Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 24 Feb 2026, 15:31 WIB
Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Langit Bandung mulai bercahaya jingga saat orang-orang memasuki gedung merah mencolok yang berdiri di pinggir Jalan Tamblong. Dinding dan tiangnya dihiasi ornamen Tionghoa yang khas, membuat bangunan itu mudah dikenali dan berbeda dari masjid pada umumnya. Setiap orang yang melintas nyaris tak bisa menahan pandangan.

Di tempat ini, tak ada yang mempertanyakan asal-usul, pekerjaan, atau latar belakang seseorang. Mungkin suasana semacam ini juga bisa ditemui di masjid lain. Namun di sini, lebih dari sekadar ucapan, gestur dan sorot mata pun tak menunjukkan sedikit pun sikap menghakimi.

Siapa pun dipersilakan duduk, menunggu azan magrib, lalu menikmati satu kotak makanan lengkap dengan takjil untuk berbuka puasa.

Di sinilah, di Masjid Lautze 2, tradisi itu berjalan konsisten. Masjid ini berdiri sejak 2017, dan kegiatan berbuka bersama rutin digelar dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2022 ketika jumlah jemaah kian bertambah.

Setiap Ramadan, masjid ini mengadakan kajian sore yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Noneng (48), salah satu pengunjung setia, merasakan suasana itu sejak Ramadan tahun lalu. Ia bekerja sebagai penjual kopi pada malam hari. Menjelang magrib, ia kerap memilih singgah ke Lautze 2.

“Tahun kemarin juga saya sering ke sini, tiap hari,” katanya pelan.

Bagi Noneng, berbuka puasa di masjid bukan sekadar menikmati makanan gratis. Ada rasa kebersamaan yang membuatnya terus kembali.

“Senang, banyak teman,” ujarnya sambil tersenyum.

Ramadan menjadi kesempatan baginya memperluas pergaulan. Ia biasanya datang bersama seorang teman, mengikuti kajian, lalu berbuka bersama. Namun di balik kebersamaan itu, ia juga menyimpan alasan yang sederhana.

“Menghemat uang. Kalau beli kan sekitar lima belas ribu,” tuturnya.

Penghematan itu berarti besar. Bagi pekerja informal seperti Noneng, lima belas ribu rupiah per hari bukan jumlah kecil. Meski begitu, alasan ia terus datang bukan semata soal biaya. Saat ditanya harapannya tentang kegiatan ini, ia menjawab singkat, “Semoga selalu ada.”

Harapan sederhana itu seakan menjadi energi bagi mereka yang menjaga program ini tetap berjalan.

Menjaga Pintu Tetap Terbuka

Di balik rutinitas setiap sore, ada sosok Abah Oting, pendiri sekaligus penggerak utama masjid. Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, ia masih aktif menyambut jemaah dan memantau berbagai kegiatan.

“Minimal dia (ojol) ada air di motornya. Ada yang enggak, ya kita siapkan. Kira-kira seribu lebih boks sehari,” ujarnya.

Masjid ini merupakan cabang dari Masjid Lautze di Jakarta. Sejak beroperasi mandiri pada 2017, Abah Oting bersama para pengurus perlahan memperluas bangunan, dari tempat pembinaan sederhana menjadi ruang ibadah yang lebih memadai. Identitas Tionghoa yang melekat bukanlah pembatas, melainkan simbol keterbukaan.

“Tidak ada sekte. Tidak fanatik. Siapa pun boleh masuk,” tegasnya.

Semangat itu pula yang membuat Lautze 2 dikenal sebagai tempat pembinaan mualaf. Tahun ini saja, sekitar 47 orang tercatat bersyahadat. Secara keseluruhan, sekitar 350 mualaf pernah mendapatkan pembinaan di sini, berasal dari beragam latar belakang—Tionghoa, Batak, hingga warga negara asing.

Bagi Abah Oting, prinsipnya sederhana: Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

“Di Al-Qur’an, Allah menciptakan bermacam-macam bangsa untuk saling mengenal. Itu yang kita pegang,” katanya.

Dalam perjalanannya, tentu ada rintangan. Pernah muncul komentar negatif terkait identitas Tionghoa atau kecurigaan bernuansa politis. Namun ia memilih menyikapinya dengan tenang.

“Kita punya dua telinga. Yang baik masuk ke sini,” tuturnya sambil menunjuk telinganya, “yang buruk dikeluarkan.”

Selain Noneng, seorang warga Bandung yang enggan disebutkan namanya mengaku baru pertama kali datang ke Masjid Lautze 2.

“Pertama kali ke sini. Awalnya mau ke Kosambi, tapi enggak keburu. Lihat ada kajian ini, jadi penasaran. Ya sudah sekalian buka puasa di sini,” ujarnya, ditemani seorang teman.

Seorang backpacker juga singgah karena merasa tempat ini menerima siapa saja tanpa melihat penampilan.

“Karena hati, Lautze punya itu,” ucapnya sambil tersenyum dan menunjuk dadanya.

“Di sini enggak lihat tampilan luar siapa yang datang. Mereka merangkul siapa pun yang hadir,” tambahnya.

Di antara mereka, Noneng kembali duduk seperti biasa. Sore itu mungkin tak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya: kajian singkat, doa bersama, lalu hidangan sederhana dibagikan.

Namun di dalam ruangan bercat merah itu, pertemuan demi pertemuan terus terjadi. Pengendara ojek yang singgah di sela waktu, pedagang kopi yang ingin menghemat pengeluaran, musafir yang tergerak hatinya—semuanya berkumpul tanpa pertanyaan tentang latar belakang.

Berita Terkait

News Update

Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 21 Feb 2026, 21:53

Konektivitas Singapore Airlines Group Jadi Motor Penggerak Pariwisata Inbound Indonesia

Ia menyebutkan bahwa Indonesia, bersama China dan Australia, merupakan pasar penerimaan pariwisata (tourism receipt) utama bagi Singapura.

Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: singaporeair)