Suara Kritis Masyarakat Jejaring

9 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Ilustrasi pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ilustrasi pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)

Ada sesuatu yang menarik dari perbincangan mengenai pajak pembalut yang belakangan ramai di media sosial. Produk yang selama ini menjadi kebutuhan rutin perempuan kini menjadi bahan perdebatan publik. Pertanyaan tentang pengenaan pajak atas pembalut tidak lagi berhenti pada persoalan harga, tetapi berkembang menjadi diskusi mengenai keadilan kebijakan terhadap kebutuhan biologis perempuan.

Perbincangan ini berkembang melalui berbagai platform digital, mulai dari Threads, Instagram, hingga TikTok. Warganet, influencer, dan kreator konten turut menyampaikan kritik melalui unggahan, komentar, maupun aksi langsung. Salah satunya Dea Ayu yang membagikan pembalut gratis dalam aksi di Bundaran Hotel Indonesia pada 28 Oktober 2026. Keterlibatan berbagai pihak tersebut membuat isu ini memperoleh perhatian yang lebih luas.

Direktorat Jenderal Pajak menjelaskan bahwa pembalut termasuk Barang Kena Pajak (BKP) dan dikenai PPN efektif sebesar 11 persen. Ketentuan ini bukan kebijakan baru, tetapi kembali menjadi perhatian setelah ramai diperbincangkan di ruang digital. Fenomena ini menarik untuk dilihat bukan semata-mata dari persoalan pajaknya, melainkan dari bagaimana sebuah isu yang dekat dengan pengalaman sehari-hari dapat berkembang menjadi kritik publik melalui jaringan komunikasi digital.

Dari Pengalaman Personal Menjadi Suara Kolektif

Media digital telah mengubah cara masyarakat menyampaikan dan mempertemukan pengalaman. Dalam isu PPN pembalut, pengalaman perempuan yang sebelumnya lebih banyak berada dalam ruang personal kini dapat dibagikan, ditanggapi, dan dihubungkan dengan pengalaman pengguna lain. Percakapan yang terbentuk tidak lagi sekadar berisi keluhan individual, tetapi berkembang menjadi pertanyaan bersama mengenai kebijakan dan kepentingan publik.

Fenomena ini dapat dibaca melalui konsep Network Society yang dikemukakan Manuel Castells. Dalam masyarakat jejaring, kekuatan komunikasi tidak lagi sepenuhnya berada pada institusi formal atau media massa. Individu yang terhubung melalui jaringan digital memiliki kesempatan untuk memproduksi dan menyebarkan informasi, membangun opini, bahkan memengaruhi agenda percakapan publik.

Masyarakat tidak harus menunggu media massa mengangkat suatu persoalan untuk mulai membicarakannya. Mereka dapat memulai percakapan sendiri, menghubungkan informasi, memberikan tanggapan, dan memperluas jangkauan isu melalui jaringan yang dimiliki. Kekuatan komunikasi dalam masyarakat jejaring terletak pada kemampuan berbagai aktor untuk saling terhubung dan membuat sebuah pesan bergerak melampaui batas akun atau komunitas asalnya.

Dalam konteks PPN pembalut, kekuatan kritik tidak hanya berasal dari satu figur atau organisasi, tetapi dari keterhubungan berbagai suara yang memiliki perhatian terhadap persoalan yang sama. Di sinilah masyarakat jejaring memperlihatkan perannya: bukan sekadar mempercepat penyebaran informasi, melainkan memungkinkan pengalaman dan kepentingan yang berbeda bertemu dalam satu percakapan publik.

Ketika Influencer Ikut Mengambil Bagian

Salah satu hal menarik dari perbincangan mengenai PPN pembalut adalah keterlibatan influencer dan kreator konten. Mereka tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga menjadi aktor yang dapat memperluas jangkauan sebuah isu. Melalui popularitas, karakter konten, dan kedekatan dengan pengikutnya, mereka memiliki kemampuan untuk membawa persoalan tertentu ke hadapan audiens yang lebih luas.

Aksi Dea Ayu yang membagikan pembalut gratis dalam demonstrasi menjadi salah satu contoh bagaimana perhatian terhadap isu ini tidak berhenti pada percakapan digital, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan di ruang fisik. Sementara itu, Gerald Vincent turut mengangkat persoalan PPN pembalut melalui konten Instagram yang memantik diskusi mengenai kebijakan pajak dan kebutuhan perempuan. Keduanya memperlihatkan bahwa keterlibatan dalam isu publik dapat mengambil bentuk yang beragam, mulai dari menyampaikan kritik, membangun kesadaran, hingga melakukan aksi langsung.

Fenomena ini menunjukkan bahwa suara publik tidak selalu harus muncul dari organisasi advokasi atau kelompok aktivis yang telah memiliki struktur gerakan. Kreator konten dengan latar belakang dan basis pengikut yang beragam juga dapat mengambil bagian dalam mengangkat persoalan sosial. Mereka dapat menjadi penghubung antara isu yang mungkin sebelumnya kurang mendapat perhatian dengan masyarakat yang lebih luas.

Kondisi tersebut dapat dipahami melalui konsep Participatory Culture yang dikemukakan Henry Jenkins. Dalam budaya partisipatif, audiens tidak lagi hanya ditempatkan sebagai penerima pesan dari media, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memproduksi, mengolah, dan menyebarkan informasi. Batas antara produsen dan konsumen media menjadi semakin cair. Pengguna dapat memberikan makna baru terhadap suatu informasi, mengembangkan percakapan, bahkan menghasilkan konten yang kemudian dikonsumsi oleh pengguna lainnya.

Dalam perbincangan mengenai PPN pembalut, partisipasi tersebut terlihat melalui berbagai aktivitas pengguna media sosial. Ada yang membagikan informasi mengenai ketentuan pajak, membuat video penjelasan, menyampaikan pengalaman pribadi, memberikan komentar, hingga mengkritisi kebijakan pemerintah. Bentuk keterlibatan setiap orang memang tidak sama. Namun, ketika berbagai aktivitas tersebut saling terhubung, informasi dan kritik dapat beredar lebih luas serta membentuk perhatian bersama.

Selain budaya partisipatif, fenomena ini juga dapat dibaca melalui konsep Connective Action dari W. Lance Bennett dan Alexandra Segerberg. Konsep ini menjelaskan bagaimana tindakan kolektif dalam masyarakat digital dapat terbentuk melalui hubungan antarpersonal yang terhubung dalam jaringan, tanpa harus selalu bergantung pada organisasi formal atau kepemimpinan terpusat. Individu dapat terlibat dengan membawa pengalaman, kepentingan, dan ekspresi personal masing-masing, kemudian menemukan keterhubungan dengan orang lain yang memiliki perhatian serupa.

Dalam konteks ini, kritik terhadap PPN pembalut tidak harus berasal dari satu organisasi perempuan atau satu tokoh tertentu. Ia dapat tumbuh melalui keterlibatan berbagai akun, komunitas, influencer, dan pengguna biasa. Masing-masing menyampaikan pandangannya dengan cara yang berbeda, tetapi percakapan mereka bertemu pada satu persoalan yang sama: bagaimana kebijakan publik memperlakukan kebutuhan menstruasi perempuan.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)

Hal yang penting dari keterlibatan para kreator konten bukan semata-mata jumlah pengikut atau tingkat popularitas mereka, melainkan kemampuan menghubungkan isu dengan pengalaman audiens. Ketika persoalan kebijakan disampaikan melalui cerita dan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat lebih mudah memahami relevansinya dan terdorong untuk ikut terlibat. Dengan demikian, influencer bukan sekadar memperluas jangkauan informasi, tetapi juga dapat membantu menjadikan suatu persoalan sebagai perhatian bersama.

Ketika Suara Digital Mulai Didengar

Perjalanan sebuah isu dari percakapan media sosial menuju perhatian institusi menjadi bagian penting dari fenomena ini. Kritik yang awalnya berkembang melalui unggahan dan komentar pengguna kemudian beririsan dengan pernyataan sejumlah lembaga dan pejabat negara. Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa ruang digital dan ruang politik bukanlah dua wilayah yang sepenuhnya terpisah.

Komnas Perempuan pada 30 Oktober 2026 menyampaikan sikap bahwa pengenaan pajak terhadap produk menstruasi perlu ditinjau kembali dengan mempertimbangkan keadilan gender dan pemenuhan hak asasi manusia. Lembaga tersebut memandang produk menstruasi sebagai kebutuhan esensial, bukan kebutuhan mewah. Pandangan ini membawa perdebatan mengenai pembalut ke dalam pembahasan yang lebih luas, yakni tentang hak, kesehatan reproduksi, dan keadilan bagi perempuan.

Selanjutnya, pada 5 November 2026, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah menjadikan aspirasi masyarakat mengenai pajak pembalut sebagai masukan untuk evaluasi kebijakan. Ia menekankan bahwa pembalut merupakan kebutuhan primer perempuan yang berkaitan dengan siklus biologis dan kesehatan reproduksi.

Kehadiran respons dari lembaga dan pejabat negara tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini telah memperoleh perhatian di luar ruang percakapan media sosial. Isu yang dibicarakan masyarakat mulai bersinggungan dengan ruang institusional, tempat kebijakan publik dibahas dan dievaluasi. Namun, hal ini tidak serta-merta berarti bahwa percakapan digital menjadi satu-satunya penyebab munculnya respons tersebut. Perhatian institusi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perkembangan diskusi publik, advokasi, pemberitaan media, dan pertimbangan kebijakan.

Dalam perspektif Network Society Manuel Castells, perkembangan ini memperlihatkan potensi jaringan komunikasi dalam memengaruhi pembentukan agenda publik. Kekuasaan dalam masyarakat jejaring tidak hanya berkaitan dengan siapa yang memiliki akses terhadap media, tetapi juga dengan kemampuan membangun dan menghubungkan jaringan komunikasi. Ketika sebuah isu terus dibicarakan, dibagikan, dan memperoleh perhatian dari berbagai pihak, isu tersebut memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke dalam percakapan publik yang lebih luas.

Masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada saluran komunikasi formal untuk menyampaikan kepentingannya. Mereka dapat membangun percakapan melalui jaringan horizontal antarpengguna, memperluas jangkauan kritik, dan menghadirkan persoalan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Dalam situasi tertentu, percakapan tersebut dapat menjangkau aktor-aktor institusional yang memiliki kewenangan untuk merespons persoalan publik.

Meski demikian, penting untuk membedakan antara keberhasilan membangun perhatian publik dan keberhasilan mengubah kebijakan. Pernyataan pejabat atau lembaga negara merupakan bentuk respons terhadap suatu persoalan, tetapi belum otomatis menunjukkan bahwa tuntutan masyarakat telah dipenuhi. Perubahan kebijakan membutuhkan proses lebih panjang, mulai dari pembahasan, pertimbangan berbagai kepentingan, hingga keputusan yang memiliki konsekuensi nyata bagi masyarakat.

Karena itu, kekuatan suara digital tidak cukup diukur dari seberapa luas sebuah isu tersebar atau seberapa banyak orang memberikan komentar. Hal yang lebih penting adalah apakah perhatian tersebut dapat dijaga dan diteruskan menjadi pengawasan publik serta advokasi yang berkelanjutan. Jaringan digital dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, tetapi keberlanjutan perubahan tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat di luar momentum viral.

Apakah Kepedulian di Media Sosial sudah Cukup?

Fenomena PPN pembalut memperlihatkan bahwa media sosial memiliki kemampuan mempertemukan berbagai pengalaman dan kepentingan menjadi percakapan publik. Namun, tingginya interaksi di ruang digital juga menyisakan pertanyaan: apakah sebuah isu yang ramai dibicarakan selalu menunjukkan tumbuhnya kesadaran kritis masyarakat?

Dalam budaya digital, perhatian publik bergerak dengan sangat cepat. Sebuah persoalan dapat menjadi perbincangan luas dalam waktu singkat, tetapi juga dapat segera tergantikan oleh isu lain. Algoritma platform, tren, dan persaingan konten membuat perhatian masyarakat menjadi sesuatu yang dinamis dan tidak selalu bertahan lama. Akibatnya, persoalan yang semula mendapat perhatian besar berisiko kehilangan ruang ketika percakapan publik berpindah ke topik berikutnya.

Persoalan pembalut bisa menjadi viral hari ini, tetapi belum tentu tetap menjadi perhatian masyarakat beberapa minggu kemudian. Padahal, kebutuhan menstruasi berlangsung secara rutin dan tidak berhenti ketika sebuah perbincangan kehilangan popularitas. Di sinilah terdapat jarak antara momentum viral di media sosial dan persoalan sosial yang sesungguhnya membutuhkan penyelesaian jangka panjang.

Kondisi tersebut mengingatkan kita bahwa aktivisme digital tidak cukup hanya diukur melalui jumlah tayangan, komentar, tanda suka, atau seberapa sering sebuah konten dibagikan. Angka-angka tersebut memang dapat menunjukkan luasnya perhatian, tetapi belum tentu menggambarkan kedalaman pemahaman ataupun kesediaan masyarakat untuk terlibat lebih jauh. Seseorang dapat ikut membagikan sebuah konten karena sedang menjadi tren, tetapi belum tentu memahami persoalan kebijakan yang sedang diperdebatkan.

Oleh karena itu, tantangan masyarakat jejaring bukan hanya membuat sebuah isu menjadi viral, melainkan menjaga agar percakapan tersebut tetap memiliki substansi. Masyarakat perlu bergerak melampaui aktivitas membagikan konten, dengan memahami kebijakan, memeriksa informasi, mendiskusikan alternatif, serta mengawal keputusan yang diambil pemerintah. Kritik publik juga perlu disertai argumentasi yang kuat agar tidak berhenti sebagai ekspresi ketidakpuasan semata.

Dalam hal ini, media digital dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya kesadaran publik. Ia menyediakan ruang bagi masyarakat untuk saling bertukar informasi, mempertemukan pengalaman, dan membangun perhatian terhadap persoalan yang sama. Namun, perubahan yang lebih nyata membutuhkan proses yang berkelanjutan. Percakapan perlu diikuti dengan pengawasan, advokasi, dan keterlibatan masyarakat dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai PPN pembalut memperlihatkan bahwa persoalan yang menyangkut tubuh perempuan bukan semata-mata urusan perempuan. Ia merupakan bagian dari percakapan yang lebih luas tentang keadilan, kebijakan publik, kesehatan reproduksi, dan bagaimana negara memahami kebutuhan warganya.

Masyarakat jejaring bukan sekadar kumpulan pengguna media sosial yang saling membagikan informasi. Di dalamnya terdapat potensi untuk membangun wacana, memperluas perhatian publik, dan mendorong institusi agar lebih responsif terhadap persoalan masyarakat. Namun, potensi tersebut hanya akan bermakna apabila suara yang muncul di ruang digital tidak berhenti sebagai riuh percakapan sesaat.

Mungkin inilah salah satu wajah penting budaya digital hari ini, suara yang sebelumnya tersebar dan dianggap kecil dapat menemukan kekuatannya ketika saling terhubung. Dari perdebatan tentang pembalut, kita melihat bahwa pengalaman sehari-hari dapat menjadi dasar bagi kritik sosial yang lebih luas. Dan ketika masyarakat mulai mempertanyakan bagaimana sebuah kebijakan memperlakukan kebutuhan warganya, percakapan digital telah melampaui urusan berbagi informasi. Ia menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk ikut menentukan persoalan apa yang layak diperhatikan dan bagaimana kepentingan publik seharusnya diperjuangkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Nov 2026, 20:45

Potensi Desa yang Tak Ada di Peta Digital

Strategi publikasi digital potensi desa menggunakan peta digital.

Wisatawan menaiki wahana Kereta Dangdeur Van Java di Ciherang, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Mitra 06 Nov 2026, 20:30

Angola Jajaki Kerja Sama Pasokan Pupuk dan Investasi dengan Pupuk Kujang

Pemerintah Angola menjajaki peluang kerja sama di sektor pupuk dan pertanian dengan PT Pupuk Kujang Cikampek.

Direktur Utama Pupuk Kujang, Panji Winanteya Ruky saat menyambut Dubes Angola untuk Indonesia, Florencio Mariano da Conceciao e Almeida. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 19:56

Cikasungka, Semula Belantara Habitat Areuy Kasungka

Banyaknya toponim Cikasungka menandakan bahwa pada awalnya areuy kasungka tersebar dengan sangat baik di hutan hujan tropis pegunungan di Jawa Barat dan di Banten.

Bunga, buah, areuy kasungka. (Sumber: tropical.theferns.info)
Mayantara 06 Nov 2026, 19:05

Suara Kritis Masyarakat Jejaring

Ketika persoalan perempuan menjadi percakapan publik di ruang digital.

Ilustrasi pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Seni Budaya 06 Nov 2026, 18:56

Wayang Dari Panggung Rakyat Hingga Diakui Dunia

Dunia mungkin menyebutnya Puppet, akan tetapi bagi masyarakat Indonesia kesenian ini bukan hanya berupa boneka atau bentuk yang menyerupai manusia. Masyarakat di Nusantara mengenalnya dengan sebutan w

Ilustrasi Wayang di Indonesia (Foto: AI)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 17:12

Semoga Abadi dalam Gejolak Api Neraka

Jika kritikan secara halus tak jua di dengar maka biarkan bait-bait yang menusuk relung dan jiwa yang terlontar.

Jika kritik secara halus tak di dengar maka biarkan gejolak api dalam jiwa yang berbicara. (Sumber: Pexels)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 14:21

Duh! Bandung Kian Gemerlap tapi Sebagian Warganya Malah Turun Kelas

Kita perlu memastikan apakah segala fasilitas yang tersedia di Kota Bandung juga memperbesar ruang hidup segenap warganya.

Jembatan Pasupati, salah satu ikon Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Danny)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 10:22

Jangan Sepelekan Buah Sukun

Saat ini pohon Sukun di Kota Bandung sedang berbuah sementara pohon-pohonnya tersebar dan berada di pinggir jalan, raya,, di tempat-tempat umum dan perkantoran.

Buah sukun. (Sumber: Pexels | Foto: Quang Nguyen Vinh)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 08:49

Ngopi Tahun 1980-an

Banyak warung kopi sederhana yang menjadi tempat mangkal untuk menikmati secangkir kopi tubruk di Kota Bandung pada dekade tahun 1980-an.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:21

Potensi Hutan Babakan Siliwangi Bandung sebagai Destinasi Wisata

Bandung menjadi salah satu kota yang masih memiliki hutan kota. Hutan Babakan Siliwangi Bandung berpotensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata, selain penyeimbang udara bersih dari polusi.

Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:09

Karhutla dan Kabut Asap Menjadi Berita Utama Surat Kabar Daerah-Nasional hingga Internasional

Besarnya perhatian terhadap bencana ekologis tercermin dari pemberitaan berbagai surat kabar daerah, nasional, hingga internasional.

Sejumlah surat kabar daerah yang menyoroti peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 19:08

Dari Papua ke Jawa Barat: Karhutla dan Peran Warga Bandung

Dari karhutla Papua hingga kejadian di Bandung, mari jaga lingkungan lewat 4 langkah sederhana pencegahan kebakaran di sekitar rumah.

Ilustrasi kebakaran hutan di Papua. (Sumber: AI Generator | Foto: Ilustrasi AI)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 18:23

Hanya Sepekan: Asap Karhutla Kembali Penuhi Langit Palangkaraya

Baru saja genap sepekan langit Palangka Raya bersih karena sudah turun hujan. Namun kabar baik tersebut tidak berlangsung lama setelah pembakaran hutan kembali terjadi.

Asap Karhutla kembali penuhi langit Palangkaraya. (Sumber: Instagram| info.kalteng)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 17:25

10 Netizen Terpilih Oktober 2026: Menangkap Isu Hujan, Bencana, dan Wajah Kota Bandung

10 penulis terbaik Ayo Netizen Oktober 2026 diumumkan. Dari isu hujan dan bencana hingga wajah kota Bandung, total hadiah Rp1,5 juta.

Banjir yang menggenangi Jalan Raya Pluto, Margahayu, Kota Bandung, Rabu 14 Mei 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 16:45

Apakah Buku Fisik Mulai Menjadi Bagian dari Masa Lalu?

Analisis kebiasaan membaca digital mahasiswa Indonesia beserta tiga keterbatasan data yang perlu dicermati sebelum menyimpulkan nasib buku cetak.

Contoh buku fisik berjudul Pride and Prejudice karya Jane Austen. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Dila Ananda Pratama)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 13:57

Menemukan Manisnya Ketan Susu Bang Zul, Hidden Gem Kuliner di Ujung Berung

Ketan Susu Bang Zul, salah satu hidden gem kuliner di Ujung Berung, Bandung. Sajian ketan susu dengan beragam topping, menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur yang menggugah selera.

Ketan Susu Bang Zul. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 12:24

Éling ka Wiwitan, Sadar ka Wekasan: Membangun Bandung Tangguh Bencana

Kota tangguh bencana tidak dibangun ketika bencana datang, melainkan jauh sebelumnya melalui kesadaran mengenali risiko dan keberanian melakukan mitigasi.

Pembangunan kota harus dimulai dengan kesadaran bersama terhadap risiko bencana. (Sumber: pexels | Foto: alfian light)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 11:11

Lagu ‘Halo-Halo Bandung’ Kala Persib Tandang di Negeri Orang

Tanpa harus merencanakan sebuah pertunjukan kebudayaan, para bobotoh Persib membawa salah satu simbol sejarah Bandung ke hadapan publik internasional.

Pemain Persib merayakan kemenangan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 07:57

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan

Di tengah rezim yang sewenang-wenang, Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor kembali menyatukan suara korban yang diabaikan dan menjaga nyala welas asih sebagai napas panjang perlawanan di jalanan.

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor di Braga, 29 Agustus 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Mitra 04 Nov 2026, 20:29

Dari 475 Pendaftar, 35 Jurnalis Terpilih Raih Beasiswa S2 BRI Fellowship Journalism 2026

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026. (Sumber: Dok. BRI)