Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

8 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang. Kota yang berada di kawasan cekungan pegunungan ini berkembang dari sebuah wilayah yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bandung, hingga tumbuh menjadi salah satu kota penting di Jawa Barat sekaligus ruang pertemuan berbagai gagasan, kebudayaan, pendidikan, seni, pers, dan kreativitas.

Hari Jadi Kota Bandung diperingati setiap 25 September, merujuk pada peristiwa peresmian Bandung sebagai ibu kota Kabupaten Bandung pada 25 September 1810. Pada 2026, Kota Bandung memasuki usia 216 tahun.

Namun, perjalanan sebuah kota tidak hanya dapat dibaca dari gedung-gedung tua, jalan raya, taman, atau bangunan bersejarah. Sejarah kota juga tersimpan dalam benda-benda sederhana yang pernah hadir dalam kehidupan sehari-hari seperti foto, surat, poster, majalah, buku, dan terutama lembaran surat kabar.

Di atas kertas yang kini mulai menguning, tersimpan denyut kehidupan Bandung pada zamannya. Ada berita tentang peristiwa penting, iklan yang menawarkan berbagai kebutuhan warga, opini yang memperdebatkan persoalan kota, berita olahraga, musik, seni dan budaya, hingga cerita-cerita kecil tentang kehidupan masyarakat.

Surat kabar menjadi semacam cermin. Melalui halaman-halamannya, kita dapat melihat bagaimana Bandung tumbuh, bagaimana masyarakatnya berpikir, apa yang mereka sukai, apa yang mereka khawatirkan, serta bagaimana sebuah kota membangun identitasnya dari waktu ke waktu.

Dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Bandung ke-216, menarik untuk menelusuri kembali denyut panjang kehidupan kota melalui arsip, foto, artefak, surat kabar, majalah, dan kisah yang diwariskan warganya.

Media cetak lawas memberikan sudut pandang yang unik. Ia tidak hanya memperlihatkan peristiwa besar, tetapi juga menghadirkan potret kehidupan sehari-hari.

Dari sebuah iklan lama, misalnya, kita dapat membaca gaya hidup masyarakat pada suatu masa. Dari halaman olahraga dan musik, kita bisa melihat selera generasi muda. Dari tajuk rencana dan berita utama, kita dapat menangkap persoalan sosial yang tengah diperbincangkan masyarakat.

Karena itu, surat kabar bukan sekadar benda bacaan yang telah kehilangan zamannya. Ia merupakan artefak yang menyimpan ingatan sebuah kota.

Partisipasi publik juga menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan tersebut. Banyak cerita tentang Bandung justru tersimpan di rumah-rumah warga, di dalam album foto keluarga, surat-surat lama, buku, majalah, serta tumpukan koran yang sengaja disimpan karena memiliki kenangan tertentu.

Sejarah Bandung tidak hanya berada di gedung arsip atau museum. Sebagian di antaranya hidup di dalam ingatan kolektif masyarakat.

Aroma kertas dan tinta cetak dari surat kabar lama seolah membawa kita kembali ke Bandung pada masa yang berbeda.

Bayangkan suasana kios koran di sekitar Alun-alun Bandung, emper toko di Jalan Braga, para loper yang menjajakan koran di kawasan Cikapundung, atau warung kopi di sekitar Pasar Baru. Pada masa ketika televisi belum menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari dan internet belum dikenal, surat kabar merupakan salah satu jendela masyarakat untuk melihat dunia.

Orang membaca berita sambil menyeruput kopi, melipat halaman yang dianggap penting, kemudian membicarakannya dengan keluarga, teman, atau tetangga.

Surat kabar pada masa itu bukan sekadar bacaan. Ia menjadi ruang bertemunya berita, gagasan, perdebatan, hiburan, dan harapan.

Bandung memiliki sejarah pers yang panjang dan dinamis. Jejak tersebut dapat ditelusuri melalui beragam penerbitan yang hadir dalam periode berbeda.

Pada masa kolonial, Bandung antara lain mengenal AID de Preanger-bode, Java-bode, De Koerier, Kiauw Po, dan jaringan peredaran Keng Po, Sin Po, Kaoem Moeda, Bintang Timoer, serta Priangan Tengah. Ada pula Weekblad Simpaj yang terbit sebagai mingguan berbahasa Sunda.

Nama-nama tersebut memperlihatkan bahwa Bandung sejak awal abad ke-20 telah menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan pers dan budaya baca. Ketika Sipatahoenan kemudian memindahkan kantor pusat dan penerbitannya dari Tasikmalaya ke Bandung pada November 1931, kota ini telah memiliki ekosistem pers yang cukup ramai. Sipatahoenan sendiri kemudian menjadi salah satu sumber penting untuk membaca kehidupan Bandung, termasuk berbagai peristiwa, tokoh, dan dinamika masyarakatnya.

Selain Sipatahoenan, nama-nama penerbitan seperti Padjadjaran, Siliwangi, Soerapati, Kaoem Kita, dan Dagblad Sin Bin juga tercatat dalam sejarah pers Bandung. Sebagian di antaranya berumur pendek, tetapi keberadaannya menunjukkan betapa dinamisnya kehidupan pers di kota ini pada masa lalu.

Memasuki periode berikutnya, pembaca Bandung mengenal surat kabar seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Gala, dan Mandala. Ada juga surat kabar berbahasa Sunda selain Sipatahoenan yaitu Kudjang, Giwangkara dan Galura.  

Surat kabar Gala, misalnya, pertama kali terbit pada Oktober 1968 dan kemudian berkembang menjadi salah satu surat kabar yang dikenal luas di Bandung dan Jawa Barat, terutama pada dekade 1970-an hingga 1990-an.

Sementara Bandung Pos juga menjadi salah satu nama yang lekat dengan sejarah pers kota ini, terutama pada masa kejayaannya sekitar dekade 1970-an hingga 1990-an.

Kin Sanubary bersama koleksi koran lawas dalam sebuah pameran di Micro Library Asia Afrika, Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Kin Sanubary bersama koleksi koran lawas dalam sebuah pameran di Micro Library Asia Afrika, Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)

Di ranah media berbahasa Sunda, Sipatahoenan memiliki tempat tersendiri. Surat kabar yang lahir di Tasikmalaya itu kemudian pindah ke Bandung dan terbit dari kota ini sejak 1931. Dalam perjalanan panjangnya, Sipatahoenan merekam berbagai persoalan sosial, kebudayaan, pendidikan, politik, hingga kehidupan masyarakat Sunda.

Dengan demikian, nama-nama seperti Sipatahoenan, Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Gala, dan Mandala hanyalah sebagian dari panjangnya perjalanan pers Bandung. Di belakangnya terdapat banyak penerbitan lain yang pernah muncul, berkembang, kemudian hilang, tetapi meninggalkan jejak dalam sejarah kota.

Bau kertas tua menyeruak ketika lembaran koran dan majalah lawas dibuka. Warnanya yang mulai kecokelatan, lipatan yang tidak lagi sempurna, serta tinta yang memudar justru memberikan pesona tersendiri.

Lembaran-lembaran itu seperti kronik bisu dari masa silam yang tiba-tiba kembali berbicara.

Melalui koleksi media cetak lawas, perjalanan Bandung dapat dibaca secara lebih dekat. Ada pemberitaan dari masa kolonial, masa pergerakan, revolusi kemerdekaan, hingga periode setelah Indonesia merdeka. Ada pula majalah yang merekam perubahan gaya hidup dan selera masyarakat dari satu dekade ke dekade berikutnya.

Setiap halaman memiliki ceritanya sendiri.

Sampul majalah, misalnya, tidak hanya menampilkan judul dan gambar. Pilihan warna, tipografi, ilustrasi, fotografi, bahkan pose orang yang tampil di halaman depan dapat memperlihatkan perubahan selera masyarakat dan budaya populer pada masanya.

Di situlah media cetak menjadi lebih dari sekadar benda koleksi. Ia menjadi artefak budaya.

Penulis memiliki koleksi surat kabar dan majalah lawas yang berkaitan dengan perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Bandung. Sebagian koleksi disimpan di rumah dan sebagian lainnya pernah disimpan di kantor Redaksi Pikiran Rakyat.

Di antaranya terdapat Lembaran Minggu Pikiran Ra'jat, Bandung Pos, Pikiran Rakyat, Mandala, dan Gala. Ada pula majalah musik legendaris Aktuil, serta majalah berbahasa Sunda Mangle yang telah terbit sejak 1950-an.

Bagi seorang kolektor, setiap lembaran bukan sekadar benda lama. Ada cerita di baliknya. Ada waktu, tempat, peristiwa, dan kenangan yang membuat sebuah koran tetap layak disimpan meskipun usianya telah puluhan tahun.

Dalam sebuah koleksi media cetak, kita juga dapat melihat bagaimana Bandung pernah menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan pers dan budaya baca di Jawa Barat.

Nama-nama media yang hadir dari berbagai periode memperlihatkan keberagaman suara dan minat masyarakat. Dari pers yang membawa gagasan kebangsaan, media berbahasa Sunda yang menjaga identitas budaya, hingga majalah hiburan yang merekam perkembangan musik dan gaya hidup generasi muda.

Mangle, misalnya, memperlihatkan kuatnya tradisi literasi dan kebudayaan Sunda. Sementara Aktuil menjadi salah satu penanda penting perkembangan jurnalisme musik dan budaya populer pada masanya.

Setiap sampul seolah menjadi potret zaman.

Koleksi media cetak lawas yang dipajang dengan alur tertentu dapat membantu pengunjung membaca sejarah secara kronologis. Dari satu lembar ke lembar berikutnya, perjalanan Bandung terasa seperti sebuah cerita panjang yang tidak pernah benar-benar selesai.

Ada masa kolonial, masa pergerakan nasional, revolusi kemerdekaan, masa pembangunan, hingga era ketika teknologi digital mulai mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.

Surat kabar turut merekam perubahan tersebut.

Dalam konteks sejarah pers Bandung, keberadaan berbagai penerbitan menunjukkan bahwa kota ini bukan hanya tempat berlangsungnya aktivitas pemerintahan dan perdagangan, tetapi juga ruang tumbuhnya gagasan.

Pers, kebudayaan, pendidikan, komunitas, gerakan kebangsaan, hingga perkembangan kesenian saling bersinggungan dalam perjalanan panjang tersebut.

Dengan demikian, mengoleksi koran lama bukan semata-mata menyimpan kertas. Yang disimpan sebenarnya adalah fragmen kehidupan.

Satu berita dapat mengingatkan kita pada sebuah peristiwa. Sebuah iklan dapat menggambarkan gaya hidup masyarakat. Sebuah foto dapat memperlihatkan wajah kota yang sudah berubah. Sementara sebuah tulisan opini dapat menunjukkan bagaimana masyarakat pada masa itu memandang persoalan di sekelilingnya.

Kota Bandung terus berubah. Bangunan lama berganti, jalan semakin ramai, pusat-pusat perdagangan berpindah, teknologi berkembang, dan cara manusia berkomunikasi berubah dengan sangat cepat.

Surat kabar mungkin tidak lagi menjadi pusat perhatian seperti pada masa lalu. Layar telepon pintar kini mengambil banyak ruang dalam kehidupan masyarakat. Berita hadir dalam hitungan detik, sementara informasi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa menunggu mesin cetak bekerja.

Namun, nilai yang terkandung dalam surat kabar lama tidak ikut hilang.

Semangat untuk mencatat, merekam, berbagi gagasan, dan memahami zaman tetap relevan.

Justru di tengah derasnya arus informasi digital, benda-benda lama mengingatkan kita bahwa setiap zaman memiliki cara sendiri dalam menyimpan ingatan.

Pada usia Bandung yang ke-216, lembaran koran lawas mengajak kita melihat kota ini bukan hanya sebagai ruang geografis, tetapi sebagai ruang kehidupan. Kota yang dibangun oleh banyak generasi, oleh gagasan, kreativitas, perdebatan, kerja keras, dan pengalaman warganya.

Nama-nama surat kabar yang pernah terbit di kota ini dari Sipatahoenan, Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Gala, hingga Mandala, dan berbagai penerbitan lainnya adalah bagian dari jejak panjang tersebut.

Kini, tulisan-tulisan itu menjadi bagian dari ingatan bersama.

Di setiap lembar koran yang mulai rapuh, tersimpan potongan jiwa kota. Ada Bandung yang pernah membaca, Bandung yang pernah berdebat, Bandung yang pernah bermimpi, dan Bandung yang terus berubah.

Bandung yang menulis sejarahnya.

Bandung yang menjaga ingatannya.

Dan Bandung yang tidak pernah berhenti bercerita.

Pada akhirnya, lembaran koran lawas bukan sekadar kumpulan kertas yang telah berusia puluhan tahun. Di dalamnya tersimpan potongan kehidupan Bandung pada berbagai masa: nama jalan yang pernah dikenal dengan suasana berbeda, peristiwa yang pernah menjadi perhatian warga, tokoh-tokoh yang pernah menghiasi pemberitaan, hingga kebiasaan dan selera masyarakat pada zamannya.

Bagi sebuah kota yang telah berusia 216 tahun, jejak semacam itu memiliki arti penting. Sebab, sejarah Bandung tidak hanya tersimpan dalam bangunan dan tempat-tempat bersejarah, tetapi juga dalam arsip media cetak yang pernah dibaca oleh masyarakatnya.

Koran-koran lama itu kini mungkin sudah rapuh dan tintanya mulai memudar. Namun, cerita yang tersimpan di dalamnya tetap dapat dibaca dan dikenang.

Dari lembaran-lembaran itulah kita kembali menemukan Bandung pada masa lalu. Bandung yang diberitakan, Bandung yang dibaca, dan Bandung yang terus meninggalkan jejak dalam ingatan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)