Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Gaduhnya tentang aksi demonstrasi dalam rangka sumpah pemuda yang menghadirkan mahasiswa bayaran memantik diskusi panjang dari pelbagai sudut pandang. Ironis memang, atribut akademik dalam bentuk jas almamater seharusnya sebagai identitas yang wajib dijaga nilai-nilai luhurnya, justru dijadikan sebagai kedok berlabel mahasiswa.

Jas almamater diibaratkan baju kebangsaan, baju yang menunjukkan bahwa seseorang menjadi mahasiswa terhormat dan menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan tinggi.

Maka sudah sepatutnya jas almamater tidak sekadar dipakai menjadi pelindung, melainkan dijaga namanya dan menjadi ujung tombak bahwa penyebutan seseorang menjadi mahasiswa tidak sekadar menjadi diri sendiri, melainkan membawa nama perguruan tinggi kepada masyarakat, sehingga setiap perbuatan dan tindakan menjadi cerminan.

Pada kegiatan yang diselenggarakan oleh institusi kepolisian dengan latar mahasiswa memakai jas almamater, menjadi temuan dari masyarakat terkait mahasiswa bayaran. Mahasiswa yang identitasnya tidak sah, tidak terdaftar di pangkalan data perguruan tinggi (PDDIKTI).

Namun keikutsertaannya menjadi tanda tanya, selain karena menggunakan jas almamater juga menjawab pertanyaan wartawan terkait nama perguruan tinggi tidak dapat menyebutkan dengan tepat. Timbulnya pertanyaan, mengapa mereka menggunakan jas almamater perguruan tinggi yang dicatut sementara mereka tidak pernah mengenyam pendidikan di kampus tersebut?

Faktanya, mereka sekadar menjadi pendukung kegiatan tanpa benar-benar menjadi mahasiswa aktif di perguruan tinggi. Mereka memilih menjadi peserta aksi demonstrasi sekadar meramaikan dan diiming-imingi oleh desakan ekonomi. Masifnya mahasiswa bayaran juga menimbulkan pertanyaan lanjutan, darimanakah jas almamater yang dipakai? Siapakah yang mengoleksi jas almamater dan mengordinir peserta aksi?

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran. Sedangkan nilai sejarah terjadinya sumpah pemuda bukanlah satu peristiwa yang dianggap sederhana.

Pantang kemudian, klarifikasi dan evaluasi sebagai jalur menyelesaikan perkara. Sebab tidak mungkin jika pengondisian peserta aksi tanpa didukung dengan aspek misalnya, pendanaan, akomodasi, transportasi, atribut aksi, jas almamater, dan mencoreng segala hal tentang makna sumpah pemuda.

Dekadensi Kejujuran

Pada waktunya, kejujuran dalam aktivitas apapun terkubur oleh niat yang tidak baik. Tidak ada kejujuran dalam aksi demonstrasi menjadikan atribut akademik diobral dan tanpa merasa bersalah, tanpa ada satupun yang bertanggung jawab atas nama diri maupun institusi.

Semua berkutat pada klarifikasi dan evaluasi. Hanya pada tataran mengamankan posisi. Tidak ada nilai kejujuran yang dimaksud di awal penyelenggaraan aksi. Sementara di lain tempat, mahasiswa yang terdaftar di PDDIKTI menggunakan jas almamater dan menggelar aksi dianggap sebagai lawan dan menyuarakan aksi justru dijaga seketat-ketatnya. Padahal nama mahasiswa terdaftar, adapun yang disuarakan demi memperjuangkan hak-hak masyarakat yang tak kunjung terealisasi.

Sedangkan mahasiswa bayaran atau warganet menyebut mahasewa, dilindungi dan diproteksi sebagai peserta aksi yang dianggap murni menyuarakan hak-hak masyarakat.

Jujur dalam KBBI pun sudah diartikan sebagai sifat atau sikap seseorang yang lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus atau ikhlas. Sederhana, namun maknanya tidak menggugah manusia untuk mengatakan kejujuran dalam hal aksi demonstrasi.

Dekadensi kejujuran terpampang dan membuktikan bahwa keberadaan mahasiswa bayaran sebagai produknya. Artinya, mereka telah menyuarakan bahwa tidak ada kejujuran dalam sumpah pemuda. Bahkan bisa dikatakan, setiap ada aksi demonstrasi terungkap bahwa peserta demonstrasi belum tentu sebagai mahasiswa aktif, sekalipun memakai jas almamater.

Nilai historis sumpah pemuda tidak berarti apa-apa, nirmakna. Bahkan penyelenggaranya pun nirempati. Pelajaran yang dipetiknya beragam, memunculkan polemik di warganet yang tak bisa diterima nalar. Terungkap, jika nantinya muncul aksi serupa, lantas siapakah yang tidak jujur sebenarnya?

Makna kejujuran sangat mulia, seseorang yang berbuat dan berkata jujur sangat langka. Benarkah ini tanda bahwa kejujuran sekadar ucapan bukan perbuatan?

Ujung Problematika

Bukan sekadar jas almamater yang dibeli tanpa menjadi mahasiswa aktif, tetapi mengapa permasalahan masyarakat dianggap sederhana, permasalahan intinya menguap begitu saja?

Ujung-ujungnya isu pentingnya tidak teratasi, masyarakat dihimpit oleh kebijakan yang tidak solutif, masyarakat tersandera oleh setiap keadaan, masyarakat tidak memeroleh hak sesungguhnya dalam bernegara, perdebatan hanya penyangkalan. Namun masyarakat belum sama sekali meraih kemenangan, meski pemilihan umum sudah menetapkan pemenang bagi negeri ini.

Bahkan di tengah arus masyarakat yang menuntut, kejujuran terbungkus di sudut kantor dan gedung-gedung. Tidak berarti, jika bantuan kepada masyarakat disebut, segala permasalahan terwujud.

Jas almamater yang dipakai oleh organisasi perguruan tinggi sebagai perwakilan masyarakat menyuarakan, dan meminta kembali hak-hak yang terampas. Masyarakat berpendidikan sebagai representasi yang sebenarnya pun dikloning dan diatur sedemikian. Kepada siapakah kejujuran disematkan?

Perjuangan pemuda-pemuda pasca kemerdekaan penuh tantangan. Memaknai kemerdekaan di negeri ini harus menghadapi segala bentuk intimidasi dan minim dukungan.

Sedangkan mimpi-mimpi masyarakat menjadikan negeri ini tentram, aman, berpihak kepada rakyat kecil, aturan ditegakkan, keamanan bagi masyarakat, mengamalkan nilai-nilai Pancasila, menjunjung tinggi kejujuran, dan harapan positif demi terwujudnya kemerdekaan hakiki. Akankah kita merasakan makna kemerdekaan yang sebenarnya?

Tidak ada jaminan masyarakat bahagia, tetapi di titik rendah menjadi warga negara, kejujuran adalah mutiara yang tidak bisa diperjuabelikan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)