Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernisme yang mulai masif.

  • Kekuatan kultural NU di Jawa Barat kian solid berkat dukungan pilar-pilar kiai lokal. Di Cirebon, KH. Abbas Buntet hadir sebagai pusat gravitasi jaringan ulama, sementara KH. Ruhiyat dari Cipasung, Tasikmalaya, menjadi tokoh sentral pendidikan di wilayah Priangan Timur.

  • Sejarah perjalanan NU di Jawa Barat membuktikan bahwa keberhasilan sebuah organisasi massa sangat bergantung pada kemampuannya mengharmonisasikan nilai universal agama dengan nilai sosiokultural lokal.

Jawa Barat menempati posisi strategis yang sering disebut sebagai "pintu utama wajah Indonesia". Sebagai wilayah dengan populasi Muslim terbesar, Tanah Pasundan menjadi medan pertempuran hegemoni massa yang paling kompetitif pada awal abad ke-20. Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernisme yang mulai masif.

Merujuk sepernuhnya pada buku Sejarah Nahdlatul Ulama Jawa Barat: Dari Pesantren hingga Panggung Politik (Penerbit BRIN, 2025) karya Budi Sujati dan Ajid Thohir, tulisan ini bertujuan mengungkap dan meluruskan inkonsistensi kronologis yang kerap ditemukan dalam catatan sejarah kiprah kiai Sunda.

Sebelum kemapanan Nahdlatul Ulama (NU), dinamika keislaman di Jawa Barat diwarnai oleh hadirnya spektrum organisasi yang sangat luas serta memicu kontestasi ideologis yang tajam. Pergerakan ini diawali oleh masuknya Sarekat Islam (SI) pada tahun 1913 ke wilayah Jakarta, Bogor, Bandung, hingga Cirebon. Menyusul kemudian, Mathlaul Anwar (MA) berdiri di Menes, Banten pada 10 Juli 1916, disusul pembentukan Perserikatan Oelama (PO/PUI) oleh KH. Abdul Halim di Majalengka pada 21 Desember 1917.

Perkembangan pergerakan Islam semakin marak di dekade 1920-an dengan masuknya Muhammadiyah secara formal di Garut pada 30 Maret 1923, serta berdirinya Persatuan Islam (Persis) di Bandung pada 12 September 1923. Pergerakan ini terus berlanjut hingga dekade berikutnya ketika Al-Itihadul Islamiyah (AII) didirikan oleh KH. Ahmad Sanusi di Sukabumi pada tahun 1931.

Kehadiran berbagai organisasi ini menciptakan pergulatan pemikiran yang intens, sehingga menuntut hadirnya sosok perintis lokal yang mampu menjembatani visi besar para kiai Jawa Timur ke dalam karakteristik sosiokultural masyarakat Sunda yang unik.

Profil Tokoh Perintis: KH. Abdul Chalim dan Jaringan Sanad Pesantren

Keberhasilan NU di Jawa Barat tidak semata bergantung pada struktur organisasi, tetapi pada otoritas moral dan "jaringan saraf tak terlihat" dari para kiai kharismatik. Tokoh sentral dalam narasi ini adalah KH. Abdul Chalim Leuwimunding (Majalengka). Beliau bukan sekadar pengurus, melainkan seorang "Harmonisator Pemikiran" yang menjembatani hubungan antara KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah pada masa-masa awal pendirian NU di Surabaya (1926).

Buku "Sejarah Nahdlatul Ulama Jawa Barat: Dari Pesantren hingga Panggung Politik (Penerbit BRIN, 2025) karya Budi Sujati dan Ajid Thohir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Buku "Sejarah Nahdlatul Ulama Jawa Barat: Dari Pesantren hingga Panggung Politik (Penerbit BRIN, 2025) karya Budi Sujati dan Ajid Thohir. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Sebagai satu-satunya ulama asal Jawa Barat dalam lingkar inti pendiri, KH. Abdul Chalim memiliki daya tahan fisik dan mental yang luar biasa, terbukti dari sejarah perjalanan kakinya dari Cirebon ke Surabaya demi menjalankan misi dakwah. Kapasitas intelektualnya diakui melalui perannya sebagai Katib Tsani (Sekretaris Kedua) dan Redaktur majalah resmi organisasi, Swara Nahdlatoel Oelama, pada tahun 1927. Dalam naskah perjuangannya tahun 1970, beliau menyusun deskripsi kepengurusan pertama dengan penuh penghormatan:

"Syuhriyahlah pimpinan pertama, Tanfidziyah yang bagian pelaksana. Syuhriyah boleh kata legislatif, Tanfidziyah boleh kata eksekutif. Pak Kiai Hasyim Rais Utama pertama, pak Dahlan Kebondalemlah wakilnya. Katib awal pak kiai Wahab yang utama, otak Nahdlatul Ulama yang pertama."

Kekuatan kultural NU di Jawa Barat kian solid berkat dukungan pilar-pilar kiai lokal. Di Cirebon, KH. Abbas Buntet hadir sebagai pusat gravitasi jaringan ulama, sementara KH. Ruhiyat dari Cipasung, Tasikmalaya, menjadi tokoh sentral pendidikan di wilayah Priangan Timur. Pergerakan ini juga diperkuat oleh KH. Zainal Mustafa dari Sukamanah—simbol perlawanan pesantren yang kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional—serta KH. Ahmad Dimyati dari Sukamiskin yang konsisten memperkokoh basis NU di Bandung sejak tahun 1929.

Jaringan guru-murid (sanad) inilah yang menjadi infrastruktur utama ekspansi organisasi, di mana otoritas kiai menjadi legitimasi bagi ribuan santri untuk mengadopsi visi jam'iyyah ke tanah kelahiran mereka.

Dinamika Perkembangan Institusional dan Ekspansi Geografis

Transformasi NU di Jawa Barat bergerak dari komunitas kultural (jam'iyyah) menjadi organisasi formal yang terstruktur. Proses ini divalidasi melalui pertumbuhan cabang-cabang yang signifikan dalam kongres-kongres besar. Pelaksanaan Kongres NU di wilayah Jawa Barat, seperti Kongres ke-6 di Cirebon (1931) dan Kongres ke-13 di Menes (1938), berfungsi sebagai momen legitimasi krusial yang menegaskan bahwa NU bukan lagi sekadar organisasi "impor" dari Jawa Timur, melainkan wadah inklusif bagi kiai tradisionalis di seluruh tanah air.

Berikut adalah data perkembangan cabang NU di Jawa Barat yang menunjukkan pertumbuhan institusional yang stabil:

Tahun

Momen Organisasi

Jumlah Cabang di Jawa Barat

1930

Kongres ke-5 (Pekalongan)

6 Cabang

1935

Kongres ke-10 (Solo)

9 Cabang

1940

Kongres ke-15 (Surabaya)

11 Cabang

1959

Muktamar ke-22 (Jakarta)

24 Cabang

Peningkatan tajam pada tahun 1959 mencerminkan keberhasilan NU dalam mengonsolidasikan basis massa di tingkat karesidenan dan kabupaten pasca-Pemilu 1955.

Karakteristik Sosiologis: Analisis AGIL dan Akulturasi Budaya

Mengapa Nahdlatul Ulama (NU) mampu berakar kuat di wilayah yang secara kultural berbeda dari Jawa Timur? Melalui kacamata fungsionalisme struktural AGIL karya Talcott Parsons, rahasia soliditas tersebut dapat terjelaskan dengan jernih.

Pertama; dari dimensi Adaptation (adaptasi), NU menunjukkan fleksibilitas luar biasa lewat prinsip tawasut (moderasi). Pendekatan ini berhasil meredam gesekan dengan kepercayaan lokal seperti Sunda Wiwitan dan konsep Hyang, sekaligus memberi ruang bagi ekspresi budaya Sunda tanpa mengorbankan syariat. Kedua; pada aspek Goal Attainment (pencapaian tujuan), NU berfokus menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah yang selaras dengan tradisi keagamaan sejak era Sunan Gunung Jati. Narasi ini membuat keberadaan NU terasa begitu familiar di tanah Pasundan.

Selanjutnya, dimensi Integration (integrasi) diwujudkan melalui jaringan sanad keilmuan yang mengikat para ajengan dan pesantren ke dalam satu komando organisasi. Terakhir, aspek Latency (pemeliharaan pola) dijalankan oleh pesantren sebagai benteng penjaga ideologi agar terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Fleksibilitas sosiologis inilah yang membuat NU mampu mewarnai tradisi lokal dari dalam, hingga akhirnya menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kesundaan.

Transformasi Politik: "Perang Parit" Intelektual dan Konversi Kekuatan

Keputusan NU bertransformasi menjadi partai politik mandiri pada tahun 1952 menjadi titik balik penting. Kekuatan latency dari pesantren-pesantren di Jawa Barat secara otomatis terkonversi menjadi blok pemilih (voting blocs) yang solid, hingga memicu puncak kontestasi ideologis di wilayah Priangan. Di panggung literasi, terjadi perang parit intelektual yang sengit. Kelompok reformis (Persis) melancarkan serangan pemikiran melalui Majalah Al-Lisaan, yang kemudian dibalas secara substantif oleh NU lewat Majalah Al-Mawaidz di Tasikmalaya untuk membentengi jamaah dari ancaman terhadap paham tradisionalis.

Keterlibatan politik NU Jawa Barat mencapai titik krusial pada dua momen bersejarah. Pertama; saat merespons peristiwa 1965, NU Jawa Barat—khususnya di Indramayu dan Bogor—bersikap tegas menolak pengaruh PKI serta menuntut pembubaran organisasi tersebut demi menjaga stabilitas NKRI. Kedua; pada Muktamar ke-24 di Bandung (1967), NU secara resmi menyatakan dukungan penuh terhadap Demokrasi Pancasila yang berlandaskan UUD 1945. Momen historis ini makin menegaskan posisi NU sebagai benteng Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sekaligus pilar integrasi nasional di tengah transisi politik Orde Baru.

Sejarah perjalanan NU di Jawa Barat membuktikan bahwa keberhasilan sebuah organisasi massa sangat bergantung pada kemampuannya mengharmonisasikan nilai universal agama dengan nilai sosiokultural lokal. Terdapat sejumlah rekam jejak strategis yang memperkuat hal ini. Pengibaran bendera NU pertama pada tahun 1926 yang memuat peta Indonesia mencerminkan nasionalisme religius; lahir di Surabaya, tetapi dibawa dan diperjuangkan di tanah Pasundan oleh kiai lokal.

Keteguhan itu juga tercermin dari ketahanan (grit) KH. Abdul Chalim yang berjalan kaki dari Cirebon ke Surabaya sebagai simbol keteguhan fisik dan ideologis dalam melandasi ekspansi NU.

Karakteristik kebudayaan organisasi ini juga terlihat unik, seperti pada Muktamar ke-23 di Surakarta ketika rokok tercatat menjadi media silaturahmi yang efektif dalam mencairkan ketegangan perdebatan teologis antar-delegasi. Di ranah pemikiran, KH. Abdul Chalim mengukuhkan peran intelektual Sunda sebagai kiai asal Jawa Barat pertama yang menduduki posisi redaktur strategis di media resmi organisasi pada tahun 1927.

Sebagai penutup, penguatan pengelolaan arsip sejarah dan tertib administrasi di lingkungan PWNU Jawa Barat bukanlah sekadar tugas teknis, melainkan sebuah imperatif strategis (strategic imperative). Tanpa dokumentasi yang kredibel, narasi perjuangan para kiai Sunda berisiko terus tersisih dibanding narasi dari wilayah lain. Pembenahan literasi sejarah ini menjadi fondasi vital bagi generasi mendatang untuk memahami bahwa NU di Bumi Pasundan adalah benteng integrasi bangsa yang tak tergoyahkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)