Nusantara memiliki kekayaan bahasa yang luar biasa dalam menggambarkan fenomena alam. Sejak zaman dahulu, leluhur kita telah mengamati getaran bumi dan merekamnya ke dalam berbagai istilah lokal. Artikel ini akan mengulas istilah getaran gempa bumi dalam bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta sebagai refleksi kearifan lokal.
Setiap bahasa daerah memiliki cara unik untuk mengekspresikan tingkatan gempa. Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sunda, misalnya, menggunakan kosakata spesifik untuk membedakan getaran kecil hingga guncangan besar yang merusak. Melalui istilah-istilah ini, kita dapat melihat bagaimana masyarakat tradisional memahami skala intensitas gempa bumi jauh sebelum seismograf modern ditemukan.
Pengaruh Bahasa Jawa Kawi dan Bahasa Sanskerta juga memperkaya penamaan fenomena ini dalam manuskrip kuno. Istilah-istilah tersebut bukan sekadar nama, melainkan dokumentasi sejarah yang menyimpan memori kolektif tentang bencana. Mari kita telusuri lebih dalam makna dan filosofi di balik kata-kata penanda besarnya guncangan gempa bumi di tanah leluhur.
Perlu diperhatikan, bahwa Bahasa Sanskerta tidak memiliki klasifikasi gempa yang secara historis identik dengan 6 (enam) kelompok Skala MMI. Jadi, padanan berikut merupakan pembentukan istilah berdasarkan kosakata Bahasa Sansrkerta, bukan nama skala gempa kuno yang sudah baku. Untuk menjaga konsistensi istilah, Penulis justru menyarankan menggunakan satu rumpun kata Bahasa Sansekerta, yaitu Bhūkampa dan Prakampa.
Klasifikasi Intensitas Gempa Bumi Berdasarkan Skala MMI dengan Padanan Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta
- Skala MMI I – Lir – Riñcik – Sūkṣma Bhūkampa (सूक्ष्म भूकम्प). Gempa bumi sangat halus atau sangat lemah, tidak dirasakan manusia dan hanya tercatat oleh alat pengukur gempa.
- Skala MMI II–III – Lindhu Ogreg – Rigarigu – Riyeg – Manda Bhūkampa (मन्द भूकम्प). Gempa bumi lemah dengan getaran ringan yang menyebabkan benda-benda atau tiang rumah bergetar perlahan.
- Skala MMI IV–V – Lindhu Ngobahake – Ringgang – Inggeung – Spaṣṭa Bhūkampa (स्पष्ट भूकम्प). Gempa bumi dengan getaran nyata yang dapat dirasakan banyak orang serta menggerakkan perabotan dan benda-benda di dalam rumah.
- Skala MMI VI–VII – Lindhu Prahara – Ringgung – Endeur – Tīvra Bhūkampa (तीव्र भूकम्प). Gempa bumi kuat yang menyebabkan bangunan bergoyang, kerusakan ringan hingga sedang, dan kepanikan masyarakat.
- Skala MMI VIII–IX – Lindhu Geger – Rugrag – Mahā Prakampa (महा प्रकम्प). Gempa bumi dahsyat yang menimbulkan kerusakan berat pada bangunan, keruntuhan struktur, serta retakan tanah. Skala MMI VIII dalam Bahasa Sunda disebut Genjlong. Skala MMI IX dalam Bahasa Sunda disebut Pralaya.
- 6. Skala MMI X–XII – Lindhu Jagad Obah – Riwutpāta – Mahā Bhūkampa (महा भूकम्प). Gempa bumi luar biasa dahsyat yang mengakibatkan kehancuran luas, tanah terbelah, pohon tumbang dan perubahan besar pada permukaan bumi.
Penjelasan Berdasarkan Kamus Kawi
Penulis menemukan beberapa entri yang cukup relevan dalam Kawi Lexicon karya S. Wojowasito:
- Riñcik: suara air yang halus atau lembut.
- Rigarigu: shaken, to tremble, to shiver (terguncang, bergetar).
- Ringgang: to rock, to swing (bergoyang, berayun).
- Ringgung: to rock, to swing (bergoyang, berayun).
- Rugrag: shaken (terguncang).
- Riwutpāta: blowing of a storm, whirlwind (tiupan badai atau angin berpusar).
Enam kata tersebut tidak semuanya memiliki arti gempa bumi secara khusus. Beberapa merupakan kata kerja atau gambaran gerakan yang dapat digunakan untuk membentuk nomenklatur gempa. Penulis belum dapat memastikan bahwa keenam kata tersebut pernah digunakan sebagai istilah gempa dalam prasasti atau kakawin Jawa Kuna. Karena itu, sebaiknya disebut padanan leksikal atau nomenklatur bentukan berdasarkan kosakata Jawa Kawi, bukan istilah gempa historis yang sudah terbukti digunakan masyarakat Jawa Kuna.
Rekomendasi Penyempurnaan Istilah
Ada beberapa istilah Jawa dalam naskah asli yang sebaiknya tidak diterjemahkan secara harfiah:
- Geger, berarti kegemparan atau kekacauan.
- Grahana, berarti gerhana atau penutupan, sehingga kurang tepat untuk menggambarkan gempa dahsyat.
- Jagad Obah, dapat dipadankan secara puitis dengan Jagat Kampana (जगत् कम्पन), yaitu guncangan alam semesta.
- Kiamat, merupakan konsep kehancuran akhir zaman, bukan istilah teknis gempa dalam Sanskerta.
- Prahara, lebih dekat dengan makna pukulan, serangan atau bencana.
- Pralaya, berarti pembubaran, penyerapan kembali, kehancuran atau pemusnahan.
Praralaya dalam Konsep Eskatologi Hindu (Kosmologi)
Dalam ajaran Hindu, Pralaya merujuk pada kehancuran atau berakhirnya suatu siklus alam semesta (sering disetarakan dengan konsep hari kiamat atau siklus kosmis). Pralaya terbagi menjadi 4 (empat) jenis:
- Brahmapralaya, kehancuran seluruh jagat raya pada akhir satu kalpa (setara dengan 4,32 miliar tahun).
- Nityapralaya, kehancuran atau kematian yang terjadi sehari-hari pada makhluk hidup dan benda.
- Prakritapralaya, bencana besar atau air bah prakerti yang terjadi pada akhir 1.000 Mahayuga.
- Atyantikapralaya, pembebasan spiritual di mana jiwa (atman) lenyap dan bersatu sepenuhnya dengan Brahman (Tuhan). Dalam fungsi dewa-dewi Hindu, Dewa Siwa sering diasosiasikan dengan aspek pelebur (pralaya atau pralina) yang menyerap kembali alam semesta. Dalam kamus Bahasa Jawa Kuno (kaw), kata Pralaya merupakan verba yang berarti mati atau rusak.
Sejarah Nusantara (Peristiwa Pralaya)
Dalam sejarah Indonesia, Pralaya merujuk pada peristiwa hancurnya Kerajaan Medang (Mataram Kuno) di Jawa Timur sekitar tahun 1016 M. Peristiwa ini terjadi akibat serangan mendadak oleh Raja Wurawari dari Lwaram (sekutu Sriwijaya) saat pernikahan putri Raja Dharmawangsa Teguh. Raja Dharmawangsa beserta keluarga kerajaan tewas, namun keponakannya bernama Airlangga berhasil selamat dan kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan pada tahun 1019 M.
Skala MMI merupakan skala intensitas berdasarkan dampak dan efek gempa yang dirasakan serta kerusakan yang ditimbulkan, bukan skala magnitudo. Kategori X–XII menggambarkan tingkat kehancuran yang sangat ekstrem.
Untuk mencari padanan Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Jawa Kawi (Bahasa Jawa Kuna), Penulis menyarankan agar istilah-istilah tersebut menggunakan kosakata Bahasa Jawa Kuna yang berakar dari tradisi sastra Bahasa Jawa Kuna dan pengaruh Bahasa Sanskerta, tetapi tetap disesuaikan dengan tata makna Bahasa Jawa.
Perlu dibedakan bahwa Bahasa Jawa Kawi bukan sekadar Bahasa Jawa modern yang diberi kosakata Bahasa Sanskerta. Bahasa Jawa Kuna mempunyai perbendaharaan kata, bentuk morfologi dan tradisi penulisan tersendiri. (*)
Rujukan Utama yang Penulis Sarankan
- Kosha, Sanskrit Dictionary: Earthquake.
- Monier-Williams, Sanskrit-English Dictionary.
- P.J. Zoetmulder dan S.O. Robson, Old Javanese-English Dictionary (1982).
- P.J. Zoetmulder, S.O. Robson, Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna, Kamus Jawa Kuna-Indonesia (2011).
- S. Wojowasito, Kawi Lexicon (1980), tersedia melalui Sastra.org – Kawi Lexicon.
- The Sanskrit Heritage Site.