum pergantian tahun. Pemerintah daerah dan kepolisian pun melakukan koordinasi untuk mengurai kepadatan lalu lintas di titik-titik rawan macet. Meski kepadatan tak terhindarkan, arus kendaraan roda dua dan roda empat relatif masih dapat dikendalikan.
Lonjakan wisatawan ini membawa dampak ekonomi yang signifikan. Penginapan, hotel, tempat kuliner, hingga toko cendera mata dipenuhi pengunjung. Para pelaku UMKM, pedagang kaki lima, dan pedagang musiman merasakan peningkatan pendapatan berlipat dibandingkan hari biasa. Jalanan dipenuhi kendaraan, sementara para wisatawan menikmati suasana dengan berjalan kaki di kawasan wisata.
Namun, euforia ekonomi ini hampir selalu dibarengi persoalan klasik yang terus berulang: kemacetan dan sampah. Kendaraan yang merayap menuju dan dari lokasi wisata menjadi pemandangan lumrah. Bagi sebagian orang, kemacetan seakan menjadi “harga yang harus dibayar” demi kebersamaan bersama keluarga di momen liburan.

Masalah sampah bahkan menjadi persoalan yang lebih mengkhawatirkan. Sampah plastik, kemasan sekali pakai, dan sisa makanan menumpuk di kawasan wisata maupun di pinggir jalan. Tak jarang, sampah dibuang sembarangan tanpa rasa bersalah. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya bukan hanya merusak estetika kota, tetapi juga menurunkan kenyamanan dan citra daerah tujuan wisata dalam jangka panjang.
Di sinilah dilema kota wisata berada. Membatasi atau menolak wisatawan jelas bukan pilihan. Pariwisata adalah sumber ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat. Namun tanpa pengelolaan yang serius dan melibatkan partisipasi warga, persoalan kemacetan dan sampah akan terus menjadi siklus tahunan.
Baca Juga: Antara Kegunaan, Estetika, dan Tantangan Penggunaan
Kritik terhadap kondisi ini pernah disampaikan Susi Pujiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan. Dalam peresmian kerja sama Susi Air dengan Bandara Husein Sastranegara pada Juli lalu, ia menyinggung persoalan kemacetan dan sampah di hadapan Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota Bandung, yang membuatnya enggan berkunjung ke Bandung. Kritik tersebut sejatinya mewakili suara banyak orang yang mencintai Kota Bandung dan Jawa Barat.
Harapan kini tertuju pada keseriusan pemerintah daerah. Pengajuan anggaran sebesar Rp90 miliar oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan untuk penanggulangan sampah pada 2026 diharapkan benar-benar terealisasi. Dengan program yang tepat dan pelaksanaan yang konsisten, darurat sampah di pertengahan tahun semestinya dapat dihindari.
Ke depan, bukan hanya satu dua tokoh yang memberikan pujian. Yang lebih penting, seluruh warga Kota Bandung dapat merasakan perubahan nyata: kota yang lebih tertib, bersih, dan nyaman. Sebuah Bandung yang asri dan cantik, sejalan dengan cita-cita menuju Bandung Utama. (*)
