200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)

200 Ikon Bandung saya pilih untuk tema tulisan bulan September ini karena di bulan ini, tepatnya pada 25 September 2026, kota kita tercinta ini genap berusia 216 tahun. Tulisan ini merujuk pada buku 200 Ikon Bandung yang diterbitkan harian umum Pikiran Rakyat yang terbit pada 25 September 2020, tepat di 200 tahun Kota Bandung. Kini, saya akan menuliskan kisah-kisah dari ikon-ikon Bandung yang telah tiada, telah berhenti beroperasi atau telah almarhum.

Kisah ikon ke-6 kali ini saya pilih seorang sosok yang paling berjasa dalam melahirkan Kota Bandung, ya, betul sekali! Beliau adalah Raden Adipati Wiranatakusumah II. Coba tanyakan kepada remaja saat ini, apakah mereka mengenal Dalem Kaum? Beberapa remaja hanya menjawab “itu mah nama jalan”, tidak ada yang salah dengan jawaban mereka, karena Dalem Kaum memang identik dengan nama jalan di sekitar alun-alun Kota Bandung. Namun, ada satu hal yang terlewatkan di tengah hiruk-pikuk kawasan Dalem Kaum, terdapat makam sang pendiri Kota Bandung, ialah Raden Adipati Wiranatakusumah II, yang dikenal pula dengan nama Dalem Kaum.

Pada akhir abad ke-18, atau kira-kira tahun 1799, kekuasaan kompeni VOC berakhir di Indonesia karena bangkrut. Dengan demikian, berakhir pulalah kekuasaan VOC di Kabupaten Bandung yang dahulu masih beribu kota di Krapyak (Dayeuhkolot). Saat itu R.A. Wiranatakusumah II adalah bupati yang memegang kekuasaan di Kabupaten Bandung. Berakhir VOC bukan berarti runtuhlah kekuasaan asing di Indonesia, pada tahun 1808, pemerintah Hindia Belanda datang menggantikan pemerintah sebelumnya dan Herman Willem Daendels dipercaya sebagai Gubernur Jenderal pertamanya.

Pada awal kekuasaannya, Daendels memerintahkan untuk membangun jalan raya pos dari Ayer hingga Panarukan. Hal ini untuk melancarkan tugasnya, khususnya selama di Jawa. Wilayah “desa” Bandung adalah termasuk wilayah yang dilewati oleh jalan raya tersebut. Rakyat pribumi kemudian diperintahkan untuk membangun jalan tersebut di bawah pimpinan para bupati. Di Bandung Daendels tidak hanya memerintahkan bupati untuk membuat jalan, ia juga meminta adanya pemindahan ibu kota kabupaten Bandung, melalui surat tertanggal 25 Mei 1810. Hal ini untuk memudahkan kekuasaannya.

Sebetulnya, tanpa sepengetahuan Daendels, Bupati Wiranatakusumah II memang telah merencanakan pemindahan ibu kota. Kawasan pertama yang dipilih oleh Bupati Wiranatakusumah II adalah kawasan Cikalintu. Apabila diriset secara detail kawasan yang ternyata dipilih oleh Bupati Wiranatakusumah II adalah kawasan berbukit di utara Bandung yang sekarang letaknya merupakan sebuah kompleks perumahan Budi Sari (Jalan Setiabudi), namun akhirnya batal karena satu dan lain hal, lalu Cikalitu pun pernah menjadi ibu kota distrik Ujungberung Kulon.

Lokasi kedua yang dipilih adalah kawasan Cikapundung Kolot dan Kampung Bogor, namun lagi-lagi karena satu dan lain hal akhirnya batal. Lalu terpilihlah kawasan alun-alun Kota Bandung kini sebagai ibu kota baru Kabupaten Bandung, menggantikan Dayeuhkolot.

Wiranatakusumah II bisa dikatakan sebagai pendiri dan perancang Kota Bandung. Artinya, Kota Bandung tidak berdiri semata-mata atas titah Daendels, meskipun Daendels lah yang mengeluarkan surat keputusan resmi pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung tertanggal 25 September 1810.

Selama Bupati Wiranatakusumah II memerintah Kabupaten Bandung, kepemimpinannya dianggap menonjol. Pada masa awal kepindahannya, Bupati Wiranatakusumah II memprakarsai pembangunan, yaitu Masjid Agung beserta alun-alunnya, pendopo Kota Bandung dan beberapa Sumur Bandung, saat sang bupati membangun alun-alun dan segala penunjangnya ia tinggal di rumah sederhana yang dibangun di kawasan yang sekarang menjadi hotel Savoy Homann, karena agar memudahkan mengontrol pembangunan tersebut, kisah ini didapat dari kuncen kompleks makam Bupati Wiranatakusumah II, Abah Mansur. Sebelumnya Bupati Wiranatakusumah II memilih menetap di Cikalitu di kawasan Cipaganti sekarang, kemungkinan di kawasan seputaran Hegarmanah, yang nantinya dipakai sebagai tempat kepindahan dari koloni Suniaraja yang sekarang bertransformasi menjadi perkampungan warga di antara Jalan Setiabudi dan Hegarmanah.

Kepemimpinan Bupati Wiranatakusumah II berakhir pada 1829, ia wafat setelah memimpin Bandung selama 35 tahun. Setelah meninggal ia dimakamkan di belakang Masjid Agung. Saat kecil sang bupati terkenal dengan nama Indradiredja, lalu ia pun mendapatkan julukan Dalem Kaum. Nama Dalem biasanya dipakai untuk menak Sunda ketika telah meninggal dunia. Lalu julukan Dalem Kaum diberikan karena makam sang bupati berada di belakang kauman, yaitu wilayah sekitar masjid yang penghuninya beragama Islam.

Di dalam makam tersebut tidak hanya makam sang bupati saja, namun juga terdapat makam sang istri, beserta anak dan keturunannya. Apabila dihitung sekarang kemungkinan terdapat kurang lebih 40 makam di sana, dan makam patih Bandung (yang bermukim tidak jauh dari area makam yang sekarang dikenal dengan Jalan Kapatihan), wedana, bahkan makam Gubernur Jawa Barat ke-5 dan wali kota ke-14, Ukar Bratakusumah pun berada di sana.

Warga Kota Bandung tempo dulu mungkin banyak yang tahu keberadaan kompleks pemakaman di kawasan ini, khususnya makam Bupati Wiranatakusumah II yang telah sangat berjasa mendirikan Kota Bandung. Namun, bagaimana dengan generasi muda saat ini? Berapa banyak yang mengenal sosok Dalem Kaum? Mungkin yang sekarang mereka ketahui Dalem Kaum hanyalah nama jalan yang dekat dengan kawasan alun-alun Kota Bandung, jalanan yang selalu ramai oleh pedagang kaki lima dan jajaran pertokoan saja. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)