Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

8 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Hari Jadi Kota Bandung diperingati setiap 25 September, merujuk pada peristiwa peresmian Bandung sebagai ibu kota Kabupaten Bandung pada 25 September 1810.

  • Bandung memiliki sejarah pers yang panjang dan dinamis. Jejak tersebut dapat ditelusuri melalui beragam penerbitan yang hadir dalam periode berbeda.

  • Pada usia Bandung yang ke-216, lembaran koran lawas mengajak kita melihat kota ini bukan hanya sebagai ruang geografis, tetapi sebagai ruang kehidupan. Kota yang dibangun oleh banyak generasi, oleh gagasan, kreativitas, perdebatan, kerja keras, dan pengalaman warganya.

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang. Kota yang berada di kawasan cekungan pegunungan ini berkembang dari sebuah wilayah yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bandung, hingga tumbuh menjadi salah satu kota penting di Jawa Barat sekaligus ruang pertemuan berbagai gagasan, kebudayaan, pendidikan, seni, pers, dan kreativitas.

Hari Jadi Kota Bandung diperingati setiap 25 September, merujuk pada peristiwa peresmian Bandung sebagai ibu kota Kabupaten Bandung pada 25 September 1810. Pada 2026, Kota Bandung memasuki usia 216 tahun.

Namun, perjalanan sebuah kota tidak hanya dapat dibaca dari gedung-gedung tua, jalan raya, taman, atau bangunan bersejarah. Sejarah kota juga tersimpan dalam benda-benda sederhana yang pernah hadir dalam kehidupan sehari-hari seperti foto, surat, poster, majalah, buku, dan terutama lembaran surat kabar.

Di atas kertas yang kini mulai menguning, tersimpan denyut kehidupan Bandung pada zamannya. Ada berita tentang peristiwa penting, iklan yang menawarkan berbagai kebutuhan warga, opini yang memperdebatkan persoalan kota, berita olahraga, musik, seni dan budaya, hingga cerita-cerita kecil tentang kehidupan masyarakat.

Surat kabar menjadi semacam cermin. Melalui halaman-halamannya, kita dapat melihat bagaimana Bandung tumbuh, bagaimana masyarakatnya berpikir, apa yang mereka sukai, apa yang mereka khawatirkan, serta bagaimana sebuah kota membangun identitasnya dari waktu ke waktu.

Dalam rangka menyambut Hari Jadi Kota Bandung ke-216, menarik untuk menelusuri kembali denyut panjang kehidupan kota melalui arsip, foto, artefak, surat kabar, majalah, dan kisah yang diwariskan warganya.

Media cetak lawas memberikan sudut pandang yang unik. Ia tidak hanya memperlihatkan peristiwa besar, tetapi juga menghadirkan potret kehidupan sehari-hari.

Dari sebuah iklan lama, misalnya, kita dapat membaca gaya hidup masyarakat pada suatu masa. Dari halaman olahraga dan musik, kita bisa melihat selera generasi muda. Dari tajuk rencana dan berita utama, kita dapat menangkap persoalan sosial yang tengah diperbincangkan masyarakat.

Karena itu, surat kabar bukan sekadar benda bacaan yang telah kehilangan zamannya. Ia merupakan artefak yang menyimpan ingatan sebuah kota.

Partisipasi publik juga menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan tersebut. Banyak cerita tentang Bandung justru tersimpan di rumah-rumah warga, di dalam album foto keluarga, surat-surat lama, buku, majalah, serta tumpukan koran yang sengaja disimpan karena memiliki kenangan tertentu.

Sejarah Bandung tidak hanya berada di gedung arsip atau museum. Sebagian di antaranya hidup di dalam ingatan kolektif masyarakat.

Aroma kertas dan tinta cetak dari surat kabar lama seolah membawa kita kembali ke Bandung pada masa yang berbeda.

Bayangkan suasana kios koran di sekitar Alun-alun Bandung, emper toko di Jalan Braga, para loper yang menjajakan koran di kawasan Cikapundung, atau warung kopi di sekitar Pasar Baru. Pada masa ketika televisi belum menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari dan internet belum dikenal, surat kabar merupakan salah satu jendela masyarakat untuk melihat dunia.

Orang membaca berita sambil menyeruput kopi, melipat halaman yang dianggap penting, kemudian membicarakannya dengan keluarga, teman, atau tetangga.

Surat kabar pada masa itu bukan sekadar bacaan. Ia menjadi ruang bertemunya berita, gagasan, perdebatan, hiburan, dan harapan.

Bandung memiliki sejarah pers yang panjang dan dinamis. Jejak tersebut dapat ditelusuri melalui beragam penerbitan yang hadir dalam periode berbeda.

Pada masa kolonial, Bandung antara lain mengenal AID de Preanger-bode, Java-bode, De Koerier, Kiauw Po, dan jaringan peredaran Keng Po, Sin Po, Kaoem Moeda, Bintang Timoer, serta Priangan Tengah. Ada pula Weekblad Simpaj yang terbit sebagai mingguan berbahasa Sunda.

Nama-nama tersebut memperlihatkan bahwa Bandung sejak awal abad ke-20 telah menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan pers dan budaya baca. Ketika Sipatahoenan kemudian memindahkan kantor pusat dan penerbitannya dari Tasikmalaya ke Bandung pada November 1931, kota ini telah memiliki ekosistem pers yang cukup ramai. Sipatahoenan sendiri kemudian menjadi salah satu sumber penting untuk membaca kehidupan Bandung, termasuk berbagai peristiwa, tokoh, dan dinamika masyarakatnya.

Selain Sipatahoenan, nama-nama penerbitan seperti Padjadjaran, Siliwangi, Soerapati, Kaoem Kita, dan Dagblad Sin Bin juga tercatat dalam sejarah pers Bandung. Sebagian di antaranya berumur pendek, tetapi keberadaannya menunjukkan betapa dinamisnya kehidupan pers di kota ini pada masa lalu.

Memasuki periode berikutnya, pembaca Bandung mengenal surat kabar seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Gala, dan Mandala. Ada juga surat kabar berbahasa Sunda selain Sipatahoenan yaitu Kudjang, Giwangkara dan Galura.  

Surat kabar Gala, misalnya, pertama kali terbit pada Oktober 1968 dan kemudian berkembang menjadi salah satu surat kabar yang dikenal luas di Bandung dan Jawa Barat, terutama pada dekade 1970-an hingga 1990-an.

Sementara Bandung Pos juga menjadi salah satu nama yang lekat dengan sejarah pers kota ini, terutama pada masa kejayaannya sekitar dekade 1970-an hingga 1990-an.

Kin Sanubary bersama koleksi koran lawas dalam sebuah pameran di Micro Library Asia Afrika, Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Kin Sanubary bersama koleksi koran lawas dalam sebuah pameran di Micro Library Asia Afrika, Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)

Di ranah media berbahasa Sunda, Sipatahoenan memiliki tempat tersendiri. Surat kabar yang lahir di Tasikmalaya itu kemudian pindah ke Bandung dan terbit dari kota ini sejak 1931. Dalam perjalanan panjangnya, Sipatahoenan merekam berbagai persoalan sosial, kebudayaan, pendidikan, politik, hingga kehidupan masyarakat Sunda.

Dengan demikian, nama-nama seperti Sipatahoenan, Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Gala, dan Mandala hanyalah sebagian dari panjangnya perjalanan pers Bandung. Di belakangnya terdapat banyak penerbitan lain yang pernah muncul, berkembang, kemudian hilang, tetapi meninggalkan jejak dalam sejarah kota.

Bau kertas tua menyeruak ketika lembaran koran dan majalah lawas dibuka. Warnanya yang mulai kecokelatan, lipatan yang tidak lagi sempurna, serta tinta yang memudar justru memberikan pesona tersendiri.

Lembaran-lembaran itu seperti kronik bisu dari masa silam yang tiba-tiba kembali berbicara.

Melalui koleksi media cetak lawas, perjalanan Bandung dapat dibaca secara lebih dekat. Ada pemberitaan dari masa kolonial, masa pergerakan, revolusi kemerdekaan, hingga periode setelah Indonesia merdeka. Ada pula majalah yang merekam perubahan gaya hidup dan selera masyarakat dari satu dekade ke dekade berikutnya.

Setiap halaman memiliki ceritanya sendiri.

Sampul majalah, misalnya, tidak hanya menampilkan judul dan gambar. Pilihan warna, tipografi, ilustrasi, fotografi, bahkan pose orang yang tampil di halaman depan dapat memperlihatkan perubahan selera masyarakat dan budaya populer pada masanya.

Di situlah media cetak menjadi lebih dari sekadar benda koleksi. Ia menjadi artefak budaya.

Penulis memiliki koleksi surat kabar dan majalah lawas yang berkaitan dengan perjalanan sejarah dan kehidupan masyarakat Bandung. Sebagian koleksi disimpan di rumah dan sebagian lainnya pernah disimpan di kantor Redaksi Pikiran Rakyat.

Di antaranya terdapat Lembaran Minggu Pikiran Ra'jat, Bandung Pos, Pikiran Rakyat, Mandala, dan Gala. Ada pula majalah musik legendaris Aktuil, serta majalah berbahasa Sunda Mangle yang telah terbit sejak 1950-an.

Bagi seorang kolektor, setiap lembaran bukan sekadar benda lama. Ada cerita di baliknya. Ada waktu, tempat, peristiwa, dan kenangan yang membuat sebuah koran tetap layak disimpan meskipun usianya telah puluhan tahun.

Dalam sebuah koleksi media cetak, kita juga dapat melihat bagaimana Bandung pernah menjadi salah satu ruang penting bagi perkembangan pers dan budaya baca di Jawa Barat.

Nama-nama media yang hadir dari berbagai periode memperlihatkan keberagaman suara dan minat masyarakat. Dari pers yang membawa gagasan kebangsaan, media berbahasa Sunda yang menjaga identitas budaya, hingga majalah hiburan yang merekam perkembangan musik dan gaya hidup generasi muda.

Mangle, misalnya, memperlihatkan kuatnya tradisi literasi dan kebudayaan Sunda. Sementara Aktuil menjadi salah satu penanda penting perkembangan jurnalisme musik dan budaya populer pada masanya.

Setiap sampul seolah menjadi potret zaman.

Koleksi media cetak lawas yang dipajang dengan alur tertentu dapat membantu pengunjung membaca sejarah secara kronologis. Dari satu lembar ke lembar berikutnya, perjalanan Bandung terasa seperti sebuah cerita panjang yang tidak pernah benar-benar selesai.

Ada masa kolonial, masa pergerakan nasional, revolusi kemerdekaan, masa pembangunan, hingga era ketika teknologi digital mulai mengubah cara masyarakat memperoleh informasi.

Surat kabar turut merekam perubahan tersebut.

Dalam konteks sejarah pers Bandung, keberadaan berbagai penerbitan menunjukkan bahwa kota ini bukan hanya tempat berlangsungnya aktivitas pemerintahan dan perdagangan, tetapi juga ruang tumbuhnya gagasan.

Pers, kebudayaan, pendidikan, komunitas, gerakan kebangsaan, hingga perkembangan kesenian saling bersinggungan dalam perjalanan panjang tersebut.

Dengan demikian, mengoleksi koran lama bukan semata-mata menyimpan kertas. Yang disimpan sebenarnya adalah fragmen kehidupan.

Satu berita dapat mengingatkan kita pada sebuah peristiwa. Sebuah iklan dapat menggambarkan gaya hidup masyarakat. Sebuah foto dapat memperlihatkan wajah kota yang sudah berubah. Sementara sebuah tulisan opini dapat menunjukkan bagaimana masyarakat pada masa itu memandang persoalan di sekelilingnya.

Kota Bandung terus berubah. Bangunan lama berganti, jalan semakin ramai, pusat-pusat perdagangan berpindah, teknologi berkembang, dan cara manusia berkomunikasi berubah dengan sangat cepat.

Surat kabar mungkin tidak lagi menjadi pusat perhatian seperti pada masa lalu. Layar telepon pintar kini mengambil banyak ruang dalam kehidupan masyarakat. Berita hadir dalam hitungan detik, sementara informasi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa menunggu mesin cetak bekerja.

Namun, nilai yang terkandung dalam surat kabar lama tidak ikut hilang.

Semangat untuk mencatat, merekam, berbagi gagasan, dan memahami zaman tetap relevan.

Justru di tengah derasnya arus informasi digital, benda-benda lama mengingatkan kita bahwa setiap zaman memiliki cara sendiri dalam menyimpan ingatan.

Pada usia Bandung yang ke-216, lembaran koran lawas mengajak kita melihat kota ini bukan hanya sebagai ruang geografis, tetapi sebagai ruang kehidupan. Kota yang dibangun oleh banyak generasi, oleh gagasan, kreativitas, perdebatan, kerja keras, dan pengalaman warganya.

Nama-nama surat kabar yang pernah terbit di kota ini dari Sipatahoenan, Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Gala, hingga Mandala, dan berbagai penerbitan lainnya adalah bagian dari jejak panjang tersebut.

Kini, tulisan-tulisan itu menjadi bagian dari ingatan bersama.

Di setiap lembar koran yang mulai rapuh, tersimpan potongan jiwa kota. Ada Bandung yang pernah membaca, Bandung yang pernah berdebat, Bandung yang pernah bermimpi, dan Bandung yang terus berubah.

Bandung yang menulis sejarahnya.

Bandung yang menjaga ingatannya.

Dan Bandung yang tidak pernah berhenti bercerita.

Pada akhirnya, lembaran koran lawas bukan sekadar kumpulan kertas yang telah berusia puluhan tahun. Di dalamnya tersimpan potongan kehidupan Bandung pada berbagai masa: nama jalan yang pernah dikenal dengan suasana berbeda, peristiwa yang pernah menjadi perhatian warga, tokoh-tokoh yang pernah menghiasi pemberitaan, hingga kebiasaan dan selera masyarakat pada zamannya.

Bagi sebuah kota yang telah berusia 216 tahun, jejak semacam itu memiliki arti penting. Sebab, sejarah Bandung tidak hanya tersimpan dalam bangunan dan tempat-tempat bersejarah, tetapi juga dalam arsip media cetak yang pernah dibaca oleh masyarakatnya.

Koran-koran lama itu kini mungkin sudah rapuh dan tintanya mulai memudar. Namun, cerita yang tersimpan di dalamnya tetap dapat dibaca dan dikenang.

Dari lembaran-lembaran itulah kita kembali menemukan Bandung pada masa lalu. Bandung yang diberitakan, Bandung yang dibaca, dan Bandung yang terus meninggalkan jejak dalam ingatan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)