Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

3 menit baca
Muhammad Daifullah Al Ariq
Ditulis oleh Muhammad Daifullah Al Ariq diterbitkan
 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
(Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Beberapa minggu yang lalu, Jembatan Ampera yang merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat baru saja diresmikan sebagai salah satu cagar budaya tingkat nasional.

  • Sebelumnya, ide untuk menghubungkan wilayah Ulu dan Ilir dengan membangun sebuah jembatan sudah muncul sejak awal abad ke-20, tepatnya antara 1924 dan 1926 oleh Gemeente Palembang dengan walikotanya yang bernama Le Cocq d’Armandville.

  • Pada saat ini, Jembatan Ampera masih dikelola oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Selatan di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum, walau nantinya berkemungkinan berpindah tangan ke Pemerintah Kota Palembang dikarenakan jembatan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Beberapa minggu yang lalu, Jembatan Ampera yang merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat baru saja diresmikan sebagai salah satu cagar budaya tingkat nasional yang terdapat di Sumatera Selatan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Penetapan yang dilakukan pada 2 September 2026 ini tentunya berdampak baik, tidak hanya bagi jembatan tersebut, tetapi juga bagi masyarakat, terutama yang berdomisili di Kota Palembang karena semakin menguatkan identitas kota itu sendiri.

Selain itu, penetapan Jembatan Ampera sebagai cagar budaya juga memberikan dampak positif, yaitu dapat membuat jembatan tersebut dilindungi oleh hukum yang lebih tinggi sehingga dapat lebih terjaga, mengingat alasan penetapan tersebut adalah karena jembatan ini telah memenuhi syarat penetapan cagar budaya yang salah satunya yaitu telah berdiri minimal selama 50 tahun.

Alasan tersebut tentunya mengundang rasa penasaran saya akan satu hal, dari mana awal mula jembatan ini dan bagaimana ia dapat terus melayani masyarakatnya hingga saat ini?

 (Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum)
(Sumber: Kementerian Pekerjaan Umum)

Sebelumnya, ide untuk menghubungkan wilayah Ulu dan Ilir dengan membangun sebuah jembatan sudah muncul sejak awal abad ke-20, tepatnya antara 1924 dan 1926 oleh Gemeente Palembang dengan walikotanya yang bernama Le Cocq d’Armandville.

Lebih dari satu dekade setelah Indonesia merdeka dari Belanda, ide pembangunan jembatan penghubung wilayah Ulu dan Ilir dibahas kembali dalam sebuah rapat pada 29 Oktober.

Dari rapat tersebut, dibentuk sebuah panitia pembangunan yang terdiri dari empat orang yang di antaranya Gubernur Sumsel Achmad Bastari, Kolonel Harun Sohar, Wali Kota Palembang M. Ali Amin beserta Wakil Wali Kota Indra Caya yang kemudian mengusulkan rancangan tersebut beserta 3 lokasi yang memungkinkan untuk dibangunkan jembatan kepada Soekarno. Ia kemudian memilih opsi pertama, tepatnya dari wilayah 7 dan 10 Ulu hingga 16 Ilir yang menurutnya pada saat itu sangat pas dengan rencananya untuk membangun jalan Trans-Sumatera Timur.

Pada waktu yang tidak berselang lama, tepatnya pada 1958, Soekarno diberitahu oleh Djuanda Kartawidjaja yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Perhubungan dan Menteri Keuangan bahwa Jepang akan membayar senilai 20 juta dolar Amerika sebagai pembayaran pertama atas denda perang yang dua tahun kemudian baru disetorkan disertai arsitek Jepang atas permintaan Soekarno. Pembangunan jembatan tersebut akhirnya dimulai pada tahun 1962 dan selesai serta diresmikan pada 10 November 1965 oleh Brigadir Jenderal Jazid Bastomi dengan nama Jembatan Bung Karno.

Uniknya, ada perbedaan memori yang saling berlawanan terkait kapan dan siapa yang meresmikan jembatan tersebut serta alasan mengenai perubahan nama yang terjadi kemudian, seperti adanya informasi yang berbeda dari catatan resmi pemerintah yang mengatakan bahwa peresmian jembatan tersebut terjadi pada 30 September dan diresmikan oleh Letjen Ahmad Yani beberapa jam sebelum insiden G30S/PKI.

Selain itu, ada perbedaan data dan memori yang mengatakan bahwa alasan perubahan nama jembatan tersebut menjadi Ampera adalah permintaan Soekarno yang kurang berkenan karena tidak ingin memunculkan individualitas. Namun, di sisi lain, dikatakan bahwa perubahan nama tersebut dikarenakan ketegangan politik akibat insiden G30S/PKI serta jembatan tersebut digunakan sebagai tempat terjadinya gerakan penuntutan rakyat di Palembang.

Pada saat ini, Jembatan Ampera masih dikelola oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Selatan di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum, walau nantinya berkemungkinan berpindah tangan ke Pemerintah Kota Palembang dikarenakan jembatan tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Selain berfungsi sebagai jembatan penghubung antara wilayah Ulu dan Ilir, jembatan tersebut juga berfungsi sebagai ikon historis Kota Palembang yang membuatnya menarik wisatawan, walau disayangkan salah satu fitur jembatan tersebut, yaitu fitur di mana jembatan tersebut dapat diangkat untuk mengakomodasi kapal yang berlalu-lalang, telah dihilangkan dan dinonaktifkan pada tahun 1970 dikarenakan dapat mengganggu lalu lintas. (*)

Referensi

  • Aryanti, N., Putri, Z., Syarifuddin, & Irwanto, D. (2022). Sejarah Jembatan Ampera sebagai ikon Kota Palembang. Historia Madania, 6(2), 139–146.
  • Purmana, E. (2026, 11 September). Jembatan Ampera Palembang ditetapkan sebagai cagar budaya nasional. ANTARA News Sumatera Selatan.
  • Rasyidi, A. D. (2026, 29 Mei). Jembatan Ampera: Amanat Penderitaan Rakyat dan ikon kota. Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  • Sholeh, K., & Nindiati, D. S. (2018). Eksistensi Jembatan Ampera terhadap perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat Ulu Palembang tahun 1950–2010. Jurnal HISTORIA, 6(2), 273–294.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Daifullah Al Ariq
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)