Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

6 menit baca
Nur Febri Putranto
Ditulis oleh Nur Febri Putranto diterbitkan
Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)

Awal 1966 bukanlah masa yang tenang bagi Indonesia. Setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, krisis politik meluas, perekonomian memburuk, dan kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno terus menghadapi tekanan. Inflasi yang sangat tinggi memperparah kesulitan masyarakat. Di tengah keadaan tersebut, mahasiswa turun ke jalan membawa Tritura: pembubaran PKI, perombakan Kabinet Dwikora, dan penurunan harga.

Nyatanya pada masa itu, tidak semua orang memandang demonstrasi mahasiswa sebagai jalan keluar. Bagi sebagian pendukung Soekarno, gelombang aksi tersebut justru mengancam kedudukan presiden dan kesinambungan revolusi yang selama ini mereka yakini.

Ketegangan itu mencapai babak baru pada Januari 1966, ketika gagasan pembentukan Barisan Soekarno mengemuka. Di tengah krisis politik, nama sang presiden kembali menjadi titik perebutan: siapa yang berhak mengaku membelanya, dan siapa yang dianggap sedang berusaha menjatuhkannya?

Potret Salah Satu Aksi Mahasiswa di Aloen-Aloen Bandung (1966) (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Potret Salah Satu Aksi Mahasiswa di Aloen-Aloen Bandung (1966) (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)

Ketika nama Soekarno menjadi medan pertarungan

Pada malam 16 Januari 1966, Wakil Perdana Menteri I, Dr. Subandrio, menyampaikan pidato melalui Radio Republik Indonesia (RRI). Ia menyerukan pembentukan Barisan Soekarno dan mengkritik demonstrasi mahasiswa yang dinilainya melampaui batas kesopanan serta tidak sesuai dengan akhlak bangsa Indonesia.

Subandrio juga mempertanyakan apakah aksi mahasiswa benar-benar lahir dari kehendak mereka sendiri atau telah ditunggangi pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh revolusi, baik dari luar maupun dari dalam negeri. Dengan demikian, demonstrasi mahasiswa tidak lagi semata-mata diperdebatkan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah, tetapi juga ditempatkan dalam pertarungan mengenai siapa yang dianggap setia kepada revolusi.

Seruan tersebut segera memperoleh tanggapan. Menurut rekonstruksi Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966: Mitos dan Dilema Mahasiswa dalam Proses Perubahan Politik 1959-1970 (2006), pada 17 Januari 1966, Menteri Penerangan Achmadi mengadakan pertemuan dengan sejumlah pendukung Soekarno di kediamannya di Jalan Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta. Pertemuan itu menghasilkan keputusan untuk membentuk Barisan Soekarno sebagai kekuatan tandingan terhadap Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).

Bagi kelompok pendukung presiden, pembentukan barisan tersebut dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan Soekarno di tengah tekanan politik yang semakin besar. Akan tetapi, bagi mahasiswa yang mengusung Tritura, langkah itu justru dipandang sebagai usaha mengimbangi, bahkan melemahkan, gerakan demonstrasi.

Di sinilah persoalannya menjadi rumit. Nama Soekarno bukan hanya simbol seorang presiden, melainkan juga simbol revolusi, kemerdekaan, dan legitimasi politik. Ketika nama itu digunakan untuk membentuk sebuah barisan, pertentangan yang muncul bukan sekadar soal mendukung atau menolak seseorang. Pertentangan tersebut juga menyangkut siapa yang berhak mendefinisikan kepentingan bangsa.

Bandung dan mahasiswa yang tidak sepenuhnya sejalan

Ketegangan di Jakarta memiliki gema tersendiri di Bandung. Namun, dinamika mahasiswa di kota ini tidak dapat diperlakukan sebagai salinan persis dari situasi ibu kota. Dalam Mereka dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967, Hasyrul Moechtar merekam dinamika gerakan mahasiswa Bandung, termasuk munculnya Barisan Soekarno di lingkungan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Salah satu tokoh yang disebut dalam kisah tersebut adalah Siswono Yudohusodo, mahasiswa Teknik Sipil ITB, bersama rekan-rekannya dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang berafiliasi dengan kelompok Ali-Surachman.

Menurut penuturan yang direkam dalam buku itu, Barisan Soekarno di Bandung dibentuk pada malam 16 Januari 1966 di Asrama Barac ITB. Suko Sudarso disebut sebagai komandan barisan, sedangkan Siswono menjadi wakilnya.

Kehadiran kelompok ini memperlihatkan bahwa mahasiswa Bandung tidak memiliki satu sikap tunggal terhadap Soekarno. Di satu sisi, terdapat mahasiswa yang terlibat dalam aksi-aksi KAMI dan mendesak pemerintah memenuhi Tritura. Di sisi lain, terdapat mahasiswa yang menolak anggapan bahwa perjuangan melawan PKI harus berujung pada penghinaan terhadap Soekarno.

Bagi Siswono dan rekan-rekannya, kedudukan Soekarno sebagai Proklamator tidak dapat dihapus begitu saja dari penilaian terhadap krisis politik yang sedang berlangsung. Mereka menilai bahwa pengabdian Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan tetap patut dihargai, sekalipun kebijakan dan kepemimpinannya dapat dipersoalkan.

Sikap tersebut tidak serta-merta berarti mereka menyetujui seluruh kebijakan pemerintah atau menolak semua tuntutan mahasiswa. Justru di sinilah letak perbedaan yang penting: kritik terhadap pemerintahan Soekarno tidak harus identik dengan penolakan terhadap seluruh warisan politik dan sejarahnya.

Dalam buku Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Rum Aly juga merekam kesaksian Siswono mengenai pilihannya membela Soekarno ketika presiden berada dalam posisi terdesak. Siswono menghubungkan sikap itu dengan pengalamannya sendiri dalam Peristiwa 10 Mei 1963 di Bandung, yang membuatnya pernah dicap reaksioner atau kontra-revolusi.

Kesaksian tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman politik seseorang dapat membentuk sikapnya dalam menghadapi perubahan zaman. Namun, sebagai kesaksian retrospektif, pernyataan Siswono tetap perlu dibaca bersama dokumen sezaman dan sumber lain untuk menguji kronologi serta konteksnya.

Siapa yang berhak mengaku sebagai Barisan Soekarno?

Pertentangan tersebut tidak hanya terjadi antara pendukung dan penentang Barisan Soekarno. Bahkan, istilah itu sendiri menjadi bahan perebutan makna. Dalam rekonstruksi Rum Aly, pimpinan KAMI Konsulat Bandung pernah menyatakan kepada wartawan asing bahwa mahasiswa tidak perlu mendirikan Barisan Soekarno karena mereka merasa telah menjadi Barisan Soekarno sejak lama. Pernyataan ini memperlihatkan perbedaan mendasar dalam cara kelompok mahasiswa memahami loyalitas politik.

 Bagi kelompok yang menolak pembentukan organisasi tandingan, membela kepentingan bangsa dan mempertahankan Soekarno sebagai simbol kemerdekaan tidak harus diwujudkan melalui barisan baru yang dibentuk atas seruan pemerintah. Sebaliknya, bagi para pendukung pembentukan Barisan Soekarno, keberadaan organisasi tersebut dipandang perlu untuk menghadapi gerakan yang mereka anggap mengancam presiden. Persoalannya bukan sekadar siapa yang mendukung Soekarno. Persoalannya juga menyangkut siapa yang dapat mengklaim bahwa sikap politiknya paling mewakili kepentingan nasional.

Perbedaan itu semakin rumit ketika aparat negara harus menghadapi dua tuntutan yang berlawanan. Dalam kisah yang direkam Rum Aly, Panglima Kodam Siliwangi Mayor Jenderal Ibrahim Adjie digambarkan berada dalam posisi sulit. Ia dikenal loyal kepada Soekarno, tetapi juga mengkhawatirkan penggunaan nama presiden oleh pihak-pihak yang dianggap memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri.

Sikap Ibrahim Adjie, sebagaimana dituturkan dalam sumber tersebut, menunjukkan bahwa loyalitas kepada presiden tidak selalu berarti menerima setiap langkah yang dilakukan atas nama presiden. Dalam situasi politik yang penuh tekanan, membela Soekarno dan mendukung pembentukan Barisan Soekarno merupakan dua hal yang tidak selalu identik.

 Kritik dari Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat

Pertarungan mengenai Barisan Soekarno juga berlangsung di ruang pemberitaan. Surat kabar mingguan Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat, yang dikenal sebagai salah satu media penting dalam lingkungan gerakan mahasiswa Bandung, menyoroti pembentukan barisan tersebut melalui tajuk yang diterbitkan pada hari Minggu, 11 September 1966 berjudul “Barisan Soekarno Dibentuk dengan Uang Negara, atas Instruksi Presiden”. Surat kabar tersebut mewartakan bahwa dana negara sebesar Rp210 juta telah dikeluarkan untuk pembentukan Barisan Soekarno. Media tersebut juga menyebut sejumlah nama yang diklaim menerima dana, masing-masing sebesar Rp25 juta.

Pemberitaan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan Barisan Soekarno tidak hanya diperdebatkan di jalanan atau dalam rapat organisasi. Pers juga menjadi arena untuk mempertanyakan legitimasi, pendanaan, dan kepentingan politik di balik sebuah gerakan.

Lebih dari sekadar dua kubu

Pembentukan Barisan Soekarno pada Januari 1966 memperlihatkan bahwa gerakan mahasiswa Bandung tidak dapat dipahami melalui pembagian sederhana antara pendukung dan penentang Soekarno. Ada mahasiswa yang memusatkan perjuangannya pada tuntutan perubahan politik, ada pula yang berusaha mempertahankan kehormatan Soekarno sebagai Proklamator tanpa harus menyetujui seluruh kebijakan pemerintahannya.

Perbedaan itu berlangsung ketika kedudukan politik Soekarno semakin terdesak dan arah pemerintahan Indonesia sedang mengalami perubahan besar. Karena itu, pilihan politik mahasiswa pada 1966 tidak dapat dilepaskan dari situasi krisis, pengalaman organisasi, serta penafsiran mereka terhadap revolusi dan kepentingan nasional.

Kisah Barisan Soekarno juga mengingatkan kita bahwa nama besar seorang tokoh dapat menjadi sumber legitimasi yang diperebutkan berbagai kelompok. Mengaku membela Soekarno tidak otomatis berarti memiliki pandangan politik yang sama, sebagaimana mengkritik pemerintahannya tidak selalu berarti menolak seluruh jasa dan warisan sejarahnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 18:16

PWI Jabar dan Tantangan Baru Menjaga Kepercayaan Publik di Era AI

PWI Jawa Barat juga dapat mendorong penguatan disiplin verifikasi di kalangan anggotanya. Misal, dengan membahas prosedur pemeriksaan video yang viral dan penggunaan gambar hasil AI.

Logo Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 17:31

Terlalu Dekat untuk Dikenal: Mengapa Situs Candi Bojong Menje perlu Diceritakan Kembali?

Situs Candi Bojong Menje menyimpan jejak sejarah yang penting, tetapi masih kurang mendapat perhatian layak. Sudah saatnya masyarakat, generasi muda, mengenal dan menjaga warisan sejarah ini.

Kondisi Situs Candi Bojong Menje di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi Jailani Abdul Rosyid | Foto: Jailani Abdul Rosyid)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 16:51

Membuka Monitor Oktober 1983: Saat Si Unyil, Gombloh, dan Bintang Idola Menemani Hari-Hari Kita

Majalah Monitor edisi Oktober 1983 mengajak kita pulang sejenak ke masa ketika hiburan tak datang setiap saat dalam genggaman, tetapi justru dinanti dengan penuh antusias.

Majalah Monitor edisi Oktober 1983, majalah hiburan dan keluarga dengan sampul mojang Bandung, Reita Soebita. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 15:42

Tahun Berulang, MAMPUS Berulang Tahun

Ejaan setiap pemilihan diksi sangat relevan, sehingga menciptakan makna, bahkan pembacaan yang multitafsir sering disebut sebagai perspektif.

Berulang Tahun MAMPUS (Malam Minggu Puisi) (Foto: Ayu Maimun)
Seni Budaya 12 Okt 2026, 14:41

Mengubah Gerakan Erotis Tari-tarian Kerakyatan Melalui Tari Lidah Agni

Tari kerakyatan tradisional sunda, memang kerap mendapat stigma terdapat unsur erotis. Akan tetapi, para peneliti ISBI Bandung mengubahnya menjadi gerakan tari lidah agni.

Salah satu gerakan Tari Lidah Agni  yang dipentaskan oleh Sanggar Putri Ayu Bandung (Foto: mildan)
Beranda 12 Okt 2026, 14:18

Menari dan Berbagi untuk Sesama Lewat Bhakti Nṛtya Pertiwi

Lebih dari sekadar pertunjukan, Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi ruang perjumpaan untuk merayakan keberagaman budaya.

Pertunjukan tari Kalimantan dalam Bhakti Nṛtya Pertiwi menjadi bagian dari perayaan keberagaman budaya Nusantara sekaligus ajakan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 14:01

Semrawut Parkir Liar Pasar Ujungberung: Jalan Sempit, Pejalan Kaki Terpaksa 'Nyempil' di Antara Kendaraan

Parkir liar di bahu jalan dan trotoar depan Pasar Ujungberung bikin ruas jalan menyempit. Pejalan kaki terpaksa nyempil di antara kendaraan

Kondisi parkir liar sepeda motor di bahu jalan depan Pasar Ujungberung yang menyebabkan penyempitan jalan. (Foto: Rahayu)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 13:22

Aksa Cafe Cirebon tempat Nongkrong Cozy di Cirebon

Aksa Cafe Cirebon menjadi salah satu tempat nongkrong anak muda yang punya tempat yang nyaman dan rasa makanan yang enak

Menu Aksa Cafe Cirebon (11/10/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)