Kuliner legendaris Bandung bukan sekadar sisa-sisa masa lalu, melainkan ruang interaksi di mana narasi sejarah kota diproduksi dan direproduksi setiap harinya.
Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya yang menjadi benteng pertahanan identitas lokal Kota Kembang di tengah gempuran modernitas.
6. Es Oyen: Resep Jujur, Ulet, dan Doa
H. Bashar Sudjana membangun Es Oyen sejak 1954 di atas fondasi integritas moral yang luar biasa. Ia adalah penganut sistem dagang tradisional yang penuh kekeluargaan. Sikap Bashar yang menolak sistem waralaba modern menunjukkan keinginan kuat untuk menjaga integritas racikan sirup khasnya. Integritasnya teruji saat ia menolak tawaran menggiurkan senilai Rp3 juta pada tahun 1980-an—sebuah angka fantastis kala itu—hanya untuk menjual resep sirupnya. Baginya, kejujuran dan menjaga resep asli adalah bentuk tanggung jawab kepada pelanggan.
Guna memenuhi tingginya permintaan pelanggan yang mencapai 350 hingga 500 mangkuk setiap harinya, Es Oyen membutuhkan pasokan bahan baku harian dalam jumlah yang fantastis. Setiap hari, dapur produksi mereka mengolah sedikitnya 200 butir kelapa, 1 kuintal alpukat, 30 kg gula sirup, 21 kg sekoteng, 17 kg kolang-kaling, 10 kg nangka, serta didukung oleh 48 kaleng susu dan 5 balok es batu. Kelezatan porsi melimpah ini dapat dinikmati langsung oleh para pencinta kuliner di dua lokasinya, yaitu di Jalan Sukajadi No. 18 dan Jalan Jati No. 57.
7. Kopi Aroma: Integritas Rasa di Tengah Modernitas
Melangkah ke Kopi Aroma di Jln. Banceuy—kawasan Pecinan tua Bandung—adalah perjalanan melintasi waktu. Widyapratama Tanara mempertahankan proses organik yang diwariskan ayahnya, Tan Houw Sian, sejak 1930. Ia masih menggunakan kayu bakar dari pohon karet dan mesin sangrai (roasting) peninggalan era kolonial tahun 1930.
Berpusat di Jalan Banceuy No. 51, kedai kopi legendaris ini terkenal dengan keunikan produknya yang melewati proses pematangan berkala, seperti varian Moka Arabika yang disimpan selama 8 tahun dan Robusta yang disimpan selama 5 tahun sebelum diolah. Di balik keaslian rasanya, bisnis ini memegang teguh filosofi sederhana namun mendalam: "Kopi ya kopi, bagaimana agar bisa bermanfaat." Komitmen tersebut diwujudkan secara nyata dengan menyajikan kopi murni yang sepenuhnya bebas dari tambahan bahan kimia demi menjaga kesehatan para penikmatnya.
Pak Widya, yang juga seorang dosen, memegang teguh filosofi "tidak perlu serakah”. Ia bangun pukul 04.00 setiap pagi untuk menyangrai kopi sendiri, memastikan setiap butir kopi yang sampai ke tangan pelanggan adalah hasil dedikasi, bukan sekadar komoditas massal.
8. Brownies Kukus Amanda: Inovasi yang Lahir dari Cobaan
Brownies Kukus Amanda adalah simbol resiliensi ekonomi warga Bandung. Dimulai tahun 1999 oleh Sumi Wilujeng sebagai bisnis rumahan, usaha ini sempat dihantam musibah kebakaran di kios Margahayu Raya. Keterbatasan tempat di lokasi baru (Jln. Tata Surya) memaksa mereka melakukan pengukusan di halaman depan, yang secara tidak sengaja menciptakan konsep open kitchen. Aroma yang menyebar ke jalanan justru menjadi daya tarik bagi warga.
Namanya adalah akronim menyentuh: "Almarhum Nyai Mana Doa Restu”. Hingga tahun 2010, Amanda telah membuktikan bahwa bisnis keluarga mampu bertransformasi menjadi korporasi besar dengan 20 varian rasa dan merambah pasar internasional hingga Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
9. Soes Merdeka: Penjaga Resep Zaman Belanda
Kisah Soes Merdeka adalah narasi tentang transisi kepemilikan dari tangan kolonial ke tangan pribumi tanpa kehilangan esensi rasa. Awalnya milik Meneer J.V. Van Grafhorst, toko ini kini dikelola oleh eks-karyawannya di bawah PT Tirta Ratna. Toko Soes Merdeka yang telah berdiri sejak 31 Mei 1969 ini memiliki lokasi pusat di Jalan Merdeka No. 25-29, Bandung.
Menu soes isi rum tetap menjadi primadona karena mampu memberikan kehangatan di tengah hawa dingin Bandung. Adaptasi terhadap pasar dilakukan melalui diversifikasi produk seperti roti buaya, menunjukkan fleksibilitas perusahaan dalam menyerap budaya Nusantara tanpa meninggalkan standar kualitas Eropa yang menjadi akar sejarahnya.
10. Peuyeum Bandung: Primadona Tradisional yang Eksis

"Peuyeum Bandung kamasyhur... pangaosna teu luhur..." Lirik abadi Sambas Mangundikarta ini mengonfirmasi posisi budaya peuyeum. Di tangan perajin tradisional seperti Abah Aceng di Cimenyan, pembuatan peuyeum adalah sebuah proses saintifik-tradisional. Ia menggunakan ragi tapai (Saccharomyces cerevisiae) dan melakukan proses perebusan dua kali (tahap pertama 1,5 jam, tahap kedua 1 jam) untuk memastikan tekstur yang empuk dan manis khas Bandung.
Meski kini dikepung oleh tren kuliner modern, kapasitas produksi Abah Aceng yang mencapai lima ton per hari membuktikan bahwa primadona tradisional ini tetap memiliki tempat di hati masyarakat, dari pasar tradisional hingga supermarket mewah.
11. Warung Kopi Purnama: Waktu yang Berhenti di Alkateri
Berdiri sejak 1923 dengan nama awal Ching Sang She, Warung Kopi Purnama di Jln. Alkateri adalah benteng perlawanan budaya. Lily Johanna, generasi ketiga, dengan tegas menolak mengubah warung bersejarah ini menjadi kafe modern atau menyajikan kopi waralaba global seperti Starbucks. Baginya, Purnama adalah ruang pluralisme di mana pelanggan lintas etnis (Tionghoa dan pribumi) bersatu dalam kesederhanaan.
Bagi para pencinta kuliner yang ingin menikmati suasana pagi, kedai legendaris di Jalan Alkateri No. 22 ini siap menyambut pelanggan mulai pukul 06.30 hingga 17.00 WIB. Tempat ini menawarkan kombinasi menu andalan klasik yang tak pernah gagal memanjakan lidah, yaitu perpaduan mantap antara kopi susu hangat, roti bakar dengan selai srikaya yang manis gurih (resep asli Yong A Tong dari Medan), serta telur rebus sebagai pelengkap sempurna. Aroma legendaris ini menciptakan eksotisme peninggalan zaman dulu yang seolah "dilarang tutup" oleh komunitas pelanggannya.

Kesebelas ikon kuliner ini adalah bukti nyata daya tahan budaya Kota Bandung selama dua abad. Nilai-nilai kejujuran, ketekunan, dan orisinalitas yang mereka pegang teguh adalah harta karun kearifan lokal yang tak ternilai.
Dokumentasi ini, yang lahir di era konvergensi media melalui inisiatif Pikiran Rakyat, merupakan upaya membangun ingatan kolektif agar kita tidak menjadi asing di rumah sendiri. Kuliner legendaris ini bukan sekadar sisa-sisa masa lalu, melainkan fondasi identitas yang harus terus diapresiasi oleh generasi mendatang agar jiwa Bandung tetap hidup dalam setiap cecapan rasa. (*)