Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

4 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)

Menyelisihi hiruk-pikuk salam tiga jari, bangsa kita dibikin kompak geleng-geleng kepala, selagi lini masa di media sosial atau headline pemberitaan nasional mengabarkan kasus pembunuhan di Jawa Timur. Pelakunya seorang lelaki, sedangkan korbannya adalah istri siri dan anak tiri terduga pelaku. Kata siri kokon dari bahasa Arab, sirrun yang berarti ‘rahasia’ atau ‘tersembunyi’. Sementara itu, nikah siri adalah pernikahan yang dilakukan menurut syariat atau ketentuan agama Islam, tetapi tidak dicatatkan secara resmi di lembaga negara seperti Kantor Urusan Agama (KUA) atau Kantor Catatan Sipil. 

Di tengah masyarakat kita, urusan nikah siri kerap diperdebatkan dengan nada yang agak klise. Sebagian orang masih saja berlindung di balik kalimat manis: "Yang penting sah di mata Allah, daripada kena fitnah zina." Kalimat ini seolah-olah menjadi jalan pintas paling ampuh untuk meresmikan hubungan tanpa perlu repot mengurus tumpukan berkas di Kantor Urusan Agama (KUA). Padahal, jika kita mau sedikit jujur dan melihat realitas di lapangan, romantisisme "sah agama saja" ini kerap berubah menjadi mimpi buruk bagi ruang domestik keluarga Indonesia.

Menariknya, dua organisasi Islam di Indonesia—Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) memandang bahwa di era modern seperti sekarang, nikah siri yang sengaja menyembunyikan pernikahan dari pencatatan negara adalah praktik yang mendatangkan lebih banyak masalah ketimbang manfaat.

Mengenai metodologi penentuan awal bulan Syawal, Muhammadiyah dan NU memang punya gaya pendekatan yang khas masing-masing, akan tetapi dalam urusan nikah siri, muara kesimpulan mereka persis di titik yang sama menolak.

Majelis Tarjih Muhammadiyah memakai kacamata yang sangat progresif. Menurut mereka, kalau urusan pinjam-meminjam uang saja Al-Qur'an menyuruh kita mencatatnya dengan rapi, apalagi ikatan pernikahan yang merupakan mitsaqan ghalidza (perjanjian yang sangat kokoh). Muhammadiyah menggunakan kaidah sadd adz-zari'ah, menyumbat pintu keburukan. Nikah siri dinilai haram atau cacat secara kemaslahatan karena membuka keran ketidakadilan bagi perempuan dan anak.

Di sisi lain, para kiai NU melalui forum Bahtsul Masail juga bersuara senada. Secara hukum ibadah klasik (fikih murni), NU memang mengakui bahwa nikah yang memenuhi syarat-rukun itu membebaskan pasangan dari dosa zina. Namun demikian, NU tegas memberi catatan tebal bahwa nikah siri hukumnya haram secara sosial-hukum jika diniatkan untuk lari dari tanggung jawab atau merugikan pihak istri. Dalam konteks berbangsa, pencatatan nikah adalah bagian dari maqashid syariah (tujuan hukum Islam), khususnya untuk melindungi garis keturunan (hifdzu an-nasl) dan melindungi hak atas harta (hifdzu al-mal).

Singkatnya, baik Muhammadiyah maupun NU sepakat bahwa nikah siri zaman now bukan lagi “solusi” syar'i, melainkan bentuk pengabaian terhadap rasa keadilan.

Argumen Muhammadiyah dan NU ini terasa begitu relevan jika kita membaca tumpukan data dan fakta sosial di sekitar kita. Ketika sebuah pernikahan tidak terdaftar di buku nikah resmi, dampaknya bukan sekadar tidak punya dokumen resmi negara, melainkan melumpuhkan perlindungan hukum di ranah domestik. Pertama, soal Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan penelantaran. Data dari Komnas Perempuan dan berbagai lembaga bantuan hukum menunjukkan adanya pola yang memprihatinkan bahwa wanita yang menikah siri berada di posisi paling rentan saat menghadapi KDRT atau penelantaran ekonomi. Ketika suami tiba-tiba pergi begitu saja atau melakukan kekerasan, secara hukum negara, hubungan suami-istri itu dianggap tidak pernah ada. Tanpa akta nikah, sang istri tidak punya pijakan hukum yang kuat untuk menuntut nafkah lahir-batin, meminta pembagian harta bersama, atau memproses perceraian secara layak di Pengadilan Agama.

Kedua, nasib anak-anak yang tak berdosa. Ini adalah bagian paling tragis dari fenomena nikah siri. Anak yang lahir dari pernikahan siri sering kali kesulitan mendapatkan Akta Kelahiran yang mencantumkan nama ayahnya secara resmi. Akibatnya berantainya adalah mereka sulit masuk jalur bantuan sosial pemerintah, terhambat dalam urusan administrasi sekolah, hingga kehilangan hak waris secara hukum positif. Penelantaran ekonomi pasca-perceraian siri juga berujung pada terancamnya kesejahteraan anak yang berkontribusi pada tingginya angka stunting di daerah-daerah rentan.

Ketiga, tidak bisa dimungkiri, nikah siri kerap kali dijadikan tameng atau "pintu belakang" bagi pria yang ingin berpoligami tanpa persetujuan istri sah dan tanpa izin pengadilan. Bukannya membawa keberkahan, modus ini justru menciptakan eksploitasi relasi kuasa, di mana pihak perempuan kerap diikat dalam janji manis tanpa kepastian masa depan.

Dari riuh rendah pemberitaan di media sosial dan media pemberitaan, kita bisa melihat bahwa peringatan Muhammadiyah dan NU bukan sekadar teori di atas kertas atau sikap sok birokratis. Peringatan itu lahir dari kepedulian terhadap kemanusiaan. Menikah tentu sebuah ibadah yang mulia. Namun, dalam kehidupan bernegara seperti Indonesia, "sah secara ritual" saja tidak cukup. Sebuah pernikahan membutuhkan perlindungan, kepastian, dan rasa aman. Mengakhiri tradisi nikah siri adalah langkah nyata untuk memuliakan perempuan dan memastikan anak-anak kita tumbuh dengan hak-hak yang terjamin. Sebab, pernikahan yang sejati bukan cuma soal "mengesahkan yang haram", melainkan tentang bagaimana kita bertanggung jawab menjaga ikatan itu di hadapan Tuhan, hukum, dan masyarakat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)