Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

5 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Bioskop menjadi denyut hiburan Bandung pada 1950-an, dengan sedikitnya 12 nama bioskop yang tercatat dalam iklan Pikiran Rakjat edisi 31 Maret 1956.

  • N.V. Sirna Galih dan F.F.A. Buse turut mewarnai sejarah bioskop Bandung, sekaligus tercatat dalam sejumlah kegiatan sosial di kota tersebut.

  • Bioskop tempo dulu bukan sekadar tempat menonton film, tetapi juga menjadi ruang pergaulan dan bagian dari perkembangan sosial serta budaya urban Bandung.

Bandung tidak hanya dikenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata. Jauh sebelum televisi hadir dan hiburan digital memenuhi ruang-ruang kehidupan, kota ini telah memiliki denyut hiburan yang meriah. Salah satunya tumbuh melalui gedung-gedung bioskop yang menjadi tempat warga menikmati film, bertemu, sekaligus merayakan kehidupan kota.

Pada era 1950-an, layar perak menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat Bandung. Dari kawasan Jalan Braga hingga Pasirkaliki, gedung-gedung bioskop berdiri dan menawarkan beragam tontonan. Bioskop bukan sekadar tempat untuk melihat film, tetapi juga menjadi bagian dari gaya hidup dan ruang pergaulan masyarakat perkotaan.

Salah satu jejak menarik tentang kehidupan bioskop Bandung tempo dulu dapat ditemukan dalam sebuah iklan di koran Pikiran Rakjat edisi 31 Maret 1956.

Iklan tersebut berbunyi:

“Turut bergembira dengan Hari Peringatan 50 Tahun Kota Besar Bandung. Direksi N.V. Sirna Galih Ind. Ltd. Djalan Pasirkaliki 43 Bandung. Ucapan selamat ini datang dari manajemen bioskop-bioskop yang ada di kota Bandung ketika itu seperti: Elita, Varia, Oriental, Majestic, Braga Sky, Radio City, Texas, Capitol, Rivoli, Luxor, Roxy, Rio.”

Iklan sederhana itu menyimpan cerita panjang tentang wajah Bandung pada masanya. Sebanyak dua belas nama bioskop tercantum di dalamnya, memperlihatkan betapa semaraknya dunia hiburan layar lebar di Kota Kembang pada pertengahan 1950-an.

Di balik sejumlah nama bioskop tersebut terdapat sosok F.F.A. Buse. Berdasarkan sejumlah catatan sejarah, termasuk buku Jejak-jejak Bandung yang disusun Atep Kurnia, Buse dikenal sebagai pemilik sejumlah bioskop besar di Bandung sekaligus pengelola perusahaan N.V. Sirna Galih.

Di Balik Gemerlap Layar Putih

Kisah N.V. Sirna Galih ternyata tidak hanya berkaitan dengan bisnis hiburan. Perusahaan tersebut juga tercatat ikut hadir dalam sejumlah kegiatan sosial di Bandung dan sekitarnya.

Pada 1954, misalnya, N.V. Sirna Galih ikut menyumbang bagi Jajasan Bentjana Alam yang membantu korban letusan Gunung Merapi.

Dua tahun kemudian, pada 1956, nama Buse kembali muncul dalam persoalan yang berkaitan dengan kehidupan bioskop. Ia dimintai nasihat mengenai kebijakan menaikkan harga tiket bioskop sebesar Rp0,50. Dana tambahan dari kenaikan tiket tersebut direncanakan untuk membantu pembangunan Taman Lalu Lintas di Bandung, sebuah ruang edukasi dan rekreasi anak yang hingga kini masih dikenal masyarakat.

Catatan tersebut memberikan gambaran bahwa kehidupan bioskop pada masa itu ternyata tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat hubungan antara dunia usaha, masyarakat, kebijakan kota, hingga kegiatan sosial.

Namun, perjalanan N.V. Sirna Galih di bawah pengelolaan Buse kemudian mengalami perubahan.

Menurut dokumen resmi Himpunan Peraturan, Penetapan, Instruksi, Pengumuman dan Keputusan terbitan Penguasa Perang Daerah Swatantra I Jawa Barat, pada 2 Januari 1958 pukul 10.00, dilakukan timbang-terima pengoperan N.V. Sirna Galih Indonesia Ltd. dari F.F.A. Buse kepada dewan pimpinan baru yang diketahui Kapten Abdul Sjukur. Proses tersebut berlangsung di markas Staf Tentara & Territorium III di Jalan Aceh, Bandung.

Peristiwa itu menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan bisnis bioskop di Bandung pada masa tersebut. Dari sana, sejarah kemudian terus bergerak, sementara nama-nama bioskop yang pernah menjadi bagian dari kehidupan kota perlahan berubah, berganti fungsi, atau menghilang.

Mengingat Bioskop Bandung Tempo Dulu

Bioskop Elita di Bandung, sekitar tahun 1970. Salah satu bioskop tua dan bergengsi di Kota Bandung yang telah hadir sejak era kolonial Belanda dan menjadi bagian dari sejarah hiburan layar lebar di kota ini. (Sumber: Bandung Lawas)
Bioskop Elita di Bandung, sekitar tahun 1970. Salah satu bioskop tua dan bergengsi di Kota Bandung yang telah hadir sejak era kolonial Belanda dan menjadi bagian dari sejarah hiburan layar lebar di kota ini. (Sumber: Bandung Lawas)

Nama-nama yang tercantum dalam iklan Pikiran Rakjat 1956 kini terasa seperti membuka kembali album kenangan Bandung tempo dulu.

Elita, misalnya, dikenal sebagai salah satu bioskop yang berada di kawasan pusat kota dan menjadi bagian dari kehidupan hiburan masyarakat Bandung.

Majestic, yang berada di Jalan Braga, merupakan salah satu bangunan pertunjukan yang memiliki sejarah panjang. Kehadirannya turut memperkuat citra Braga sebagai kawasan hiburan dan pergaulan masyarakat kota.

Sementara itu, Braga Sky begitu lekat dengan suasana Jalan Braga yang sejak dulu menjadi salah satu kawasan penting kehidupan urban Bandung.

Ada pula Varia yang dikenal sebagai salah satu bioskop yang dekat dengan masyarakat luas. Nama Oriental juga menjadi bagian dari peta hiburan kota, terutama dalam konteks tontonan film Asia.

Kemudian Radio City, Texas, dan Capitol turut melengkapi pilihan hiburan masyarakat Bandung. Nama-nama seperti Rivoli, Luxor, Roxy, dan Rio juga pernah menghiasi perjalanan bioskop di kota ini.

Bagi generasi yang pernah mengalaminya, bioskop-bioskop tersebut tentu bukan sekadar nama yang tercetak di papan reklame. Di sanalah masyarakat datang untuk menonton film, bertemu teman, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar menikmati suasana kota.

Bioskop menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Melalui layar lebar pula, warga Bandung berkenalan dengan cerita, gaya hidup, musik, mode, dan budaya populer dari berbagai penjuru dunia.

Dengan demikian, sejarah bioskop sesungguhnya juga merupakan bagian dari sejarah sosial sebuah kota.

Kini, ketika Kota Bandung memasuki usia 216 tahun, lembaran koran lawas seperti iklan Pikiran Rakjat pada 31 Maret 1956 menjadi jendela kecil untuk melihat kembali kehidupan kota beberapa dekade silam.

Dari sebuah iklan, kita dapat menemukan nama-nama gedung yang pernah menjadi tujuan hiburan warga. Dari nama sebuah perusahaan, kita dapat menelusuri perjalanan pengusaha dan dunia bisnis pada zamannya. Dan dari catatan tentang harga tiket serta pembangunan Taman Lalu Lintas, kita dapat melihat bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota saling berkelindan.

Sebagian besar bioskop tempo dulu itu kini telah menjadi bagian dari sejarah. Ada yang berubah fungsi, berganti wajah, atau mungkin hanya tersisa namanya dalam ingatan mereka yang pernah datang ke sana.

Namun, kenangan tentang layar putih itu tidak serta-merta hilang.

Elita, Majestic, Braga Sky, Varia, Oriental, Radio City, Texas, Capitol, Rivoli, Luxor, Roxy, dan Rio adalah potongan-potongan kecil dari cerita besar Bandung. Mereka merekam sebuah masa ketika menonton film bukan sekadar mencari hiburan, tetapi juga menjadi pengalaman sosial dan bagian dari kehidupan warga kota.

Barangkali, di sanalah nostalgia menemukan maknanya. Bukan hanya mengenang bangunan yang telah tiada, melainkan mengingat kembali bagaimana sebuah kota pernah hidup melalui suara, cahaya, pertemuan, dan cerita yang dipancarkan dari layar perak.

Dari lembaran koran lawas itu, Bandung tempo dulu seakan kembali menyapa, sebuah kota yang terus tumbuh, berubah, tetapi tetap menyimpan cerita di setiap sudutnya.

Selamat Hari Jadi Kota Bandung ke-216.

25 September 1810 – 25 September 2026.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)