Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)

Membaca sebuah judul di sebuah media: “Benarkah Indonesia Mengalami Darurat Literasi?” Ini tentunya sangat miris dan memprihatinkan. Sejauh itukah kondisi yang kita alami?

Dalam pembuktian kebenaran sebuah fakta, seyogianya ada data pembanding. Sebab, jika kita melihat sebuah terminologi kalimat di atas, menimbulkan persepsi yang prismatik. Penambahan dan peningkatan jumlah kosakata (lema) Bahasa Indonesia, jika mengacu pada induk data (Badan Bahasa), setiap tahun mengalami peningkatan jumlah.

Lantas, bagaimana dengan keberadaan komunitas dan penggiat literasi yang juga terus bertambah, apalagi pemerintah setiap tahun mengucurkan dana apresiasi bagi komunitas dan penggiat literasi. Secara logika, perawatan dan pembinaan di bidang literasi pastinya semakin intens.

Tentu sangat pragmatis, jika kita bicara gerakan-gerakan literasi yang sebetulnya hanya mengadopsi keresahan-keresahan para pegiat dan penulis, di mana konteksnya adalah kumpulan egosentris yang mengatasnamakan gerakan literasi. Ini tidak berarti gerakan literasi mengalami stagnasi.

Cukup sulit, untuk meluruskan pemaknaan utuh dari terminologi literasi. Di mana jika dikupas objek materi literasi, pemaknaan ini sering hanya menjadi diskusi dari mulut ke mulut, tanpa menyentuh akar permasalahannya. Ringkasnya, apakah sebuah kegiatan literasi antara tekstual dan kontekstual bisa menghasilkan nilai sebanding?

Dalam menulis apa pun, tentu kita tidak akan mungkin meninggalkan unsur-unsur literasi. Sebab, secara teoretis penggunaan literasi menggagas bahasa yang baik dan benar. Teksturnya harus sesuai kaidah bahasa. Persoalannya, apakah semua penulis (dalam status formal), dapat menggunakan bahasa kepenulisan secara benar?

Sebagaimana diketahui, bahasa merupakan bukti nyata dari sebuah komunitas dan dapat diterima sebagai alat berinteraksi, serta penyampaian pesan yang berisi maksud dan tujuan antara individu atau sekelompok masyarakat.

Tentu, ini menjadi kebanggaan dan kebahagiaan bagi bangsa kita, ketika Bahasa Indonesia secara resmi diakui UNESCO sebagai salah satu bahasa resmi internasional. Tetapi apakah ini telah membuktikan tingkat literasi kita semakin baik?

Pengembangan bahasa (di dalamnya termasuk literasi) adalah upaya memodernisasi bahasa melalui pemerkayaan kosakata, pemantapan dan pembakuan sistem bahasa, pengembangan laras bahasa, serta mengupayakan peningkatan fungsi Bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.

Ini mengacu pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 57 Tahun 2014 Tentang Pengembangan, Pembinaan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra, serta peningkatan fungsi Bahasa Indonesia. Pada konteks ini, seyogianya kedudukan literasi berbanding lurus dengan perlindungan bahasa.

Masih banyak pendapat yang pro dan kontra, bahwa dalam penulisan hanya memerhatikan kaidah bahasa. Tidak serta merta literasi dan bahasa menjadi satu kesatuan unsur yang saling berkaitan satu sama lainnya. Ada juga anggapan, bahwa dengan menggunakan literasi asing, telah menunjukkan kualitas kepenulisan.

Sementara, pembinaan bahasa adalah upaya meningkatkan mutu penggunaan bahasa (termasuk literasi) melalui pembelajaran bahasa di semua jenis dan jenjang pendidikan serta memasyarakatkan bahasa ke berbagai lapisan masyarakat. Artinya, pada fase ini ada yang harus diperhatikan, yakni: transisi, transformasi dan edukasi.

Menurut data ethnologue pada tahun 2023, setidaknya 24 bahasa daerah di Indonesia tidak lagi memiliki penutur. Diperkirakan akhir abad 21, sekitar 1500 bahasa akan hilang. Dalam 40 tahun kepunahan bahasa akan bertambah 3 kali lipat atau setidaknya 1 bahasa setiap bulan.

Di sini kita seakan bercermin sekaligus melakukan perenungan. Bahwa bergiat dalam dunia literasi, tidak sekedar menulis sebuah naskah. Yang kemudian munculnya komunitas literasi, tetapi tidak sepadan dengan angka penyebab makin punahnya bahasa-bahasa lokal. Sangat penting kita sadari, secara geografis dan kultural, bangsa kita adalah kesatuan bahasa dalam wilayah NKRI.

Bagaimana cara kita merekatkan cermin literasi yang kian retak? Ini bukanlah sebuah hiperbolik dalam konteks sosial yang didramatisir. Maka penggiat literasi harus menyadari bahwa bergiat dalam dunia literasi juga harus memiliki pengabdian. Bagaimana literasi itu tidak hanya menjadi kegiatan untuk menghasilkan sebuah karya tulis.

Dimana-mana, teori kepenulisan bermunculan seperti jamur. Seakan-akan menjadi seorang penulis itu sangat menjanjikan. Bahkan tidak sedikit, kelas-kelas menulis (baik online maupun offline) berani memasang target untuk menjadikan pesertanya sebagai penulis profesional. Sayangnya, kita belum memiliki indikator yang jelas. Kalaupun penulisnya mampu menerbitkan buku, maka acuannya hanya standar ISBN.

Kenapa muncul sebuah pesimisme? Karena banyak penulis yang mencetak buku, tidak memiliki tujuan dalam menulis. Mereka menulis hanya karena ingin disebut sebagai penulis. Buku dianggap sebagai tujuan identifikasi sosial. Buku yang dihasilkan tidak menjangkau pasar pembaca yang berorientasi edukasi (sebagai referensi ilmu dan pengetahuan). Buku hanya salah satu cara untuk memasarkan produk literasi, dari sekian cara yang ada.

Seharusnya buku juga menjadi pilihan bagi pengentasan masyarakat yang buta aksara. Tidak hanya menjadi alasan alat pemuasan bagi penulisnya. Pernahkah kita bayangkan, bahwa secara geografis, Indonesia sangat luas wilayahnya dan begitu marginal. Masih banyak wilayah tertinggal dan terpencil yang belum terjangkau untuk edukasi literasi.

Dari penelusuran geografis, pada suku rimba terjauh di hilir Sungai Makekal, mereka sudah berapa kali berpindah tempat karena masalah zonasi dan perluasan perkebunan kelapa sawit. Seorang pria dari suku tersebut membawa gulungan kertas yang ternyata berisi perjanjian. Tak seorang pun dari mereka yang bisa membaca. Perjanjian itu telah membuat mereka harus pindah dari tanah leluhurnya, dengan ganti rugi yang tidak sepadan.

Narasi ini seakan membuat kita, khususnya para penggiat literasi harus berbuat lebih banyak. Persoalan menulis tidak semata-mata hanya untuk menggugurkan kewajiban sebagai penulis. Masih banyak suku pedalaman yang membutuhkan tangan-tangan penulis untuk melakukan transisi, transformasi dan edukasi dalam literasi.

Apakah ini menunjukkan cermin literasi kita banyak yang retak. Literasi seyogianya harus dilakukan seiring dengan cita-cita bangsa ini. Karena pendidikan adalah modal terbaik untuk melawan ketidakadilan.

Seyogianya antara kegiatan menulis dan merawat bahasa lokal/daerah perlu adanya keseimbangan. Setiap tahun, bahasa daerah kita sedikit demi sedikit mulai tergerus. Harus ada kesadaran dalam kearifan lokal untuk menjaga bahasa kita. Ini yang harus kita waspadai, kehilangan bahasa sama halnya kehilangan budaya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)