Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)

Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah cara manusia berinteraksi. Kehadiran aplikasi pesan instan membuat komunikasi berlangsung lebih cepat, praktis, dan tanpa batas ruang. Di balik kemudahan tersebut, muncul perubahan perilaku dalam komunikasi digital, salah satunya kebiasaan mematikan fitur centang biru atau read receipts pada WhatsApp.

Fitur centang biru dirancang sebagai penanda bahwa pesan telah dibaca oleh penerima. Namun, dalam praktiknya, fitur ini tidak lagi dipahami sekadar sebagai penunjuk teknis. Centang biru sering memunculkan ekspektasi sosial bahwa seseorang perlu segera memberikan respons setelah membaca pesan. Menurut Nasrullah dalam bukunya Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi (2020), perkembangan media digital telah membentuk pola interaksi sosial baru yang memengaruhi cara masyarakat membangun komunikasi sehari-hari.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi komunikasi tidak hanya mempermudah pertukaran informasi, tetapi juga membentuk norma dan etika baru dalam kehidupan sosial masyarakat digital.

Perubahan Budaya Respons dalam Komunikasi Digital

Komunikasi digital saat ini identik dengan kecepatan. Pesan yang dikirim melalui aplikasi percakapan sering diharapkan memperoleh balasan dalam waktu singkat. Kondisi ini secara perlahan membentuk budaya respons instan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam situasi tersebut, centang biru kerap dimaknai sebagai bentuk perhatian atau penghargaan terhadap lawan bicara. Sebaliknya, keterlambatan membalas pesan setelah pesan terbaca dapat memunculkan berbagai asumsi, meskipun belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Karena itu, sebagian pengguna memilih mematikan centang biru untuk mengatur ritme komunikasi pribadi. Mereka ingin memiliki ruang untuk membaca pesan tanpa tekanan untuk segera merespons. Fenomena ini memperlihatkan adanya kebutuhan menjaga keseimbangan antara keterhubungan digital dan ruang personal.

Littlejohn dan Foss dalam Theories of Human Communication (2011) menjelaskan bahwa komunikasi bukan hanya proses penyampaian pesan, tetapi juga proses pembentukan makna sosial dalam hubungan antarmanusia. Dalam komunikasi digital, makna tersebut sering dipengaruhi oleh simbol-simbol teknologi, termasuk tanda pesan telah dibaca.

Fitur Centang Biru antara Privasi dan Kenyamanan Pengguna

Di era digital, privasi tidak lagi hanya berkaitan dengan perlindungan data pribadi, tetapi juga mencakup hak individu dalam mengatur keterlibatan di ruang komunikasi daring. Dalam konteks ini, mematikan centang biru dapat dipahami sebagai upaya menjaga kenyamanan komunikasi.

Sebagian pengguna memilih menonaktifkan fitur tersebut untuk mengurangi tekanan akibat tuntutan respons cepat. Selain itu, ada pula yang merasa lebih nyaman ketika memiliki waktu untuk memahami isi pesan sebelum memberikan jawaban yang tepat.

Kajian komunikasi digital menunjukkan bahwa keterlambatan respons maupun tanda pesan telah dibaca sering kali memiliki makna sosial tertentu dalam interaksi daring. Interpretasi tersebut dapat berbeda-beda bergantung pada individu dan situasi komunikasi. Nasrullah (2017) menyebutkan bahwa media digital membentuk budaya baru dalam interaksi masyarakat, termasuk dalam membangun ekspektasi komunikasi.

Meski demikian, penggunaan fitur privasi tetap perlu memperhatikan konteks komunikasi. Dalam lingkungan akademik, pekerjaan, maupun organisasi, kejelasan dan kepastian komunikasi tetap menjadi unsur penting agar proses koordinasi berjalan efektif.

Dengan demikian, fenomena mematikan centang biru tidak seharusnya dipandang sebagai tindakan yang benar atau salah, melainkan sebagai bagian dari perubahan budaya komunikasi di era digital.

Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)
Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)

Respons di Grup WhatsApp sebagai Tanda Pesan Diterima

Perubahan etika komunikasi digital juga terlihat pada kebiasaan memberi respons terhadap pesan di grup WhatsApp. Dalam banyak grup organisasi, pekerjaan, akademik, maupun komunitas, respons sederhana seperti “baik”, “siap”, emoji, atau tanda jempol sering dipahami sebagai bentuk konfirmasi bahwa informasi telah diterima dan dipahami.

Kebiasaan tersebut muncul karena komunikasi grup melibatkan banyak anggota sekaligus, sehingga pengirim pesan memerlukan kepastian bahwa informasi penting telah diketahui oleh peserta grup. Dalam konteks tertentu, respons singkat menjadi bagian dari etika komunikasi digital karena mencerminkan perhatian terhadap informasi yang disampaikan.

Namun, dinamika komunikasi grup tidak selalu berjalan seragam. Tidak semua anggota memiliki tingkat aktivitas, waktu luang, maupun kebutuhan respons yang sama. Sebagian orang juga merasa bahwa tuntutan untuk selalu memberi tanggapan dapat menimbulkan kelelahan komunikasi, terutama ketika intensitas pesan grup cukup tinggi.

Hal ini sejalan dengan pandangan Littlejohn dan Foss (2011) bahwa komunikasi modern tidak hanya dipengaruhi isi pesan, tetapi juga dipengaruhi konteks sosial, hubungan antarindividu, dan ekspektasi dalam kelompok komunikasi.

Oleh sebab itu, etika komunikasi di grup digital perlu dibangun secara proporsional. Respons terhadap pesan penting memang dapat membantu efektivitas komunikasi, tetapi tetap perlu mempertimbangkan konteks, urgensi informasi, dan kenyamanan anggota grup.

Etika Komunikasi di Era Pesan Instan

Etika komunikasi digital pada dasarnya bertumpu pada kemampuan menjaga keseimbangan antara hak pribadi dan penghargaan terhadap orang lain. Mematikan centang biru merupakan pilihan yang disediakan oleh aplikasi dan menjadi hak setiap pengguna. Namun, etika komunikasi tetap menuntut adanya tanggung jawab dalam menjaga kualitas interaksi.

Dalam komunikasi personal, respons yang tidak selalu cepat dapat dipahami sebagai bagian dari kebutuhan mengatur waktu dan ruang pribadi. Sementara itu, dalam komunikasi profesional atau akademik, respons yang jelas dan proporsional tetap diperlukan untuk menjaga efektivitas komunikasi.

Karena itu, yang terpenting bukan sekadar mengaktifkan atau mematikan centang biru, melainkan bagaimana pengguna membangun komunikasi yang saling menghargai, terbuka, dan berempati.

Pada akhirnya, fenomena mematikan centang biru menunjukkan bahwa perkembangan teknologi selalu diikuti perubahan norma sosial. Di tengah budaya komunikasi instan, masyarakat digital dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam menjaga etika komunikasi dan menghormati ruang personal setiap individu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)