Saya pada awalnya menghadapi kesulitan, kegamangan katakanlah, ketika akan memulai mengulas, mereview, atau meresensi novel Anwar Tohari Mencari Mati karangan Mahfud Ikhwan ini. Bagaimana tidak, Anwar Tohari Mencari Mati merupakan sekuel dari Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu yang belum saya baca. Saya waktu itu berasumsi, bahwa tanpa membaca Dawuk, saya tidak mungkin bisa meresensi Anwar Tohari Mencari Mati, karena bagaimanapun juga, Anwar Tohari dan Dawuk memiliki keterkaitan dan keterikatan yang sangat kuat.
Namun pada akhirnya kegamangan itu sedikit demi sedikit rogol, alasannya
1. Anwar Tohari Mencari Mati dapat berdiri sendiri, ia memiliki ceritanya sendiri, meskipun memang tidak bisa begitu saja dipisahkan dari Dawuk.
2. Anwar Tohari Mencari Mati. Mendapatkan penghargaan Anugerah Sutasoma salah satu penghargaan bergengsi di Jawa Timur untuk kategori karya sastra berbahasa Indonesia terbaik dan ini tidak bisa tidak menjadi kesempatan bagi saya untuk melakukan pembacaan
3. Selama 7 tahun kenal di FB saya sama sekali tidak pernah meresensi bukunya Mahfud Ikhwan, saya kenal Mahfud (dan nanti akhirnya saya benar-benar mengenal dan bertemu dengannya di Yogya, karena saya terpilih mendapatkan beasiswa Narasi Writing Program yang mentornya adalah beliau) saat Kambing & Hujan memenangkan Lomba DKJ 2014. Lalu kemudian ia memperkenalkan Ulid, novel pertamanya yang proses kelahirannya berdarah-darah dan bernasib ngenas karena jarang orang yang membicarakannya pun tidak terlalu laku (sekarang tentu saja beda cerita). Lalu kemudian saya mencari Dawuk berkeliling Gramedia di Purwokerto nihil, lalu kemudian memesannya kepada penulisnya langsung dan sang penulis kehabisan stok, dan pada akhirnya Anwar Tohari Mencari Mati yang baru dapat saya beli dan saya baca (untuk kemudian akhirnya saya membaca Dawuk dengan cara meminjam kepada seorang kawan, tentu saja hal itu harus saya lakukan untuk menghapuskan segala kegamangan hati saya guna mengulas Anwar Tohari Mencari Mati ini, dan bertahun-tahun kemudian saya berhasil membeli Dawuk dengan cover bergaya vintage seorang pendekar yang tengah membopong mayat istrinya)
Anwar Tohari Mencari Mati secara keseluruhan menceritakan tentang sisi lain Warto Kemplung seorang ahli membual dan Blandong tua serabutan yang sering mangkal di Warung Bu Siti di Rumbuk Randu. Oke, untuk mempermudahnya cobalah kalian bayangkan seorang lelaki berumur lewat setengah abad menyebalkan, dengan kumis dan janggut kelabu tak terawat, dan sarung kumal melilit lehernya, dan sandal swallow buluk yang dikenakannya. Ia seringkali ikut ngendong nunut kopi dan rokok dari para pelanggan lain di warung kopi. Ia seringkali dipandang sebelah mata, karena tukang utang dan pembual ulung, bahkan pelayanan kepadanya sedikit berbeda. Pelanggan yang lain disajikan kopi dengan cara sebagaimana biasanya, umumnya seorang pelanggna. Sedangkan sajian kopi untuk Warto, airnya dimasak setengah matang dan kopi disajikan di depannya dengan cara setengah dilempar. Warto piawai bercerita dan membual, dan dari situlah ia mendapatkan kopi dan rokok gratis dari para pendengarnya, itulah kira-kira gambaran Warto Kemplung, atau Warto si Ahli Membual, atau Anwar Tohari.
Di novel Dawuk:Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu Warto menjadi seorang pencerita yang tak terlalu jelas asal usulnya, di sana ia berbusa-busa menceritakan tentang kisah Hidup Mat Dawuk, tapi di Anwar Tohari Mencari Mati Warto benar-benar menjadi tokoh utamanya.
Diawali dengan sebuah pagi di warung Kopi, di mana Warto Kemplung sang ahli membual dan sukanya nunut kopi & rokok gratisan melanjutkan kembali bualannya yang sempat tertunda di depan khalayak. Lalu kemudian datang seorang Wartawan yang bernama Mustofa Abdul Wahab, yang mencoleng bualan Warto menjadi Cerbung Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu lalu dimuatnya di Koran tak terkenal di tempat ia bekerja. Mustofa memberikan sebundel kertas kepada Warto yang merupakan kumpulan surat pembaca dari seseorang yang mengaku mengenal Warto luar dalam. Imam Widjaya.
Imam Widjaya seorang Tionghoa yang memiliki usaha percetakan indie yang juga begitu mencintai Geguritan Jawa dan Sastra Indonesia, ia juga adalah seorang pengliping payah yang ingin menyamai HB Jassin. Dalam surat pembaca itu Imam Widjaya mengapresiasi Cerbung Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu yang ditulis oleh Mustofa, tapi ia juga mengkritik bahwa tokoh utama di dalam cerita itu seharusnya bukan Dawuk si buruk rupa, tapi Warto Kemplung. Ia kemudian menceritakan tentang seluk beluk Warto yang ia duga adalah Anwar Tohari, sahabat karibnya yang paling ingin ia temui.
Jadi sederhananya Anwar Tohari Mencari Mati merupakan sekuel Dawuk yang menceritakan tentang sisi lain Warto Kemplung atau Anwar Tohari, melalui surat pembaca yang dikirim oleh Imam Widjaya kepada Mustofa. Menceritakan masa lalu dan sisi lain dari sang pembual Warto Kemplung kita alias Anwar Tohari, sampai sini jelas?
Jujur saja saya menyelesaikan membaca novel ini dalam waktu sekali duduk dan tiduran (dijeda untuk salat, makan, dan buang hajat) entah ini disebut prestasi seorang pengangguran atau kurang kerjaan, tapi memang begitu adanya, buku-buku yang menarik minat saya biasanya saya habiskan dengan cepat .
Di awal-awal pembacaan kita akan disuguhi oleh humor ala Mahfud, saya tak bisa tidak tertawa dan cengengesan sendiri membaca celotehan dari narator dan tokoh-tokoh di dalamnya. Saya agak susah menjelaskan bagian humor ini, bagaimana seorang narator atau seorang tokoh bercerita tanpa terlihat ingin melucu tapi ternyata lucu. Ini saya kira sebuah teknik atau ciri khas cerita-cerita Mahfud. Di dalamnya kita juga akan diberikan semacam pandangan dan pengetahuan lain terkait Khasanah Kesusasasteraan Indonesia, dangdut, dan musik melayu, dua terakhir dianggap sebagai hiburan rendah, tapi di novel ini ia mendapatkan tempat terhormat. Jadi mungkin novel ini seperti kata-kata Penyair Romawi Horace yang sering dikutip itu, dulce et utile. Novel ini tidak hanya menyenangkan tapi juga berfaedah.
Kalian yang sudah membaca Dawuk akan tercengang mengetahui siapa Warto Kemplung ini sebenarnya di Anwar Tohari Mencari Mati. Dari masa lalunya yang kelam, kisah-kisah sedih patah hatinya karena gurunya Dulawi, kisah persahabatannya dengan Imam Widjaya, kisah manis pedihnya bersama Maria Ratna Dacosta, pertarungan hidup matinya melawan Hanggono (adik Sinder Harjo) seorang Petrus yang menembak kawan-kawan Warto yang tak berdosa. Bahkan Imam Widjaja, satu-satunya saksi dalam pertarungan itu merasa tak bisa menjelaskannya, atau menceritakan ulang dengan sebaik-baiknya bagaimana pertarungan silat modern dibalut dengan semangat kanuragan dan Ilmu kebal serta jurus-jurus pencak tradisional.
Anwar Tohari atau Warto Kemplung yang di desanya dianggap sebelah mata, seorang pembual, orang tua menyebalkan, tukang utang, perantau gagal, tukang kibul peminta rokok dan kopi. Ternyata ia memiliki sisi lain yang tak terduga. Benar-benar tak terduga dan mencengangkan.
Dan di akhir cerita, kita akan diperlihatkan kelanjutan dari peristiwa-peristiwa yang sempat disinggung di Dawuk, seperti bagaimana nasib Imamudin, ayah Inayatun yang hilang, perasaan Warto yang sesungguhnya terhadap gurunya Dulawi, dll.

Saya yakin pasti di tempat kalian ada orang-orang semacam Warto Kemplung ini, tak dianggap penting, orang terbuang, sering dilecehkan sebagai seorang pembual, tukang utang, suka nunut kopi dan rokok, tapi memiliki sisi lain yang tak terduga. Jadi ketika membaca Anwar Tohari Mencari Mati ini, pandangan saya terhadap orang-orang semacam itu berubah "Jangan-jangan dia sedang menyamar, jangan-jangan dia bukan orang sembarangan" jadi akhirnya saya secara tidak langsung disadarkan jangan melihat seseorang hanya dari penampilannya saja. Tapi lihat juga apakah dia suka nunut kopi dan rokok gratisan.
Saya merekomendasikan kalian untuk membaca novel ini, novel yang sama sekali tidak membosankan saat dibaca ulang, syukur-syukur kalian bisa membaca Dawuk juga untuk melengkapi semesta pembacaan kalian terkait novel Anwar Tohari Mencari Mati, supaya tidak ada kegamangan seperti yang saya alami ketika ingin menuliskan kembali pembacaan saya sendiri.
Saya berharap Cak Mahfud melanjutkan ceritanya, tentang Andi Peyang yang ingin menuntut balas kepada Mat Dawuk atau membuat semacam Tetralogi Rumbuk Randu (biar seperti Tetralogi Bumi Manusia-nya Pram) karena masih banyak misteri tokoh-tokohnya yang perlu digali seperti Mat Modar, Dulawi, Nurkalil, dan tentu saja Bu Siti si pemilik warung kopi.
Untuk menutup tulisan ini saya ingin mengutip kata-kata Warto atau Anwar Tohari saat ia akan menyelamatkan Mustofa yang diculik dan menghadapi Hendro Siswanto si Dosen gila dan Kritikus Sastra yang memiliki dendam kesumat kepada Warto kita, Salim Said kita.
"Kau kira semua cerita adalah karangan belaka, heh? Sehingga kau bahkan tak percaya dengan cerita yang kau tulis sendiri" (Anwar Tohari Mencari Mati, 2021 : 176)
Tabik. (*)
Info buku:
Judul: Anwar Tohari Mencari Mati
Pengarang: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun terbit: Februari 2021
Cetakan & ketebalan: cetakan pertama, Vi + 207 hlm.