Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)

Mengacu pada gagasan Karlina Supelli (Filsuf Indonesia), bahwa menempatkan membaca dalam kegiatan literasi adalah sebagai latihan intelektual yang tidak tergantikan. Membaca buku penting karena kerja otak menjadi tajam ketika otak berdialog.

Literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis. Bahwa aktivitas membaca merupakan proses dialog antara manusia dengan gagasan. Karena itu, literasi berkaitan dengan kemampuan berpikir, memahami, mempertanyakan, dan membangun pengetahuan. Ini sejalan dengan pengertian literasi pendidikan sekarang yang mencakup memahami informasi, mengevaluasi sumber, merefleksikan gagasan, dan menggunakannya untuk memecahkan persoalan.

Membaca juga melatih ketajaman berpikir. Bagi generasi muda, kemampuan ini sangat penting karena mereka hidup dalam lingkungan informasi yang sangat deras. Orang yang hanya menerima informasi tanpa mengolahnya mudah menjadi konsumen informasi, sedangkan literasi membuat seseorang mampu berdialog secara kritis dengan informasi tersebut.

Generasi muda membutuhkan literasi untuk menghadapi kompleksitas zaman. Literasi memungkinkan anak muda tidak sekadar mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga bertanya mengapa dan bagaimana. Pada tingkat yang lebih tinggi, literasi menjadi kemampuan mengakses, mengolah, dan mentransformasikan pengetahuan. Badan Bahasa bahkan mengaitkan kecakapan literasi dengan kemampuan memecahkan masalah dan daya saing bangsa.

Secara konseptual, membangun budaya literasi berarti menginvestasikan kemampuan berpikir generasi muda; dan kemampuan berpikir itulah yang kelak menentukan kualitas keputusan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, inovasi, dan kehidupan demokratis suatu bangsa.

Sampai hari ini, masih ada anggapan bahwa literasi sekadar persoalan kemampuan membaca dan menulis. Pandangan tersebut sesungguhnya terlalu sempit. Membaca dan menulis memang merupakan fondasi, tetapi literasi modern jauh melampaui kemampuan mengenali huruf, memahami kalimat, atau menuliskan gagasan.

Literasi adalah kemampuan seseorang untuk memahami informasi, mengolahnya, menganalisis, mengevaluasi, menggunakan pengetahuan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Karena itu, masyarakat yang memiliki tingkat literasi baik bukan hanya masyarakat yang banyak membaca, melainkan masyarakat yang mampu memahami persoalan dan menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan.

Dengan demikian, literasi sebenarnya merupakan infrastruktur intelektual sebuah bangsa. Seseorang dapat membaca sebuah berita tanpa memahami substansinya. Ia dapat membaca sebuah unggahan media sosial tanpa mengetahui sumbernya. Ia bahkan dapat mengutip sebuah data tanpa memahami bagaimana data tersebut diperoleh.

Literasi menuntut proses berpikir. Ketika seorang anak muda membaca informasi tentang ekonomi, misalnya, ia tidak cukup hanya mengetahui angka pertumbuhan ekonomi. Ia perlu bertanya: dari mana angka itu berasal, siapa yang mengumpulkan data, indikator apa yang digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, dan kelompok mana yang mungkin belum terwakili?

Demikian pula ketika berhadapan dengan informasi kesehatan, politik, lingkungan, teknologi, budaya, maupun ekonomi. Literasi mengajarkan manusia untuk tidak segera percaya hanya karena sebuah informasi terlihat meyakinkan. Dengan kata lain, literasi adalah kemampuan untuk memberi jarak antara informasi dan kesimpulan.

Karena itu, persoalan literasi hari ini bukan lagi sekadar: Apakah anak muda membaca? Tetapi juga: Apa yang mereka baca, bagaimana mereka memeriksanya, dan apa yang mereka lakukan setelah memperoleh informasi?

Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Sumber: magnific.com | Foto: tirachardz)
Pengalaman organisasi dapat menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa mengembangkan employability skills sebagai bekal menghadapi dunia profesional. (Sumber: magnific.com | Foto: tirachardz)

Tantangan literasi generasi muda menjadi lebih kompleks karena anak muda sekarang tidak hanya berhadapan dengan buku. Mereka berhadapan dengan banjir informasi.

Dalam satu hari, seseorang dapat menerima ratusan bahkan ribuan potongan informasi. Sebagian benar, sebagian keliru, sebagian kehilangan konteks, dan sebagian sengaja dibuat untuk menarik perhatian. Persoalannya bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi tanpa kemampuan menyaringnya.

Karena itu, pendidikan literasi harus bergerak dari paradigma “reading habit” menuju “critical literacy”. Anak muda tidak cukup didorong untuk rajin membaca. Mereka perlu dilatih mempertanyakan teks, menemukan argumentasi, mengenali bias, memeriksa bukti, membandingkan sumber, dan menyusun kesimpulan berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ada literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, media dan informasi, budaya, kesehatan, hingga berbagai bentuk literasi yang berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Literasi digital, misalnya, tidak sama dengan kemampuan mengoperasikan telepon pintar. Seseorang yang mampu menggunakan berbagai aplikasi belum tentu memiliki literasi digital.

Literasi digital menuntut kemampuan menggunakan teknologi secara percaya diri sekaligus kritis, termasuk mencari, menilai, menyimpan, menghasilkan, dan bertukar informasi serta memecahkan persoalan dengan teknologi digital.

Bangsa yang memiliki generasi muda dengan kemampuan membaca secara kritis akan lebih mudah mengembangkan inovasi. Generasi yang memiliki literasi numerasi dan finansial dapat mengambil keputusan ekonomi dengan lebih rasional. Generasi yang memiliki literasi digital dapat memanfaatkan teknologi tanpa menjadi sekadar konsumen informasi.

Dengan demikian, investasi literasi sebenarnya merupakan investasi jangka panjang terhadap modal manusia. Yang paling penting, literasi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung tinggi, kawasan industri, atau teknologi canggih. Semua itu membutuhkan manusia yang mampu mengelolanya. Infrastruktur tanpa kualitas manusia dapat kehilangan arah.

Karena itu, pembangunan bangsa harus berjalan pada dua jalur sekaligus: membangun infrastruktur fisik dan membangun infrastruktur pengetahuan. Literasi merupakan salah satu fondasi terpenting dari infrastruktur pengetahuan tersebut.

Generasi muda yang literat bukan berarti generasi yang selalu memiliki jawaban. Justru mereka adalah generasi yang mampu mengakui ketika belum mengetahui sesuatu, bersedia mencari bukti, terbuka terhadap koreksi, dan mampu mengubah pandangannya ketika menemukan fakta baru.

Baca Juga: Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Maka investasi bangsa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang mahal. Ia dapat dimulai dari sebuah buku yang dibaca dengan sungguh-sungguh, sebuah informasi yang diperiksa sebelum dibagikan, sebuah data yang dianalisis sebelum disimpulkan, dan sebuah pertanyaan kritis yang tidak takut diajukan. Inilah karakter intelektual yang diperlukan Indonesia untuk menghadapi masa depan.

Sebab bangsa yang menguasai literasi tidak sekadar memiliki generasi yang mampu membaca dunia. Ia memiliki generasi yang mampu memahami, mengkritisi, dan ikut menentukan arah perubahan dunia.

Dan pada akhirnya, investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya berapa banyak gedung yang berhasil dibangun, tetapi berapa banyak manusia yang berhasil dibentuk menjadi pembelajar, pemikir kritis, pencipta pengetahuan, dan warga yang bertanggung jawab.

Itulah sebabnya penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan bukan sebagai program tambahan dalam pembangunan nasional, melainkan sebagai salah satu fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif, dan berdaya tahan menghadapi perubahan zaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Vito Prasetyo
Tentang Vito Prasetyo
Malang

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)