Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Selasa 26 Mei 2026, 07:40 WIB
Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)

Perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah cara manusia berinteraksi. Kehadiran aplikasi pesan instan membuat komunikasi berlangsung lebih cepat, praktis, dan tanpa batas ruang. Di balik kemudahan tersebut, muncul perubahan perilaku dalam komunikasi digital, salah satunya kebiasaan mematikan fitur centang biru atau read receipts pada WhatsApp.

Fitur centang biru dirancang sebagai penanda bahwa pesan telah dibaca oleh penerima. Namun, dalam praktiknya, fitur ini tidak lagi dipahami sekadar sebagai penunjuk teknis. Centang biru sering memunculkan ekspektasi sosial bahwa seseorang perlu segera memberikan respons setelah membaca pesan. Menurut Nasrullah dalam bukunya Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi (2020), perkembangan media digital telah membentuk pola interaksi sosial baru yang memengaruhi cara masyarakat membangun komunikasi sehari-hari.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa teknologi komunikasi tidak hanya mempermudah pertukaran informasi, tetapi juga membentuk norma dan etika baru dalam kehidupan sosial masyarakat digital.

Perubahan Budaya Respons dalam Komunikasi Digital

Komunikasi digital saat ini identik dengan kecepatan. Pesan yang dikirim melalui aplikasi percakapan sering diharapkan memperoleh balasan dalam waktu singkat. Kondisi ini secara perlahan membentuk budaya respons instan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam situasi tersebut, centang biru kerap dimaknai sebagai bentuk perhatian atau penghargaan terhadap lawan bicara. Sebaliknya, keterlambatan membalas pesan setelah pesan terbaca dapat memunculkan berbagai asumsi, meskipun belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Karena itu, sebagian pengguna memilih mematikan centang biru untuk mengatur ritme komunikasi pribadi. Mereka ingin memiliki ruang untuk membaca pesan tanpa tekanan untuk segera merespons. Fenomena ini memperlihatkan adanya kebutuhan menjaga keseimbangan antara keterhubungan digital dan ruang personal.

Littlejohn dan Foss dalam Theories of Human Communication (2011) menjelaskan bahwa komunikasi bukan hanya proses penyampaian pesan, tetapi juga proses pembentukan makna sosial dalam hubungan antarmanusia. Dalam komunikasi digital, makna tersebut sering dipengaruhi oleh simbol-simbol teknologi, termasuk tanda pesan telah dibaca.

Fitur Centang Biru antara Privasi dan Kenyamanan Pengguna

Di era digital, privasi tidak lagi hanya berkaitan dengan perlindungan data pribadi, tetapi juga mencakup hak individu dalam mengatur keterlibatan di ruang komunikasi daring. Dalam konteks ini, mematikan centang biru dapat dipahami sebagai upaya menjaga kenyamanan komunikasi.

Sebagian pengguna memilih menonaktifkan fitur tersebut untuk mengurangi tekanan akibat tuntutan respons cepat. Selain itu, ada pula yang merasa lebih nyaman ketika memiliki waktu untuk memahami isi pesan sebelum memberikan jawaban yang tepat.

Kajian komunikasi digital menunjukkan bahwa keterlambatan respons maupun tanda pesan telah dibaca sering kali memiliki makna sosial tertentu dalam interaksi daring. Interpretasi tersebut dapat berbeda-beda bergantung pada individu dan situasi komunikasi. Nasrullah (2017) menyebutkan bahwa media digital membentuk budaya baru dalam interaksi masyarakat, termasuk dalam membangun ekspektasi komunikasi.

Meski demikian, penggunaan fitur privasi tetap perlu memperhatikan konteks komunikasi. Dalam lingkungan akademik, pekerjaan, maupun organisasi, kejelasan dan kepastian komunikasi tetap menjadi unsur penting agar proses koordinasi berjalan efektif.

Dengan demikian, fenomena mematikan centang biru tidak seharusnya dipandang sebagai tindakan yang benar atau salah, melainkan sebagai bagian dari perubahan budaya komunikasi di era digital.

Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)
Blokir WhatsApp. Satu klik sederhana, dan seluruh akses komunikasi pun ditutup. (Sumber: Pexels/Image Hunter)

Respons di Grup WhatsApp sebagai Tanda Pesan Diterima

Perubahan etika komunikasi digital juga terlihat pada kebiasaan memberi respons terhadap pesan di grup WhatsApp. Dalam banyak grup organisasi, pekerjaan, akademik, maupun komunitas, respons sederhana seperti “baik”, “siap”, emoji, atau tanda jempol sering dipahami sebagai bentuk konfirmasi bahwa informasi telah diterima dan dipahami.

Kebiasaan tersebut muncul karena komunikasi grup melibatkan banyak anggota sekaligus, sehingga pengirim pesan memerlukan kepastian bahwa informasi penting telah diketahui oleh peserta grup. Dalam konteks tertentu, respons singkat menjadi bagian dari etika komunikasi digital karena mencerminkan perhatian terhadap informasi yang disampaikan.

Namun, dinamika komunikasi grup tidak selalu berjalan seragam. Tidak semua anggota memiliki tingkat aktivitas, waktu luang, maupun kebutuhan respons yang sama. Sebagian orang juga merasa bahwa tuntutan untuk selalu memberi tanggapan dapat menimbulkan kelelahan komunikasi, terutama ketika intensitas pesan grup cukup tinggi.

Hal ini sejalan dengan pandangan Littlejohn dan Foss (2011) bahwa komunikasi modern tidak hanya dipengaruhi isi pesan, tetapi juga dipengaruhi konteks sosial, hubungan antarindividu, dan ekspektasi dalam kelompok komunikasi.

Oleh sebab itu, etika komunikasi di grup digital perlu dibangun secara proporsional. Respons terhadap pesan penting memang dapat membantu efektivitas komunikasi, tetapi tetap perlu mempertimbangkan konteks, urgensi informasi, dan kenyamanan anggota grup.

Etika Komunikasi di Era Pesan Instan

Etika komunikasi digital pada dasarnya bertumpu pada kemampuan menjaga keseimbangan antara hak pribadi dan penghargaan terhadap orang lain. Mematikan centang biru merupakan pilihan yang disediakan oleh aplikasi dan menjadi hak setiap pengguna. Namun, etika komunikasi tetap menuntut adanya tanggung jawab dalam menjaga kualitas interaksi.

Dalam komunikasi personal, respons yang tidak selalu cepat dapat dipahami sebagai bagian dari kebutuhan mengatur waktu dan ruang pribadi. Sementara itu, dalam komunikasi profesional atau akademik, respons yang jelas dan proporsional tetap diperlukan untuk menjaga efektivitas komunikasi.

Karena itu, yang terpenting bukan sekadar mengaktifkan atau mematikan centang biru, melainkan bagaimana pengguna membangun komunikasi yang saling menghargai, terbuka, dan berempati.

Pada akhirnya, fenomena mematikan centang biru menunjukkan bahwa perkembangan teknologi selalu diikuti perubahan norma sosial. Di tengah budaya komunikasi instan, masyarakat digital dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam menjaga etika komunikasi dan menghormati ruang personal setiap individu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)