Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

5 menit baca
R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ditulis oleh R.M.A. Ahmad Said Widodo diterbitkan
Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)

Nusantara memiliki kekayaan bahasa yang luar biasa dalam menggambarkan fenomena alam. Sejak zaman dahulu, leluhur kita telah mengamati getaran bumi dan merekamnya ke dalam berbagai istilah lokal. Artikel ini akan mengulas istilah getaran gempa bumi dalam bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta sebagai refleksi kearifan lokal.

Setiap bahasa daerah memiliki cara unik untuk mengekspresikan tingkatan gempa. Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sunda, misalnya, menggunakan kosakata spesifik untuk membedakan getaran kecil hingga guncangan besar yang merusak. Melalui istilah-istilah ini, kita dapat melihat bagaimana masyarakat tradisional memahami skala intensitas gempa bumi jauh sebelum seismograf modern ditemukan.

Pengaruh Bahasa Jawa Kawi dan Bahasa Sanskerta juga memperkaya penamaan fenomena ini dalam manuskrip kuno. Istilah-istilah tersebut bukan sekadar nama, melainkan dokumentasi sejarah yang menyimpan memori kolektif tentang bencana. Mari kita telusuri lebih dalam makna dan filosofi di balik kata-kata penanda besarnya guncangan gempa bumi di tanah leluhur.

Perlu diperhatikan, bahwa Bahasa Sanskerta tidak memiliki klasifikasi gempa yang secara historis identik dengan 6 (enam) kelompok Skala MMI. Jadi, padanan berikut merupakan pembentukan istilah berdasarkan kosakata Bahasa Sansrkerta, bukan nama skala gempa kuno yang sudah baku. Untuk menjaga konsistensi istilah, Penulis justru menyarankan menggunakan satu rumpun kata Bahasa Sansekerta, yaitu Bhūkampa dan Prakampa.

Klasifikasi Intensitas Gempa Bumi Berdasarkan Skala MMI dengan Padanan Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta

  1. Skala MMI I – Lir – Riñcik – Sūkṣma Bhūkampa (सूक्ष्म भूकम्प). Gempa bumi sangat halus atau sangat lemah, tidak dirasakan manusia dan hanya tercatat oleh alat pengukur gempa.
  2. Skala MMI II–III – Lindhu Ogreg – Rigarigu – Riyeg – Manda Bhūkampa (मन्द भूकम्प). Gempa bumi lemah dengan getaran ringan yang menyebabkan benda-benda atau tiang rumah bergetar perlahan.
  3. Skala MMI IV–V – Lindhu Ngobahake – Ringgang – Inggeung – Spaṣṭa Bhūkampa (स्पष्ट भूकम्प). Gempa bumi dengan getaran nyata yang dapat dirasakan banyak orang serta menggerakkan perabotan dan benda-benda di dalam rumah.
  4. Skala MMI VI–VII – Lindhu Prahara – Ringgung – Endeur – Tīvra Bhūkampa (तीव्र भूकम्प). Gempa bumi kuat yang menyebabkan bangunan bergoyang, kerusakan ringan hingga sedang, dan kepanikan masyarakat.
  5. Skala MMI VIII–IX – Lindhu Geger – Rugrag – Mahā Prakampa (महा प्रकम्प). Gempa bumi dahsyat yang menimbulkan kerusakan berat pada bangunan, keruntuhan struktur, serta retakan tanah. Skala MMI VIII dalam Bahasa Sunda disebut Genjlong. Skala MMI IX dalam Bahasa Sunda disebut Pralaya.
  6. 6. Skala MMI X–XII – Lindhu Jagad Obah – Riwutpāta – Mahā Bhūkampa (महा भूकम्प). Gempa bumi luar biasa dahsyat yang mengakibatkan kehancuran luas, tanah terbelah, pohon tumbang dan perubahan besar pada permukaan bumi.

Penjelasan Berdasarkan Kamus Kawi

Penulis menemukan beberapa entri yang cukup relevan dalam Kawi Lexicon karya S. Wojowasito:

  1. Riñcik: suara air yang halus atau lembut.
  2. Rigarigu: shaken, to tremble, to shiver (terguncang, bergetar).
  3. Ringgang: to rock, to swing (bergoyang, berayun).
  4. Ringgung: to rock, to swing (bergoyang, berayun).
  5. Rugrag: shaken (terguncang).
  6. Riwutpāta: blowing of a storm, whirlwind (tiupan badai atau angin berpusar).

Enam kata tersebut tidak semuanya memiliki arti gempa bumi secara khusus. Beberapa merupakan kata kerja atau gambaran gerakan yang dapat digunakan untuk membentuk nomenklatur gempa. Penulis belum dapat memastikan bahwa keenam kata tersebut pernah digunakan sebagai istilah gempa dalam prasasti atau kakawin Jawa Kuna. Karena itu, sebaiknya disebut padanan leksikal atau nomenklatur bentukan berdasarkan kosakata Jawa Kawi, bukan istilah gempa historis yang sudah terbukti digunakan masyarakat Jawa Kuna.

Rekomendasi Penyempurnaan Istilah

Ada beberapa istilah Jawa dalam naskah asli yang sebaiknya tidak diterjemahkan secara harfiah:

  1. Geger, berarti kegemparan atau kekacauan.
  2. Grahana, berarti gerhana atau penutupan, sehingga kurang tepat untuk menggambarkan gempa dahsyat.
  3. Jagad Obah, dapat dipadankan secara puitis dengan Jagat Kampana (जगत् कम्पन), yaitu guncangan alam semesta.
  4. Kiamat, merupakan konsep kehancuran akhir zaman, bukan istilah teknis gempa dalam Sanskerta.
  5. Prahara, lebih dekat dengan makna pukulan, serangan atau bencana.
  6. Pralaya, berarti pembubaran, penyerapan kembali, kehancuran atau pemusnahan.

Praralaya dalam Konsep Eskatologi Hindu (Kosmologi)

Dalam ajaran Hindu, Pralaya merujuk pada kehancuran atau berakhirnya suatu siklus alam semesta (sering disetarakan dengan konsep hari kiamat atau siklus kosmis). Pralaya terbagi menjadi 4 (empat) jenis:

  1. Brahmapralaya, kehancuran seluruh jagat raya pada akhir satu kalpa (setara dengan 4,32 miliar tahun).
  2. Nityapralaya, kehancuran atau kematian yang terjadi sehari-hari pada makhluk hidup dan benda.
  3. Prakritapralaya, bencana besar atau air bah prakerti yang terjadi pada akhir 1.000 Mahayuga.
  4. Atyantikapralaya, pembebasan spiritual di mana jiwa (atman) lenyap dan bersatu sepenuhnya dengan Brahman (Tuhan). Dalam fungsi dewa-dewi Hindu, Dewa Siwa sering diasosiasikan dengan aspek pelebur (pralaya atau pralina) yang menyerap kembali alam semesta. Dalam kamus Bahasa Jawa Kuno (kaw), kata Pralaya merupakan verba yang berarti mati atau rusak.

Sejarah Nusantara (Peristiwa Pralaya)

Dalam sejarah Indonesia, Pralaya merujuk pada peristiwa hancurnya Kerajaan Medang (Mataram Kuno) di Jawa Timur sekitar tahun 1016 M. Peristiwa ini terjadi akibat serangan mendadak oleh Raja Wurawari dari Lwaram (sekutu Sriwijaya) saat pernikahan putri Raja Dharmawangsa Teguh. Raja Dharmawangsa beserta keluarga kerajaan tewas, namun keponakannya bernama Airlangga berhasil selamat dan kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan pada tahun 1019 M.

Skala MMI merupakan skala intensitas berdasarkan dampak dan efek gempa yang dirasakan serta kerusakan yang ditimbulkan, bukan skala magnitudo. Kategori X–XII menggambarkan tingkat kehancuran yang sangat ekstrem.

Untuk mencari padanan Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Jawa Kawi (Bahasa Jawa Kuna), Penulis menyarankan agar istilah-istilah tersebut menggunakan kosakata Bahasa Jawa Kuna yang berakar dari tradisi sastra Bahasa Jawa Kuna dan pengaruh Bahasa Sanskerta, tetapi tetap disesuaikan dengan tata makna Bahasa Jawa.

Perlu dibedakan bahwa Bahasa Jawa Kawi bukan sekadar Bahasa Jawa modern yang diberi kosakata Bahasa Sanskerta. Bahasa Jawa Kuna mempunyai perbendaharaan kata, bentuk morfologi dan tradisi penulisan tersendiri. (*)

Rujukan Utama yang Penulis Sarankan

  1. Kosha, Sanskrit Dictionary: Earthquake.
  2. Monier-Williams, Sanskrit-English Dictionary.
  3. P.J. Zoetmulder dan S.O. Robson, Old Javanese-English Dictionary (1982).
  4. P.J. Zoetmulder, S.O. Robson, Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna, Kamus Jawa Kuna-Indonesia (2011).
  5. S. Wojowasito, Kawi Lexicon (1980), tersedia melalui Sastra.org – Kawi Lexicon.
  6. The Sanskrit Heritage Site.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:39

Ironi-Ironi dalam Nikah Siri

Refleksi pernikahan siri di Indonesia.

irono-Ironi dalam Nikah Siri (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 12:15

Istilah Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Pelajari istilah besar guncangan gempa bumi dalam Bahasa Jawa, Jawa Kawi, Sunda dan Sansekerta. Temukan kekayaan kosakata tradisional untuk tingkatan getaran bencana alam kuno Nusantara di sini!

Gempa Bumi Dahsyat (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)