Menelusuri Jejak Rasa (Bagian I): Manifesto Budaya di Balik 11 Kuliner Legendaris Bandung

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Cireng Cipaganti. (Sumber: Cireng Cipaganti)
Cireng Cipaganti. (Sumber: Cireng Cipaganti)

Penerbitan buku "Ieu Bandung, Lur! 200 Ikon Bandung" oleh Pikiran Rakyat pada tahun 2010 bukan sekadar proyek dokumentasi jurnalistik biasa, melainkan sebuah manifesto budaya di tengah perayaan Hari Jadi ke-200 Kota Bandung. Dalam konteks sejarah, buku ini hadir sebagai refleksi atas pergulatan hebat Bandung melawan arus modernitas yang mengancam sisa-sisa bangunan kolonial serta identitas lokalnya. Sementara dari aspek gastronomi, kurasi 11 destinasi kuliner di dalamnya merupakan upaya "melawan lupa" terhadap agresi waralaba global yang mulai menyeragamkan selera warga.

Dalam kacamata sosiokultural, kuliner menempati pilar fundamental karena berfungsi sebagai penjaga memori kolektif. Tempat-tempat ini bukan sekadar unit bisnis yang mengejar profit, melainkan ruang interaksi di mana narasi sejarah kota diproduksi dan direproduksi setiap harinya. Strategi "glokalisasi" (glocalization) yang diusung tim penulis—yakni memperkuat identitas lokal agar tetap relevan di panggung dunia—menjadi kunci agar warga tidak merasa asing dengan kotanya sendiri.

Berikut adalah bagian pertama dari penelusuran jejak-jejak rasa yang telah mendefinisikan jati diri Uráng Bandung selama dua abad terakhir.

1. Es Cendol Elizabeth: Manis Persahabatan Berbuah Sukses

Es Cendol Elizabeth, kuliner legendaris Bandung sejak 1970-an. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Es Cendol Elizabeth, kuliner legendaris Bandung sejak 1970-an. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)

Dalam peta minuman tradisional, Es Cendol Elizabeth adalah simbol dekonstruksi kelas. Minuman rakyat yang biasa ditemukan di kaki lima ini berhasil menembus barikade sosial hingga tersaji di meja-meja elite. Sejarahnya dimulai dari ketekunan H. Rohman yang mulai berjualan cendol keliling tahun 1979 dengan rute Tegalega hingga ITB. Titik baliknya adalah persahabatan tulus dengan Ibu Eli, pemilik Toko Tas Elizabeth. Rohman sering membantu membersihkan toko tanpa pamrih, hingga akhirnya diizinkan mangkal di depan toko tersebut.

Keberhasilan ini didorong oleh "branding yang tidak sengaja"—nama "Elizabeth" diberikan oleh pelanggan toko tas yang sering membeli cendolnya. Berlokasi di Jalan Inhoftank No. 64, es cendol legendaris ini dibangun di atas filosofi kemandirian dan komitmen untuk terus menjaga tali silaturahmi.

Meski pendidikan formal sang perintis terhenti di kelas 2 SD, keahlian meracik cendol yang didapatkan secara murni dari warisan keluarga (paman) terbukti menghasilkan kualitas yang luar biasa konsisten. Keistimewaan rasa inilah yang membawa jenama ini melangkah jauh, hingga dipercaya hadir menyuguhkan hidangan di momen-momen penting tokoh nasional, seperti acara mantan Kapolri M. Sanusi hingga prosesi siraman Tommy Soeharto.

2. Lotek Edja: Konsistensi Rasa Melintasi Generasi

Lotek sering dianggap makanan rakyat biasa, namun di tangan Edja, hidangan ini naik kelas berkat konsistensi rasa yang presisi. Berawal dari Jln. Pasundan Gg. Asmita, ilmu meracik bumbu diturunkan kepada anak angkatnya, Nana Nani. Saat ini, usaha dikelola oleh generasi ketiga, Cucu.

Kini berlokasi di Jalan Pasundan (dekat area Fast Food Merdeka), Lotek Edja menyimpan cerita perjalanan yang menarik. Kelezatan racikannya yang legendaris sempat membawa kuliner khas ini mengepakkan sayap hingga membuka cabang di Mempawah, Kalimantan Barat. Namun, setelah melanglang buana, Lotek Edja akhirnya memilih untuk kembali pulang dan fokus merawat akar sejarahnya di tanah Bandung.

Rahasia utama Lotek Edja terletak pada komposisi bumbunya yang selalu "pas"—sebuah takaran yang tetap dipertahankan dan tidak berubah meski zaman berganti. Namun, Cucu mengakui bahwa jalur ini mulai sepi peminat di kalangan internal keluarga; anak-anak keturunan Edja kini lebih memilih jalur bisnis lain atau menjadi karyawan kantoran. Ini mencerminkan pudarnya minat generasi muda pada kuliner tradisional yang menuntut ketahanan fisik luar biasa dalam pengolahannya.

3. Bubur Ayam PR: Identitas di Balik Nama Besar

Bubur Ayam PR adalah contoh nyata bagaimana "aura" lokasi asli tidak bisa dipindahkan. Didirikan oleh Mikro pada tahun 1982 dan dilanjutkan oleh anaknya, Ondi, nama "PR" merujuk pada kantor Pikiran Rakyat di Jln. Asia Afrika. Meski tidak ada hubungan bisnis resmi, nama PR telah menjadi aset branding yang melekat kuat di benak pelanggan luar kota. Upaya membuka cabang di kawasan Japati sempat dilakukan, namun gagal karena animo pembeli tidak sekuat di lokasi aslinya—sebuah bukti bahwa pengalaman menyantap Bubur PR adalah paket lengkap antara rasa dan atmosfer pusat kota.

Bertempat di Jalan Asia Afrika 77, tepat di depan kantor Pikiran Rakyat, kuliner malam ini menjadi salah satu primadona yang selalu diburu pelanggan. Jika dulu gerobak ini hanya beroperasi singkat dari jam 19.00 hingga 22.00 karena dagangannya langsung ludes dalam waktu 3 jam, kini jam operasionalnya telah diperpanjang hingga pukul 02.30 dini hari demi mengakomodasi para pencinta kuliner malam. Tingginya antusiasme pembeli terlihat jelas pada malam Minggu, di mana tempat ini mampu menghabiskan hingga 7 liter beras untuk memenuhi permintaan yang melonjak.

4. Cireng Cipaganti: Dari Pinggir Jalan ke Gerai Pesta

Sejak 1990, Cireng Cipaganti, si kudapan sederhana berbahan tepung tapioka ini telah menjelma menjadi sajian legendaris Kota Bandung. (Sumber: Cireng Cipaganti)
Sejak 1990, Cireng Cipaganti, si kudapan sederhana berbahan tepung tapioka ini telah menjelma menjadi sajian legendaris Kota Bandung. (Sumber: Cireng Cipaganti)

Kisah Praemi Sanggiani (Iyan) bersama mendiang suaminya, alm. Dodi Purwadi, adalah manifesto tentang mobilitas vertikal melalui kuliner. Memulai usaha sebagai guru honorer dengan upah hanya Rp80.000 per bulan pada tahun 1990, Iyan berhasil membawa aci-acian—makanan yang dulu dianggap marginal—naik kasta. Momen puncaknya adalah saat cireng buatannya disajikan di sebuah pesta pernikahan mewah di Bandung Utara, bersanding dengan hidangan internasional.

Keunggulan teknisnya terletak pada penggunaan tangan manual dalam mengaduk adonan (bukan mixer) dan bumbu kacang tumbuk yang mengeluarkan minyak alami, menjaga tekstur tetap kenyal meski dingin. Berlokasi di depan Kantor Pos Cipaganti, kuliner legendaris ini sukses memikat pelanggan lewat inovasi menu yang variatif, mulai dari isian kacang, keju, abon, hingga kornet.

Di balik kelezatan menunya, bisnis ini dipayungi oleh komitmen kuat dalam memegang teguh filosofi "berakit-rakit ke hulu". Atas dasar prinsip tersebut, sang pemilik dengan konsisten menolak godaan sistem waralaba (franchise) demi mempertahankan kontrol kualitas produk yang autentik di tangan sendiri.

5. Ceu Mar: Magnet Interaksi dan Simbol Pergaulan

Di pusat hiruk-pikuk malam Bandung, Ceu Mar berdiri sebagai "ruang ketiga" bagi warga. Warung ini bukan sekadar tempat makan, melainkan pusat interaksi sosiokultural di mana musisi indie hingga pengusaha kelas atas duduk bersama di atas bangku plastik. Daya tarik utamanya adalah keramahan khas Sunda melalui sapaan "kasep" (tampan) dan "geulis" (cantik) yang menciptakan kedekatan emosional.

Menyajikan menu makanan rumah (prasmanan) yang sederhana, Ceu Mar telah bertransformasi menjadi simbol pergaulan. Bahkan muncul mitos urban bahwa anak muda Bandung belum dianggap "gaul" sepenuhnya jika belum pernah menghabiskan malam di warung ini. Warung Nasi Ceu Mar beralamat di Jln. Terusan ABC No. 21, Bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)