Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Selasa 26 Mei 2026, 07:40 WIB
Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)

Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah cara manusia berinteraksi. Kehadiran aplikasi pesan instan membuat komunikasi berlangsung lebih cepat, praktis, dan tanpa batas ruang. Di balik kemudahan tersebut, muncul perubahan perilaku dalam komunikasi digital, salah satunya kebiasaan mematikan fitur centang biru atau read receipts pada WhatsApp.

Fitur centang biru dirancang sebagai penanda bahwa pesan telah dibaca oleh penerima. Namun, dalam praktiknya, fitur ini tidak lagi dipahami sekadar sebagai penunjuk teknis. Centang biru sering memunculkan ekspektasi sosial bahwa seseorang perlu segera memberikan respons setelah membaca pesan. Menurut Nasrullah dalam bukunya Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi (2020), perkembangan media digital telah membentuk pola interaksi sosial baru yang memengaruhi cara masyarakat membangun komunikasi sehari-hari.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi komunikasi tidak hanya mempermudah pertukaran informasi, tetapi juga membentuk norma dan etika baru dalam kehidupan sosial masyarakat digital.

Perubahan Budaya Respons dalam Komunikasi Digital

Komunikasi digital saat ini identik dengan kecepatan. Pesan yang dikirim melalui aplikasi percakapan sering diharapkan memperoleh balasan dalam waktu singkat. Kondisi ini secara perlahan membentuk budaya respons instan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam situasi tersebut, centang biru kerap dimaknai sebagai bentuk perhatian atau penghargaan terhadap lawan bicara. Sebaliknya, keterlambatan membalas pesan setelah pesan terbaca dapat memunculkan berbagai asumsi, meskipun belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Karena itu, sebagian pengguna memilih mematikan centang biru untuk mengatur ritme komunikasi pribadi. Mereka ingin memiliki ruang untuk membaca pesan tanpa tekanan untuk segera merespons. Fenomena ini memperlihatkan adanya kebutuhan menjaga keseimbangan antara keterhubungan digital dan ruang personal.

Littlejohn dan Foss dalam Theories of Human Communication (2011) menjelaskan bahwa komunikasi bukan hanya proses penyampaian pesan, tetapi juga proses pembentukan makna sosial dalam hubungan antarmanusia. Dalam komunikasi digital, makna tersebut sering dipengaruhi oleh simbol-simbol teknologi, termasuk tanda pesan telah dibaca.

Fitur Centang Biru antara Privasi dan Kenyamanan Pengguna

Di era digital, privasi tidak lagi hanya berkaitan dengan perlindungan data pribadi, tetapi juga mencakup hak individu dalam mengatur keterlibatan di ruang komunikasi daring. Dalam konteks ini, mematikan centang biru dapat dipahami sebagai upaya menjaga kenyamanan komunikasi.

Sebagian pengguna memilih menonaktifkan fitur tersebut untuk mengurangi tekanan akibat tuntutan respons cepat. Selain itu, ada pula yang merasa lebih nyaman ketika memiliki waktu untuk memahami isi pesan sebelum memberikan jawaban yang tepat.

Kajian komunikasi digital menunjukkan bahwa keterlambatan respons maupun tanda pesan telah dibaca sering kali memiliki makna sosial tertentu dalam interaksi daring. Interpretasi tersebut dapat berbeda-beda bergantung pada individu dan situasi komunikasi. Nasrullah (2017) menyebutkan bahwa media digital membentuk budaya baru dalam interaksi masyarakat, termasuk dalam membangun ekspektasi komunikasi.

Meski demikian, penggunaan fitur privasi tetap perlu memperhatikan konteks komunikasi. Dalam lingkungan akademik, pekerjaan, maupun organisasi, kejelasan dan kepastian komunikasi tetap menjadi unsur penting agar proses koordinasi berjalan efektif.

Dengan demikian, fenomena mematikan centang biru tidak seharusnya dipandang sebagai tindakan yang benar atau salah, melainkan sebagai bagian dari perubahan budaya komunikasi di era digital.

Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)
Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)

Respons di Grup WhatsApp sebagai Tanda Pesan Diterima

Perubahan etika komunikasi digital juga terlihat pada kebiasaan memberi respons terhadap pesan di grup WhatsApp. Dalam banyak grup organisasi, pekerjaan, akademik, maupun komunitas, respons sederhana seperti “baik”, “siap”, emoji, atau tanda jempol sering dipahami sebagai bentuk konfirmasi bahwa informasi telah diterima dan dipahami.

Kebiasaan tersebut muncul karena komunikasi grup melibatkan banyak anggota sekaligus, sehingga pengirim pesan memerlukan kepastian bahwa informasi penting telah diketahui oleh peserta grup. Dalam konteks tertentu, respons singkat menjadi bagian dari etika komunikasi digital karena mencerminkan perhatian terhadap informasi yang disampaikan.

Namun, dinamika komunikasi grup tidak selalu berjalan seragam. Tidak semua anggota memiliki tingkat aktivitas, waktu luang, maupun kebutuhan respons yang sama. Sebagian orang juga merasa bahwa tuntutan untuk selalu memberi tanggapan dapat menimbulkan kelelahan komunikasi, terutama ketika intensitas pesan grup cukup tinggi.

Hal ini sejalan dengan pandangan Littlejohn dan Foss (2011) bahwa komunikasi modern tidak hanya dipengaruhi isi pesan, tetapi juga dipengaruhi konteks sosial, hubungan antarindividu, dan ekspektasi dalam kelompok komunikasi.

Oleh sebab itu, etika komunikasi di grup digital perlu dibangun secara proporsional. Respons terhadap pesan penting memang dapat membantu efektivitas komunikasi, tetapi tetap perlu mempertimbangkan konteks, urgensi informasi, dan kenyamanan anggota grup.

Etika Komunikasi di Era Pesan Instan

Etika komunikasi digital pada dasarnya bertumpu pada kemampuan menjaga keseimbangan antara hak pribadi dan penghargaan terhadap orang lain. Mematikan centang biru merupakan pilihan yang disediakan oleh aplikasi dan menjadi hak setiap pengguna. Namun, etika komunikasi tetap menuntut adanya tanggung jawab dalam menjaga kualitas interaksi.

Dalam komunikasi personal, respons yang tidak selalu cepat dapat dipahami sebagai bagian dari kebutuhan mengatur waktu dan ruang pribadi. Sementara itu, dalam komunikasi profesional atau akademik, respons yang jelas dan proporsional tetap diperlukan untuk menjaga efektivitas komunikasi.

Karena itu, yang terpenting bukan sekadar mengaktifkan atau mematikan centang biru, melainkan bagaimana pengguna membangun komunikasi yang saling menghargai, terbuka, dan berempati.

Pada akhirnya, fenomena mematikan centang biru menunjukkan bahwa perkembangan teknologi selalu diikuti perubahan norma sosial. Di tengah budaya komunikasi instan, masyarakat digital dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam menjaga etika komunikasi dan menghormati ruang personal setiap individu. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)