Éling ka Wiwitan, Sadar ka Wekasan: Membangun Bandung Tangguh Bencana

6 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Pembangunan kota harus dimulai dengan kesadaran bersama terhadap risiko bencana. (Sumber: pexels | Foto: alfian light)
Pembangunan kota harus dimulai dengan kesadaran bersama terhadap risiko bencana. (Sumber: pexels | Foto: alfian light)

Ada pelajaran yang selalu berulang setiap kali bencana datang. Ketika karhutla) meluas, kita menyaksikan bagaimana petugas, relawan, dan masyarakat harus berjibaku memadamkan api dan menyelamatkan kehidupan.

Ketika banjir melanda permukiman, kita melihat warga berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih tersisa. Ketika longsor terjadi, perhatian kita tertuju pada evakuasi korban dan kerusakan.

Semua itu memperlihatkan betapa besar energi, tenaga, dan biaya yang harus dikeluarkan ketika bencana sudah terjadi.

Namun, di balik setiap peristiwa tersebut, ada pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah semua risiko itu sudah cukup diperhitungkan sebelum bencana datang?

Ketika risiko bencana tidak dikelola secara memadai, dampaknya bukan hanya kerusakan lingkungan dan kerugian masyarakat. Kebutuhan pembiayaan untuk penanganan darurat dan pemulihan juga meningkat.

Di tengah keterbatasan fiskal daerah, kondisi ini dapat mengurangi ruang anggaran bagi pembangunan dan pelayanan publik lainnya. Karena itu, mitigasi bukan hanya investasi untuk mengurangi korban jiwa dan kerusakan, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan APBD dan pelayanan publik.

Bandung Pun Perlu Bercermin

Kota Bandung memang tidak menghadapi karakteristik karhutla. Namun, bukan berarti Bandung terbebas dari ancaman bencana. Kondisi geografis dan perkembangan kota menghadirkan tantangan tersendiri.

Pertumbuhan permukiman, perubahan penggunaan lahan, berkurangnya kawasan resapan, persoalan drainase, serta erilaku masyarakat dalam mengelola sampah yang belum bertanggung jawab. dapat saling berkaitan dan memperbesar kerentanan lingkungan.

Persoalan sampah, misalnya, tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut sampah dari tempat penampungan sementara menuju tempat pemrosesan akhir. Begitu pula persoalan banjir yang tidak bisa hanya diselesaikan dengan memperbesar saluran air atau menambah pompa.

Infrastruktur memang pentin. Tetapi tanpa pengendalian tata ruang, pemeliharaan lingkungan, dan perubahan perilaku masyarakat, upaya tersebut tidak akan memberikan hasil yang berkelanjutan.

Bandung harus menjadi kota yang mengenali risikonya, mempersiapkan warganya, serta berani mengambil keputusan pembangunan dengan menempatkan keselamatan masyarakat sebagai pertimbangan utama.

Mengingat Kembali Kearifan Sunda

Masyarakat Sunda memiliki kearifan lokal yang mengajarkan bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam. Salah satunya adalah ungkapan "Gunung teu meunang dilebur, leuweung teu meunang dirusak."

Gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak. Sebuah ungkapan sederhana, tetapi menyimpan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Gunung, hutan, sungai, dan tanah bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa batas untuk menopang kehidupan manusia.

Kita tentu tidak sedang menolak pembangunan. Kota harus tumbuh, infrastruktur harus dibangun, dan kebutuhan masyarakat harus dipenuhi. Namun, pembangunan semestinya tidak membuat kita kehilangan kesadaran bahwa alam memiliki batas kemampuan untuk menopang aktivitas manusia.

Ada pula ungkapan lain yang tidak kalah penting, yaitu "Éling ka wiwitan, sadar ka wekasan." Ungkapan ini mengingatkan tentang asal dan tujuan, sekaligus konsekuensi dari setiap tindakan.

Sebuah pembangunan mungkin memberikan manfaat ekonomi dalam jangka pendek, tetapi bagaimana jika lokasinya berada di kawasan rawan bencana? Sebuah proyek infrastruktur mungkin terlihat menjawab kebutuhan hari ini, tetapi apakah desainnya sudah memperhitungkan perubahan kondisi lingkungan pada masa mendatang?

Salah satu contoh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pembangunan terlihat dari langkah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menghentikan sementara pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur. Langkah tersebut diambil setelah diketahui bahwa dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan persetujuan bangunan gedung (PBG) belum diterbitkan.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga meminta agar kajian mengenai potensi kebisingan dan kebutuhan air Waduk Jatiluhur dibuka kepada masyarakat, terutama untuk memastikan tidak mengganggu pemanfaatannya bagi petani. Peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa pembangunan, termasuk investasi teknologi modern, tetap harus memperhitungkan aspek lingkungan, kepentingan masyarakat, dan ketentuan yang berlaku.

Di sinilah makna "sadar ka wekasan" menemukan relevansinya. Pemimpin tidak cukup hanya menghadirkan sesuatu yang terlihat sebagai hasil pembangunan. Tetapi juga harus mampu memperhitungkan risiko yang mungkin tidak terlihat saat keputusan dibuat, tetapi dampaknya kelak harus ditanggung masyarakat.

Merencanakan Pembangunan dengan Kesadaran Risiko

Kearifan lokal tersebut sesungguhnya dapat berjalan beriringan dengan konsep pemerintahan modern. Dalam tata kelola pembangunan, kita mengenal perencanaan berbasis risiko, termasuk Kajian Risiko Bencana (KRB) sebagai salah satu instrumen penting untuk memastikan bahwa setiap keputusan pembangunan memperhitungkan potensi ancaman.

KRB semestinya tidak berhenti sebagai dokumen teknis di BPBD. KRB perlu menjadi salah satu referensi dalam penyusunan RPJMD, RKPD, Renstra dan Renja perangkat daerah, hingga proses penyusunan KUA-PPAS dan APBD. Selain itu, KRB juga dapat digunakan menjadi dasar penilaian kelayakan proyek pembangunan (disaster risk screening) pada wilayah berisiko tinggi. Karena itu, BPBD memiliki peran strategis dalam proses perencanaan pembangunan daerah.

keberhasilan penanganan bencana dimulai dari analisis potensi risiko dan kerugian yang berhasil dikurangi.

Selama ini, perhatian publik sering tertuju pada besarnya anggaran yang dikeluarkan ketika bencana terjadi. Padahal, investasi untuk mengurangi risiko sebelum bencana datang juga harus memperoleh tempat yang memadai dalam perencanaan dan penganggaran pembangunan.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki mandat untuk mengalokasikan anggaran penanggulangan bencana pada tahap prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana. PP Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana, khususnya Pasal 5, secara tegas mengatur ketiga tahapan tersebut.

Sementara itu, PP Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, melalui Pasal 10, mengamanatkan integrasi penanggulangan bencana ke dalam perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Bahkan, Pasal 12 mewajibkan setiap kegiatan pembangunan yang memiliki risiko tinggi menimbulkan bencana untuk dilengkapi analisis risiko bencana.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga telah mengembangkan Strategi Pembiayaan dan Asuransi Risiko Bencana (PARB), termasuk instrumen Pooling Fund Bencana (PFB), sebagai bagian dari upaya membangun pembiayaan penanggulangan bencana yang lebih terencana dan berkelanjutan.

Jadi, persoalannya bukan kekosongan regulasi, melainkan kemungkinan adanya kesenjangan antara mandat regulasi dan praktik penganggaran. Oleh karena itu, diperlukan upaya memperkuat mekanisme penerapannya dalam siklus perencanaan dan penganggaran.

Bandung Tangguh Dimulai dari Kesadaran Bersama

Upaya menuju kota tangguh bencana sebenarnya bukan gagasan yang sepenuhnya baru bagi Bandung. Pada April 2025, dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana, Wali Kota Bandung menyampaikan pentingnya membangun ketangguhan masyarakat menghadapi berbagai ancaman, termasuk banjir, longsor, angin puting beliung, dan potensi likuifaksi.

Langkah kelembagaan juga berlanjut dengan terbentuknya BPBD Kota Bandung pada Juli 2025 melalui Perda Kota Bandung Nomor 3 Tahun 2025. Selanjutnya pada November 2025, Pemerintah Kota Bandung menyampaikan langkah perbaikan drainase, pembangunan kolam retensi, pengoperasian rumah pompa, serta penguatan partisipasi masyarakat melalui relawan siaga bencana di lingkungan RW. Program Mapag Hujan juga menjadi salah satu bentuk kolaborasi pemerintah dan warga dalam menjaga kebersihan saluran air.

Keseriusan membangun Bandung tangguh bencana juga perlu dilihat dari konsistensi pemerintah dalam menerjemahkan kesiapsiagaan ke dalam kebijakan pembangunan. Penetapan status siaga darurat bencana banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, dan tanah longsor pada Januari 2026 melalui Keputusan Wali Kota Nomor 360/Kep.019-BPBD/2026.

Kesiapsiagaan tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial atau hanya meningkat ketika musim hujan tiba. Pengetahuan mengenai risiko harus terus dibangun, peta kerawanan harus diperbarui, dan hasil evaluasi kejadian bencana harus menjadi bahan perbaikan kebijakan pembangunan.

Pada akhirnya, bencana tidak cukup hanya dihadapi dengan kemampuan mengevakuasi warga atau memperbaiki kerusakan pascakejadian. Jauh sebelum itu, ada tanggung jawab untuk mengenali risiko, dan memastikan setiap keputusan pembangunan tidak menciptakan kerentanan baru.

Kota yang tangguh bukan hanya kota yang mampu bangkit pascabencana, melainkan kota yang mau belajar dan mempersiapkan diri agar warganya tidak terus-menerus menanggung akibat dari risiko yang sebenarnya dapat dikurangi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Nov 2026, 13:57

Menemukan Manisnya Ketan Susu Bang Zul, Hidden Gem Kuliner di Ujung Berung

Ketan Susu Bang Zul, salah satu hidden gem kuliner di Ujung Berung, Bandung. Sajian ketan susu dengan beragam topping, menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur yang menggugah selera.

Ketan Susu Bang Zul. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 12:24

Éling ka Wiwitan, Sadar ka Wekasan: Membangun Bandung Tangguh Bencana

Kota tangguh bencana tidak dibangun ketika bencana datang, melainkan jauh sebelumnya melalui kesadaran mengenali risiko dan keberanian melakukan mitigasi.

Pembangunan kota harus dimulai dengan kesadaran bersama terhadap risiko bencana. (Sumber: pexels | Foto: alfian light)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 11:11

Lagu ‘Halo-Halo Bandung’ Kala Persib Tandang di Negeri Orang

Tanpa harus merencanakan sebuah pertunjukan kebudayaan, para bobotoh Persib membawa salah satu simbol sejarah Bandung ke hadapan publik internasional.

Pemain Persib merayakan kemenangan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 07:57

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan

Di tengah rezim yang sewenang-wenang, Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor kembali menyatukan suara korban yang diabaikan dan menjaga nyala welas asih sebagai napas panjang perlawanan di jalanan.

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor di Braga, 29 Agustus 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Mitra 04 Nov 2026, 20:29

Dari 475 Pendaftar, 35 Jurnalis Terpilih Raih Beasiswa S2 BRI Fellowship Journalism 2026

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026. (Sumber: Dok. BRI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 19:59

Setelah Kedua Arca Kebun Binatang Ditemukan, Lantas Apa dan Bagaimana?

Berbulan-bulan lamanya kita seolah sibuk mencari, lalu apa? Kenapa kita mencari? Apa yang kita cari? Apa bedanya saat "hilang" dan saat sudah ditemukan jika perlakuan terhadapnya tak banyak berubah?

(Ilustrasi Arca) Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:40

Bagaimana Album Tigapagi Menjaga Nyala Ingatan Kolektif di Nusantara Dharma Book Festival 7.0

Di hadapan Indonesia yang kian karut-marut, penampilan Tigapagi di NDBF 7.0 menjadi ruang merawat akal sehat dan luka sejarah, mengajak kita menatap trauma tanpa kehilangan harapan untuk bertahan.

Penampilan Tigapagi pada malam penutupan Nusantara Dharma Book Festival 7.0 (Sumber: NDBF 7.0 | Foto: Tim dokumentasi NDBF 7.0)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 16:11

Bandung dan Hujannya yang Selalu Bikin Was-Was

Bandung di musim hujan memang memberikan kesegaran udara tapi selalu menunjukkan was-was karena menyebabkan banjir dan potensi kehilangan nyawa.

Kondisi  Langit Bandung menjelang Hujan di Soekarno Hatta. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 15:19

Review Film The Love Hypothesis: Film Rom-com Kampus yang Menguji Cinta

Review film The Love Hypothesis yang memadukan pola fake dating dan grumpy x sunshine dengan latar akademik. Meski alurnya mudah ditebak, kedekatan tokohnya tetap menghibur.

Poster Film The Love Hypothesis. (Sumber: Primevideo)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 14:12

Jabar Juara Judol, Sungguh Memprihatinkan dan Mencemaskan

Besarnya jumlah pemain judol di Jabar semakin terasa ketika melihat duit yang terlibat. Sepanjang tahun 2024, ditaksir deposit judol di Jabar mencapai Rp5,97 triliun.

Ilustrasi judi online. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)