Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)
Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)

Kuliner legendaris Bandung bukan sekadar sisa-sisa masa lalu, melainkan ruang interaksi di mana narasi sejarah kota diproduksi dan direproduksi setiap harinya.

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya yang menjadi benteng pertahanan identitas lokal Kota Kembang di tengah gempuran modernitas.

6. Es Oyen: Resep Jujur, Ulet, dan Doa

H. Bashar Sudjana membangun Es Oyen sejak 1954 di atas fondasi integritas moral yang luar biasa. Ia adalah penganut sistem dagang tradisional yang penuh kekeluargaan. Sikap Bashar yang menolak sistem waralaba modern menunjukkan keinginan kuat untuk menjaga integritas racikan sirup khasnya. Integritasnya teruji saat ia menolak tawaran menggiurkan senilai Rp3 juta pada tahun 1980-an—sebuah angka fantastis kala itu—hanya untuk menjual resep sirupnya. Baginya, kejujuran dan menjaga resep asli adalah bentuk tanggung jawab kepada pelanggan.

Guna memenuhi tingginya permintaan pelanggan yang mencapai 350 hingga 500 mangkuk setiap harinya, Es Oyen membutuhkan pasokan bahan baku harian dalam jumlah yang fantastis. Setiap hari, dapur produksi mereka mengolah sedikitnya 200 butir kelapa, 1 kuintal alpukat, 30 kg gula sirup, 21 kg sekoteng, 17 kg kolang-kaling, 10 kg nangka, serta didukung oleh 48 kaleng susu dan 5 balok es batu. Kelezatan porsi melimpah ini dapat dinikmati langsung oleh para pencinta kuliner di dua lokasinya, yaitu di Jalan Sukajadi No. 18 dan Jalan Jati No. 57.

7. Kopi Aroma: Integritas Rasa di Tengah Modernitas

Melangkah ke Kopi Aroma di Jln. Banceuy—kawasan Pecinan tua Bandung—adalah perjalanan melintasi waktu. Widyapratama Tanara mempertahankan proses organik yang diwariskan ayahnya, Tan Houw Sian, sejak 1930. Ia masih menggunakan kayu bakar dari pohon karet dan mesin sangrai (roasting) peninggalan era kolonial tahun 1930.

Berpusat di Jalan Banceuy No. 51, kedai kopi legendaris ini terkenal dengan keunikan produknya yang melewati proses pematangan berkala, seperti varian Moka Arabika yang disimpan selama 8 tahun dan Robusta yang disimpan selama 5 tahun sebelum diolah. Di balik keaslian rasanya, bisnis ini memegang teguh filosofi sederhana namun mendalam: "Kopi ya kopi, bagaimana agar bisa bermanfaat." Komitmen tersebut diwujudkan secara nyata dengan menyajikan kopi murni yang sepenuhnya bebas dari tambahan bahan kimia demi menjaga kesehatan para penikmatnya.

Pak Widya, yang juga seorang dosen, memegang teguh filosofi "tidak perlu serakah”. Ia bangun pukul 04.00 setiap pagi untuk menyangrai kopi sendiri, memastikan setiap butir kopi yang sampai ke tangan pelanggan adalah hasil dedikasi, bukan sekadar komoditas massal.

8. Brownies Kukus Amanda: Inovasi yang Lahir dari Cobaan

Brownies Kukus Amanda adalah simbol resiliensi ekonomi warga Bandung. Dimulai tahun 1999 oleh Sumi Wilujeng sebagai bisnis rumahan, usaha ini sempat dihantam musibah kebakaran di kios Margahayu Raya. Keterbatasan tempat di lokasi baru (Jln. Tata Surya) memaksa mereka melakukan pengukusan di halaman depan, yang secara tidak sengaja menciptakan konsep open kitchen. Aroma yang menyebar ke jalanan justru menjadi daya tarik bagi warga.

Namanya adalah akronim menyentuh: "Almarhum Nyai Mana Doa Restu”. Hingga tahun 2010, Amanda telah membuktikan bahwa bisnis keluarga mampu bertransformasi menjadi korporasi besar dengan 20 varian rasa dan merambah pasar internasional hingga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

9. Soes Merdeka: Penjaga Resep Zaman Belanda

Kisah Soes Merdeka adalah narasi tentang transisi kepemilikan dari tangan kolonial ke tangan pribumi tanpa kehilangan esensi rasa. Awalnya milik Meneer J.V. Van Grafhorst, toko ini kini dikelola oleh eks-karyawannya di bawah PT Tirta Ratna. Toko Soes Merdeka yang telah berdiri sejak 31 Mei 1969 ini memiliki lokasi pusat di Jalan Merdeka No. 25-29, Bandung.

Menu soes isi rum tetap menjadi primadona karena mampu memberikan kehangatan di tengah hawa dingin Bandung. Adaptasi terhadap pasar dilakukan melalui diversifikasi produk seperti roti buaya, menunjukkan fleksibilitas perusahaan dalam menyerap budaya Nusantara tanpa meninggalkan standar kualitas Eropa yang menjadi akar sejarahnya.

10. Peuyeum Bandung: Primadona Tradisional yang Eksis

Peuyeum, ikon kuliner khas Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons/Okkisafire)
Peuyeum, ikon kuliner khas Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons/Okkisafire)

"Peuyeum Bandung kamasyhur... pangaosna teu luhur..." Lirik abadi Sambas Mangundikarta ini mengonfirmasi posisi budaya peuyeum. Di tangan perajin tradisional seperti Abah Aceng di Cimenyan, pembuatan peuyeum adalah sebuah proses saintifik-tradisional. Ia menggunakan ragi tapai (Saccharomyces cerevisiae) dan melakukan proses perebusan dua kali (tahap pertama 1,5 jam, tahap kedua 1 jam) untuk memastikan tekstur yang empuk dan manis khas Bandung.

Meski kini dikepung oleh tren kuliner modern, kapasitas produksi Abah Aceng yang mencapai lima ton per hari membuktikan bahwa primadona tradisional ini tetap memiliki tempat di hati masyarakat, dari pasar tradisional hingga supermarket mewah.

11. Warung Kopi Purnama: Waktu yang Berhenti di Alkateri

Berdiri sejak 1923 dengan nama awal Ching Sang She, Warung Kopi Purnama di Jln. Alkateri adalah benteng perlawanan budaya. Lily Johanna, generasi ketiga, dengan tegas menolak mengubah warung bersejarah ini menjadi kafe modern atau menyajikan kopi waralaba global seperti Starbucks. Baginya, Purnama adalah ruang pluralisme di mana pelanggan lintas etnis (Tionghoa dan pribumi) bersatu dalam kesederhanaan.

Bagi para pencinta kuliner yang ingin menikmati suasana pagi, kedai legendaris di Jalan Alkateri No. 22 ini siap menyambut pelanggan mulai pukul 06.30 hingga 17.00 WIB. Tempat ini menawarkan kombinasi menu andalan klasik yang tak pernah gagal memanjakan lidah, yaitu perpaduan mantap antara kopi susu hangat, roti bakar dengan selai srikaya yang manis gurih (resep asli Yong A Tong dari Medan), serta telur rebus sebagai pelengkap sempurna. Aroma legendaris ini menciptakan eksotisme peninggalan zaman dulu yang seolah "dilarang tutup" oleh komunitas pelanggannya.

Kesebelas ikon kuliner ini adalah bukti nyata daya tahan budaya Kota Bandung selama dua abad. Nilai-nilai kejujuran, ketekunan, dan orisinalitas yang mereka pegang teguh adalah harta karun kearifan lokal yang tak ternilai.

Dokumentasi ini, yang lahir di era konvergensi media melalui inisiatif Pikiran Rakyat, merupakan upaya membangun ingatan kolektif agar kita tidak menjadi asing di rumah sendiri. Kuliner legendaris ini bukan sekadar sisa-sisa masa lalu, melainkan fondasi identitas yang harus terus diapresiasi oleh generasi mendatang agar jiwa Bandung tetap hidup dalam setiap cecapan rasa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)