Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Langit Bandung mulai bercahaya jingga saat orang-orang memasuki gedung merah mencolok yang berdiri di pinggir Jalan Tamblong. Dinding dan tiangnya dihiasi ornamen Tionghoa yang khas, membuat bangunan itu mudah dikenali dan berbeda dari masjid pada umumnya. Setiap orang yang melintas nyaris tak bisa menahan pandangan.

Di tempat ini, tak ada yang mempertanyakan asal-usul, pekerjaan, atau latar belakang seseorang. Mungkin suasana semacam ini juga bisa ditemui di masjid lain. Namun di sini, lebih dari sekadar ucapan, gestur dan sorot mata pun tak menunjukkan sedikit pun sikap menghakimi.

Siapa pun dipersilakan duduk, menunggu azan magrib, lalu menikmati satu kotak makanan lengkap dengan takjil untuk berbuka puasa.

Di sinilah, di Masjid Lautze 2, tradisi itu berjalan konsisten. Masjid ini berdiri sejak 2017, dan kegiatan berbuka bersama rutin digelar dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2022 ketika jumlah jemaah kian bertambah.

Setiap Ramadan, masjid ini mengadakan kajian sore yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Noneng (48), salah satu pengunjung setia, merasakan suasana itu sejak Ramadan tahun lalu. Ia bekerja sebagai penjual kopi pada malam hari. Menjelang magrib, ia kerap memilih singgah ke Lautze 2.

“Tahun kemarin juga saya sering ke sini, tiap hari,” katanya pelan.

Bagi Noneng, berbuka puasa di masjid bukan sekadar menikmati makanan gratis. Ada rasa kebersamaan yang membuatnya terus kembali.

“Senang, banyak teman,” ujarnya sambil tersenyum.

Ramadan menjadi kesempatan baginya memperluas pergaulan. Ia biasanya datang bersama seorang teman, mengikuti kajian, lalu berbuka bersama. Namun di balik kebersamaan itu, ia juga menyimpan alasan yang sederhana.

“Menghemat uang. Kalau beli kan sekitar lima belas ribu,” tuturnya.

Penghematan itu berarti besar. Bagi pekerja informal seperti Noneng, lima belas ribu rupiah per hari bukan jumlah kecil. Meski begitu, alasan ia terus datang bukan semata soal biaya. Saat ditanya harapannya tentang kegiatan ini, ia menjawab singkat, “Semoga selalu ada.”

Harapan sederhana itu seakan menjadi energi bagi mereka yang menjaga program ini tetap berjalan.

Menjaga Pintu Tetap Terbuka

Di balik rutinitas setiap sore, ada sosok Abah Oting, pendiri sekaligus penggerak utama masjid. Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, ia masih aktif menyambut jemaah dan memantau berbagai kegiatan.

“Minimal dia (ojol) ada air di motornya. Ada yang enggak, ya kita siapkan. Kira-kira seribu lebih boks sehari,” ujarnya.

Masjid ini merupakan cabang dari Masjid Lautze di Jakarta. Sejak beroperasi mandiri pada 2017, Abah Oting bersama para pengurus perlahan memperluas bangunan, dari tempat pembinaan sederhana menjadi ruang ibadah yang lebih memadai. Identitas Tionghoa yang melekat bukanlah pembatas, melainkan simbol keterbukaan.

“Tidak ada sekte. Tidak fanatik. Siapa pun boleh masuk,” tegasnya.

Semangat itu pula yang membuat Lautze 2 dikenal sebagai tempat pembinaan mualaf. Tahun ini saja, sekitar 47 orang tercatat bersyahadat. Secara keseluruhan, sekitar 350 mualaf pernah mendapatkan pembinaan di sini, berasal dari beragam latar belakang—Tionghoa, Batak, hingga warga negara asing.

Bagi Abah Oting, prinsipnya sederhana: Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

“Di Al-Qur’an, Allah menciptakan bermacam-macam bangsa untuk saling mengenal. Itu yang kita pegang,” katanya.

Dalam perjalanannya, tentu ada rintangan. Pernah muncul komentar negatif terkait identitas Tionghoa atau kecurigaan bernuansa politis. Namun ia memilih menyikapinya dengan tenang.

“Kita punya dua telinga. Yang baik masuk ke sini,” tuturnya sambil menunjuk telinganya, “yang buruk dikeluarkan.”

Selain Noneng, seorang warga Bandung yang enggan disebutkan namanya mengaku baru pertama kali datang ke Masjid Lautze 2.

“Pertama kali ke sini. Awalnya mau ke Kosambi, tapi enggak keburu. Lihat ada kajian ini, jadi penasaran. Ya sudah sekalian buka puasa di sini,” ujarnya, ditemani seorang teman.

Seorang backpacker juga singgah karena merasa tempat ini menerima siapa saja tanpa melihat penampilan.

“Karena hati, Lautze punya itu,” ucapnya sambil tersenyum dan menunjuk dadanya.

“Di sini enggak lihat tampilan luar siapa yang datang. Mereka merangkul siapa pun yang hadir,” tambahnya.

Di antara mereka, Noneng kembali duduk seperti biasa. Sore itu mungkin tak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya: kajian singkat, doa bersama, lalu hidangan sederhana dibagikan.

Namun di dalam ruangan bercat merah itu, pertemuan demi pertemuan terus terjadi. Pengendara ojek yang singgah di sela waktu, pedagang kopi yang ingin menghemat pengeluaran, musafir yang tergerak hatinya—semuanya berkumpul tanpa pertanyaan tentang latar belakang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)