Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)

Eksklusivitas bermedia sudah tidak relevan lagi di era digital, bermedia digital sudah dimiliki oleh masyarakat yang berusaha untuk menciptakan produk digitalnya dikenal oleh masyarakat lainnya. Bahkan tidak ada lagi batasan dalam memproduksi media audio digital.

Bahkan di era yang tidak terbatas inilah setiap orang berhak dan memiliki akses dalam menggunakan audio digital untuk platform yang sudah tersedia dan gratis.

Kemudahan dan kepraktisan dalam bermedia audio digital inilah sebagai peluang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memaksimalkannya menjadi peluang profit atau non profit.

Terlebih masyarakat menginginkan untuk mendapatkan produk audio digital yang diminati dan bisa viral. Meskipun bagaikan dua sisi mata uang. Jika digunakan untuk hal positif maka akan menjadi baik, namun jika digunakan hal negatif maka akan menjadi buruk.

Maka dari itu diperlukan informasi terlebih dahulu sebelum menggunakan audio digital. Jika menelisik pada sejarahnya, audio digital ini berawal dari istilah podcast yang berasal dari gabungan dua kata iPod (pemutar media digital buatan Apple) dan broadcast (siaran) dan disingkat menjadi podcast.

Istilah podcast ini pertama kali dicetak oleh jurnalis The Guardian, Ben Hammersley, pada tahun 2004. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka podcast beralih menjadi format audio visual sehingga berganti menjadi video podcast.

Mengutip dari berbagai sumber menyebutkan Steve Lee, pendiri Modern Life Network, sebagai sosok yang menciptakan peringatan tersebut untuk mempromosikan podcasting sebagai media hiburan dan pendidikan.

Etika Podcast

Teknologi menjadikan podcast mudah dinikmati dan dimanfaatkan oleh masyarakat dari pelbagai kalangan. Mulai dari perusahaan media, masyarakat, instansi pemerintah, komunitas, dan kreator.

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Juga wajar kiranya kita merasa bahwa podcast sudah bukan sesuatu yang eksklusif dan tentunya kita menganggap bahwa dari podcast inilah suara atau aspirasi menjadi ruang yang dapat dijadikan tolok ukur dalam situasi dan kondisi terkini, utamanya di Indonesia.

Menilik pula dari platform yang sudah tersedia seperti YouTube dan Spotify, dua platform ini menjadi penanda bahwa masyarakat mampu mengangkat tema umum hingga spesifik dan menjadi rujukan masyarakat lainnya dalam memandang kembali kebutuhan dan keinginan yang terpenting.

Kreator misalnya, di YouTube dapat membuka saluran siniarnya dengan menggunakan metode yang sesuai dengan hiruk pikuknya keadaan, tema ringan tentang kehidupan, hobi, dan ilmu dari multidisiplin yang bisa didengarkan oleh masyarakat, bahkan penontonnya bisa membludak sampai jutaan audiens.

Bahkan dengan modal apa adanya ajakan membuat podcast bisa diwujudkan. Lantas menjadi pertanyaan, jika semua podcast diproduksi dalam sehari, bagaimana kita mereduksinya? Benarkah informasi yang dihimpun dalam podcast menjadi rujukan masyarakat?

Perdebatan bisa dimunculkan. Maka kita letakkan pada satu hal yang berhubungan dengan etika. Etika inilah yang menjadikan podcast bisa membatasi bagi pendengarnya.

Dari etika ini pula, kita bisa mengunjungi podcast yang relevan dan tidak berlebihan. Sebab podcast belum ada aturannya, podcast yang telah diproduksi sebagai hiburan dan informasi memang perlu dilakukan pengecekan terlebih dahulu sebelum tayang publik. Filter lebih baik. Hadirnya editor sangat penting yang bertanggung jawab menjaga stabilitas podcast, audiens akan senang jika mendapatkan hasil podcast yang mendidik dan memberikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat.

Podcast Tanpa Manusia

Podcast tanpa manusia yang diganti sepenuhnya oleh akal imitasi adalah fenomena saat suara host, narasumber, naskah, hingga proses edit dibuat secara otomatis oleh kecerdasan buatan.

Hal tersebut tidak dapat ditawar kembali, perkembangan akal imitasi yang sangat masif akan membuat manusia tidak bisa mengelak dan podcast bisa menggunakan cara yang terbaiknya tanpa ada campur tangan manusia.

Jika kita menggunakan akal imitasi sebagai penggantinya terdapat kelebihan, di antaranya, biaya produksi sangat murah dan cepat, bahkan bisa membuat konten 24 jam tanpa henti, juga mudah diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Namun terdapat kekurangan yang berhubungan dengan manusia, jika menggunakan AI maka kurang memiliki emosi, empati, dan spontanitas yang alami, tidak ada perasaan apapun, bahkan tidak ada pengalaman hidup yang bisa dibagikan secara keseluruhan, paling parahnya berisiko menyebarkan informasi salah jika tanpa pengawasan.

Meskipun AI dapat meniru cara bicara manusia, tetapi sulit menggantikan kedekatan emosional dan interaksi sosial yang asli.

Jika akal imitasi kita gunakan untuk podcast, terdapat beberapa aplikasi yang bisa diulik, yaitu Google NotebookLM, Wondercraft AI, ElevenLabs, Podwist atau SparkPod, dan HeyGen.

Dari aplikasi podcast ini kita memahami bahwa kemudahan bagi kita memroduksi podcast berbantuan akal imitasi. Dengan ada bantuan ini, kita dapat berpikir kritis atau kita menerima saja.

Baca Juga: Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Audiens sendiri yang dapat menilai tindakan kita dalam berpodcast. Jika kita menghindari akal imitasi, maka kita termasuk bagian dari proses bertumbuh yang tidak sekadar untuk podcast berlandas keuntungan, tetapi kita menjaga hubungan emosional dan interaksi sosial kita dengan sesama.

Maka pilihan podcast dengan akal imitasi ini menawarkan kepada kita, maukah kita menerimanya secara cuma-cuma? Di balik itu semua, kita menuju era akal imitasi dan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari.

Dibutuhkan tekad bahwa kita mampu mengendalikan akal imitasi, sebab akal imitasi hanya membantu kita. Dan kitalah yang menjadi pengendali utamanya. Meskipun gagasan ke depannya akan merubah situasi dalam berpodcast, kita berharap konten video atau audio podcast tetaplah menjadi ruang bagi kita memeroleh referensi kehidupan untuk bertumbuh di masa mendatang dengan pengendalinya yang obyektif dan kreatif, dan hanya manusialah yang mampu mengelolanya. Semoga! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muh Husen Arifin
Dosen Aktif di Prodi PGSD UPI Kampus Cibiru

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)